Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Awal Dari Sebuah Akhir : Terketuknya Hati seorang Ayah


__ADS_3

Medan perang kembali berkecamuk, perjuangan para prajurit Sihir melawan iblis Yurei semakin memuncak. Ten mulai menghusukan Katakana, mengarahkan ujung pedang runcing di tangannya tepat ke arah sang Ayah. Dua pasang iris coklat saling menatap tajam, mereka mulai pun mengambil langkah mantap, berlari untuk menyerang satu sama lain.


Traaanggg!


Goresan besi tajam terdengar nyaring. Tanuki, dengan lincah mengayunkan pedang miliknya. Ten tidak mau kalah, sebagai kepala militer Sora yang baru, ia menpertaruhkan reputasi keahlian berpedang miliknya untuk melawan mantan komandan Cops Awan Merah itu.


Kedua ayah dan anak itu begitu lihai, gerakan mereka sangat luwes dan cepat. Mereka beberapa kali hampir mengenai tubuh satu sama lain. Tidak hanya mengandalkan kemampuan berpedang, beberapa kali Tanuki menyerang Ten dengan bola api sihir. Namun, Ten berhasil memblock serangan Tanuki dengan elemen tanah miliknya.


Brassssh!


Keduanya mulai melompat kebelakang. Seakan mengambil jeda, Tanuki dan Ten mulai mengatur kembali nafas mereka. Tanuki melirik putra semata wayangnya itu, ia tidak menyangka kemampuan bertarung Ten sudah jauh meningkat pesat. Jika tidak ada kekuatan Kurasu yang menopang dirinya (Lewat tangan kiri buatan), Tanuki mungkin sudah bisa dikalahkan Ten.


"Kemampuanmu sudah meningkat pesat, Ten! " Tanuki memuji putranya, senyum tipis terukir di wajah keriputnya. Namun, Ten hanya memblas pujian sang ayah dengan tatapan tajam.


" Aku bukanlah orang yang akan selamanya tunduk di bawah bayang-bayangmu ayah. Untuk melindungi orang-orang di sekelilingku, aku harus berubah menjadi pria yang tangguh! "


Mendengar jawaban Ten, Tanuki seperti melihat versi muda dirinya. Kilapan mata tajam Ten, dan kata-kata yang dipenuhi penekanan disetiap kaliamat yang terucap.


Tanuki kembali menyerang Ten. Beberapa kali, dua bilah pedang kembali beradu. Ten menggunakan elemen tanah miliknya untuk menghentikan pergerakan Tanuki. Tapi semua sia-sia, meski sudah berumur, Tanuki tetaplah seorang Veteran


Brassss!


Tanuki melompat menjauh untuk menghindari jebakan tanah Ten.


" Hahahaha! Kau benar-benar putraku! Kau benar, tanpa kekuatan. Kau hanya akan dianggap remeh oleh orang-orang diluar sana. Ten, kau benar-benar sama persis sepertiku. Datanglah ke sisiku, Ayah akan- "


" Tidak! " Ten segera memotong ucapan Tanuki. Membuat senyuman di wajah Tanuki hilang seketika.


" Kenapa? Kau tahu siapa uang kau Hadapi? Begitu membangkitkan Nue, Kurasu akan membunuh semua manusia di bumi. Jika kau hanya perlu datang pada ayah, hm?! "


" Bahkan jika aku harus matipun, aku tidak akan pernah berubah menjadi iblis sepertimu. Kau dan seluruh keserakanmu itu, aku benar-benar membencinya!


Kau membunuh Ketua Zen, sahabat yang selalu mendukungmu. Karena ulahmu juga, aku harus melihat ibuku mati tepat di hadapan mataku. Kau masih bisa, menyebut dirimu seorang ayah?! "

__ADS_1


Tubuh Tanuki membeku. Ucapan Ten bagaikan pedang yang menusuk dadanya. Entah kenapa, kenangan akan kematian Zen kembali berputar di otaknya. Bukan hanya itu, memori akan detik-detik kematian Mito juga memenuhi benaknya.


" Kau benar, aku membunuh semua orang-orang berharga disisiku karena mereka berani menghalangi mimpiku. Jika saja mereka mau mengerti sedikit saja diriku, dan tidak mengecewakanku, aku mungkin tidak akan membunuh mereka. " ucap Tanuki pelan. Sorot matanya begitu kosong. Ia terkekeh tanpa sebab, seperti kehilangan kewarasannya.


Mendengar jawaban Tanuki, Ten menjadi geram. Ten lansung melesat ke arah sang ayah, dengan sebuah ayunan pedang, Ten menyasar tubuh Tanuki yang lengah.


Tranggg!


Tubuh Tanuki terjatuh ke tanah. Ten tampaknya tidak benar-benar bisa membunuh Tanuki dengan kedua tangannya. Ayunan pedang Ten meleset. Tanuki menatap ke arah sang putra. Dua pasang iris yang serupa kini menatap dalam satu sama lain. Tanuki mencoba masuk ke dalam diri putranya lewat sepasang mata sendu yang begitu mirip dengan milik Mito itu.


Bahkan seorang iblis, akan terketuk pintu hatinya ketika menatap jauh ke dalam diri putranya.


Mata Tanuki tampak bergetar ketika melihat wajah pucat putranya. Ten seperti memendam begitu banyak emosi di dalam dirinya. Rasa kecewa, penyesalan, penderitaan. Tanuki mampu melihat semua itu terlukis jelas dari sorot mata Ten.


Ten mulai menghapiri Tanuki yang masih duduk pasrah di tanah, sedikit berlutut untuk mensejajarkan tinggi dengan Ayahnya. Tanpa mengalihkan pandangannya, Ten langsung melepas syal awan biru di lengannya. Ia pun menjatuhkan syal itu begitu saja, lantas mengambil pedang dan menebasnya.


"Ayah mengatakan, jika memiliki posisi ini (Kepala Negeri Sora) kau akan menjadi orang paling kuat. Ketika kau menggenggam dunia di tanganmu, tidak akan ada orang yang bisa meremehkanmu.


Ambisimu telah membutakanmu, untuk melihat hal yang lebih berharga dari sekedar kekuasaan. "


Tanuki menatap syal biru yang tertancap pedang di sampingnya. Syal biru itu, merupakan cerminan ambisinya selama ini. Sudah banyak hal yang ia korbankan untuk mencapai sebuah kedudukan tertinggi di Sora itu. Awal langkahnya, ia mengorbankan wanita yang paling sahabatnya cintai, Yukio. Seakan sudah terlanjur berjalan di kegelapan, Tanuki semakin banyak mengorbankan orang-orang di sampingnya. Mito, Yoshiro, Aoryu mereka semua mati, karena secara tidak langsung Tanuki membuka jalan kematian dengan siasat liciknya. Bahkan, sahabat yang telah menolong hidupnya, Kizuna. Dengan tangannya sendiri, Tanuki menebaskan pedang dingin untuk membunuh Kizuna


Tanuki sempat berpikir, mungkin Zen satu-satunya teman yang akan bertahan disisinya. Sebisa mungkin, selama 18 tahun setelah kepergian Kizuna, ia menjaga satu-satunya sahabat yang tersisa. Namun, ambisi kembali membutakan matanya. Tanuki, dengan tangannya sendiri juga membunuh sahabat yang pernah ia tolong dengan mengorbankan satu matanya. Jika dipikir-pikir, apa yang Tanuki dapat selama ini? Bahkan putra satu-satunya berniat menghentikan dan berbalik menentangnya.


"Jika saja kau menjalani hidupmu dengan sesikit lebih terhormat. Aku bisa saja mengenakan syal ini dengan bangga. Kau tidak perlu menjadi sosok kuat yang ditakuti semua orang. Bagiku, Meskipun kau akan hanya menjadi pria yang lemah dan banyak dicemooh orang, aku sendiri dengan bangga akan meindungi ayahku.


Tapi, kenyataan bahwa ayahku seorang penjahat dan bahkan membantu sosok iblis . Membuatku takut menerima tanggung jawab ini (menjadi pemimpin Sora) , meski orang-orang disekelilingku mengatakan semua baik-baik saja. Sekuat tenaga aku bekerja keras demi Sora, Aku tetap tidak bisa menerima posisi apapun karena aku anak seorang iblis yang berniat menghancurkan Sora! "


" Ten...... "


Booooommmm!


Sebuah ledakan hebat terjadi, ledakan itu sepertinya berasal dari medan pertempuran Mirai vs Kurasu. Tanuki berkenyit, ia merasakan tangan kirinya diselimuti kekuatan yang meluap-luap. Sebuah aura hitam menyelimuti tangan pemberian Kurasu. Sesuatu yang buruk pasti alan terjadi.

__ADS_1


"Ini gawat! Kurasu pasti merencanakam sesuatu yang buruk. Kita harus segera menghentikannya! " ucap Tanuki tiba-tiba.


Ten terperanjat, kenapa dari cara bicara Tanuki ia seolah perpihak ke Sora. Bukankah dia sekutu Kurasu?


" Apa maksud ucapanmu? Bukankah ayah berada di pihak Kurasu? "


Tanuki bangkit berdiri, ia melirik ke arah timur. Langit di sana tampak diselimuti kabut hitam tebal, energi negatif begitu kuat ia rasakan. Tanuki mengangkat pedang Ten, lantas mengambis syal biru berlambang awan. Dengan pelan, ia mengaitkann ke lengan Ten.


"Aku sadar, dibanding diriku. Kau lebih pantas mengenakan syal awan biru ini, Ten. Melihatmu tumbuh mejati pria yang tidak mengikuti jejakku. Membuatku mampu merelakan semua milikku. " ucap Tanuki lembut. Untuk pertama kalinya, ia bisa melerakan ambisi serta mimpinya.


Tanuki tersenyum hangat. Melihat putranya sudah tumbuh dewasa, entah kenapa ia merasakan kehangatan di hatinya yang selama ini membeku. Ten tidak mirip dengannya. Sifat hangatnya itu justru begitu mirip dengan Mito.


Mungkin Ten tidak menyadari, dan menganggap semua yang dilakukan Tanuki untuknya adalah sebuah belenggu bagi kebebasanya.


Tapi, Tanuki memperhatikan Ten selama ini, meski secara tidak langsung. Tanuki sengaja menempatkan Yume disisi Ten, untuk mengetahui segala aktifitas dan perkembangan Putranya. Meski tanpa kehadiran Tanuki, Ten yang kompeten bahkan bisa menjadi kapten militer Cops Putih di usianya saat ini.


Apapun rencananya, Tanuki tidak pernah melibatkan Ten. Karena hal itu, ia sengaja menyembunyikan fakta bahwa ia adalah anaknya. Sejak Ten lahir, Tanuki menyiapkan Cops Merah untuk diam-diam mengawsinya. Itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi Ten.


Tanuki mulai mengulurkan tangannya. Dengan lembut, ia mengusap pucuk kepala putranya. Hal yang sama dilakukan Tanuki ketika Ten kecil menangis dulu. Ten kecil begitu menyukai sentuhan Tanuki, karena itu ia akan berhenti menangis dan tersenyum ke ayahnya


"Aku dimatamu mungkin bukanlah manusia, bukan juga ayah yang pantas dibanggakan. Aku hanyalah orang jahat yang merenggut semua kebahagian darimu. Ucapan Zen dan Kizuna bernar, aku hanyalah orang menyedihkan.


Maafkan ayah, Ten. Maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Aku banyak belajar dari putraku. Meski ini sangat terlambat, aku ingin menjadi sosok ayah yang benar-benar bisa dibanggakan putraku. "


Ten hanya terpaku, untuk pertama kalinya ia melihat sosok seorang ayah dari Tanuki. Pria paruh baya itu mengaktifkan Gyokunya. Sambil tersenyum ke arah sang putra untuk terakhir kalinya.


Kau benar Mito. Jika saja aku bisa melepaskan ambisiku, dan melihat kau dan putra kita sebagai tujuan baru di dalam hidupku. Aku mungkin tidak akan memilih jalan penuh kegelapan ini.


Mungkin saja, kau masih disisiku dan melihat putra kita tumbuh begitu gagahnya. Jika saja aku menyadarinya lebih cepat. Semua itu hanya bisa aku sesali hingga detik ini......


" Terima kasih, Putraku. " Tubuh Tanuki mulai menghilang.


Ten hendak menggapai tangan ayahnya, namun Tanuki lebih dulu menghilang dan berubah menjadi gumpalan kabut hitam.

__ADS_1


__ADS_2