
"Mirai........ " Sapa Aora sambil berlari ke arah Mirai. Namun, gadis didepannya tak kunjung menyahut. Alis Aora mengkerut heran. Apa yang sebenarnya dipikirkan Mirai?
Mirai yang sedari tadi membeku masih terkejut dengan apa yang di katakan Ten. Ia sama sekali tidak menyadari panggilan dari Aora.
Merasa panggilannya tidak di respon, Aora bersinisiatif mengejutkan Mirai dengan menggenggam tangan gadis yang sudah resmi menjadi keksihnya itu dari belakang. Perlahan tangan besar Aora kaitkan di tangan kecil Mirai. Rasa hangat itu mampu membangunkan Mirai dari lamunanya
"Apa yang kau lamunkan dari tadi, Mirai? " bisik Aora tepat di telinga Mirai. Mirai pun terkejut sambil membulatkan mata, ia baru menyadari kedatangan Aora setelah pria itu menggenggam erat tangannya dari belakang
Akibat refleks yang kuat, Mirai menghenpas keras genggaman tangan Aora, ia terkejut dengan apa yang dilakukan pria berambut abu itu. Tubuhnya menganggap bahwa perlakuan Aora seperti ancaman
"A- Apa yang kau lakukan? " ucap Mirai cepat. rona. Ketika mengetahui sosok Aora, rona merah menghiasi wajah Mirai. Malu, ia pun segera memalingkan wajahnya
"Apa yang aku lakukan salah? ...... Kalau begitu.... Ma- mafkan aku.... " ucap Aora sambil memasang wajah khawatir. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya ternyata membuat Mirai begitu terkejut
" Mirai? Apa kau mengkhawatirkan sesuatu? "
Aora menatap wajah gadis di depannya, ia merasa Mirai tengah memikirkan sesuatu yang sulit. Ia pikir tidakannya tadi membuat Mirai marah, hingga wajah gadis itu memerah padam.
Melihat Aora yang meminta maaf bahkan tanpa mengetahui ia salah apa, membuat senyum mengembang di wajah Mirai. Sambil menggelang pelan ia ungkapkan alasannya menepis genggaman pria ity
"Kau tidak salah apa pun Aora. Kau hanya sedikit mengejutkanku! Da.... dasar bodoh! " ledek Mirai. Jujur ia tidak tahu harus ngomong seperti apa dihadapan Aora. Rasa gugup menguasai tubuhnya saat ini
"Heh? Setelah apa yang kau lakukan malam itu, kau masih menyebutku bodoh? " Aora pura-pura memasang wajah ngambek, meski tentu saja tertutup masker bodohnya
"M- malam apa? A- aku tidak apaham maksudmu! " Mirai pura-pura tidak tahu
Mirai berjalan cepat mendahului Aora, tentu Aora menyusul sambil terus meledek Mirai
" Tentu saja Ciuman malam itu. Apa perlu aku ulangi lagi? Kali ini aku sendiri yang akan memimpin, bagaimana? "
Wajah Mirai semakin memerah. Aora terus meledek Mirai, ia bahkan sedikit menundukan kepalanya sambil terus memperhatikan wajah gadis di sampingnya yang semakin merona
" Aora kau-" gumam Mirai pelan
Mirai menghentikan langkahnya, ia menatap wajah pria di sampingnya penuh arti. Lantas ia melambaikan tangannya kecil, menyuruh Aora lebih mendekat
Tentu. Tanpa berpikir panjang, Aora menuruti apa yang diminta Mirai. Ia pikir ia akan mendapat hadiah lagi dari Mirai. Terlebih dulu ia menengok ke samping, memastikan tidak ada orang di sekitar sana
"Hei.... Mirai..... Kau ternyata gadis yang nakal juga. Baiklah.... Lakukanlah..... "
Aora pun mendekatkan wajah bermaskernya sambil mulai memejamkan matanya. Mata Mirai berubah Horor. Ia pun langsung mencubit pipi Aora keras
" Hentikanlah pikiran mesummu itu Aora! Rasakan ini.......! " Mirai mencubit pipi Aora gemas. Harus ada hukuman bagi pria yang suka meledeknya. Hal itu termasuk Aora
" Awwww..... Mirai.... Hentikan! Kau mencubit pipiku keras! " Sambil memegang tangan Mirai, Aora mencoba menghentika aksi 'sadis' Mirai pada pipinya
Mirai akhirnya melepaskan cubitan mautnya itu. Membuat Aora sedikit menjauh, sambil terus mengelus pipinya
"Kau tidak perlu melakukan itu juga! Kau tahu aku hanya bercanda kan?! Auh pipiku...... "
"Kalau berani saja kau mengolokku lagi! Aora siap-siap saja kau kehilangan 'sesuatu' berhargamu.... Awas saja!! " ucap Mirai dengan siku-siku di kepalanya
Glekkkk.......
Aora tidak berani lagi mengganggu wanita dengan tatapan menyeramkan di depannya. Dengan tenang ia mundur sambil menutupi 'sesuatu yang berharga' miliknya
" T- tidak akan aku ulangi lagi. Maaf Nyonya Mirai yang terhormat...... "
Melihat tingkah lucu Aora, dalam hati Mirai tidak kuat lagi menahan kegemasannya.
Lihatlah..... Betapa menggemaskannya dia.... Xixixix
Wajah Mirai pun kembali serius, ia dengan sekuat tenaga menyembunyikan senyuman dari wajahnya.
"Kesinilah Aora! " panggil Mirai
__ADS_1
Dengan ragu-ragu, Aora pun mulai mendekat. Dengan cepat Mirai mengaitkan tangannya di lengan Aora. Bertingkah manis seolah yidak terjadi apa-apa, bahkan setelah ancaman kemmatian baru saja terlontar dari mulutnya
"Kau pasti lapar. Kau kan baru pulang dari misimu, ikutlah denganku. Aku akan membelikanmu makanan yang enak! " ucap Mirai dengan senyuman super manis
"B- benarkah? "
Wajah Aora tampak was-was, akibat perubahan sikap Mirai yang ekstrim.
Mereka pun menyusuri jalan setapak dengan pohon yang tumbuh di sepanjang sisi jalan. Lengkap dengan daun pepohonan yang mulai berguguran, menandakan musim telah berganti
......................
" Eiish! Bahkan saat operasi atau saat menebas seseorang...... Tidak sesulit ini! "
Mirai tengah bergulat dengan daging sapi mentah di depannya. Dengan segenap tenaganya, ia memotong danging Yakiniku dengan gunting, tapi tidak kunjung terpotong juga
" Apa perlu aku keluarkan pisauku saja? Kenapa pemilik restoran memberikan potongan daging yang tebal ini? Apa benar ini daging sapi? Atau jangan-jangan ini daging mamot?"
Aora yang sedari tadi memegang sumpit dengan nasi di depannya hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Mirai. Gadis di depannya seakan ingin mendeklarasikan perang terhadap daging yang tidak kunjung terpotong itu
"Sudah aku bilang. Aku saja yang memanggang daginya, lihatlah! Sudah hampir 15 menit kau berkutat dengan daging itu, Mirai"
"Kau duduk saja Aora. Aku akan memanggangya dengan sempurna, aku yang akan menyiapkan makanan untukmu sesekali! " Mirai masih keukuh dengan daging didepannya
"Hah! Dengan sikapmu itu, kau justru akan menghancurkan dagingnya, sebelum aku bisa memakannya" ucap Aora sambil menghela nafas pelan
Aora pun meletakkan sumpit di tangannya, ia mulai menyerah menikmati daging yang di panggang Mirai
"Sini. Biar aku saja yang memanggangya, lihatlah tanganmu mulai memerah. "
Aora pun mengambil daging beserta gunting di tangan Mirai, sesekali ia mengelus tangan Mirai yang mulai memerah, akibat berkutat dengan daging dan gunting
Aora dengan telaten, memotong daging menjadi potongan yang lebih kecil dan memangganya. Melihat ketrampilan pria didepannya, Mirai hanya bisa menatap Aora kagum
"Wahhh..... Bagaimana kau melakukannya dengan mudah Aora? "
Mirai hanya bisa mengembungkan pipinya. Melihat ekspresi Mirai, Aora hanya bisa tersenyum di balik maskernya
"Mulai sekarang. Jika kau bersamaku, kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang menyiapkan makanan, atau memasak. Semua itu biar aku yang urus.
Kau hanya perlu melakukan apa yang kau suka dan tentunya yang kau bisa Mirai" ungkap Aora yang masih sibuk memanggang daging
"Sidah matang, ini makanlah. " Aora menaruh potongan daging di mangkuk Mirai, yang di balas senyum Mirai.
"Terimakasih makananya! " Mirai melahap potongan daging dengan lahap. Sesekali ia meperhatikan Aora, yang dari tadi bahkan belum menikmati hidangan disepannya sedikitpun
"Kau tidak makan Aora? Kenapa dari tadi kau hanya memandangiku saja? Apa kau tidak menyukai makanan ini? " ucap Mirai dengan pipi yang masih mengelembung
" Bahkan hanya melihatmu makan saja, membuatku senang. Baiklah....... Aku akan makan juga..... Terima kasih makananya! "
Aora pun mulai menarik masker di wajahnya. Mirai tidak sengaja melihat meja di sampingnya, terlihat dua wanita tengah memperhatikan Aora sedari tadi. Bisiskan setan tertangkap indra pendengaran Mirai yang sensitif
" Bukankah dia kapten Aora? Lihatlah meski dengan wajah yang tertutup masker, dia masih terlihat keren..... " bisik salah satu gadis dengan nada histeris
" Iya..... Bahkan dia juga pandai memanggang Yakiniku juga. Dia benar-benar tipeku, tapi siapa gadis di depannya itu? Aku belum pernah melihatnya. "
"Entahlah.....Mungkin dia bawahannya! "
Mirai mulai geram dengan bisikan 'setan' gadis di sampingnya itu. Tanpa mengalihkan perhatian dari dua wanita.
Barkkk.......
Mirai meletakkan sumpitnya dengan keras dimeja. Ia pun menatap Aora yang hampir melepas masker diwajahnya. Buru-buru Mirai menghentikan Aora
" Tunggu! "
__ADS_1
Aora pun tidak jadi menarik maskernya, kini ia hanya bisa melihat Mirai dengan tatapan horor. Aora kembali meneguk ludahnya kasar. Kali ini, apa kesalahan yang ia lakukan?
Mirai kembali menggebrak meja kuat, sambil menatap ke dua gadis itu dengan tajam. Tatapan membunuh Mirai membuat kedua gadis itu mengalihkan pandangannya - takut.
" A- Ada apa Mirai? "
Keringat dingi mulai menetes di wajah Aora, ia masih belum terbiasa dengan sikap ekstrim Mirai.
Mirai menatap Aora tajam, ia pun mengambil menu di sudut meja dan menggunakannya menghalangi pandangan gadis-gadis itu. Bisa gawat juga jika Aora menampakkan mukanya
"K- Kenapa kau menaruh menu di samping wajahku? Apa ada yang salah M- Mirai" ucap Aora gagap
"Sudahlah! Kau bisa membuka maskermu sekarang dan cepat makan! ...... Kau jangan Hiraukan aku........ "
Aora pun menurunkan maskernya, dan mulai makan dengan takut. Meski Mirai dengan kertas menunya mencoba menutup pemandangan orang-orang. Aora menatap Mirai aneh. Sebenarnya apa yang tengah dipikirkan gadis itu?
" Apa? Ada untunya juga kau memakai masker Aora. Aku juga ingin membantu menutupi prifasimu kan? " ucap Mirai mencoba memberi alasan untuk prilaku absurdnya itu
"Tapi. Tidak seperti ini juga Mirai, apa wajahku sejelek itu? Harus kau tutupi sampai seperti ini? Asal kau tahu saja, aku menutupi wajahku bukan karena kurang PD. Aku menutupinya karena alasan lain! "
"Apapun alasanmu, intinya kau harus menyembunyikan wajahmu. Asal kau tau kau terlihat jelek saat makan. Ya benar! ... Kau jelek sekali...... " ucap Mirai dengan suara gagapnya
" Terserahlah..... Lakuka apa yang kau mau! " Aora akhirnya menuruti Mirai
Huh............
Mirai mengehela nafas lega. Ia kembali memandang lekat wajah Aora. Mirai tampak tersenyum lega, untuk pertama kalinya ia merasa sangat bahagia
Untuk pertama kalinya.....
Aku mencoba menjadi orang yang egois.
Seberapa keras aku mencoba...... Aku tidak bisa menahan perasaanku pada laki-laki ini.
Aku ingin terus berada di samping Aora.
Untuk Cinta pertama yang aku rasakan dalam Hidupku ini. Bolehkah aku terus bersikap egois? Hanya untuk terus berada di sisinya.....
Meski sebuah topeng harus aku gunakan untuk mengelabuhi orang-orang
...****************...
Epilog : Malam ketika Aora mengungkap perasaanya kepada Mirai
" A- Aku menyukaimu.... Mirai! "
Ucap Aora sambil menunduk. Ia mengungkapkan perasaanya kepada Mirai yang selama ini ia pendam didalam hatinya. Mirai hanya tertegun mendengar pengakuan Aora
Tidak Mirai...... Kau tidak boleh menerima cinta Aora!
Sadarlah! Kau hanya seorang mata-mata dan Aora salah satu orang yang kau perdaya
Berbaliklah! Segera kau tolak cintanya dengan kepergianmu........ Kau tidak boleh egois Mirai!
Tapi...... Apa salah jika aku sedikit Egois?
Aku juga menyukainya dan ingin terus berada di sampingnya.......
Hanya kali ini...... Biarkan aku bersikap egois....
Setelah bergulat dengan batinya. Dengan berlari kecil, Mirai menghampiri Aora yang yang menunduk
"Dasar Bodoh kau Aora! "
__ADS_1
Tidak...... Akulah yang bodoh........... Karena berani mencintaimu Aora...........
Mirai pun mencium bibir Aora. Ia menumpahkan seluruh perasaanya kepada pria yang membuat jantungnya berdegup kencang untuk pertama kalinya