Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Tiga Sekawan : Ambisi dan Pengorbanan


__ADS_3

...~Masih Flash Back ya~...


Tahun cepat berganti Di Negeri Sora. Tiga sekawan tanpa orang tua serta tanpa rumah, kini menjelma penjadi tiga pemuda tampan nan gagah. Tumbuh menjadi Kapten prajurit militer elite Sora, membuat nama Tanuki, Kizuna serta Zen sangat diperhitungkan, bahkan sampai ke negera tetangga mereka, Hoshi dan Tsuki.


Sora berubah menjadi negara Militer yang kuat, hampir mustahil menembus pertahanan negeri dengann lambang awan tersebut. Namun, semakin tinggi pohon, semakin deras pula angin yang mengguncang. Kekuatan Militer Sora kini diuji oleh datanganya militer Hoshi ke perbatasan Negeri, riwayat permusuhan kedua negera ini hampir mustahil mendatangkan kesepakatan damai.


Kekalahan serta derita perang selalu diladana kedua Negera tetangga tersebut. Gencatan senjata selalu menjadi akhir kisah peperangan di sepanjang sejarah kelam kedua negara itu. Namun, bak cendawan di musim hujan, api-api konflik kembali muncul di sela-sela dinginnya keadaan dan berakhir mengobarkan peperangan yang baru.


Hujan beserta petir menghujam Negeri Sora kala itu. Di tengah malam yang kelam, sosok pemuda berbaju Zirah lengkap dengan lambang awan di dadanya. Kizuna terlihat memandang jauh dari atas pos pengamatan, kilapan api samar terlihat. Hanya berbekal teropong, tidak sulit untuknya melihat daratan membara di ujung sana.


Kepulan asap tebal itu, bukanlah sebuah kebakaran hutan, melainkan sebuah titik pertempuran dimana pasukan Sora bertarung melawan pasukan Hoshi di garis depan.


"Bagaimana situasi di sektor dua? " Kizuna menurunkan teropongnya, hujan yang lebat membuat sekujur tubuhnya basah kuyup. Ia pun melirik anak buah yang masih berlutut hormat di belakangnya.


" Pasukan Cops Merah Kapten Tanuki berhasil memukul mundur prajurit Hoshi. Tapi, itu mungkin tidak akan bertahan lama. Kekuatan prajurit Hoshi tidak bisa kita anggap remeh, Kapten! "


Mendengar berita itu, Kizuna tampak terdiam sejenak. Tangannya mengepal kuat. Di lengan Kizuna tersemat sebuah syal berlambang awan hitam. Awan Hitam adalah lambang bagi pemimpin dua Cops Elite Sora. Cops Awan Putih yang dipimpin Zen dan juga Cops Awan Merah yang di pimpin Tanuki.


" Lalu, bagaimana kondisi Cops Awan putih di bawah komando Zen? "


" Hal serupa juga terjadi di sektor satu. Tentara kita, bahkan tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


Tim bantuan menunggu keputusan Kapten Kizuna, Cops mana yang harus kami selamatkan lebih dulu? "


Di dalam situasi itu, Kizuna diharuskan memilih untuk menyelamatkan salah satu pasukan yang dipimpin sahabatnya. Kizuna adalah pemimpin tertinggi kedua Cops Awan Sora, meski nyawa kedua sahabatnya harus dipertaruhkan di garis depan, Kizuna dituntut untuk memecahkan persoalan dengan kepala dingin. Tanpa harus terpancing emosi pribadi.


"Kapten Kizuna! " salah seorang prajurit bertopeng dewa kematian menghampiri Kizuna. Dari penampilannya yang berantakan, ia sepertinya utusan yang dikirim Tanuki untuk menyampaikan sebuah pesan. Pria itu langsung memberikan Kizuna sepucuk surat.


" Ini surat dari Kapten Tanuki yang memimpin unit Komando sektor Satu, Kapten!"


Kizuna buru-buru membuka surat Tanuki. Matanya membulat sempurna, ketika membaca isi surat yang dikirimkan sahabatnya itu.


"I- ini? "


......................


Booom!


Boooom!


Puluhan bom sihir menghujam benteng pertahanan Sora di sektor satu. Ratusan prajurit yang dipimpin Tanuki tampak bertahan sebisanya. Meskipun pihak Hoshi tidak bisa menyebrang perbatasan, namun pihak musuh masih bisa meluncurkan bom sihir dari kejauhan. Beberapa pengguna sihir berelemen tanah di pihak Sora berusaha membuat sebuah blokade untuk membendung bom sihir yang diluncurkan musuh.


Tanuki berlindung di sela-sela parit tanah biatan anak buahnya, sambil terus mengawai keadaan didepannya. Ia melirik jumlah anak buahnya yang bisa dihitung dengan jari, dalam keadaan terpojok seperti itu, hampir mustahil bagi Tanuki untuk menyerang pertahanan Hoshi menggunakan sisa prajurit yang masih bertahan.


"Kapten, Hoshi semakin mendesak kita! Haruskah kita mengirim surat ke markas pusat? Kapten Kizuna beserta unit bantuan bisa membantu kita untuk memukul mundur pihak Hoshi! " salah seorang bawahan Tanuki mulai menyuarakan pendapatnya.


" Aku sudah mengirim pesanku untuk Kizuna. " ucap Tanuki datar, ia pun mulai mengaktifkan gyoku sihir di telapak tangannya


Raut wajah prajurit di depan Tanuki berubah, seulas senyum penuh harap terukir di wajahnya yang lelah


" Itu artinya unit komando bantuan akan segera datang? Bukan begitu, Kapten? " ucap prajurit itu penuh harap. Tanuki terdiam sejenak, ia lantas menciptakan bola api kecil ditangannya.


" Tidak. Aku menyuruh Kizuna untuk membantu sektor dua tempat Zen berada. Dibanding kita, sektor si pengecut Zen lebih membutuhkan bantuan. "


" A- apa maksud kapten? Jika unit Komando bantuan pergi ke sektor dua. Lalu bagaimana nasib kita, Kapten? Kondisi kita juga dalam situasi benar-benar terpojok! " ucap anak buah Tanuki. Tubuhnya mulai bergetar hebat.


" Berhenti mengeluh, atau aku akan membunuhmu! Aku tidak membutuhkan prajurit pengecut sepertimu. Bagaimanapun kita akan segera membalikan keadaan! Kita akan buktikan ke Hoshi, Sora tidak selemah itu! " geram Tanuki.

__ADS_1


Tanuki kembali melirik anak buah di belakangnya, hampir sebagian dari mereka mengalami cidera hebat akibat peperangan. Tanuki mulai bangkit berdiri, dengan suara lantang, ia mulai memberikan dorongan untuk anak buahnya


" Dengar semua!


Kita akan bertahan sebisa kita. Camkan dalam pikiran kalian. Sora bukanlah Negara yang lemah, yang akan menyerah begitu saja hanya karena Hoshi mengepung kita.


Aku pastikan akan membawa kemenangan bersama kalian semua kembali Sora. Sebagai prajurit yang hebat! Kita akan memukul mundur pihak Hoshi! " mata Tanuki berkilap tajam. Bersamaan dnegan sorak sorai prajurit yang mulai bangkit semangat tempurnya.


Tanuki lantas menggenakan topeng dewa kematian, setengah wajah yang terlilit perban kini tertutup sempurna. Ia mulai menciptakan lebih banya bola api sihir di tangannya. Puluhan Bola-bola api di telapak tangannya mulai membesar, terus memadat dan menjadi gumpalan energi yang siap menyapu pertahanan Hoshi.


" Kita akan mulai serangan balasan kita! Bersiaplah! Apapun yang terjadi, Sora harus menang! " ucap Tanuki mantap.


" Baik! Kapten! "


Tanuki menempatkan ambisinya di atas Negeri Sora. Ia bertekat menjadi kuat dari yang terkuat, dan membawa Negara Sora yang selama ini menaunginya menjadi yang paling dominan di antara Negeri besar lainnya.


Sudah 10 tahun lamanya, ia tinggal dan menjadi bagian Sora. Ia belajar banyak hal, dan berubah menjadi kuat. Untuk itu, ambisinya yang semula ingin menjadi pengguna sihir terkuat lambat laun berubah.


Sora sudah menjadi obsesi baru Tanuki. Ia ingin diakui serta dihormati sebagai pemimpin tertinggi Negeri Sora. Bukan hanya itu, untuk menyempurnakan impiannya, Tanuki juga bertekat menggabungkan dua Negara besar lainnya di bawah Kaki Sora.


"Aku tidak akan akan mati sebelum impianku terwujud. Sora harus menjadi yang terkuat. Dan aku, harus mengenggam Sora ke dalam kuasaku! " gumam Tanuki pelan.


Ia tentu tidak akan menyerah begitu saja, harga diri serta ambisinya sebagai bagian dari prajurit Sora kini dipertaruhkan. Dengan seluruh kekuatan yang terisisa, Tanuki mulai menyerang Hoshi.


" Serang!!!! "


......................


Kemelut perang yang semakin memuncak membuat para pemimpin Sora sepakat untuk melakukan sebuah perundingan. Di kursi Utama, Aoryu, Yukio serta Yoshiro duduk berdampingan sebagai pemimpin Clan mereka.


"Dalam situasi perang yang terjadi diantara Sora dan Hoshi, aku ingin menyampaikan sebuah kabar baik dan kabar buruk. " Aoryu menatap sekelilingnya tajam. Sambil menghela nafas panjang, ia mulai menyampaikan berita baik untuk para bawahannya.


" Berita baiknya, aku telah menerima pesan dari dua sektor medan perang kita, bahwa di pihak Sora hampir bisa mengungguli Hoshi dan menekan mundur prajurit musuh yang mencoba menyebrangi perbatasan. " Semua orang di ruangan itu tampak riuh, beberapa tetua Clan tersenyum bangga menlihat generasi muda Sora yang berhasil mempertahankan kedaulatan Negaranya.


" Namun, kita juga mendapat berita buruk. Perang yang berkepanjangan sudah melahap habis hampir setengah pasukan Militer kita. Meskipun kita sanggup bertahan, kita tidaknbisa melanjutkan perang ini.


Bukan hanya itu, negara kita juga sudah mengalami krisis dan kelaparan dimana-mana. " Tegas Aoryu, kini pria berambut putih itu melirik ke arah pemimpin Clan Salju.


" Pihak Hoshi menyarankan gencatan senjata. Mereka akan menrik pasukan dari wilayah kita, dengan syarat kita tidak meminta ganti rugi pada Negara mereka. Mereka ingin tidak ada yang menang dalam peperangan ini.


Sora memiliki dua pilihan, menerima tawaran Sora atau memusatkan kembali kekuatan kita dan menyerang negeri Hoshi dengan kekuatan penuh. Sebaiknya apa yang harus kita lakulan? "


Ruangan itu kembali riuh, setengah peserta menganjurkan untuk menyerang pertahanan Hoshi. Toh di situasi saat ini, Negara Hoshi dilanda krisis akibat kehilangan personel militer yang cukup banyak. Negara kepulauan itu tentu tidak bisa menerima serangan Sora dalam situasi seperti ini, hal itu mungkin menjadi kesempatan Sora untuk balik menginvansi Hoshi.


Akan tetapi, situasi yang mendukung itu justru bisa menjadi bumerang bagi pihak Sora. Jika mereka menyerang Hoshi secara penuh, bisa saja lebih banyak orang yang harus di korbankan.


"Peperangan. Cih! Sejatinya apa yang kita dapat dari pertempuran ini? Kalah menjadi abu, dan menang menjadi arang. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan tersakiti juga! " geram Yoshiro kesal.


" Apa pendapatmu, Yukio? Sebagai pemimpin Clan Salju, kau harus memberi kami keputusan yang bijak. "


Gadis berambut pirang, dengan mata seindah bunga lavender itu terdiam sejenak, ia tampak mengetuk pelan meja didepannya. Yukio seolah menimbang keputusan apa yang tepat untuk keluar dari masalah saat ini. Ada dua pilihan, menghentikan peperangan atau melanjutkan peperangan ini.


"Ayo, kita akhiri perang ini. " ucap Yukio pelan.


Keputusan pemimpin Clan Salju merupakan keputusan terakhir. Sebagai penasihat Clan Utama, Clan Salju memiliki porsi khusus dalam membuat sebuah keputusan penting. Semua orang kembali riuh, sebagian tampak menyetujui keputusan Yukio, sebagian lagi tampak menyangsikan.


"Kita akan menerima tawaran Hoshi! Kita akan menerima semua syarat Hoshi untuk segera menghentikan perang berkesudahan ini! "

__ADS_1


" Tapi putri, Hoshi bisa saja mengkhianati kita. Mereka akan membangun kembali kekuatan mereka dan balik menyerang kita! " ucap salah satu prajurit yang menentang keputusan Yukio


" Jika perang berlanjut, rakyat kita yang akan menjadi korban. Kelaparan dimana-mana, rumah rakyat sipil hancur tak berisa dan berubah menjadi neraka yang mengerikan akibat perang.


Anak-anak dan perempuan juga menjadi korban! " sementara yang lain, berpendapat mendukung keputusan gencatan senjata.


Kizuna yang melihat kericuhan itu hanya bisa menatap Yukio iba, ia sadar keputusan gadis itu tidak akan selalu diterima. Beban berat atas apa yang dipikulnya, tentu membuat Yukio berada dalam kebingbangan. Pilihan atara menyelamatkan kehormatan Negeri atau keselamatan rakyat.


Di tengah keriuhan itu, suara bantingan pintu membuat seluruh orang diruangan itu diam seketika.


Brak!


"Kau menyuruh Sora menyerah begitu saja, ketika kemenangan sudah didepan mata Kita!


Sora memiliki kesempatan untuk menyerang Hoshi yang lemah. Dan sekaranglah waktunya! "


Suara berat Tanuki mengintrupsi pertemuan, dengan langkah tegas pria yang hampir sekujur tubuhnya penuh dengan luka berjalan ke tangah-tengah rapat. Tanuki baru saja pulang dari medan perang. Luka serta seragamnya yang dipenuhi darah lawan bahkan belum ia bersihkan.


Dengan pandangan tajam, Tanuki menatap ke barisan pemimpin muda Sora didepannya yang tidak lain adalah teman-temannya.


" Syukurlah, Tanuki kau berhasil selamat. " gumam Kizuna dengan sorot mata khawatir.


" Kau harus mencabut keputusanmu. Sora hampir bisa mengalahkan Hoshi. Sedikit lagi, kita harus berjuang sedikit lagi! "


Brakkk!


Yukio membalas pernyataan Tanuki dengan sebuah pukulan keras di meja.


" Kau pikir kita mampu melakukannya? Rakyat Sora sudah menderita cukup lama karena peperangan ini. Banyak prajurit dan pihak sipil yang tewas. Kau ingin melanjutkan peperangan ini dan mengabaikan penderitaan orang-orang? "


Yukio sudah berada dalam batas kesabarannya. Meskipun Tanuki itu temannya, tetap saja niat Tanuki menabur garam di luka Sora


" Itu adalah hal yang harus kita dan Sora korbankan! Kita harus memberi sedikit 'darah' kita untuk melumpuhkan Hoshi! "


Tanuki satu-satunya orang yang berani berbicara lantang dan menentang keputusan Yukio. Tanuki langsung melangkahkan kaki menuju tempat dimana meja Yukio berada. Dengan tatapan tajam, ia berdiri tepat didepan pemimpin clan salju itu.


" Kau dan Para anggota Clan Bangsawan tahu apa tentang perang? Kau hidup dengan segala kemewahan. Kau tidak pernah kelaparan, atau merasakan kehilangan orang tuamu karena dibunuh musuh. Takdir yang kau miliki hanya diam berdiri menjaga kuil Nue. Tapi kau berani memberikan keputusan pengecut seperti itu?


Aku dan semua anak buahku baru saja keluar dari medan perang. Kami mempertaruhkan nyawa kami untuk menjaga kehormatan Sora. Tapi apa? Kau bilang merelakan Hoshi begitu saja? Dan membuat Sora menjadi pengecut! "


" Sora! Adalah negara yang menghormati kehidupan dan perdamaian. Terlibat perang sudah menjadi sebuah dosa. Apa kau ingin kita masuk dan membunuh orang-orang Hoshi layaknya monster yang haus kekuasaan?! "


" Cih! Kau bahkan tidak ikut kemedan perang, berani sekali kau mengatakan hal itu, Yukio! "


" Tanuki Hentikan! Ucapanmu sudah keterlaluan! " Kizuna mulai melerai ketegangan antara Tanuki dan Yukio


" Apa ucapanku salah? Kizuna, jangan karena Yukio adalah wanita yang kau cintai, kau memilih membelanya dari pada aku, sahabatmu! "


" Hentikan!


Tanuki! Kau telah masuk tanpa ijin dan membuat keributan dalam pertemuan ini. Hukum militer akan berlaku padamu.


Keputusan sudah dibuat, pihak Sora akan menerima gencatan senjata Hoshi! Perang harus segera diakhiri! " Yukio membalas tegas ucapan Tanuki. Dua prajurit Sora masuk ke dalam ruangan, dan mulai menyeret Tanuki untuk keluar dari pertemuan


Baik Yukio dan Tanuki, mereka sama-sama tidak mau saling mengerti.


" Tunggu saja Yukio, kau akan menyesali keputusanmu! "

__ADS_1


__ADS_2