Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pernyataan Aora


__ADS_3

Sebuah kota besar mulai terlihat samar, kota cantik di tepian sebuah laut merupakan daya tarik Negeri Hoshi. Kapal pun mulai menyandar dipelabuhan. Mirai memahpah Aora yang masih tepar akibat Mabuk Laut akut, sedangkan Shiyuu bertemu dengan utusan dari pihak Hoshi untuk mengurus beberapa hal penting sebagai kapten


"Senang bisa menyambut utusan dari Negeri Sora. Perkenalkan nama saya Tsuyu, saya adalah asisten Pemimpin Negeri Hoshi, Tuan Hotaru" ucap seorang gadis cantik berambut pirang. Tsuyu merupakan utusan Hotaru yang akan mengajak Mirai dan yang lain berkeliling


"Suatu Kehormatan juga bagi kami mengunjungi Negeri yang cantik ini"


Bagi Hoshi dan Sora, adalah dua negara tetangga yang memiliki riwayat permusuhan di masa lalu. Hampir tidak ada yang namanya perdamaian di kedua belah pihak. Namun dalam kurun waktu 10 tahun, genncatan senjata dan perjanjian damai telah di sepakati


Kini kedua belah pihak saling menghormati perdamaian, dan saling menghormati kekuasaan masing-masing pihak tanpa melibatkan kekuatan militer. Untuk itu perdamaian sangat penting, demi mencegah perang pecah dan juga pertumpahan darah terjadi lagi.


Karena misi penting itulah, Aora dan tim Sora mendapatkan tugas untuk mengantarkan surat permintaan Maaf dari Negeri mereka atas insiden Desa Fuu, sebagai utusan demi menjaga perdamaian tetap terjalin


"Kami akan mengantarkan kalian ke penginapan, tuan Hotaru mengatakan bahwa besok akan ada pertemuan dengan para tetua dengan kalian. Untuk sekarang kalian boleh istirahat dan menikmati waktu di negeri kami" ucap Tsuyu sambil menujukan jalan didepannya


Mereka pun mulai memasuki Desa Hoshi, sebuah pusat pemerintahan Militer terkuat, selain Sora dan Tsuki


......................


Mirai mulai mengemas barang-barangnya di kamar tempatnya menginap. Dalam Misi penting ini, mungkin ia akan menghabiskan berhari-hari di negeri cantik Hoshi


"Ah! Benar juga, aku harus memeriksa keadaan Aora. Dasar.... Baru naik kapal selam 3 jam saja, tubuhnya lemas seperti itu! "


Mirai pun berjalan keluar kamarnya. Kamar Aora berada tepat di depan kamar Mirai sehingga dengan mudah ia bisa memantau mabuk kaut akut Aora


Tok.... Tok....tok....


"Aora kau tidak apa-apa? Apa perutmu masih mual? "


Tidak ada jawaban dari dalam, Mirai pun mulai Khawatir. Ia lalu mencoba membuka pintu kamar Aora dan benar saja Aora tidak mengunci kamarnya


Mirai masuk ke dalam kamar, di lihatnya Aora masih tertidur di ranjang. Dilihat dari kondisinya, Aora mungkin mengalami pusing dan mual hebat. Ia bahkan tidak merapikan barang-barangnya dan hanya meletakkannya asal dilantai


" Hemmm..... Kurasa mabuk laut Aora parah..... Coba aku periksa saja"


Mirai mulai mendekati Aora, ia terkejut Aora tertidur sangat pulas bahkan ia tidak sadar akan kedatangan Mirai. Sambil memperhatikan pria yang berbaring didepannya, ada satu hal yang mencuri perhatian Mirai. Aora ketika tertidur seperti ini bahkan tidak menutup wajahnya dengan masker. Seperuh wajahnya hanya tertutup selimut, dan tidak mengenakan masker bodohnya



Mirai terdiam sejenak sambil memperhatikan Aora lekat. Bukan karena ia terpesona pada pria itu, melainkan pikirannya mulai penasaran dengan wajah sebenarnya Aora


Apa aku tarik saja selimutnya pelan? Toh dia masih tertidur lelap!


Hey! Mirai apa yang kau pikirkan? Itu sama saja curang..... Melihat wajahnya tanpa ijin....


Mirai masih berperang dalam Pikirannya, sambil menautkan alis dengan tangan didagu. Namun akhirnya, ia memutuskan mengikuti nuraninya. Ia pun mendekati ranjang Aora untuk memeriksa keadaan Aora lebih dulu, meski dalam hatinya ingin menyingkap selimut itu lebih dari apapun


Mirai mulai memeriksa suhu tubuh dengan menempelkan tangannya ke kepala Aora, sambil membandingkan panas Aora dengan suhu tubuhnya. Tiba-tiba saja tangan besar Aora memegang tangan Mirai.


Mata merah kecoklatan Aora kini mulai terbuka, menatap lurus mata Mirai dengan pandangan yang sulit diartikan

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa? " ucap Mirai dengan raut wajah terkejut


" Hm..... Kepalaku sedikit pusing, aku masih bisa merasakan kamar ini bergerak" ucap Aora dengan mata malas, tapi tidak beranjak menatap Mirai intens


Mirai terkekeh, tingkah Aora saat ini sungguh seperti anak kecil yang tengah merengek. Mirai pun meletakkan obat di samping tempat tidur Aora


"Minumlah, dan istirahat. Besok kita akan menghadap Tetua negara Hoshi" Mirai pun beranjak dari sisi Aora, ia hendak mengambilkan air, namun tangan Aora menghentikan langkahnya. Dan seketika itu menarik pergelangan tangan Mirai.


Tarikan kuat Aora membuat Mirai jatuh ke pelukan laki-laki itu, dengan posisi Mirai yang menindih Aora. Waktu seakan terhenti disana.


Mirai menatap wajah Aora yang tertutupi sekimut, hanya sedikit jarak tersisa diantara wajah mereka. Tatapan Aora seakan menembus manik Lavender Mirai, tanpa beranjak sedikitpun mereka berdua seperti tersihir dengan tatapan masing-masing


Mirai hanya bisa meneguk salvia pelan, ia begitu gugup dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Ia bahkan bisa melihat hampir semua wajah Aora, hanya mulut dan dagu pria itu tertutup selimut, selebihnya benar-benar terpangpang nyata di hadapan Mirai


Wajah Mirai sontak memerah, wajahnya sangat dekat dengan wajah Aora. Mirai bisa melihat jelas Mata tegas Aora, mata menawan berwarna merah kecoklatan yang mampu membuat gejolak didalam dirinya


"A- Ada apa Aora? " ucap Mirai dengan gugup


Aora tidak mengatakan apa pun, ia hanya menatap wajah Mirai lekat. Mirai merasakan sensasi hinggap di dada bidang pria untuk pertama kalinya. Ia bahkan menebak wajahnya sudah memerah saat ini


Aora mengeratkan tangannya di pinggang Mirai, memeluk lembut mengikuti pinggang ramping Mirai. Hal itu sontak Membuat Mirai semakin membeku.


" Aku menyukaimu Mirai..... "


Ucap Aora dengan mata yang serius, hanya dengan 3 kata itu, seketika jantung Mirai mulai berdegup kencang. Mirai mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna apa yang barusan Aora katakan


" Hah? "


"N- Nampaknya.....k- kau mabuk berat Aora. Pikiranmu pun jadi kacau, cepat kau minum obatmu dan istirahatlah! "


Mirai dengan suara yang gagap, langsung keluar dari kamar Aora. Meninggalkan Aora yang masih membeku dengan sebuah bantingan pintu kencang.


Brakkk....


Hening.......


Aora mulai berdiri dari posisi tidurnya, sambil mengacak kasar rambut peraknya, dengan ekpresi heran menghiasi wajahnya


"Aku sudah mengikuti apa yang ditulis di buku yang di berikan Yuhee. Aku pun sudah mengakui perasaanku padanya, trus apa yang salah? "


Ucap Aora yang mulai duduk sambil membalik halaman buku yang ia sembunyikan di balik bantalnya. Beberapa saran kencan serta memperlakukan gadis dengan baik pun tertulis di buku yang ia baca. Bahkan untuk mengutarakan perasaannya, seorang kapten militer Sora harus belajar lebih dulu


" Aku sudah menatap wanita yang kusuka dengan tatapan tulus, suasana pun mendukung. Mirai sepertinya mengkhawatirkanku, trus apa yang kurang? "


Aora mulai membaca buku itu kembali, membalik setiap halaman dan mencoba mencari kekeliruannya


" Di sini tertulis. Jika kau mengakui perasaanmu kepada wanita pujaanmu, kau harus mensetting tempat seindah mungkin"


Aora mulai melihat sekelilingnya, sebuah kamar kecil dengan barang-barang miliknya masih berserakan. Tidak ada bunga atau makanan enak, ia menyadari ia salah dalam memilih tempat

__ADS_1


"Tentu.... Tempat seperti ini malah kelihatan mencurigakan, bagaimana mungkin aku menembak seorang gadis di tengah kamar. Bisa-bisa dia menganggapku pria mesum" Aora mulai meruntuki perbuatan bodohnya


"Hah......" Aora menghela nafas berat, frustrasi


"Nyatanya.... Memenangkan hati seorang gadis, lebih sulit dari memenangkan sebuah pertempuran! "


Aora Mulai berdiri dari tempat tidurnya, sambil berjalan pelan ia langsung menuju kamar mandi di pojok kamarnya. Ia pun melepas kaus tidurnya dan menampakkan tubuh atletis miliknya, lengkap dengan Six pack terukir di perutnya. Beberapa bekas luka, menunjukkan bahwa ia benar-benar berpengalaman di medan tempur menambah kesan macho dalam diri Aora.


Tapi nyatanya justru berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini, ia gagal dalam mengungkapkan perasaannya ke Mirai


Aora mulai membasuh mukanya, benar yang dikatakan Shiyuu, wajah Aora benar-benar tampan, dengan sorot mata yang tegas.



"Apa jangan-jangan Mirai menolakku, karena aku sering menunjukkan sikap konyolku di hadapannya? "


Aora memandangi pantulan wajahnya di cermin dengan alis sedikit terangkat, ia berusaha menerka kenapa Mirai tiba-tiba saja pergi


Aora munkin seorang jenius dalam strategi dan bertarung, tapi benar-benar naif ketika menghadapi seorang gadis


......................


Mirai mulai berlari menuju kamarnya, ia tutup pintu ruangan itu dengan keras


Brak......


Nafas Mirai tersengal, ia memegangi dadanya yang masih berdetak kencang. Ia bahkan masih merasakan kakinya begitu lemas, namun Senyum simpul tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya


Apa yang barusan Aora katakan? Dia menyukaiku? Tapi-


Sesaat pandangan Mirai mulai berubah, senyuman malu-malunya diwajahnya hilang. Mirai hanya menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata sedih


Jika saja aku orang biasa. Bisa saja aku langsung menganggukkan kepalaku. Aku juga menaruh perasaanku pada Aora


Tapi.......


Hidupku bukan milikku lagi, tujuanku adalah mewujudkan rencana Tengu. Serta mengungkapkan hubungan ayahku dengan Desa Sora dan kenapa dia harus dibunuh seperti itu....


Benar. Aku tidak boleh egois. Meski harus menyembunyikan perasaanku. Aku tidak ingin Aora terlibat dalam urusanku.....


Dia belum tau sepenuhnya..... Siapa diriku..... Dan apa yang aku tanggung....


Atas bayaran nyawaku.....


Bisa saja, aku dapat melukai orang yang kucintai.......


Di satu sisi Mirai senang, perasaanya kepada Aora terbalas. Bagaimana mungkin ia tidak jatuh hati kepada orang yang menyelamatknnya waktu kecil.


Mirai ingat, nama pria bertopeng penyelamatnya adalah Aora. Ia sengaja merahasiakan dari Aora karena Mirai tahu, ia bukanlah anak kecil polos atau seorang gadis militer biasa. Ia adalah anggota Tim Tengu, organisasi yang terkenal menjalankan tugas entah baik atau buruk.

__ADS_1


Di masa depan, Mirai mungkin akan bertemu bahaya dalam meweujudkan tujuan hidupnya dan tentu ia siap menyerahkan nyawanya untuk itu


Tapi, perasaannya kepada Aora membuatnya bimbang, sekaligus takut itu dapat menyakiti Aora, pria yang mencuri hatinya itu.


__ADS_2