
Gema langkah kaki Mirai menyusuri sebuah ruang gelap. Di hadapannya kini terlihat Nee dan Zou yang tengah duduk membersihkan pedang mereka masing-masing.
"Lihat, siapa yang berkunjung? " ucap Zou acuh tanpa mengalihkan perhatian dari jarum-jarum ditangannya
" Ada perlua apa Yuki? " tanya Nee. Mirai tidak membalas pertanyaan kedua orang di depannya. Pandangannya hanya tertuju pada sosok yang tidak ia lihat keberadaanya
" Dimana Leader? "
" Ck! Setidaknya kau harus menyapa seniormu lebih dulu" ucap Zou mulai kesal karena prilaku Mirai yang kerap kali mengacuhkannya
"Dia ada di ruangannya"
Tanpa mengubris Zou, Mirai langsung meninggalkan kedua orang itu, ia berjalan menuju ruangan tertinggi di kastil Tengu. Di dalam sebuah ruangan, Xio tengah membalik kitab bertuliskan "Tiga Pilar" dalam halaman buku tersebut, terdapat sebuah kutipan yang ia gumamkan pelan
Batu ke dua, melindungi kekuatan besar, kekuatan yang dikelilingi oleh simbol kelicikan serta racun penuh makna, tidak ada yang berani menatapnya, namum memiliki jiwa lembut layaknya lili putih
Xio masih belum menemukan Lokasi batu kedua atau yang lain. Berbeda dengan petunjuk letak batu pertama, yang secara gamblang merujuk Desa Besi. Justru letak batu yang tersisa, hanya ditunjukkan lewat kalimat yang hanya memberikan kata kunci, layaknya teka-teki.
Tok.... Tok.... Tok....
Seseorang dari luar mengetuk pintu ruangan Xio.
"Ini aku, Yuki" ucap suara dari luar pintu.
"Masuklah" Xio berdiri dari tempat duduknya, ia menyambut kedatangan Mirai
"Kenapa kau kesini Yuki?"
Barkkkkk.....
Mirai meletakkan tas besar di meja kerja Xio. Mirai menatap Xio dengan tatapan tajam sambil membuka jubah yang membuatnya gerah
"Sekarang! Lepas bajumu Leader"
......................
Xio hanya memandang gadis di depannya dalam diam, sementara Mirai tengah sibuk dengan kegiatannya. Tubuh bidang Xio terekspos, banyak bekas luka di tubuh sang Leader dan tentu di barengi dengan tubuh proposional impian banyak Lelaki.
"Kau tidak perlu datang jauh-jauh ke sini hanya untuk hal sepele seperti ini Yuki"
"Diamlah, biarkan aku berkosentrasi Leader"
Mirai memeriksa keadaan Xio, ia lega luka di dada sang leader sudah sepenuhnya pulih. Kini ia beralih ke luka bakar ditangan Xio. Mirai terkejut ketika memeriksa tangan kanan Sang leader.
"Tampaknya, semua luka sudah sembuh. Kekuatanmu juga sudah hampir pukih sepenuhnya" Ucap Mirai sambil menatap Xio, Mirai pun Mengambil obat di dalam Tas Medis besrnya. Ia coba oleskan untuk menghilangkan sisa luka di tubuh Xio.
"Leader........ " ucap Mirai sambil terus mengobati luka Xio
" Terimakasih untuk semua, kau telah menyelamatkanku dari pasukan Militer yang memanfaatkan kekuatan darahku, kau juga memberiku tempat di Tengu. Kau selalu ada saat aku dalam bahaya, bahkan kau juga menyelamatkanku hingga kau sendiri terluka.
__ADS_1
Terimakasih Leader...... " Xio terdiam sejenak, ia tatap lekat paras cantik yang tengah sibuk mengoleskan salep di tubuhnya
" Bagiku, kau adalah satu-satunya cahaya yang aku miliki Yuki. Menolongmu dan memastikan dirimu baik-baik saja merupakan penghiburan serta kebahagianku" ucap Xio. Mirai tersenyum sambil menatap Xio
"Kau juga Leader, kau bagaikan kakak laki-lakiku yang selalu ada untukku! " ucap Mirai dengan senyuman. Xio hanya mengelus pelan kepala Mirai,
"Kau tersenyum? Tampaknya, Sikapmu sekarang telah berubah. Dulu kau selalu bersikap dingin kepada semua orang Yuki"
"Kau sendiri, Kau selalu memasang tampang dingin itu, orang-orang tidak tahu, bahwa hatimu jauh lebih lembut dari kapas Leader" Mirai merapikan peralatan medisnya, lantas menyerahkan mantel milik Xio. Sementara pria berwajah datar itu menerima begitu saja dan langsung mengenakannya
"Sudah aku bilang, hanya kau cahayaku tempatku menunjukkan sisi lain hidupku"
"Perawatan lukamu sudah selesai, mulai sekarang aku minta kau jangan sampai terluka Leader. Terlebih jika kau terluka karena menyelamatkanku, tidak akan aku biarkan" Ucap Mirai dengan nada mengancam
"Tentu, baiklah"
Xio memperlihatkan senyumannya, tidak seperti biasa, ia memperlihatkan senyumannya secara penuh. Wajah tampan yang tersenyum Milik Xio sangat manis, matanya menyipit memperlihatkan eyes Smile miliknya.
Mirai sesikit terpukau dengan apa yang dilihatnya, ia jarang atau bahkan tidak pernah melihat senyuman Xio. Selama ini Sang Leader keukeuh dengan wajah datar ber es khas miliknya.
"Oh ya Yuki, maukah kau mengenang masa lalu denganku? "
......................
Di sebuah kota yang dijuluki kota 'Iblis', kota tempat seluruh penjahat berkumpul, serta seluruh informasi ilegal berada. Ada banyak macam penjahat di sana, baik pembunuh atau pengkhiat Negara berkumpul di kota ini. Bahkan ke 3 Negara besar tidak berani mengusik Wilayah terlarang itu.
"Bisakah aku bertemu Bos kalian, Zuryu? " tanya Mirai
Brakkkkkk.........
Laki-laki itu mengebrak Meja dan mulai menatap Mirai dengan garang. Ia terlihat tidak terima ketika gadis seperti Mirai berani memanggil bos besar mereka dengan namanya saja
" Tidak ada yang memanggil bos besar kami hanya dengan namanya, atau kalian berani menangtang kami" ucap Pria itu.
"Cukup kau panggil Boss kalian keluar, aku tidak ingin membuat keributan di sini" Ucap Mirai menatap pria bertubuh besar itu tak kalah dingin. Pria itu tidak mau kalah, ia pun memanggil rekan-rekannya untuk menakuti Mirai
"Teman-Teman! "
Munculah 3 pria berbadan besar, mereka dikenal sebagai 'Monsternya' kota Iblis.
"Sudah aku katakan, kalian hanya perlu memanggil Zuryu keluar, kami tak ingin membuat keributan. Lagi pula waktu luangku hanya sesikit! " ucap Mirai dengan muka kesal
......................
Sementara itu, di sesa Sora. Di sebuah apartemen khusus anggota Militer, seorang pria berambut abu-abu tengah sibuk membereskn barang untuk keperluan misi jarak jauhnya. Mata merah kecoklatannya yerihat begitu malas, saking ngantuknya ia bahkan salah membedakan sikat gigi dengan penggosok badan. Alhasil gadi kecil yang turut bersamanya hanya bisa berdehem pelan
"Hah! Benar-benar merepotkan " ucap Aora yang tengah mengemas barang-barang untuk Misi ke Negeri Hoshi
" Kau hanya mengemas sedikit barang, tapi sudah mengeluh! Lihatlah apa yang kau kemas ke dalam tasmu? Kau mau ke sauna atau pergi misi sih?! " uca Gadis kecil di belakangnya.
__ADS_1
Yuhee tengah sibuk membalik halaman buku yang dibacanya, sambil memutar tubuhnya yang duduk di kursi belajar Aora. Aora hanya menoleh bosan ke arah gadis itu
"Kau juga. Kenapa kau malah datang ke rumahku, bukankah sebelum tinggal di Asrama Sora, kau kan tinggal dengan Mirai"
"Kak Mirai pergi pagi-pagi sekali, ia mengatakan akan mengunjungi temannya di luar desa" ucap Yuhee tanpa mengalihkan matanya dari buku bajaanya
"Teman? Aku tidak tau Mirai memiliki teman di luar desa?" Aora mulai penasaran. Ia tidak tahu Mirai memiliki temam selain Hanna dan yang lain
" Kak Aora tidak tau saja. Gadis cantik seperti Kak Mirai mungkin menemui seseorang yang penting di luar, mungkin dia pacarnya! " Yuhee berkata asal, meski tujuan sebenarnya adalah memanasi Aora
"Dengan sikap Mirai, tidak mungkin ia memiliki kekasih" ucap Aora sambil mengibaskan tangannya
"Siapa bilang, bahkan di Rumah Sakit, ada banyak anggota Cops Militer yang sekedar mampir untuk bertemu Kak Mirai. Bahkan ada yang pura-pura jarinya terluka cuma agar dirawat! " Mendegar ucapan Yuhee, Aora sontak berdiri
"Siapa dia? Kau tahu apa pangkatnya? " ucap Aora sambil berdecak Pinggang. Jika urusan pangkat, selain ketua Zen atau tetua Sora tidak ada yang berani berurusan dengan Aora
" Entahlah..... Yang jelas kak Mirai gadis populer. Bukan hanya di rumah sakit, tapi di semua Devisi Militer Sora, sikap dinginnya itu menambah pesona ala Bad girl gitu"
"Kau tau darimana? " Aora mengernyitkan alisnya penasaran
" Semua orang tahu, Hanya pria bodoh yang membiarkan gadis pujaanya di kelilingi pria yang siap menikungnya, kau itu terlalu lamban Kak Aora" ucap Yuhee sambil memandang Aora dengan tatapan yang sulit diartikan. Yuhee mulai mengibaskan tangannya, memberi kode agar Aora mendekat
Aora mulai mendekati Yuhee, Yuhee pun menyuruh Aora untuk lebih mendekat dan mulai berbisik pelan
"Kak Aora suka sama Kak Mirai kan? "
Aora terkejut, gadis kecil di depannya tahu perasaannya. Dengan Muka memerah Aora mengangguk malu
" Aku akan memberitahukan caranya, bagaimana kau membuat Kak Mirai juga Menyukaimu"
"Apa?! " Aora mulai berdiri dan menatap Yuhee dengan curiga
"Bagaimana gadis kecil, antisosial sepertimu bisa mengajariku cara mendekati seorang gadis? Jangan kau remehkan seorang ketua Militer, aku tidak sebodoh itu" Ucap Aora dengan mata menyipit. Yuhee menghela nafas
"Bagaimana mungkin aku mempercayakan Pria yang sering membaca Novel Romansa Rated 19, tapi tidak pernah mempraktekannya? " Ucap Yuhee sambil menunjukan buku kesukaan Aora itu. Melihat koleksi sakralnya sontak membuat Aora berdiri dan menghampiri gadis kecil itu
" Hey..... Gadis kecil sepertimu, tidak boleh membacanya" Ucap Aora sambil merampas buku itu.
"Terserah! Tidak ada yang menarik juga dari buku itu" Yuhee mengeluarkan sebuah Buku dari sakunya dan memperlihatkannya ke Aora
" Dengan buku ini, aku banyak belajar dan juga mempraktekan Kiat-kiat di dalamnya. Bahkan ada anak kecil berambut kuning yang jatuh cinta denganku, dan mengungkapkan perasaannya" Ucap Yuhee PD. Aora mulai tertarik dengan saran Yuhee, tentu saja ia menerima saja saran karen dia menyadari ia tidak berpengalaman sama sekali
"Benarkah, coba ku lihat. 'Cara meluluhkan hati seorang Gadis' ? "
" Hem..... Aku membelikan Versi untuk pria seperti kakak, dan imbalannya tolong traktir aku makan di kedai tonkatsu lagi Kak Aora" Ucap Yuhee sambil berbinar, membuat Aora hanya menghela nafas dan mengiyakan permintaan gadis di depannya
"Baiklah"
"Terima kasih Kak Aora yang tampan...... Aku jamin Kak Mirai akan jatuh cinta Kepadamu, aku akan membatumu" Yuhee dan Aora pun berjabat tangan, menandakan aliansi kesepakatan telah terbentuk.
__ADS_1