Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Teman Rahasia


__ADS_3

Hikari menjabat tangan Harui pelan. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran mengenai gadis berambut gulali didepannya. Apakah dia tiak memiliki kecurigaan padanya? Jika benar gadis itu orang militer sepertinya, bukankah seharusnya ia menjaga jarak dengan Hikari.


"Kenapa kau ingin berkenalan denganku? Kau bahkan memberitahukan namamu padaku. Bagaimana jika ternyata aku adalah musuhmu? Atau bisa saja aku adalah orang jahat yang mengicar nyawamu? "


Mendengar pertanyaan Hikari, Harui terkekeh pelan


" Jika benar kau orang seperti itu. Kau pasti sudah membunuhku sejak tadi. Ada begitu banyak kesempatan. Lagi pula orang jahat tidak akan peduli dengan burung yang terluka di tengah hutan. Aku percaya, kau orang yang baik.


Jadi, mari kita lupakan dari mana asal kita dan mulai berteman, lagi pula memulai sebuah pertemanan bukanlah sebuah dosa. Bagaimana menurutmu? " tawar Harui.


Ia mulai berdiri sambil menengteng keranjang berisi burung yang mereka selamatkan. Harui kembali mengulurkan tangannya, ia bermaksud membantu Hikari bangkit berdiri


" Kita bisa menjadi teman rahasia. Kita dapat merahasiakan apapun termasuk latar belakang kita. Aku ingin kita bisa berbagi waktu layaknya anak seusia kita dengan bebas. Bermain dan berlatih tanpa beban sedikitpun.


Jika kau setuju, temui aku di jam yang sama dan tempat yang sama. Kau juga harus tahu bagaimana perkembangan burung kecil yang kita selamatkan bukan? "


Hikari terdiam sejenak, tawaran Harui bukanlah ide yang buruk. Ia pun menggapai uluran tangan Harui. Seulas senyuman terukir di wajah Hikari


" Baiklah. Sampai jumpa lagi, Harui! "


Mulai saat itu, Hikari dan Harui sering mencuri waktu untuk bertemu diam-diam di tepian sungai yang menjadi tempat rahasia yang hanya diketahui oleh keduanya. Hari terasa berlalu dengan cepat ketika mereka menghabiskan waktu berdua. Kesepian yang selalu menghantui Hikari serasa hilang ketika ia bersama Harui


Tidak jarang, Hikari meminta bantuan berupa saran terhadap Harui. Ia menceritakan tentang masalah Hotaru yang sekarang cenderung menjauhinya.


"Ada seseorang yang dulu sangat dekat denganku, karena suatu alasan orang itu mulai menjauhiku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuknya" cerita Hikari.


Ia memang tidak menceritakan kisahnya secara detail kepada Harui. Harui mengerti, sambil menepuk pundak Hikari pelan ia memberi saran terbaik untuk temannya itu


"Siapapun orang itu, dia pasti memiliki alasan. Kau hanya perlu berusaha agar tetap disisisnya. Jika dia mundur selangkah, kau harus maju selangkah. Lakukan hal itu hingga orang itu tidak lagi menjauh darimu" ucap Harui pelan


"Kau tidak penasaran siapa orang yang aku ceritakan selama ini? "


" Kau tidak harus menceritakan semuanya. Kau lupa prinsip pertemanan kita? " ucap Harui mengingatkan


" Oh ya. Benar juga. Kita berteman tanpa harus mengetahui latar belakang kita masing-masing " ucap Hikari sambil terkekeh


Mereka tetap pada prinsip seorang prajurit militer. Baik Hikari atau pun Harui tidak pernah membahas dari mana mereka berasal atau siapa mereka sebenarnya.


Hanya menghabiskan waktu sebagai teman bermain dan terkadang saling bertukar pikiran mengenai sesuatu hal.


......................


Di tengah terik matahari yang menyengat, pantulan sinar di air sungai yang tenang begitu menyilaukan. Di temani derangan serangga musim panas, Hikari dan Harui tampak berlatih bersama di tepi sungai.


Salah satu hal yang mereka sukai untuk menghabiskan waktu adalah berlatih pedang bersama.


Hikari akhirnya menemukan seseorang dengan kemampuan yang setara dengannya. Harui, meskipun ia seorang gadis yang masih sangat belia, teknik bertarungnya tidak bisa Hikari remehkan. Bahkan beberapa kali dalam latihan mereka, Harui mampu mengalahkan Hikari secara telak


" Kau tidak sengaja mengalah karena aku perempuan kan, Hikari? "


Harui dengan cepat menyerang ke arah Hikari. Dua bilah pedang kayu saling berbenturan. Hikari yang masih berusaha menangkis serangan Harui hanya bisa berkenyit ketika merasakan pertahannya hampir saja tertembus. Akibat batu sungai yang ia pijak, tubuhnya terdorong kebelakang.


" Tentu saja tidak. Dengan kemampuanmu ini, bagaimana aku bisa mengalah? Kau sangat mahir dalam ilmu pedang Harui. Aku akui itu! "

__ADS_1


Brassss.....


Hikari melompat kebelakang, dengan nafas terengah ia kembali menghunuskan pedangnya ke arah Harui.


" Kau pasti berlatih keras hingga bisa sampai ke titik ini. Aku penasaran, apa tujuanmu hingga kau berlatih mati-matian seperti ini? Apa kau ingin menang di setiap pertarunganmu? "


Hikari memperhatikan telapak tangan Harui yang selalu terlilit perban. Luka ditangannya menunjukan bahwa Harui tidak pernah meninggalkan latihannya sedikit pun.


Mendengar pertanyaan Hikari, Harui pun menurunkan pedangnya. Mereka mulai menghentikan latihan dan memilih duduk ditepian sungai yang tenang.


Menikmati semilir angin yang lembut. Seperti biasa, jika langit terlihat cantik dengan warna biru menghiasi cakrawala. Harui, gadis itu akan mendongakkan kepala keatas sambil menatap kagum langit biru. Hikari hanya memandang lekat gadis yang duduk disampingnya. Senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampannya


"Hikari kau tahu apa sebenarnya tujuan dari sebuah peperangan? " ucap Harui memecah keheningan.


" Entahlah, mungkin untuk memperluas suatu wilayah? Aku sendiri tidak begitu paham. Bagaimana denganmu? "


Hikari menggeleng pelan. Selama ini ayahnya memberitahukan bahwa perang harus dilakukan. Hal itu bertujuan untuk memperluas wailayah suatu negera. Hanya itu yang Hikari pelajari dari setiap peperangan yang ia lakukan selama ini


" Em... Menurutku, tujuan peperangan itu sendiri adalah melindungi orang-orang yang kita cintai. "


Hikari tertegun ketika mendengar jawaban Harui. Jika peperangan ada untuk melindungi seseorang. Lalu kenapa ia harus melihat orang-orang terdekatnya tewas di medan perang?


"Aku tidak mengerti maksudmu. Jika alasan berperang untuk melindungi orang-orang. Lalu kenapa banyak orang yang tewas ketika ingin mencapai tujuan itu? "


" Ayahku mengatakan, tujuan seseorang bertarung bukan karena ia membenci musuh didepannya. Melainkan, kerena ada orang-orang yang ia cintai berlindung dibelakangnya. Karena itulah, kita bertarung dengan nyawa kita sebagai taruhan.


Untukku, aku harus tetap kuat agar bisa melindungi orang-orang yang aku cintai! "


" Lalu siapa orang yang ingin kau lindungi? Apakah itu ayah atau ibumu? "


Harui menggelang pelan " Ayahku laki-laki yang hebat, sementara ibuku sudah lebih dulu pergi ke surga. Aku hanya memiliki seorang adik yang ikut denganku ke medan perang. Aku harap, aku bisa menjaga adikku dalam situasi apapun!


Lalu bagaimana denganmu? " tanya Harui ke Hikari


Sambil mencengkram pedang kayu di tangannya, Hikari menatap Harui lekat.


" Sepertinya, kisah hidupku tidak jauh berbeda denganmu. Aku pun memiliki adik yang harus aku lindungi, apapun yang terjadi! "


" Kalau begitu, kita memiliki alasan yang sama. Jadi mari kita berjanji akan bertahan dalam situasi sulit ini. Mari tetap bertahan hidup untuk bertemu dikemudian hari.


Jika itu terjadi, berjanjilah kau akan menceritakan semua hal yang telah kau capai kepadaku saat bertemu lagi denganku" ucap Hirui sambil tersenyum lembut.


"Tunggu dulu, apa kita tidak bisa bertemu lagi? " ucap Hikari dengan sorot mata kecewa


" Sepertinya begitu. Ada tugas yang segera harus aku selesaikan! "


" Benar juga, akupun memiliki tugas yang harus aku selesaikan" ucapnya sambil menuduk


Hikari sadar mungkin inilah saat terakhir ia bisa bertemu Harui. Perasaanya mengatakan, perang dengan Tsuki sebentar lagi akan pecah. Itu artinya ia tidak akan punya waktu lagi untuk datang ke tempat ini


"Jaga dirimu, Hikari! " ucap Harui dengan senyum tulus. Hikari mengangguk pelan.


"Hn. Aku harap kau juga menjaga dirimu dengan baik, Harui! "

__ADS_1


Dalam diri Hikari, ia berharap agar Harui tidak pernah menjadi bagian dari musuh yang harus lawan. Ada banyak kemungkinan yangbyerlintas dibenaknya mengenai siapa kiranya Harui itu. Bisa saja Harui bagian dari pasukan militer kecil yang bertugas melindungi desa tempatnya tinggal. Apapun itu, asalkan Harui bukan bagian dari musuh yang akan ia lawan kelak


Untuk itu, Hikari percaya ia dapat kembali bertemu Harui dan menceritakan jalan hidupnya sesuai janjinya. Mereka akhirnya mengakhiri pertemuan singkat mereka dengan melepas burung kecil yang sudah mereka selamatkan kembali ke alam liar.


Nee yang turut menyaksikan momen masa lalunya hanya bisa menatap kedua bocah didepannya dengan penuh penyesalan


......................


Banar saja, perang pecah dalam kurun waktu singkat. Hoshi memusatkan dua kekuatan untuk mengepung Tsuki. Tidak sesuai harapan Hoshi, Negeri Tsuki tidak bisa ditaklukan dengan mudah karena kecakapan pemimpin mereka.


Hikari berada di salah satu unit Komando yang bertugas menyelesaikan serangan balasan terhadap pasukan Tsuki. Saat ini, Pasukan Hoshi benar-benar terkepung dan hampir saja kalah dalam peperangan.


"Pasukan kita dengan mudah dipukul mundur oleh tentara Tsuki. Jika terus seperti ini, sektor penyerangan kita akan kalah! Korban juga banya berjatuhan dari pihak kita. Apa yang harus kita lakukan Kapten? ! " ucap salah seorang prajurit menghadap Hikari


Sebagai seorang Kapten sebuah unit komando, Hikari tentu tidak akan menyerah begitu saja. Ratusan nyawa rekannya bergantung pada keputusannya. Di saat bersamaan, seorang kapten senior datang dan memberikan sebuah ide. Kapten yang menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya, ia bernama Fuma


"Bukankah dua anak Pemimpin Tsuki ikut bertarung di wilayah kita. Kenapa kita tidak memanfaatkan mereka saja? Kita culik kedua anak itu dan buat perundingan dengan Tsuki! "


Hikari sadar apa maksud seniornya itu. Pria itu menyarankan agar Hikari bermain curang. Emosi Hikari memuncak, meskipun mereka dalam kondisi perang dan dapat membenarkan segala cara tapi tetap saja itu tidak benar.


" Jadi, senior menyarankan agar aku bermain kotor? " ucap Hikari sambil menggebrak meja. Semua orang diruangan itu terdiam.


" Jadi kau menolak ideku? Meski ide itu diperintahkan langsung oleh Tuan Hozuki? " ucap Fuma dengan seringai jahat


" Apa maksudmu? "


" Tuan Hozuki memang mempercayai memimpin unit komando ini kepadamu, Tuan Muda Hikari. Tapi, ia tidak sepenuhnya percaya bocah berusia 14 tahun mampu melakukannya. Untuk itu, aku datang kemari. " Fuma mulai beranjak, kali ini ia memposisikan dirinya menghadap para pemimpin pasukan yang lain.


"Mulai saat ini, Komando Hoshi di bawah kepemimpinan Tuan Muda Hikari akan diserahkan padaku. Itu perintah langsung dari Tuan Hozuki! " ucapnya lantang


Jika itu dari perintah ayahnya langsung, Hikari tidak bisa membantah. Ia pun tidak bisa berbuat apapun lagi


" Siapkan pasukan khusus untuk membawa dua anak itu kemari dengan kondisi hidup-hidup.


Kalian bebas melukainya atau melakukan cara apapun. Bahkan jika perlu, kalian boleh memotong kedua kaki anak itu agar lebih mudah membawanya. Dan Hikari, aku akan memerintahkanmu untuk memimpin misi ini! " dengan tatapan arogan Fuma mendekati Hikari. Membisikan sesuatu di telinga Hikari


" Pastikan kau menyelesaikan misi ini dengan baik. Tuan Hozuki begitu murka mendengar pasukan kita dikalahkan oleh badut Tsuki. Kau tahu kan marahnya Tuan Hozuki seperti apa?


Bisa saja, adikmu yang begitu dia benci menjadi sasaran kemarahannya kali ini! Kemarin tangan adikmu yang patah, tapi kali ini aku tidak menjamin bahwa hidupnya baik-baik saja. Jadi, pastikan misi ini berjalan lancar, okey? " bisik Fuma dengan penuh penekanan. Medengar hal itu, tubuh Hikari menegang. Tangannya terkenal kuat.


Kenyataan adiknya terancam oleh ayah mereka jauh lebih besar dibanding terluka dimedan perang. Untuk itu, Hikari harus menghentikannya apapun yang terjadi


Mata Hikari berkilat marah. Ia pun menghampiri beberapa prajurit di bawah komandonya


"Kalian sudah mendengar apa yang dikatakan Kapten Fuma bukan? Misi ini harus sukses apapun yang terjadi! " ucap Hikari dengan nada penuh penekanan


" Baik kapten! " ucap mereka kompak


" Lalu apa rencana anda selanjutnya? "


Hikari terdiam sejenak. Ia mengambil beberapa perlengkapan bertarung termasuk pedang dan baju Zirahnya


" Bukankah sudah Fuma jelaskan tadi. Apapun caranya kita harus membawa anak musuh kedalam genggaman kita. Meski hatus memotong kedua tangan dan kaki mereka! " ucap Hikari dengan tatapan tajamnya

__ADS_1


__ADS_2