
Malam semakin larut. Dasyatnya badai salju, membuat hampir seluruh permukaan tanah di selimuti salju tebal. Di sepanjang jalan menuju hutan, sebuah jejak kaki terlihat samar. Di ujung jejak, terdapat seorang wanita bermantel bulu tebal, tengah menggendong bayi merah yang diselimuti kain sutra berlapis, berlambang clan salju.
Mito, sesekali melirik ke arah belakangnya. Was-was jika ada seseorang mengikutinya. Sambil terus mempercepat langkahnya, ia berusaha agar jejaknya tidak terendus pasukan Tanuki.
Mito sadar, meski Yukio berusaha menutupi kelahiran bayinya, pria selicik dan sepintar Tanuki cepat atau lambat pasti akan menemukan petunjuk. Hingga saat itu tiba, Mito harus segera menjauh dari lembah Kehidupan.
Buk!
Di tengah pelariannya, Kaki Mito tersangkut gumpalan salju. Saking tebalnya salju yang menutupi permukaan tanah, gumpalannya bahkan mampu membuat Kaki Mito kesulitan bergerak, di tambah fisiknya yang lelah dan harus melarikan diri bersama bayi Yukio.
"Arkh! " Mito mencoba memijit kakinya dengan satu tangan, ia merasakan kakinya membeku dan seluruh tubuhnya seakan mati rasa akibat cuaca dingin yang ektrem. Ia melirik daerah sekitarnya, berharap ada rumah yang bisa didatangi. Hanya ada hutan kering yang tertutup salju. Sejauh mata memandang, tidak ada desa atau sekedar rumah penduduk tempat ia meminta bantuan. Di tengah kondisi seperti ini, ia harus berjuang seorang diri.
"Hiks! Hiks! Oek! Oek" Mirai kecil mulai menangis, wajah bayi mungil itu mulai memerah akibat menahan hawa dingin.
"Kau pasti kedinginan, Mirai. Bertahanlah, kita akan segera keluar dari sini. " Mito Segera mengeratkan dekapannya, sekilas ia tatap wajah mungil bayi di pelukannya. Bayi yang masih belum mengerti apa-apa, tapi diluar sana, orang-orang yang tidak mengharapkan kehadirannya bahkan berniat membunuhnya. Termasuk suaminya sendiri.
"Bagaimana mungkin, aku membunuh bayi sekecil ini. Tanuki salah mengira bahwa aku akan menuruti perintahnya. Sebelum menjadi istrinya, aku adalah sahabat Yukio.
Dan bahkan sekarang pun, aku tidak bisa mengarahkan senjataku ke leher bayi mungil ini. Bagaimanapun, aku juga seorang ibu, aku tidak bisa melakukan tindakan keji seperti itu! " gumam Mito ririh.
Kenagannya bersama sang putra berputar cepat, meski Tanuki menggunakan Ten sebagai jaminan misinya kali ini, ia tentu tidak akan pernah mengorbankan nyawa bayi tidak bersalah hanya untuk keselamatannya.
Mito membenarkan selimut yang menutupi tubuh Mirai, sambil mengeratlan pelukannya, ia kembali melanjutlan pelariannya.
"Sebentar lagi kita akan memasuki tempat dimana markas Zen berada. Zen pasti akan menolong kita! "
......................
Sementara iti, di kuil Dewi Salju. Tanuki masih diam mematung, dengan tangan terkepal kuat ia menatap pintu kuil yang terbuka lebar. Badai Salju yang sempat terhenti kini kembali menyapu bumi. Yukio dan semua orang sudah meninggalkan Kuil, kini hanya tersisa Tanuki dan beberapa anak buah Cops Merah yang masih tersisa.
"Apa yang harus kami lakulan Tuan? "
Tanuki tidak mejawab pertanyaan anak buahnya. Pandangannya kini tertuju pada lantai kuil yang berisi bercak darah samar. Alis Tanuki terangkat. Ia penasaran darah siapa itu. Sekelibat ingatan muncul di kepala Tanuki, bukankah tadi orang yang berdiri di depannya adalah Yukio?
"Sial! "
Tanuki langsung berlari menuju ruang di samping kuil. Ia langsung membuka pintu kasar, dan mendapati ruang tidur yang hanya berhias dan bercahayakan lilin.
Dengan hati-hati, Tanuki mulai melangkahkan kakinya masuk. Ruang di depannya tampak sangat rapi. Tapi ada sesuatu yang janggal di sana. Bau amis darah memenuhi seluruh ruangan tanpa jendela itu, meski harum lilin mendominasi, bau amis yang biasa Tanuki cium di medan perang tidak pernah berbohong.
Tanuki mulai menyelidiki ruangan itu. Sambil mengeluarlan sapu tangan putih dari sakunya, ia mulai memcari jejak darah yang mungkin belum sempat dibersihkan.
__ADS_1
"Yukio, kau bisa saja membohongi para Tetua Kolot itu. Tapi kau tidak bisa membohongi seorang Tanuki! " gumam Tanuki pelan, seringai tipis terukir di wajahnya. Tanuki mengangkat sapu tangan miliknya, benar saja. Sebuah bercak darah segar terlihat.
Itu artinya, persalinan Yukio mungkin baru saja terjadi. Dan yang lebih penting, anak yang akan membuktikan pengkhianatan Yukio bisa saja masih hidup di luar sana.
"Tuan! Kami juga menemukan sebuah kancing jubah berlambang awan! "
Tanuki segera merebut kacing berwarna hitam itu. Sekilas, benda itu tampak familiar untuknya.
" Ini milik Mito. Jadi dia sudah berada di tempat ini sebelumnya? Lalu kenapa Mito tidak mencegah proses persalinan? Apa mungkin Mito justru membantu Yukio?!
Sial! Wanita itu, benar-benar menghianatiku. "
Tanuki langsung beranjak dari ruang itu. Berjalan kembali ke aula kuil dan menemui barisan anak buahnya. Dengan raut wajah geram, Tanuki memberikan perintah agar segera menagkap istrinya.
"Dengar! Kalian semua, cepat temukan jejak Mito untukku! Dan bawa segera ke hadapanku. Dia bisa saja membawa bayi Yukio! Cepat! "
" Baik! Tuan! "
Tanuki mulai menatap patung besar dihadapannya, kilapan emosi terpancar di kedua sorot matanya.
......................
Pasukan pelacak Khusus Cops Awan Merah sudah diturunkan untuk melacak keberadaan Mito. Tidak perlu memakan waktu yang lama, Tanuki akhirnya bisa menemukan keberadaan Mito. Para prajurit Cops Awan Merah menbawa Mito ke sebuah rumah kosong, di sana Tanuki sidah menunggu kedatangan sang istri.
Mito hanya bisa menatap punggung suaminya takut, tubuhnya bergetar hebat. Lantai ruangan yang dingin semakin membuatnya bergidik. Tanpa alas, Mito hanya bisa berlutut di hadapan suaminya
"K- kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini, Tanuki? " ucap Mito dengan suara tercekat. Tanuki mulai membalikan badanya, sorot mata tajam menatap Mito tanpa ampun.
" Di mana kau sembunyikan bayi Yukio, Mito? " ucap Tanuki pelan, ini mungkin kali terakhir Tanuki bersikap lembut ke sang istri. Fakta bahwa Mito sudah berani mengkhianatinya, itu sudah lebih dari cukup bagi Tanuki. Jika itu orang lain, Tanuki pasti sudah memenggal kepala orang itu detik ini juga
" Aku mohon, hentikan Tanuki! Berhentilah menyiksa dirimu dan menyiksa orang-orang yang kau cintai hanya karena ambisimu! " ucap Mito ririh. Air matanya bahkan mulai membanjiri pipinya yang memerah.
" Hentikan omong kosongmu! Kesabaranku, mungkin hanya sampai disini! Aku akan bertanya satu kali lagi, Mito. Cepat kau katakan dimana anak Yukio berada! " suara Tanuki mulai meninggi.
Mito menggelengkan kepalanya cepat, ia juga mengunci mulutnya rapat. Hal itu membuat Tanuki semakin geram, ia pun memberi kode pada anak buahnya.
" Bawa dia masuk! " Sesuai perintah Tanuki, salah seorang anggota Cops masuk sambil menggendong Ten yang masih tertidur di pangkuannya. Melihat sang putra juga turut hadir, mata Mito membulat sempurna.
" Kau masih tidak mau mengatakan keberadaan anak Yukio ?
Dengarkan aku baik-baik, Mito. Kau hanya perlu mengatakan dimana kau menyembunyikannya.
__ADS_1
Dengan begitu, aku akan memaafkan tidakan bodohmu dan membiarkanmu menjaga Ten di rumah malam ini.
Tapi jika kau masih menutup mulutmu rapat, aku pastikan kau akan mendapat hukuman yang kau sesali seumur hidupmu. Hukuman yang jauh lebih menyakitakan dari kematian.
Istriku, Kau tahu? meski aku ingin membunuhmu aku tidak bisa melakukannya.
Karena kau, istri tercintaku. Mito. " ucap Tanuki dengan seringai dingin. Tatapan tajamnya seolah menelan tubuh Mito bulat-bulat.
Tanuki mengurukan tangannya untuk mengusap pucuk kepala Mito. Perlahan, ia kecup kening istrinya lembut. Tubuh Mito masih bergetar. Keringat dingin bahkan menetes di sepanjang lekuk wajahnya. Sikap Tanuki, benar-benar mencerminkan seorang iblis. Meski ia mengatakan cinta, Tanuki tetaplah sosok monster berdarah dingin.
Mito kembali melirik Ten yang masih tidur pulas. Ia sadar, ia tidak akan pernah lepas dari jeratan neraka Tanuki. Karena ulahnya, Ten mungkin saja dalam bahaya.
Mito mengumpulkan kembali keberaniannya, dengan tegas ia membalas tatapan tajam Tanuki
"Tanuki, dengar! Selama ini kau tidak benar-benar mencintaiku. Hanya aku yang memiliki perasaan tulus padamu. Aku sudah mencoba membuatmu untuk melupakan ambisimu. Ternyata aku salah. Bahkan dengan cinta tulusku, iblis sepertimu tidak akan pernah berubah.
Hanya satu pesan dariku, Aku harap kau tetap menjaga Ten, bagaimanapun ia adalah darah dagingmu.
Akan aku beri jawabanku, aku tidak akan pernah mengatakan dimana putra Yukio berada! Hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai sahabat, dan juga istri yang gagal! " ucap Mito Tegas. Ia sengaja menyamarkan identitas Mirai sebagai seorang bayi laki-laki di hadapan Tanuki.
" Jadi Yukio melahirkan seorang putra? "
Brasss!
Tanpa Tanuki sadari, Mito mengambil Katakana miliknya dan menebas tubuhnya sendiri. Mito memutuskan mengakhiri hidup, di depan pria yang ia cintai. Melihat tubuh Mito tertembus pedang miliknya, Tanuki hanya bisa diam mematung. Darah segar Mito, bahkan mengenai wajah Tanuki. Mito sudah mulai kehilangan kontrol tubuhnya, dan jatuh tepat dipelukan Tanuki.
"Apa yang kau lakukan?! Berani sekali, kau melakukan ini tanpa seijinku! " tangan Tanuki yang dipenuhi darah Mito, gemetar memeluk tubuh istrinya yang mulai melemah. Mekipun ia kesal, Tanuki tentu tidak mengharapkan ini terjadi.
" M- mito... " suara Tanuki tercekat. Ia bisa merasakan bahwa Mito sudah tidak bernafas lagi. Tanpa seorang pun yang sadar, ruangan gelap itu seolah menyembunyikan Tangisan Tanuki.
Mito adalah satu-satunya orang yang menganggap kehadiran seorang Tanuki spesial. Meskipun sifat Tanuki bagaikan iblis psikopat berdarah dingin, tentu masih ada titik kecil untuk menyimpan sifat manusiawi (merasakan cinta) di sudut hatinya. Dan tempat itu hanya milik Mito seorang.
Kini wanita itu sudah pergi, dan hanya menyisakan tubuh yang mulai mendingin. Bersaman dengan itu, tanpa Tanuki sadari. Ten kecil menyaksikan kejadian naas itu. Di usianya yang masih sangat belia, ia menyaksikan ibunya tewas tepat di hadapan matanya.
Malam kelam itu, mungkin malam yang paling disesali seorang pria ambisius seperti Tanuki.
...----------------...
Pada penasaran, kenapa Ten menaruh dendam kesumat ke Tanuki kan? Inilah Jawabanya, pensah sih dibahas Ten di salah satu chapter, bahwa Tanukilah yang membunuh sang Ibu. Tapi Tanuki tetap keukuh bahwa Mito lah yang berkhianat.
Banyak cerita, yang menggambarkan tokoh antagonis jahatnya sampai ketulang-tulang. Bunuh siapapun kayak bunuh semut, bringas, dan kasar. Licik pokoknya jahat banget.
__ADS_1
Dalam cerita Author, aku ingin menggambarkan tokoh antagonis dalam cerita yang sedikit berbeda. Meskipun dia digambarkan sebagai 'iblis' tapi tetap memiliki sisi manusiawi. Menagis jika ditinggalkan dan penyesalan.
Tanuki begitu meski ia kekeh dengan sikap ambisius. Di malam Mito mati, tanpa seorangpun bahkan dia pun tidak sadar, ia telah mengeluarkan sisi manusiawinya yang sudah lama hilang.