
Sementara itu, Aora, Mirai dan Hanna serta Hotaru dan Juzo bersiap meninggalkan Desa Fuu
"Tim medis dari pusat kesehatan Sora akan segera datang untuk menjemput pasien di sini. Sisanya aku dan Hanna akan mengurusnya! " Ucap Rou kepada teman-temannya
"Baiklah, terima kasih Rou. Jadi kita akan berpisah di sini! Dengan ini aku nyatakan misi gabungan desa Fuu telah berakhir.
Aku ucapkan terima kasih untuk Hotaru dan Juzo dari Negeri Hoshi atas bantuannya" ucap Aora sambil membungkuk.
"Selanjutnya, sisa penyelidikan akan di ambil alih oleh devisi sensor dan intel desa Sora. Kami akan mulai menyelidiki lagi lewat korban dan hasil otopsi tersangka" ucap Rou. Sebagai kepala devisi sensor, tentu menjadi tugasnya mengungkap semua kejahatan yang dilakukan Shira. Termasuk mencari dalang dibalik insiden itu
"Kami atas nama Desa Sora. Memohon maaf pada Negeri Hoshi atas kesalah pahaman ini" Aora mewakili negerinya meminta maaf dihadapan Hotaru. Tentu insiden seperti ini dapat membahayakan kesepakatan antar dua negera besar
"Sebagai pemimpin Negeri Hoshi, aku bisa mengerti, tapi tidak untuk dewan di negeriku.
Mungkin ini akan sedikit merenggangkan perdamaian antara Sora dan Hoshi" ucap Hotaru Khawatir. Ia sangat paham apa yang mungkin terjadi jika dewan dinegerinya mendengar kesalahpahaman ini
"Tapi aku akan berusaha membujuk para tetua dewan" ucapnya sambil tersenyum
"Kami sangat menantikan itu" ucap Aora sambil mengulurkan tangannya. Hotaru membalas Uluran tangan Aora "Semoga perdamaian ini masih bisa dipertahankan" sambungnya
Hotaru kini menghampiri Mirai, ia mulai mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan gadis bermuka dingin didepannya
"Terima kasih atas kerja samanya, Mirai! "
"Tentu saja"
Mirai mulai meraih tangan Hotaru untuk bersalaman dengannya. Tangannya tanpa sengaja nerasakan tangan Hotaru yang sedingin es. Mirai tahu, kondisi pria itu sedang tidak baik-baik saja. Dengan cepat Mirai langsung memegang pergelangan tangan Hotaru untuk memeriksa denyut nadinya.
I..... Ini?
Mata Mirai membulat, ia terkejut atas apa yang dirasakannya. Merasa ada yang tidak beres, Mirai langsung memegang dada Hotaru bajkan tanoa permisi. Dengan berani Mirai meraba dada bidang Hotaru tanpa memperdulikan tatapan aneh yang teetuju apadanya. Aora dan Hotaru hanya memasang tanpang terkejut atas kelakuan ekstrim Mirai.
"H- Hey Mirai apa yang kau lakukan? "ucap Aora
Mirai tidak menggubris, ia terus saja meraba dada Hotaru. Merasakan setiap detak jantung pria berambut biru pucat itu. Mata Mirai pun mulai terpejam dan berkonsentrasi. Sementara Hotaru mulai merasa tidak enak atas perlakuan Mirai. Siapa saja yang di raba dadanya tentu akan merasakan hal yang sama, bukan?
" Aku tau kau gadis tangguh. Tapi aku tak tau kau juga seorang gadis mesum. Di siang hari bolong, didepan teman-temanmu. Kau berani meraba dada seorang pria muda?! " ucap Hotaru memandang Mirai aneh
"Diamlah! " gertak Mirai
Hotaru mulai terdiam begitu saja. Mirai pun melepaskan tangannya dari dada Hotaru, lantas ia menanap pria di depannya dengan denyum penuh arti
" Tampaknya tidak ada jalan lain, selain Hoshi akan segera meminta pertolonganku! Kau pasti mengerti ucapanku, Hotaru?! " Mirai tersenyum dingin, ia lantas meninggalkan Hotaru yang masih membeku. Sedetik kemudian, senyum menghiasi wajah tampan Hotaru
"Rupanya kau sudah mengetahuinya, kau memang bukan gadis biasa Mirai" Ucap Hotaru
Aora yang terbakar api cemburu langsung memasang muka masam, ia pun segera pergi menyusul teman-temannya.
"Baiklah sampai di sini, kita akan berpisah dan pulang ke negeri masing-masing! " ucapnya sembari meninggalkan Hotaru
......................
__ADS_1
Tidak jauh dari sana, Aora masih dengan wajah masamnya berjalan cepat sambil terus mengejar langkah Mirai
"Mirai! Tunggu aku! " ucap Aora sambil terus berusaha mensejajarkan langkah mereka
" Apa kau takut di tinggal sendiri, Heh? "canda Mirai. Ia terus saja berjalan cepat, tanpa mempedulikan Aora yang terus mengejarnya
" Tentu saja tidak! Dan juga kenapa kau meraba dada seorang pria tanpa ijin hah? " ucap Aora kesal, ia menatap gadis yang setinggi dadanya masih saja berjalan tanpa mempedulikan ucapannya. Aora tidak habis pikir, bagaimana seorang gadis bisa meraba dada seorang pria terlebih dia bukan pria biasa.
" Kenapa kau peduli? Toh aku tidak meraba dadamu, Hotaru pun tampak tidak keberatan! " ucap Mirai acuh
"Bukankah itu namanya pelecehan? "
Mirai menghentikan langkahnya, ia pun berbalik menghadap Aora. Wajah cantiknya tampak begitu kesal dengan sikap berlebihan Aora
"Apa katamu? Pelecehan? " ucap Mirai sambil berkacak pinggang
" Tentu! Jika itu orang lain. Kau sudah pasti di tuntut tau! Tapi melihat sikap Hotaru, ia seperti menikmatinya" ucap Aora tidak mau kalah, ia langsung alihkan pandangannya dari Mirai. Muka kesalnya tidak kunjung hilang
Wajah kesal Mirai kini berubah, menampakkan senyuman licik penuh arti dari sorot wajah cantiknya
" Oh! .... Begitu........ "
Dengan sekuat tenaga, Mirai menarik kedua tangan Aora. Menuntunya memeluk pinggangnya yang ramping. Dengan cepat Mirai menarik bahu Aora, mengaitkan kedua tangannya di bahu selebar samudra milik pria di depannya. Hal itu sontak membuat laki-laki itu membungkuk karena tekanan tangan Mirai. Wajah keduanya sudah saling berdekatan, bahkan Aora dapat merasakan nafas Mirai menyapu wajahnya
Mirai langsung menempelkan dahinya ke dahi Aora, sambil menatap lekat mata merah kecoklatan pria di depannya. Aora hanya bisa terdiam, matanya membulat sempurna, bahkan ia bisa merasakan detak jatungnya berpacu serta adrenalinnya meningkat. Aora hanya bisa menelan ludahnya kasar, pandangannya hanya tertuju pada bibir ranum Mirai
"Sekarang, aku sedang memeriksa suhu tubuhmu, apa kau keberatan Aora?
Apa kau akan melaporkanku atas tindakan ektrimku ini? " ucap Mirai sambil tersenyum penuh arti
" K- Kenapa kau melakukan itu? Hah! ? Mirai kau benar-benar gadis yang berani! "
"Kenapa? Kau mau aku melakukan hal yang 'lebih'? Canda Mirai sambil mendekati Aora. Aora mulai melangkahkan kakinya mundur
"Kau benar-benar tidak waras! "
Aora pun meninggalkan Mirai, wajah tertutup maskernya tampak tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Mirai hanya bisa tekikik, melihat tingkah naif dan menggemaskan Aora. Bagaimana seorang prajurit gagah seperti Aora, bertingkah menggemaskan hanya karena Mirai menggodanya?
"Dia sudah tumbuh menjadi pria yang gagah. Penyelamatku. Si anak bertopeng rubah. Maafkan aku tidak mengenalimu selama ini, Aora"
Ucap Mirai sambil tersenyum, ia tidak menyangkan penyelamat yang selama ini ia lupakan, ternyata sudah ia temui dan berada disisinya. Bagaikan takdir pertemuannya dengan Aora, sungguh menjadi cahaya dalam hidupnya yang gelap
......................
Di Desa Sora tepatnya di kantor ketua Zen, Aora dan Timnya tengah melaporkan hasil misi Ke Ketua Zen.
"Buronan Shira dan rekan-rekannya adalah pelaku utama peledakan desa Fuu. Mereka sengaja menanamkan serangga parasit ke tubuh warga desa dan meledakkan di pusat Desa Fuu.
Selain itu, dia juga hendak meledakkan desa-desa terdekat dengan menyekap 5 orang warga desa! " ucap Mirai
__ADS_1
"Apakah kalian bisa menyelamatkn korban? "
" Berkat bantuan tim Hoshi, kami dapat menyelamatkan korban! " ucap Hanna
"Dibawah devisi Intel, kami akan menyelidiki siapa pelaku utamanya" ucap Rou
"Baiklah, terima kasih atas kerja keras kalian, kalian boleh pergi" Semua kecuali Aora meninggalkan ruangan
"Nah! Sekarang giliranmu Aora, apa yang ingin kau sampaikan padaku? " Ucap ketua Zen, yang mengetahui Aora yang sedari tadi hanya diam. Ia tahu, sifat Aora yang pendiam, itu berarti ada yang hendak disampaikan muridnya itu.
"Mengenai kasus ini. Aku curiga Cops Merah ikut terlibat, Guru"
Zen sedkit terperanjat mendengar ucaoan muridnya "Bagaiman kau bisa yakin Aora? "
" Kecurigaan aku berawal dari mayat yang di jadikan inang pertama Bibit Serangga Parasit. Kami menemukan Mayat yang terdapat ttato 'dewa kematian' di lengannya, meski kondisi mayat sudah mengering, tapi aku yakin mayat itu berasal dari Cops Merah" ucap Aora
"Dewa kematian? Cops Merah? "
" Benar, guru lebih tau. Bagaimana kehebatan Cops itu, sangat tidak mungkin salah satu anggotanya di culik dan di jadikan inang.
Bukankah dalam kasus itu, seharusnya orang tersebut meledakkan diri untuk menjaga keamanan dan tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menghancurkan Negeri Sora? "
" Kau benar Aora. Baik Putih dan Merah, pasukan khusus diperintahkan menghapus dirinya. Jika prajurit dalam keadaan di sandra atau informasi yang di bawanya bocor ke tangan Musuh sudah kewajiban mereka mengorbankan diri demi Desa. Terlebih jika hal itu bisa membahayakan desa Sora, mereka tentu harus menyerahkan nyawa mereka"
"Lebih dari itu, Shira masih memiliki segel Khusus Cops awan Merah Di tubuhnya. Sehingga ia bisa meledakkan dirinya sendiri.
Bukankah aneh, jika Tn. Tanuki membiarkan penghianat desa lolos begitu saja, padahal ia bisa dengan mudah membunuh Orang yang ditanami segel olehnya? "
"Tapi, jika benar Tanuki terlibat. Apa maksud dari perbuatannya ini? "
" Aku akan berusaha menyelidikinya guru" ucap Aora menawarkan diri. Zen mulai menatap Aora dengan wajah khawatir
"Aora. Meski Tanuki adalah temanku, kau sebaiknya berhati-hati. Lebih dari apapun, ia sangat menginginkanmu menjadi salah satu anak buahnya.
Aku mengerti Tanuki menginginkan hal terbaik untuk Desa Sora, tapi dengan ambisi besarnya itu, justru membuatnya melindungi desa dengan cara yang salah"
"Baik Guru. Aku akan mengingatnya! "
"Satu lagi masalah, Kedamaian antara Hoshi dan Sora mulai renggang akibat insiden ini. Aku akan berusaha mengirim surat resmi sebagai perminta maaf atas semua tuduhan kepada pihak Hoshi"
"Hotaru sebagai pemimpin Negeri Hoshi juga mengatakan hal yang sama, ia juga mengatakan akan membujuk dewan Negerinya"
Ketua Zen berdiri dari kursinya, ia berbalik memunggungi Aora dan menatap keluar jendela.
"Sudah sepantasnya dunia di serahkan kepada tunas Muda. Karena kesalahan orang tua di masa lalu, membuat banyak darah di tumpahkan. Aku senang mendengar, bahwa Hoshi memiliki pemimpin Muda yang mencintai perdamaian" ucap Zen sambil memandang kosong ribuan rumah penduduk Sora dari balik kaca besar
"Meskipun ia seusia denganku, tampaknya Hotaru bisa Kita andalkan sebagai Pemimpin Negeri Hoshi" ucap Aora
"Itu juga berlaku untukmu Aora, selama aku masih hidup. Tidak akan aku biarkan Orang serakah seperti Tanuki menghancurkan kedamaian, meskipun ia satu-satunya sahabatku.
Aku berharap banyak pada tunas muda sepertimu Aora, yang akan membawa cahaya pada Sora" ucap Zen
__ADS_1
Aora menatap punggung sang guru, dengan kepercayaan yang diberikan gurunya padanya, ia siap melakukan tugas itu, bahkan dengan nyawanya sendiri sebagai taruhan.
"Baik Guru"