Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Putri Kecilku


__ADS_3

Mirai hanya menatap lekat pintu sebuah ruang inap di depannya, ukiran nama 'Yuhee' tertempel dipintu masuk. Meski wajah Mirai terlihat sangat penat, ia coba sembunyikan wajah lelahnya dengan sebuah senyuman.


Sregggg......


Mirai menggeser pintu ruang tempat Yuhee di rawat, sosok kecil gadis itu, kini terlihat tengah di periksa Hanna


"Kak Mirai" sapa Yuhee dengan senyum cerahnya, meski selang oksigen masih terpasang di hidung gadis berambut coklat itu


"Kau datang Mirai" ucap Hanna menyambut kedatangan Mirai


Mirai pun berjalan mendekati ranjang pasien di depannya, dengan sesuatu di sembunyikan di balik badannya. Mirai tampak akan memberikan sesuatu itu ke Yuhee


"Yuhee coba tebak, apa yang aku bawa sekarang? " ucap Mirai antusias dengan seutas senyuman


Yuhee hanya mengernyitkan alisnya penasaran, sedangkan Hanna hanya memandang Mirai sambil menyipit, rasanya ia tahu isi pikiran absurd Mirai


" Ta-ddda..... Aku membawa ensiklopedi Medis terlengkap... Heheh.... Aku harap dapat membantumu keluar dari kebosanan rumah sakit serta menambah ilmumu, Yuhee" ucap Mirai sambil tersenyum garing


Sebenarnya Mirai tidak tahu apa yang harus ia beri kepada gadis berusia 10 tahun di depannya itu. Ia ingin memberikan sebuah hadiah kepada Yuhee atas kesembuhan dan kerja kerasnya selama ini. Namun, Mirai tidak mengerti apa yang diinginkan anak seusia Yuhee, baju? Sepatu? Tas?


Bukankah itu tidak berguna untuk pembelajarannya. Jadi Mirai putuskan memberikan suatu yang bermanfaat, contohnya buku setebal bantal a. k. a ensiklopedi medis


"Mirai apa kau bercanda? Bagaimana buku membosankan seperti itu bisa menghilangkan bosan? Kau seharusnya membawa komik atau novel kan? " protes Hanna


" Benarkah? Aku tidak tahu kesukaan anak-anak..... " ucap Mirai menunduk


Bagi Mirai, saat seusia Yuhee yang ia tahu adaalah berkutat di medan perang untuk menyembuhkan tentara. Ia bahkan tidak pernah merasakan indahnya masa kanak-kanak ataupun masa remaja. Yang lebih parah, sepanjang masa kecilnya, ia tidak pernah hidup layaknya anak perempuan pada umumnya


Melihat mentornya kecewa, Yuhee pun mengulurkan tangannya, ia hendak menerima hadiah absurd Mirai


"Berikan padaku.... Setidaknya itu akan membantuku menjadi ahli medis hebat seperti kakak Mirai" ucap Yuhee


Sedangkan Hanna hanya mengela nafas melihat guru-murid di depannya. Sang Guru di kenal sebagai wanita dingin tangguh serta tempramen, sedangkan muridnya pendiam dan kadang-kadang bersikap dingin juga


"Kalian memang guru-dan murid yang unik" ucap Hanna sambil menggelengkan kepalanya


Sreggggg......


Seorang wanita dengan rambut pirang terkuncir memsasuki ruangan itu. Di belakang Tsuyu, tampak seorang wanita yang mengikutinya masuk, sambil membawa seikat bunga


"Kau datang, kak Tsuyu" sapa Mirai, ia pun melihat wanita di samping Tsuyu "Kau juga datang Nyonya Kyuhee" ucap Mirai sambil sesikit menunduk


Yuhee hanya memandang lekat sosok yang kini berdiri di samping Tsuyu, sosok yang selama ini hanya ia lihat dari foto yang diberikan oleh neneknya. Sosok yang bisa ia panggil ibu


Pandangan Yuhee kini beralih ke arah Mirai, meski hanya diam Mirai dapat melihat butiran bening jatuh bebas di pipi gadis malang itu

__ADS_1


"Hanya ini yang aku bisa beri, sesuai janjiku Yuhee.... Aku ingin menjadi orang dewasa untukmu.... Nikmati waktumu dengan ibumu" ucap Mirai smabil mengelus pelan kepala Yuhee


Mirai, Tsuyu serta Hanna pun memberi waktu bagi ibu dan anak yang baru saja bertemu. Mereka outuskan untuk pergi dari ruangan itu


Kini hanya tersisa Yuhee dan sang ibu di ruangan itu. Kyuhee wanita itu pun berjalan mendekati anaknya, meski kepalanya sedikit tertunduk


Wanita yang mirip dengan Yuhee pun meletakkan seikat bunga di depan Yuhee


"Ibu tidak tahu apa yang kau sukai, Yuhee. Serta..... Maafkan Ibu baru uncul sekarang... " ucap pelan Kyuhee, ia bahkan tidak berani menatap mata putrinya karena rasa bersalahnya


" Apa kau menyesal? Telah meninggalkan aku dan ayahku? " ucap Yuhee ririh, airmata terus mengalir di pipinya


" Maafkan ibu......... Ibu sudah mendengar semua kejadian yang menimpamu... Maafkan Ibu Yuhee"


Hanya kata maaf yang Kyuhee ucapkan kepada putrinya. Bibirnya tampak gemetar menahan emosi, dengan mata terpejam dengan air mata yang terus mengalir keluar


"Aku.... Aku bahkan belum bisa memanggilmu Ibu..... Setelah semua yang terjadi, setelah kau meninggalkan desa kami......


Penduduk membenciku, karena aku terlahir dari seorang musuh yang menyerang negeri mereka.......


Ayah begitu merindukanmu, ia memendam semua perasaannya hingga penyakit menggerogoti tubuhnya, ia pun pergi meninggalkan aku dan nenekku


Semua terasa berat, bahkan ketika aku ditinggal nenekku dan hidup sebatang kara..... Tidak ada orang yang membantuku" Yuhee meluapkan semua perasaanya kepada sang ibu


Ia begitu marah, perasaan bercampur antara kecewa, senang serta rasa sedih melihat sosok wanita yang melahirkanya kini datang kehadapanya. Yuhee merasa bahwa ia masih belum terbangun dari komanya dan semua hanyalah mimpi belaka


Tapi.....


Ibu mohon jangan sampai kau terluka, hanya itu keinginan Ibu" ucap Kyuhee


Yuhee pun menghapus air mata di pipinya kasar, meski ia merindukan sosok seorang ibu namun kenangan tetang masa lalu kelamnya tidak bisa ia lupakan


"Pulanglah..... Kemabalilah ke negerimu....... Kau sudah melihatku... Aku baik-baik saja sekarang" ucap Yuhee masih memalingkan wajahnya


Kyuhee pun menggenggam tangan putrinya, mungkin ia tidak bisa melakukan apa-apa selama 10 tahun terakhir, tapi berbeda dengan sekarang.....


"Yuhee..... Maukah kau ikut denganku ke Hoshi?Akan aku beri semua keinginanmu, ikutlah dengan ibu. Ibu sudah...... " belum selesai Kyuhee berbisara, putrinya menyela perkataanya


" Ibu...... Kau tahu? Di saat hari pemakaman nenekku..... Di saat hari aku kehilangan Ayahku.... Di saat aku menggigil kelaparan... Kau tahu apa yang aku harapkan? " pandangan Yuhee kembali menatap wanita di depannya.


Namun, ia tidK sanggup menatap sosok wanita yang menangis dengan penyesalan tergambar dari sorot sayu matanya. Yuhee pun memejamkan matanya, menahan seluruh emosi dalam dirinya dan mengatakan semua beban di hatinya, air mata kini kembali membasahi pipi tirusnya


" Aku harap..... Ibuku tidak akan pernah merasa bahagia setelah pergi meninggalkanku....


Aku harap kau menangis setiap malam sambil memikirkanku...

__ADS_1


Aku harap hatimu sakit setiap kali teringat padaku......


Aku harap.... Aku bisa mati karena kemarahanku padamu. Jadi kau bisa menyesal atas apa yang kau lakukan padaku " ucap Yuhee ririh bibirnya tampak bergetar, menahan emosi


Kyuhee hanya bisa terdiam, air mata tidak hentinya keluar. Bagaimanapun, ia tidak bisa menyalahkan putri kecilnya atas apa yang ia rasakan


" Keinginanmu..... Semuanya terkabul Yuhee. Selama lebuh dari 10 tahun, aku tidak pernah berhenti memikirkanmu dan ayahmu. Hidup Ibu seperti berada di neraka. Kau bisa membenci ibu sepuasnya, tapi Ibu mohon biarkan Ibu menebus semua kesalahan Ibu padamu " mohon Kyuhee


Ia beranikan diri memeluk tubuh ringkih putrinya. Sekeras-kerasnya Yuhee bilang bahwa ia membenci dirinya. Namun Kyuhee tahu, perasaan sebenarnya Putrinya itu


Yuhee tidak bisa menolak pelukan sang Ibu, untuk pertama kalinya ia merasakan kehangatan kasih Seorang ibu, merasakan oacu jantung yang persis sama dengan miliknya


"Maafkan Ibu, Putriku" ucap Kyuhee sambil mengelus pelan rambut Yuhee


"Berjanjilah..... Berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu ada untukku, Ibu" ucap Yuhee sambil membenamkan kepalanya di tubuh hangat Ibunya


"Tentu.... Meski harus menyerahkan nyawaku.... Aku akan tetap berada di sisiku, putriku yang malang"


Di balik pintu ruang yang sedikit terbuka, Mirai memperhatikan reuni penuh haru antara Ibu dan anak itu. Ia pun menutup pelan pintu dan membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama kebih lama.


"Aku jadi ingin tahu, bagaiman jika Ibuku masih ada. Aku bahkan tidak tahu penampilannya seperti apa" gumam Mirai sambil tersenyum kecut


"Mirai...... " ucap Tsuyu di ujung koridor, sejak tadi ia sibuk bercakap-cakap dengan Hanna. Mereka adalah tipe gadis yang easy going menurut Mirai


" Hn" balas Mirai singkat, dan berjalan ke arah 2 teman wanitanya itu


"Apa kau mau bergabung dengan kami? Kami hendak mengunjungi kedai teh di dekat sini, Kak Tsuyu ingin jalan-jalan dan mengenal Sora lebih jauh" ucap Hanna dengan senyuman cerianya


"Entahlah..... Tapi.... Apa Pertemuannya sudah berakhir? " ucap Mirai keluar dari Topik


Tsuyu dan Hanna menagkap apa maksud Mirai, mereka pun menyarankan Mirai untuk segera menemui Aora


" Apa kau kangen dengan Kapten Aora, heh? "ledek Tsuyu, dibalas kikikan geli Hanna


" B... Bukan begitu kak Tsuyu" ucap Mirai gagap sambil menggelengkan kepalanya cepat


"Ais.... Kami tidak sebodoh itu, pergilah aku dengar Pertemuannya sudah usai" ucap Hanna sambil mengibaskan tangannya mengusir Mirai


"Aora pasti belum makan, mungkin dengan bekal yang kau buat, semangat si tuan pemalas itu akan meningkat" sambung Hanna lagi


"Bekal? Tapi..... Aku tidak bisa masak" ucap Mirai dengan tampang frustrasi


"Itu masalahmu..... Ayo kak Tsuyu... Kita tinggalkan gadis yang tengah dimabuk cinta ini... Hahahah" ucap Hanna sambil menggandeng lengan Tsuyu meninggalkan Mirai sendiri


"Jja Mirai..... " ucap Tsuyu

__ADS_1


Mirai hanya diam mematung dengan wajah bengongnya


" APA MAKSUDMU HANNA!!!!!! " triak Mirai horor


__ADS_2