
Xio mengangkat tubuh lemah Mirai. Gadis itu, masih saja memejamkan matanya, seolah melewati mimpi yang panjang dalam lelap. Demi keselamatannya, Xio putuskan untuk membawa Mirai ke persembunyian Tengu di Pulau Hemi. Salah satu tempat teraman, yang tidak mungkin terendus prajurit Sora.
Sementara Yuri, hanya memandang punggung Xio dalam diam. Ia hanya mengikuti kemana pria itu pergi. Dengan pelan, Xio membawa Mirai dalam pangkuannya. Berjalan keluar dari ruangan yang berada di puncak Kastil Tengu itu
"Apa rencanamu? Apa kau akan kembali ke rumah Itasuke? " ucapan Xio memecah keheningan. Ekor matanya melirik kebelakang. Sementara gadis berambut merah yang berjalan mengikuti langkahnya hanya terdiam
" Jika kau masih ragu. Kau bisa ikut denganku, Yuri" ucap Xio pelan. Yuri sedikit tersentak, baru kali ini ia mendengar Xio mencegahnya untuk pergi dari sisinya. Senyum tipis tergambar di wajah cantik Yuri
"Baiklah, jika itu maumu" ucap Yuri sambil membenarkan posisi kaca matanya
Xio kembali mengarahkan pandangannya kedepan. Akhirnya mereka tiba di pintu keluar kastil. Langkah Xio terhenti, ia merasakan sesuatu mendekat ke arahnya
"Yuri! "
Yuri mengangguk, ia paham apa maksud Xio. Mata Yuri berubah menjadi mata ular. Ia juga merasakan kehadiran sihir yang kuat di sekelilingnya
" Yora! Menghindar! "perintah Yuri.
Sebuah bola pertir meluncur ke arah mereka. Xio dan Yuri pun berusaha menghindari serangan tiba-tiba itu. Mereka melompat, dan berakhir di dahan pohon besar tak jauh dari Kastil. Xio menatap gumpalan tanah remuk yang disebabkan serangan tadi. Asap mengepul kecil, sementara semua hal disekitar tempat serangan itu hangus terbakar
"Sudah lama sekalil, sejak terakhir kali kita bertemu. Aora! " ucap Xio pelan, ia pun mengarahkan pandangannya menuju semak belukar dibawahnya. Sebuah siluet pria berjubah keluar dari sana. Menatapnya tajam dengan pedang berlapis sihir petir ditangannya
" Lepaskan tanganmu dari Mirai. Yora! " ucap Aora geram. Jika saja Mirai tidak berada di tangan Xio. Bisa saja Aora mengirim 'serangan' kejutan yang lebih mematikan
Tanpa menghiraukan peringatan Aora. Xio memilih menurunkan Mirai
" Apapun yang terjadi. Tugasmu hanya menjaga Mirai. Jangan sekali-kali kau ikut campur dalam pertarunganku. Hari ini adalah hari yang aku tunggu. Jadi Yuri, bisakah aku mempercayakan Mirai padamu?" bisil Xio ke arah Yuri. Gadis berambut merah itu mengangguk yakin
"Kau bisa mempercayaiku, Yora" Xio membalas Yuri dengan seutas senyuman. Ia pun bangkit berdiri. Namun tangan Yuri kembali memegang tangan Xio erat
"Tapi, berjanjilah kau akan kembali dengan keadaan selamat. Jika sampai terjadi sesuatu padamu. Aku akan membencimu, Yora"
Xio mengangguk pelan. Kini mata sekelam malam menatap tajam kearah Aora. Ia pun mengaktifkan Gyoku bulannya. Sinar biru menyeruak memenuhi telapak tangan Xio
"Jika kau ingin bertarung denganku! Ikuti aku! “
Sresssss....
Tubuh Xio berubah menjadi gumpalan gagak dan menghilang. Sementara pria bermasker didepannya hanya menatap tajam dan ikut mengilang dari sana.
Yuri hanya bisa memasang wajah cemas. Semenatar Mirai, masih terbaring lemah. Ia tidak tahu, dua orang yang paling berati dalam hidupnya akan bertarung dengan nyawa sebagai taruhannya
......................
Tranggggg...
Trrrrrrttttt....
Kilapan cahaya hitam dan putih saling berbenturan dilangit malam. Tepat di atas sebuah kastil tua yang megah, dua bayangan itu saling menyerang satu sama lain. Saking cepatnya, pertarungan antar saudara sedarah itu hanya menyisakan seklibat cahaya yang saling berbenturan. Tidak ada satu pun yang mau mengalah. Dengan kekuatan hebat yang mereka miliki, mustahil pertarungan itu akan cepat berlalu
__ADS_1
Langit malam yang cerah, tiba-tiba berubah menjadi kelabu. Seolah ingin menyaksikan pertarungan antara dua reinkarnasi tertinggi di dunia sihir itu. Kilapan cahaya petir menyeruak, memecah hutan ibilis yang selalu menampakkan suasana kelam.
Tap...
Tap....
Xio atau kita bisa panggil Yora dalam situasi ini, menapakan kakinya di atas atab menara. Iris mata yang kelam, menatap langit yang mulai menjatuhkan bulir-bulir air ketanah. Yora mengangkat salah satu tangannya ke atas, seolah menyambut datangnya hujan yang semakin deras. Wajah yang tenang, sementara jubah hitamnya mulai basah akibat guyuran hujan. Di tangannya, sebuah pedang berbilah hitam terus mengeluarkan kilapan cahaya sihir. Pria berparas dingin itu seakan tidak peduli dengan area pertarungan yang tercipta dengan saudaranya. Baginya guyuran hujan jauh lebih menarik dibandingkan bertarung melawan saudara kembarnya
Sementara itu, disisi lain Aora juga mendaratkan kakinya di atas atap menara. Jubah putihnya mulai berkibar pelan. Sementara rambut keperakannya mulai terhenpas badai kecil sejalan dengan tubuhnya yang basah tertimpa hujan. Pandangan tajamnya tak mau lepas dari sososk yang bediri disebrang. Sementara sebuah pedang putih, masih setia bertengger di tangan kananya. Memercikan sihir merah langkap dengan kilapan petir menghiasi.
"Aku sudah pernah mengatakan. Jika kita bertemu lagi, aku berjanji akan membalaskan kematian Clan serta ayahku! " ucap Aora mantap. Hanya satu hal yang ingin ia tanyakan ketika bertemu Yora, saudaranya. Kenapa? Kenapa Yora tega membunuh ayahnya sendiri? Selama lebih dari 13 tahun, Aora tidak pernah lupa bagaimana ia mengingat kejadian dimana sosok saudaranya yang tega menebas ayahnya sendiri
"Aora, kebenaran yang kau percayai belum tentu memperlihatkan segalanya. Bahkan dengan mata spesialmu itu, kau masih belum bisa melihat dengan jelas" ucap Yora dengan tenang
"Diam Kau! " Aora mulai melompat ke arah Yora. Dengan Pedang shiroi yang telah berfokus dengan sihir petir miliknya, ia hendak menebas tubuh Yora.
Trasssss.....
Triiingggggg...
Dentingan pedang kembali bergema. Yora menangkis serangan Aora dengan mudah.Aora tidak mau kalah. Ia terus menekan pedang ditangannya hingga membuat kedua pedang legendaris itu bergesek dan mengeluarkan percikan api kecil. Aora tersenyum dibalik maskernya. Ia tahu, saudaranya itu terus menghindari serangan dan mencoba bertahan tanpa menyerang. Mereka adalah saudara kembar, tentu mereka dapat mengerti kelebihan dan kekuarangan masing-masing. Salah satu kekurangan Yora adalah ia tidak bisa bertarung terlalu lama menggunakan kekuatan Fisik. Yora adalah tipikal orang militer yang menggunakan kekuatan sihir sebagai senjata utama.
Trtttttttttt......
Aora semakin menekan pedangnya. Ia sadar, ada perubahan di raut wajah saudaranya.
Brasssss.....
"Sial! " Aora mengaktifkan kekuatan matanya. Dengan sihir miliknya, ia tengah mencari keberadaan Yora yang mungkin saja bersembunyi dan bersiap menyerangnya. Pandangan Aora menelisik ke segala arah. Atas, Kiri, Kanan dan bawah. Tapi ia sama sekali tidak menemukan jejak sihir Yora.
Deg....
Aora baru tersadar, saat ini ia berhadapan dengan pengendali ilusi sihir yang hebat. Yora tidak pergi dari sana, melainkan menanamkan sebuah ilusi seolah ia benar-benar pergi dan mengelabuhi Aora
Trangggg.....
Aora menangkis serangan Yora dengan cepat. Kali ini posisinya benar-benar buruk. Karena ilusi Yora, ia tidak sempat menjaga keseimbangan ketika menginjakan kaki di atap gedung yang mulai licin akibat hujan. Yora terus mendorongnya kebelakang. Sedikit lagi kaki Aora akan terpeleset. Kerikil kecil mulai berjatuhan kebawah dan menghilang dikegelapan malam, Aora sempat melihat keadaan dibawahnya. Kastil yang berada tepat di bibir jurang dalam hanya menapakkan pemandangan hitam dari atas sana. Tidak ada yang bisa membayangkan seberapa jauh dasar jurang dibawahnya
"Apa kau begitu penasaran tentang apa yang terjadi 13 tahun lalu? Jika kau mengetahui kebenarannya, apa kau yakin bisa menanggungnya?
Kau tidak pernah berubah sama sekali Aora! Selalu saja, kau mencoba menjadi yang terbaik dan melupakan orang-orang disekelilingmu! " Yora kembali menekan pedangnya. Membuat tubuh Aora semakin condong kebawah. Sedikit lagi pria berambut abu-abu itu bisa saja terjatuh
" Entahlah, setidaknya aku tidak akan menjadi pengecut yang bersembunyi didalam bayangan sepertimu! " ucap Aora dengan seringai dibalik maskernya
Brasssss....
Aora memilih melemparkan tubuhnya kebawah dan menghilang didalam kegelapan jurang yang berkabut. Yora hanya melihat kebawah dengan diam. Meski wajahnya menampakan ketenangan, jauh dalam dirinya ia masih berkutat dengan pikirannya. Apa yang coba Aora lakukan?
Dengingan suara elang memecah heningnya malam. Samar, sebuah burung besar menerjang dari arah bawah jurang. Kilapan pedang Shiroi memantulkan cahanya malam. Dengan cepat Aora yang berdiri di atas hewan sihir panggilannya itu dan kembali naik kepermukaan dengan kecepatan penuh
__ADS_1
Sressssd.....
Aora kembali mencoba menyerang Yora. Dengan perintahnya, burung raksasa itu menyambar-nyambar Yora yang berdiri di atas atab kastil
Yora mengangkat tangannya pelan, mempusatkan cahaya biru di telapak tangannya. Perlahan bumi yang dipijakknya bergetar hebat. Raungan monster menyeruak memekik telinga. Sekali hentakan jari, sesosok monster besar tercipta dari badan kastil. Menggerang keras, dengan kaki-kaki panjang berbentuk laba-laba keluar dari dalam tanah.
Monster itu mengayunkan kaki-kaki besarnya kesegala arah. Mencoba menangkap burung besar yang dikendarai Aora. Mata menyeramkannya terbuka lebar disetiap kaca jendela besar kastil. Sementara mulut bergerigi terbentuk dari pintu kastil yang lebar. Salah satu hewan mistis peliharaan Tengu, ternyata tersimpan rapat dan tersembunyi menjadi kastil tua yang kokoh
Srashhhhh.....
Srassssshhhhh....
Monster itu mengamuk. Aora yang menghindari serangan bertubi-tubi itu, hanya bisa terbang tanpa bisa menyerang Yora yang berdiri di atas kastil Monster itu.
"Sial! " ia mengarahkan burung elangnya ke atas. Menuju puncak kastil dimana kaki monster tidak dapat menjangkaunya. Yora yang melihat Aora terpojok tidak mau membuang kesempatan. Ia pun menciptakan sebuah busur melalui sihir Gyokunya.
Krttttttt......
Yora membidik elang Aora, menyipitkan matanya dan mengarahkan anak panah yang sudah dilapisi sihir berupa api biru, ketubuh burung besar diatasnya. Monster itu hanya sebagai pengalih perhatian belaka. Jika Aora sibuk menghindari serangan brutal monster itu, tentu ia tidak akan sempat melihat pergerakan yang Yora lakukan
Yora mengeratkan tali busurnya. Targetnya sudah ia kunci.
Brassss....
Anak panah dengan ujung runcing itu melesat cepat menembus langit. Aora yang lengah tidak menyadari kedatangan anak panah yang menargetkannya itu.
Brassss....
Anak panah itu menembus tubuh rajawali. Membuat sekujur tubuhnya terbakar oleh api biru yang dijuluki api keadilan itu.
"Sekarang saatnya! " teriak Aora. Burung yang ia tunggangi sudah menggeliat menahan api yang sangat panas. Namun bukan Aora namanya jika ia tidak memiliki rencana disetiap pergerakannya
Ia mengangkat tangannya keatas. Sebuah sinar merah tercipta dari gyokunya. Pandangannya tertuju pada empat titik tombak besi yang sudah ia tanam sebelumnya. Pergerakan Aora menghindari monster itu bukanlah pembelaan diri semata. Diam-diam ia menanam tombak besi pengendali petir di sekeliling tubuh sang monster
"Aku sudah mengorbankan elangku. Sekarang giliranmu! Matilah....... "
Sihir Aora menembus langit, membuat awan mendung mengumpal menyeruapai angin tornado yang mengamuk. Kilapan cahaya petir tercipta dari awan mendung itu. Aora memanfaatkan petir alami itu untuk membunuh monster di hadapannya
Trrrrrrrrr.......
Petir merah mejalar dari langit, dengan pengendalian sihir Aora. Ia mengarahkan petir itu ke empat titik besi yang ia tanam. Dalam hitungan detik. Besi-besi itu menghantarkan kekuatan satu sama lain dan menjebak tubuh monster Yora dalam kekuatan yang hebat
Boooooommmmm.....
Ledakan disertai gerangan kesakitan monster itu terdengar. Tubuh monster yang sudah dilapisi petir merah perlahan ambruk dan tertelan ledakan kekautan yang diciptakan Aora. Hutan iblis diselimuti kabut yang tebal. Sementara hujan terus saja mengguyur area pertarungan yang sudah hancur dan dipenuhi puing-puing bagunan
Tubuh Aora terpental turun. Dengan sekuat tenaga ia masih bisa mendarat ditanah tanpa mengalami luka yang berarti. Mata semerah darah terus menatap bangunanya yang hancur. Mencoba mencari jejak kebreadaan Yora yang ikut meledak dengan tubuh Monster
"Hah... Hah.. Hah... " Nafas Aora terengah. Mengendalikan petir sebesar itu tentu membutuhkan tenaga dan konsentrasi sihir yang mumpuni
__ADS_1
" Apa dia sudah mati? " gumamnya sambil mencoba berdiri. Pandangannya menelisik ke setiap sudut. Mata Aora membulat sempurna, ia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini
" Tidak mungkin" gumamnya