
Masih Flash Back
Di sebuah lahan kosong terbengkalai, sesosok orang bertopeng 'Dewa Kematian' kini berlutut sambil menunduk, Sementara ia di kelilingi 4 orang sosok lain yang mengenakan topeng sama persis
Tap.... Tap.... Tap.....
3 orang sosok pria bertopeng lain bergabung, lambang awan merah terlihat jelas di seragam mereka. Mereka adalah satuan Cops Merah di bawah komando Tanuki
"Kami sudah melenyapkan dokumen penyelidikan, beserta tim medis yang membawanya" ucap pria yang baru samapai
Seseorang di tim itu pun mengangguk, lantas menatap rekan yang berlutut di depannya
"Kesetianmu akan selalu di kenang Cops Awan Merah, nyawamu diperlukan demi mencapai apa yang Tuan kita impikan" ucap salah satu pria bertopeng yang terlihat sebagai kaptennya
Sedangkan pria yang berlutut masih menundukan kepalanya, tangannya pun terangkat melepas topeng 'dewa kematian' yang menutupi wajahnya. Kini wajah tirus tegas, dengan keringat dingin menetes di keningnya terlihat jelas
"Kau mati bukan sebagai VII-i melainkan Satori, seluruh informasi harus kau hapus dari tubuhmu. Itu adalah printah langsung dari Tuan Kita. Untuk itu kami sendiri yang akan memastikan kau mati" ucap pria bertopeng yang berdiri di hadapn Satori
Meski Cops Merah adalah prajurit tanpa emosi, yang meninggalkan seluruh hidupnya demi sebuah misi. Mereka tetaplah manusia yang memiliki rasa takut akan kematian.
Terlihat jelas tubuh Satori gemetar, ia pun memegang pergelangan tangan kanannya, jejak gelang identitasnya masih tampak. Jika tuan-nya sampai tahu ia kehilangan gelang identitasnya, tuannya tidak akan pernah membiarkan dia mati dengan tenang. Untuk itu, ia sembunyikan pergelangan tangannya, dari rekan-rekan Cops Merah di depannya
"Sebagai rekanmu kami, aku akan membuat kematianmu cepat, dan meastikan tubuhmu tidak meninggalkan jejak apapun" ucap pria bertopeng sambil mengaktifkan Gyoku di tangannya
Ia pun mengangkat tangannya, cahaya kuning terihat jelas dari telapak tangannya. Ia hendak memusnahkan Satori dengan elemen petir miliknya
Krrrtttttttt.....
Suara dencingan listrik terdengar, namun belum sempat pria bertopeng mengarahkan tangannya ke Satori. Sebuah pedang berornamen putih melesat ke arahnya, dan mendarat tepat di sampingnya
Pria bertopeng itu pun menoleh ke arah datangnya pedang itu, siluet pria berambut perak terlihat, meski di dalam kegelapan malam, ia dapat melihat petir merah menyala dari tangan Aora
"Cops Merah, benar-benar luar biasa. Memusnahkan apa yang dianganggap mereka mengganggu, dan menbunuh siapapun demi tujuan mereka"
Mata semerah darah terlihat dari wajah dengan masker itu
"K... Kapten Aora...?
Cepat... Kalian pergi dari sini...... Biar aku yang akan menghabisi Satori" printah pria bertopeng
Namun belum sempat mereka kabur, Aora sudah mencegat pasukan Cops Merah, di tangannya sudah terhunus Shiroi no Ken, pedang putih dengan aliran listrik merah Aora
Dengan Pedang berpetir merah di tangannya, satu persatu pria bertopeng itu di serang, mereka bahkan belum sempat mengaktifkan sihir mereka
Aora terlalu cepat, dengan kemampuan matanya ia dengan mudah menebak posisi musuh meski situasi gelap gulita.
"1....." ucap Aora sambil melumpuhkan musuh
"2....."
Betir merah menyala, memecah gelapnya malam di tengah tanah yang tandus. Tanpa memandang apapun, Aora dengan cepat menembus jantung musuh dengan elemen petir merah yang menyelimuti pedang legendaris di tangan kananya
Cipratan darah segar, memenuhi wajah tampan bermaskernya, Aora bahkan tidak berkedip ketika ia menancapkan pedang ke tubuh musuh
"5......"
Dalam beberapa detik, ke 5 orang bertopeng sudah roboh, darah mengalir dari tubuh mereka. Aora yang masih menatap satu-satunya pria bertopeng di depannya, berjalan mendekati pria itu
__ADS_1
Mata semerah darah Aora, membuat pria bertopeng itu sedikit ketakutan. Ia sudah melihat rekan rekan yang lain tewas, namun misi tetaplah misi, ia harus membunuh Satori yang masih terikat dan berlutut di depannya
"Sial..... " gumam pria itu dari dalam topengnya
Ia pun mengayunkan tangannya, dengan cepat hendak membunuh Satori
Tag......
Seseorang menghentikan pergerakan tangannya, seorang pria berkaca mata dengan sigap menghentikan aksi pria bertopeng itu
" Kau seharusnya ikut denganku ke Devisi Intel Sora, akan sangat meneyenangkan mengobrak abrik isi otakmu" ucap Rou
Pria itu menguatkan tekanan petir di tangannya, Rou bahkan kelabakan menahan kekuatan pria bertopeng itu
Drakkk....
Aora memukul tengkuk pria bertopeng dengan elemen petirnya, membuat pria itu roboh dan tidak sadarkan diri
"Kau seharusnya bertindak lebih cepat Aora, tanganku sampai melepuh menahan serangannya" ucap Rou protes
Satori yang melihat rekannya tewas, ia pun mencoba membunuh dirinya sendiri. Meski diliputi ketakutan, ia masih setia memegang teguh prinsip Cops Merah
"Sudah terlambat, takdirku berakhir malam ini" gumam Satori bersiap mengigit lidahnya dan bunuh diri
Aora sadar akan perbuatan pria yang berlutut di depannya, dengan cepat ia mencengram wajah Satori, menghentikannya dalam upaya bunuh diri
"Belum saatnya kau mati, kau harus mempertanggung jawabkan berbuatmu, dan memberikan kami bukti siapa pelaku di balik ini semua" ucap Aora sambil mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyumpal mulut Satori
"Eish.... Bukankah itu sesikit berlebihan, Aora. Bagaimanapun pelaku masih memiliki hak asasi" ucap Rou, namun dirinya sendiri malah memukul kepala Satori hingga dia pingsan
"Kau pun sama" ucap Aora datar, matanya pun kembali ke warna semula
Tanpa di sadari Aora dan Rou, dalam tubuh mayat anggota Cops Merah terbentuk segel hitam dan menciptakan tikus kecil berwarna hitam.
Tras.... Tras... Tras.....
Pria bertopeng hewan, dengan seragam Awan Putih menghancurkan tikus-tikus itu dengan sekali tebas, ia lantas membuka topengnya
"Si Petir Merah Aora, tidak kehilangan kemampuannya meski sudah bertahun-tahun" ucap Ten sambil berjalan ke arah Aora
"Meski dia tidak aktif lagi di Cops Putih, nyatanya Aora beberapa kali menjalankan misi sebagai anggota Cops Putih, bukan begitu? " ucap Ten
" Ck.... Hentikan ocehanmu itu Rou, dan Ten....aku ucapkan Terima kasih kau telah memberikan informasi tentang Satori" ucap Aora ke arah sahabatnya
"Hm.... Tentu... Kalau begitu, kau harus traktir aku Aora" ucap Ten sambil tersenyum
"Hah... Lagi-lagi kalian hendak menguras isi kantongku......
Dan Rou apa kau bisa masuk ke dalam pikiran Satori? " ucap Aora ke arah Rou
Rou pun mengangguk, ia mengaktifkan Gyokunya, sinar ungu terlihat di telapak tangan Rou. Sambil meletakkan tangannya ke kepala Satori, Rou memejamkan matanya dan mulai konsentrasi
Aora dan Ten hanya menunggu Rou bekerja, pria berkaca mata itu tampak mengerutkan keningnya, itu berarti ia masih dalam ingatan Satori dan berusaha menemukan sebuah petunjuk
"Apa kau yakin, Rou bisa menemukannya dengan cepat? Ini sudah menunjukkan jam 3 pagi, Aora. Pertemuan akan berlangsung beberapa jam lagi" ucap Ten ke arah Aora
"Entahlah.... Tapi jika itu menyangkut keahlian Rou dalam membaca pikiran, kita tidak perlu meragukannya" ucap Aora
Darah menetes keluar dari hidung Rou, perlahan ia membuka matanya.
__ADS_1
"Bagaimana? " ucap Ten dan Aora kompak
Ekpresi bimbang menghiasi wajah Rou, sambil menggelengkan kepalanya tampak jelas ia belum yakin dengan apa yang dilihatnya
" Apa maksudmu?Apa yang kau lihat? " ucap Aora penasaran
" Aku pastikan, dialah orang yang memasang ilusi ke Wanita pengasuh Asrama. Memanipulasinya untuk membocorkan selang gas serta meledakkan Asrama Sora dengan Sihirnya" ucap Rou
"Lalu.... Apa ada pelaku utama di balik ini semua? Tidak mungkin ia melakukan ini semua sendiri, Cops merahlah yang patut di curigai dalam kondisi seperti ini" ucap Aora
Sedangkan Ten hanya berdiam diri sambil menunggu jawaban Rou. Laki-laki berambut coklat itu seakan tidak terkejut, jika Rou menemukan siapa dalang di balik semua itu
"Satori memang diberi perintah oleh seseorang, untuk melaksanakan misi adu domba dengan dalih meledakkan Asrama Sora. Namun, pria misterius itu memberi misi secara Khusus di sebuah hutan. Tidak ada informasi apapun yang Satori ketahui tentang dirinya, bahkan Satori tidak melihat wajah ataupun tubuh pria yang memberinya perintah.
Dalam ingatannya, ia memejamkan mata saat bertemu pria itu, oleh sebab itu aku tidak bisa melihat pelaku utama yang memberinya perintah" ucap Rou
"Lalu bagaimana dengan pria bertopeng ini, kau bisa membaca pikirannya. Setidaknya kita harus menemukan bukti bahwa Cops Merah terlibat" ucap Aora
"Itu tidak ada gunanya Aora" ucap Ten, memecah percakapan antara Aora dan Rou
"Satori..... Sengaja di buat agar ia tidak pernah melihat wajah atasannya. Begitu pula dengan pria bertopeng itu
Cops Merah di latih secara khusus dan siap menjalankan misi dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
Mereka pun dibuat agar menjaga rahasia organisasi mereka dengan ketat, termasuk segel yang di tanam di tubuh mereka tidak mengijinkan mereka membocorkan informasi apapun. Untuk itu, jika mereka melakukan misi tingkat tinggi seperti ini, pemimpin mereka akan memilih anggota yang tidak pernah melihat wajahnya, demi menjaga keamanan sang pemimpin
Kau mungkin bisa membaca ingatan Satori, karena segel di tubuhnya sudah dilepas. Namun, tidak untuk pria bertopeng itu, segel di tubuhnya masih terikat, jika kau berusaha masuk ke dalam pikirannya, ia akan tewas" ucap Ten menjelaskan
"Cops Merah benar-benar berhati-hati dalam setiap misinya. Tapi.... Dari mana kau tahu sebanyak itu Ten? " ucap Rou penasaran, begitu pula Aora
Selama ini, Cops Awan Merah begitu tertutup, bahkan informasi detail seperti itu tidak di ketahui Rou, sebagai kepala Devisi Intel dan Sensor Sora.
Mereka hanya tahu, bahwa Cops Merah memiliki Segel kutukan, namun tidak sedetail yang di ketahui Ten. Termasuk ada anggota Cops yang bahkan tidak pernah melihat wajah pimpinan mereka
Ten hanya terdiam, kemudia ia pun memasang senyumannya kembali sambil berkata
"Anggap saja karena aku sangat membenci organisasi itu, sehingga aku tahu sedikit informasinya"
Pandangan Aora teruju ke arah pria bertopeng di depannya, baginya ia tidak peduli darimana Ten tahu tentang informasi penting tadi. Tujuannya adalah mengungkap kasusu itu apapun yang terjadi
Ia pun mulai berjongkok, dan membuka topeng pria itu. Lantas ia membuka mata pria yang masih pingsan, mata merah darahnya kembali Aora aktifkan
"Pergilah menghadap tuanmu, laporkan bahwa semua sudah kau bereskan. Dan juga lupakan semua kejadian malam ini" gumam Aora, ia kembali menutup wajah pria itu dengan topengnya
Pria itu masuk dalam pengaruh ilusi mata Aora, ia pun bangkit dan pergi dari sana.
"Jadi apa rencanamu Aora? " ucap Rou
Aora hanya terdiam, tanpa menjawab pertanyaan Rou
......................
Sementara itu, di mansion besar tempat Utusan Tsuki menginap, seseorang membunyikan bel ke ruangan tempat Hisui berada
Ting..... Tong..... Ting.... Tong....
" Siapa? " ucap seorang gadis berambut coklat panjang, dengan pakaian khas wanita china, ia pun membukakan pintu
__ADS_1
" Maafkan kami menganggu waktu istirahan anda. Saya Mirai utusan dari Sora" ucap gadis berambut Hitam, sambil menunduk hormat
Di sampingnya terlihat pria berambut biru pucat juga turut menemaninya. Bukan Aora yang mengunjungi Hisui, melainkan Mirai dan Hotaru