Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Tiga Sekawan : Rekan yang menyelamatkan Zen


__ADS_3

Musim berlalu, tahun pun berganti. Tanuki, Kizuna dan juga Zen bahu membahu untuk bisa bertahan hidup di dunia yang keras. Mereka tidak mempunyai pilihan, hal yang bisa mereka lakukan hanyalah mencuri agar bisa tetap bertahan hidup. Mereka tumbuh sambil terus belajar bagaimana cara menggembangkan potensi sihir yang mereka miliki.


Musim dingin yang panjang sudah tiba, hampir seluruh dataran diselimuti salju tebal. Tidak ada rumah yang hangat ataupun makanan yang bisa mengenyangkan perut. Yang ada hanya hawa dingin dan keinginan untuk bertahan hidup. Di sebuah jalanan bersalju yang memecah Hutan, Tanuki tampak mengawasi iring-iringan pejabat yang hendak kabur ke negeri sebrang karena pecahnya perang.


Uap panas memgepul dari mulutnya, sambil menggosok tangannya yang mulai membeku, pandangan Tanuki terus saja mengintai gerombolan orang didepannya. Ada banyak gerobak yang membawa emas serta Wol dalam iring-iringan tersebut.


Tanuki dan yang lain memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri dari para pejabat itu. Toh bukan ide yang buruk mengambil sedikit 'uang' dari pejabat korup yang mendinggalkan rakyatnya sendirian di tengah kemelut perang. Merasa aman, Tanuki melirik dua rekan di belakangnya


"Kalian siap?"


Kizuna dan Zen mengangguk kompak, mereka pun segera bergerak dan melepaskan beberapa jebakan di sepanjang jalan yang dilewati rombongan. Jebakan pertama adalah tombak kayu yang sengaja mereka tanan di tumpukan salju. Tak perlu waktu yang lama, roda-roda kereta barang akhirnya tersangkut.


Brassss!


Jebakan kedua berupa jaring berpemberat sudah dilepaskan, jebakan itu membuat para pengawal rombongan itu terperangkap dan tidak bisa bergerak hebat.


"Sekarang Zen! " teriak Tanuki,


Zen menggunakan sihir dasar angin untuk merobohkan beberapa pekerja, dan membiarkan ikatan pengaman kotak-kotak barang terbuka. Zen sengaja mengunakan sedikit kekuatan untuk merobohkan orang-orang agar tidak melukainya. Dengan lincah, bocah berbadan kurua itu melompat ke atas kereta barang, melewati para pelayan yang masih kesulitan bangun akibat tubuhnya terjebak salju.


" Maafkan aku! " ucap Zen di sela-sela aksinya, ia pun segera merebut beberapa peti serta sebuah keranjang penuh berisi makanan. Ia hendak membawa semua, tapi melihat para pekerja akan kelaparan setelah ini, Zen akhirnya menyisakan keranjang makanan dan tidak jadi membawanya.


"Setelah ini, kalian mungkin akan lembali kedesa kalian. Makanan tentu sangat penting, untuk itu aku tidak akan mengambil makanan kalian! Makasi sebelumnya! " ucap Zen, mungkin hanya dia pencuri yang berterima kasih. Hal itu sontak membiat para pekerja terbengong oleh sikapnya.


" Bocah itu ingin mencuri atau meminjam dari kita? Kenapa dia berterima kasih? " ucap salah satu pekerja dengan tampang bingung.


Sementara itu, Kizuna juga melakukan tugasnya. Ia memastikan bahwa pengawal rombongan tidak bisa keluar dari jebakan mereka. Zen memberi kode siulan, semua sudah beres.


"Tanuki! Semua sidah beres! Kita harus segera lari! " teriak Kizuna sambil memperingatkan Tanuki.


Namun, bocah berambut coklat dengan sorot mata dingin itu hanya memandang kosong ke arah kereta kuda di depannya. Di samping kereta, seorang pria tua gemuk tampak gemetar ketakutan melihat Tanuki. Ia berusaha lari bersama salah satu pelayannya, namun Tanuki segera menghentikannya


" Kau ketakutan? " ucap Tanuki, ia memgeratkan pedang yang masih terhunus garang ditangannya. Tanuki mulai berjalan mendekati pria itu, sementara pria tua didepannya hanya mundur perlahan sambil bersembunyi di belakang pelayannya


" Tunggu apa lagi, halangi bocah dekil itu mendekat! " perintah pria tua itu sambil memdorong tubuh pelayannya ke arah Tanuki


" T- tapi Tuan, dia bisa saja membunuhku! " ucap pelayan itu, ia sempat melirik pedang di tangan Tanuki


" Aku tidak peduli! " pria tua itu akhirnya menendang sang pelayan, pelayan itu sontak menabrak tubuh Tanuki. Namun anehnya, Tanuki hanya menghempas pelan tubuh pelayan itu, dan menyuruhnya menjauh.


Tanuki semakin mendekat, berjalan pelan sambil memamerkan sorot mata pembunuh.


"A- apa yang kau mau dariku? Uang? Kau bisa mengambil semua! "


Tanuki tidak menghiraukan ucapan pria itu, kini ia mulai memghentikan langkahnya.


" Hanya uang yang kau bisa tawarkan untukku? Cih! " ucap Tanuki dengan sorot mata tajam, entah kenapa jenis manusia didepannya membuatnya kesal serta begitu ia benci.


"Aku adalah menteri Sora, pencuri hina seperti kalian tidak pantas menatap lurus ke hadapanku. Jika kalian berani menyakitiku, akan aku pastikan prajurit militer akan memburu kalian! "


Pria itu masih bisa berbicara Arogan, bahkan ketika sekujur tubuhnya bergetar ketakutan, hanya karena bocah menghunuskan pedang ke arahnya. Mendengar hal itu, Tanuki hanya berdecih pelan dengan senyum yang mengejek


" Cih! Bangsawan seperti kalian hanya mementingkan keselamatan diri kalian saja. Kalian menghargai nyawa orang lain dengan uang! Hal itu membuatku muak! " Tanuki teringat akan ayahnya, hanya demi sedikit uang ayahnya rela menjualnya

__ADS_1


" Sebelumnya aku tidak berniat membunuhmu, tapi mendengar ucapan arogan yang keluar dari mulut busukmu. Melihatmu bernafas membuatku kesal!


Sepertinya aku berubah pikiran! Satu-satunya cara meredakan amarhku, hanyalah dengan membunuhmu! Sampah tidak berguna! "


Sorot mata tajam Tanuki berkilap, ia menancapkan pedang miliknya di tanah. Lalu mulai mengulurkan tangan, sambil mengaktifkan gyoku di tangannya ia mulai memciptakan bola api raksasa.


" Matilah! "


Sebuah teknik sihir yang baru saja ia kembangkan, dengan senyum dingin menghiasi wajahnya, Tanuki melempar bola api miliknya dan meledakkan orang itu dalam sekali serangan.


Booom!


Kizuna dan Zen, hanya bisa mematung melihat apa yang dilakukan Tanuki dari kejauhan.


"Apa yang baru saja dia lakukan? Bukankan kita sudah berjanji, tidak akan menyakiti siapapun dan hanya mengambil barang-barang mereka? "ucap Zen tidak percaya. Raut wajah Kizuna tampak kesal, ia putuskan berlari ke arah Tanuki.


" Apa yang kaulakukan! Kenapa kau membunuhnya! "


Kizuna memcengkram kerah baju Tanuki. Namun bocah itu hanya memandang kosong ke arahnya sambil tersenyum puas.


" Aku hanya kesal! Dia menyebut kita pencuri hina. Jadi aku tunjukan, siapa yang paling kuat di antara kita. Apa aku salah?


Mereka, para pejabat membawa semua harta rakyat dan kabur ketika negeri mereka dalam darurat perang. Pria tua itu bahkan rela memgorbankan hidup pelayannya......


Sial!


Mereka hidup di atas sutra mewah tanpa takut mati di medan perang. Sementara anak-anak seperti kita, harus kelaparan di tengah badai salju. Berjuang dengan mempertaruhkan nyawa hanya untuk sepotong roti! Bukankah itu tidak adil?


Untuk itu, aku membunuhnya! Aku akan menunjukkan pada orang-orang bahwa anak-anak seperti kita juga bisa tumbuh kuat tanpa seorang pun bisa menginjak-nginjak kita! "


" Semua! Kita harus segera pergi dari sini! Sepertinya prajurit patroli bergerak mendekat karena ledakan tadi!


Kita harus segera bergegas! Ayo! "


Zen langsung menghampiri Tanuki dan Kizuna. Menarik kedua rekannya agar segera kabur dari tempat itu.


Ledakan yang diciptakan Tanuki, telah terlihat oleh beberapa prajurit militer yang kebetulan berpatroli di sekitar hutan. Ladakan yang sudah mereka anggap sebagai ancaman, tanpa memperdukilan apapun prajurit itu langsung membuat serangan balasan. Ratusan panah api sihir, mereka luncurkan dari segela arah, melesat dengan brutal dan menargetkan Tanuki dan yang lain secara otomatis.


"Sial! Mereka menganggap keberadaan kita sebagai musuh dan melepas puluhan anak panah sihir! " Kizuna terus berlari memecah hutan


" Panah-panah sihir ini tidak akan pernah berhenti sebelum menebas tubuh target!


Kita tidak bisa terus berlari seperti ini! Kita harus melumpuhkannya! " Tanuki mulai mengaktifkan gyokunya


" Kau benar! " Kizuna menghentikan langkahnya, ia pun berbalik sambil menatap puluhan anak panah sihir yang datang ke arahnya.


Kizuna mengaktifkan gyoku miliknya, sebuah cahaya biru tercipta di telapak tangannya. Dengan menggunakan elemen tanah miliknya, ia mencoba menghalau laju anak panah yang menyasar tubuhnya. Sementara Tanuki, dengan memanfaatkan elemen api, ia membakar anak panah yang melesat hingga hancur menjadi abu. Banyaknya anak panah membuat Tanuki dan Kizuna sedikit kewalahan. Namun, karena startegi dan taktik mereka, mereka akhirnya berhasil menghalau anak panah sihir yang menargetkan mereka


"Sepertinya! Ini menjadi anak panah terakhir! "


Brasss!


Kizuna menghempas panah sihir terakhir. Karena keadaan yang kacau, Kizuna hampir lupa dengan keberadaan Zen. Dia satu-satunya yang belum mengembangkan sihir miliknya diantara ketiganya. Sihir Zen masih sangat lemah untuk mempertahankan hidupnya. Zen juga dikenal sebagai yang paling penakut ketika berada dalam pertarungan yang sesungguhnya

__ADS_1


" Tanuki, dimana Zen? "


Tanuki juga tampak lebingungan " Kau benar! Dimana bocah penakut itu?! "


Tanuki mengarahkan pandangannya ke segala arah, hingga menemukan sosok bocah yang bersembunyi di bawah batu besar yang dipenuhi salju. Tanuki menghela nafas keras, Zen benar-benar tahu cara membuat rekannya cemas


" Hey! Zen, jika kau bersembunyi di tempat seperti itu, panah sihir akan menemukanmu dan- " ucapan Tanuki berhenti, ia melihat sebuah panah sihir melesat ke arah Zen.


" Zen! Awas dibelakangmu! "


Tubuh Tanuki secara otomatis tergerak, ia berlari cepat untuk menyelamatkan Zen dari panah sihir yang tersisa. Dengan cepat, Tanuki mendorong tubuh Zen menjauh.


Sreshhhhh!


Namun sayang, pergerakan Tanuki sedikit terlambat dan menyebabkan mata kanan Tanuki terserempet anak panah yang melesat. Hal itu membuat mata Tanuki terluka dan terancam buta.


"Tidak! Tanuki! "


......................


Kizuna meletakkan kotak-kotak harta yang mereka curi sebelumnya tepat di depan pintu gerbang sebuah desa Miskin. Badai Saju semakin memggila, jauh didepannya ratusan anak-anak tidur di udara terbuka dan hanya bisa mengangatkan diri dengan api unggun kecil. Kondisi Desa yang luluh lanta akibat peperangan, tidak ada rumah yang layak, sementara banyak warganya terluka dan belum dapat pengobatan.


"Ini akan sedikit membantu mereka. Dengan emas di dalam kotak-kotak ini, aku harap orang-orang desa bisa membeli makanan, pakaian hangat dan juga obat-obatan. " ucap Kizuna sambil memandang sayu desa didepannya


Alasan mereka mencuri selama ini bukan hanya untuk diri mereka. Kizuna, Zen dan juga Tanuki memberikan seluruh hasil jarahannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Bagi mereka, sedikit saja bisa membantu orang-orang yang bernasib sama adalah sebuah pencapaian yang membangggakan.


Yah, meskipun dengan cara mencuri. Tapi mereka hanya menargetkan orang yang pantas dicuri seperti pejabat korup tadi.


"Ayo kita pergi! " Kizuna membalikan tubuhnya, pandangannya kini tertuju pada Zen yang masih saja memasang tampang bersalah ke Tanuki. Sementara Tanuki, hanya memasang wajah datar yang sedikit terganggu oleh ulah Zen.


" Hya Zen, berhentilah menangis. Lihatlah wajah Tanuki, dia lebih kesal kau menggangunya daripada kehilangan satu matanya! "


" Tapi tetap saja! Tanuki mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku. Hiks! Bagaimana aku tidak menangis terharu! " Zen mulai memeluk Tanuki, sementara Tanuki mulai menghempas tubuh Zen untuk menjauh darinya


" Sekarang, aku benar-benar menyesal telah menyelamatkan bocah cengeng sepertimu, Zen! "


" Tanuki, mulai sekarang aku akan selalu menjadi Temanmu. Kau menyelamatkan nyawaku! Dan aku berhutang budi padamu.


Suatu saat aku pasti membalas kebaikanmu padaku! Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri! Hiks! " ucap Zen sambil terisak


" Terserah apa maumu, Zen! " Tanuki memalingkan wajahnya, namun seulas senyum terlihat.


Kizuna hanya bisa pasrah sambil me ggelengkan kepala melihat dua rekannya itu. Namun, senyuman tidak bisa Kizuna sembunyikan dari wajahnya. Ia begitu bersyukur, telah bertemu kedua temannya itu.


Tanuki dengan ambisi serta sikap dinginnya, jauh didalam dirinya ia adalah sosok hangat yang memperhatikan teman-temannya. Hanya saja, trauma masa lalunya membuat pandangannya sedikit keras mengenai Dunia.


Sementara Zen, bocah penakut dan juga cengeng. Ia mungkin yang paling lemah di antara semua, tapi Zen memiliki hati yang lembut dan juga peka. Hidup dan berjuang bersama mereka membuat Kizuna begitu sulit untuk marah kepada rekan-rekannya itu. Terutama untuk Tanuki, Kizuna sadar banyaknya luka yang ditanggung anak itu membuatnya sikapnya sedikit kejam.


"Teman-teman! Ayo kita lanjutkan perjalanan kita! " ucap Kizuna, mereka pun mulai beranjak pergi


...----------------...


Kalian sebelumnya pasti bertanya-tanya, kenapa sih Zen gk bunuh aja Tanuki dari dulu2... Kenapa keukuh aja harus jadi temannya, bahkan ketika tahu Tanuki itu jahat....

__ADS_1


Inilah jawaban Author.... Kenapa Zen selama ini begitu peduli dengan Tanuki, meski kadang Tanuki itu berbuat sesuatu yang jahat.......


__ADS_2