
Derangan suara baling-baling Helikopter memecah langit malam kota Tokyo. Sirine mobil polisi terdengar di segala penjuru.
Malam itu, bulan di langit bersinar dengan terangnya. Di sebuah ladang bunga Soba, seseorang pria memakirkan mobilnya asal. Tempat itu cukup jauh dari pusat kota, terletak terasing tanpa pengawasan.
Di kursi penumpang, tampak seorang wanita berkaca mata tengah tidak sadarakan diri. Wanita berparas cantik itu, mengenakan sebuah jubah dokter bersamaan dengan sebuah ID tersemat di kantong jubah miliknya.
Pria misterius itu tersenyum licik. Kilapan sinar merah teelihat di kedua matanya. Dorongan membunuh mangsanya begitu kuat. Bisa dikatakan pria itu sudah dirasuki Yurei.
Dorongan iblis Yurei membuat pikiran pria itu tergerak untuk mencekik wanita didepannya. Tanpa rasa bersalah, pria itu mulai membuat korbannya mati kehabisan nafas. Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya, wanita itu sempat mencoba bertahan sebisanya. Mencoba melawan dengan memukul asal tubuh pelaku. Tanpa sengaja, ID yang tersemat di jubah dokternya terlempar ke tanah.
Wanita itu tidak bisa mengelak, tenaga pria yang mencekiknya terlalu kuat untuk bisa ia lawan. Di detik-detik terakhirnya, wanita itu sempat membuka matanya. Manik lavendernya mulai meneteskan air mata. Dan akhirnya, ia pun tewas di tangan pria itu.
Setelah membunuh korban, pria itu mulai tersenyum puas. Ia menegakkan kepalanya, mencoba menghirup wangi korbannya. Bersamaan dengan itu, jiwa wanita itu mulai dihisap Yurei yang masih merasuki pelaku.
Untuk menghilangkan jejaknya, pelaku segera bergegas mengambil minyak di bagasi mobilnya. Ia melumuri mobil hitam itu dengan bensin, lantas mulai menyalakan api dari pematiknya. Ia pun melempar pematik itu tepat di tubuh korban
Byuuurrr...
Api mulai melahap badan mobil, tidak memerlukan waktu lama untuk si jago merah melahap tubuh wanita malang itu. Pria itu tersenyum puas melihat aksinya yang sempurna, ia pun membalikan tubuhnya dan berniat meninggalkan tempat itu.
Brassss!
Mirai muncul tiba-tiba di depan pria itu, ia lantas mengarahkan tendangannya dan sukses mengenai tubuh pria itu hingga terpental jauh. Pria itu mencoba bangit, kilapan mata merah terlihat di wajah sangarnya.
"Dewi Salju! Kau benar-benar menggangguku! " ia melesat cepat.
Meski di dalam tubuh manusia biasa, saat jiwa Yurei berhasil memakan Jiwa manusia. Kekuatan sihir iblis itu akan meningkat berkali-kali lipat. Dengan sihir hitam, ia menargetkan Mirai.
Brasss!
Mirai kembali menghempas tubuh pria itu dengan sihir es miliknya. Meski Yurei berusaha menyerangnya dengan kekuatan penuh, wajah Mirai masih terlihat tenang. Ia bahkan tidak menggerakan seujung jarinya untuk menghadapi Yurei didepannya.
"Menyerahlah! Meskipun kau memakan ratusan jiwa manuisa. Kekuatan sihirmu tidak akan bisa menandingiku. " ucap Mirai dengan santainya. Kedua tangannya, bahkan ia masukan ke dalam satu Coat nya.
" Sial! " pria itu tidak menyerah, ia berusaha menjerat Mirai dengan sihirnya kembali. Hal itu membuat Mirai semakin kesal.
" Aish! Aku sudah memperingatimu! "
Belum sempat Yurei melemparkan bola sihirnya ke arah Mirai. Gadis berambut panjang itu langsung membekukan tubuhnya. Sihir kehidupan Mirai menjerat tubuh pria itu. Rambatan sihir biru mulai menjalar ke segala penjuru. Bunga-bunga Soba di sekelilingnya turut merasakan besarnya sihir es Mirai. Seluruh daratan tertutup es. Salju tiba-tiba turun bahkan di tengah langit musim semi.
Krakkk!
Es tebal ciptaan Mirai mulai menjerat dan melumpuhkan pergerakan pria didepannya.
" Kali ini, akan aku bunuh kau dengan style terbaruku. Bersiaplah, kelinci percobaanku! ".
Mirai tersenyum penuh arti. Ia langsung mengaktifkan Gyokunya. Kali ini bukan pedang kristal es yang ia ciptakan, melainkan sebuah senapan laras panjang berwarna putih lengkap dengan simbol clan Salju terukir. Mirai terinsiprasi dari Film yang ia tonton. Bagaimana manusia didunia ini melumpuhkan musuh dengan gaya keren. Mirai memutar senapan beberapa kali, lantas mulai membidik targetnya. Mirai memejamkan satu matanya dan bersiap menarik pelatuk senapan.
__ADS_1
"Rasakan ini. Ini balasan dari wanita yang kau bunuh tadi! "
Darrrrrr!
Sebuah peluru es melesat cepat dan menembus tubuh pria itu. Peluru Mirai tidak melukai tubuh pria itu, melainkan masuk menembus tepat ke arah Jiwa Yurei yang bersemayam di dalam tubuhnya.
" Arghhhhh! "
Yurei menggerang kuat, merasakan tubuhnya membeku karena tertembus peluru es Mirai. Peluru itu juga melepas kekuatan kehidupan. Sedikit demi sedikit mulai mengikis kabut hitam pekat itu. Akhirnya, Yurei itupun lenyap menjadi serpihan es tipis dan hanyut tersapu angin. Sementara tubuh pria itu jatuh ke tanah dengan kondisi tidak sadarkan diri.
"Sayang sekali, aku terlambat. " sesal Mirai.
Senapan di tangan Mirai mulai lenyap menjadi serpihan salju kecil. Perlahan, Mirai melangkah menuju mobil yang masih dilahap kobaran api besar. Mirai sadar, sampai disini ia tidak boleh ikut campur urusan manusia di dunia ini. Ia berniat berbalik dan tanpa sengaja, Mirai menginjak ID wanita tadi.
Penasaran, Mirai segera menganbil kartu kecil itu, dan melihat siapa sebenarnya sosok yang dibunuh Yurei tadi. Mata Mirai membulat sempurna, ketika mendapati foto wanita itu.
"I- ini? "
Mirai melirik ke arah mobil yang masih terbakar, tangannya tiba-tiba lemas. Di dalam ID yang ia pegang, ada foto wanita yang sangat mirip dengannya. Bedanya hanya terletak pada kaca mata yang membingkai matanya. Bahkan bukan hanya penampilan, wanita itu juga memiliki nama yang persis sama dengannya.
Di ID itu tertulis ' Dr. Yuki Mirai, Rumah Sakit Pusat Tokyo'
......................
Sebuah Helikopter terbang rendah di sepanjang lapangan luas yang dipenuhi bunga Soba. Dari dalam helikopter, sebuah tali dibentangkan kebawah. Beberapa orang berseragam militer hitam lengkap dengan senjata laras panjang, mulai turun menggunakan tali dan mendarat di ladang Soba.
" Special Forces unit kejahatan, laporkan bagaimana kondisi di sekitar sana! "
Suara bising radio pengawas terdengar. Salah seorang kapten pasukan elit bersenjata itu, mulai mengaktifkan alat komunikasi jarak jauh di telinganya.
" Ini Tim Alpa. Kami berhasil melacak keberadaan mobil Genko. Golden Time masih terus berjalan. Kami masih memastikan apakah sandra bisa diselamatkan! Ganti! "
(Golden Time : Kurun waktu yang fatal harapan korban selamat, berkisaran dua jam setelah aksi penculikan terjadi. Waktu itu digunakan para predator untuk menghabisi nyawa korban. Setelah lewat kurun waktu, itu bisa saja korban sudah tewas di bunuh pelaku)
" Markas pusat, memberi ijin untuk menembak pelaku di tempat. "
" Printah kami terima! " pria itu mulai melepas alat berisik itu dari telinganya.
Ia membenarkan helm hitam yang ia kenakan. Seperti pasukan khusus bersenjata lainnya, pria itu mengenakan masker untuk menutupi setengah wajahnya. Ia mulai bergerak mengendap-endap, iris merah kecoklatannya menyisir ke segala penjuru. Tak lupa, ia mensiagakan senjata laras panjang hitam di tangannya.
Pria itu adalah pria yang sama yang menemukan pin rambut Mirai. Ia bahkan menyelipkan pin rambut itu di saku seragam tentaranya. Instingnya mengatakan, ia akan bertemu wanita pemilik pin itu malam ini.
Samar, kibaran api besar terlihat di ujung sana. Pria itu memberi printah menggunakan kode tangan ke prajurit bawahannya.
"Menyebar! "
......................
__ADS_1
Mirai masih diam membeku, menatap kosong ke arah mobil yang terbakar didepannya. Tangannya bergetar hebat, ia tidak menyangka akan bertemu sosok lain dirinya di dunia asing ini. Dan lebih menyakitkannya lagi, ia melihat wanita malang itu tewas dihadapannya.
"Jangan Bergerak! Angkat tanganmu ke atas! Sebutkan nama dan berbalik perlahan! "
Suara bariton itu tiba-tiba memecah lamunan Mirai. Ia tidak mempunyai pilihan selain membalikan tubuhnya. Ia tidak takut dengan senjata yang di todongkan ke arahnya, hanya saja suara pria itu tampak familiar di telinganya.
Ladang Soba yang gelap kini benar-benar terang akibat sorot lampu helikopter yang terbang rendah di atas kepala Mirai. Hempasan baling-baling raksasa itu, menbuat seluruh daratan tersapu angin kencang.
Kini, iris secantik bunga lavender menatap luris iris merah kecoklatan pria didepannya. Sadar wanita didepannya tidak berbahaya, pria itu mulai menurunkan senjatanya.
Pria itu segera mengeluarkan foto korban. Ia mencocokan dengan wajah wanita yang berdiri membeku di hadapannya. Pria itu bisa menarik kesimpulan, ia adalah wanita target penyelamatan dalam operasinya.
Pria itu mulai melepas masker yang menutupi setengah wajahnya. Hidung yang mancung, serta bibir yang tipis itu tampak bernafas cepat. Efek berlari membuat dada pria itu berpacu. Iris merah kecoklatannya tampak menyapu ke arah Mirai, menatap khawatir gadis didepannya.
"Nona, kau baik-baik saja? Kau bisa tenang sekarang, kami adalah pasukan khusus yang akan menyelamatkan anda! "
Melihat Mirai masih bergeming, pria itu mulai membuka helmnya. Ia takut, penampilannya akan menakuti Mirai. Surai abu-abu pendek khas tentara militer terlihat. Kini Mirai bisa melihat dengan jelas, siapa sosok pria tinggi yang berdiri di hadapannya. Pandangam Mirai kini tertuju pada pin kupu-kupu miliknya yang tersemat di rompi pria itu.
"A- aora? " ucap Mirai dengan suara tercekat. Kedua matanya tampak bergetar hebat, dan mulai meneteskan kristal bening. Hal itu lantas membuat pria didepannya berjalan pelan ke arahnya.
" Nona baik-baik saja. Apa kau terluka? " ucap pria itu dengan nada khawatir.
Air mata semakin deras jatuh di pelupuk mata Mirai. Tubuhnya tiba-tiba bergetar, ia bahkan tidak bisa berucap dengan baik. Tatapannya tak lepas dari pria didepannya. Hanya satu kata yang keluar dari bibir ranum Mirai.
" A- aora... "
Alis pria itu terangkat. " Nona, bagaimana bisa kau mengenal namaku? "
Mirai tidak menjawab. Ia masih saja menagis sambil memandang lekat wajah yang begitu ia rindukan.
Takdir akhirnya membawaku kembali bertemu denganmu. Di dunia yang baru ini, meski kau tidak mengingatku dan semua kisah kita, itu tidak masalah buatku.
Aku sendiri yang pertama akan jatuh cinta padamu. Di pertemuan kedua ini. Akulah yang mengingatmu lebih dulu.... Dan datang menghampiri mu....
"Nona, kau mengenal siapa aku? "
Aora kembaki melayangkan pertanyaan ke Mirai. Melihat gadis didepannya terus saja menangis, membuat setitik sudut di hati Aora perih. Entah kenapa, hatinya seakan mengenal wanita didepannya itu.
" Mungkin Saja, aku mengenalmu. Mungkin saja, aku tidak mengenalmu. " ucap Mirai ambigu.
Kini Mirai kembali memandang lurus ke arah manik Aora. Seulas senyum terukir cantik di wajahnya.
" Itu tidak masalah. Karena aku, menemukanmu lebih dulu..... "
Dua insan manusia saling menatap satu sama lain di bawah sinar sang rembulan. Berdiri di tengah luas hamparan bunga Soba. Sebuah benang merah takdir membawa Mirai seperti kali pertama ia bertemu Aora di Negeri sihir. Berbeda dengan waktu itu, ia ingat dengan jelas sosok yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya itu. Sosok pria yang paling ia rindukan dan cintai...
...-The End-...
__ADS_1