
~30 menit sebelum pertemuan Tiga Negara~
Di sebuah ruang Krematorium, dengan ratusan guci abu dipajang disetiap bilik kaca berbeda. Di tengah ruang peletakan abu, terdapat sebuah altar leluhur tempat penghormatan korban pemakaman berlangsung.
Seorang pria dengan surai keperakan, hanya diam mematung menatap sebuah Altar dengan 9 foto berbeda, potret anak-anak korban Ledakan Asrama Sora serta potret wanita pengasuh Asrama yang terbunuh
Aora hanya menatap Altar pemakaman itu dengan wajah sendu, ia pun meletakkan sebuah buket bunga di depan altar. Lantas memejamkan matanya sejenak dan berdoa
Mata kecoklatan Aora kini terbuka, namun bukan pandangan sendu yang tampak, melainkan pamdangan tegas penuh keyakinan
"Maaf sudah membuat kalian menunggu, akan aku pastikan Sora tetap damai dan anak-anak seperti kalian tidak lagi menjadi korban" gumamnya
Angin berhembus kecil meniup dupa pemakaman yang hampir habis, sekaligus menelan tubuh Aora yang menghilang entah kemana
......................
Aora berjalan menuju Aula tempat Pertemuan berlangsung, terlihat Rou sang kapten Devisi Intel dan Sensor menanti pria berambut abu-abu itu di depan loby bangunan paling megah di Sora itu
Sambil berjalan cepat Aora memasuki lorong panjang di depannya, diikuti oleh Rou serta beberapa orang bertopeng hewan Cops putih
"Bagaimana hasil penyelidikan Satori? " ucap Aora tegas, kharismanya semakin meningkat dengan suara berat khasnya
" Kami mendapat semua yang di butuhkan, alibi serta bukti bahwa dialah yang menculik pengasuh Asrama dan memasang ilusi ke otaknya" ucap Rou tak kalah tegas,
Pria berkaca mata itu tampak sangat lelah dari kerut hitam yang mengelilingi matanya, namun tidak mebuatnya kehilangan semangatnya
Pintu mengah menyambut mereka di ujung lorong, diluar pintu ketua Zen sudah menunggu Aora, lengkap dengan sebuah amplop coklat di tangannya
Aora pun nerhenti tepat di depan ketua Zen, sambil menunduk hormat kepada sang guru,
"Maafkan aku datang terlambat Guru" ucap Aora
"Kau tahu, pahlawan biasanya selalu datang terlambat, itu akan membuatnya sedikit seru" ucap Zen dengan nada bercanda, ia pun menyerahkan Syal Biru berlambangkan Awan ke pada Aora
"Sekarang buktikan pada utusan Itu, bahwa Sora masih memiliki keadilan bagi orang-orang yang lemah" ucap Ketua Zen dan di balas anggukan Aora
......................
~Kemabli ke scene Pertemuan Ketiga Negara~
Tanuki hanya mengepalkan tangannya, kekesalannya terlihat jelas di matanya saat ia melihat Aora masuk ke Aula
Aora pun berjalan ke arah Tanuki, tatapan pria tua itu senantiasa mengikuti kemana perginya pria bersurai perak di depannya. Hingga langkah Aora terhenti tepat di depannya menatap tajam pria tua berperban dengan manik merah kecoklatannya
"Maaf Tuan Tanuki, bisakah kau minggir sebentar, aku harus memulai pertemuan penting ini dengan Utusan Negeri Tsuki dan Hoshi" ucap Aora
Sontak membuat Tanuki terpaksa menjauh dari Kursi berlambang Awan di depannya, tanpa sepatah kata dari Tanuki. Aora duduk di kursi itu sekaligus menjadi pemimpin pertemuan Besar itu
"Hari ini, Untuk pertama kalinya Sora, Hoshi serta Tsuki duduk di meja pertemuan untuk membahas sebuah hubungan kerja sama antara ketiga Negara Besar. Guna membantu kehidupan masing-masing Rakyat di Negeri dengan saling menudukung di bidang Ekonomi" ucap Aora membuka pertemuan itu
"Tapi...... " sambung Aora
__ADS_1
" Terlebih dulu saya akan membahas sebuah insiden besar yang terjadi di Desa Sora. Peledakan Gedung Asrama Sora, sekaligus membunuh 8 orang anak dan seorang Pengasuh Asrama
Karena Tuan Hisui secara kebetulan berada dekat di TKP, ia di tuduh ikut andil dalam insiden itu. Untuk itu, saya selaku pihak Sora akan mengungkap siapa pelaku sebenarnya insiden ini dalam pertemuan kali ini" ucap Aora, tatapannya pun kini beralih ke pintu besar di belakanggnya
Satori yang bahkan masih menggunakan seragam lengkap Cops Merah, diikat dan dipaksa memasuki Aula sebagai pelaku utama oleh beberapa prajurit Militer Sora
"Dia adalah pelaku peledakan Asrama Sora" ucap Aora mantap, kini pandangannya tertuju pada pria Tua di sampingnya Tanuki
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi, Tuan Aora? " ucap Hotaru pura-pura tertarik dalam kasus ini
Hotaru sengaja memancing sebuah pertanyaan, yang di respon persetujuan di antara utusan Hoshi dan Tsuki yang hadir di Aula itu
" Pria ini, dengan sengaja mengadu domba hubungan Tsuki dan Sora. Ia mengikuti dan mengawasi setiap pergerakan Tuan Hisui, dan memanfaatkan seorang wanita yang tidak lain Pengasuh Asrama dan menjebaknya " ucap Aora sambil meletakkan dokumen yang berisi hasil penyelidikan Satori
Ketika Rou memeriksa pikiran Satori, ia menemukan bahwa Satori sengaja mengikuti kemana Hisui pergi sejak ia datang ke Sora. Satori juga melihat seorang wanita Sora menemui Hisui di depan Mansion tempat Tsuki menginap dan menculik wanita itu untuk dipasangi ilusi Sihir
"Tapi untuk apa wanita Sora ingin bertemu dengan Pemimpin Tsuki, yang bahkan tidak pernah mengunjungi Sora sama sekali" ucap Tanuki sembari mencali celah untuk membantah tuduhan Aora
Kini waktunya Hisui untuk buka suara, pria berambut merah, dengan mata Jade yang begitu tenang itu pun memberitahukan alasannya
"Wanita Sora itu, dia mengatakan begitu kagum denganku sekaligus menyampaikan rasa terima kasihnya. Apa kalian ingat insiden kelaparan dan pemberontakan di Negara Raiku?
Aku pernah memberi bantuan ke negara kecil yang musnah akibat wabah dan kudeta. Ia adalah salah satu penduduk di sana dan mengungsi ke Sora. Ia msih ingat denganku, dan ingin menyapaku ketika tahu aku ada di Sora
Karena ia sudah diterima dengan baik di Sora, aku tidak ingin menyebarkan informasi mengenai masa lalunya, untuk itu aku berdiam diri. Tapi sayangnya aku harus mengatakan hal ini di depan kalian semua" ucap Hisui
"Kalian bisa menyelidikinya, aku tidak keberatan" sambungnya lagi sambil menatap Tanuki tajam
Hal itu membuatnya lebih mudah saat menuduh Hisui sebagai target adu domba dan mengalihkan semua tuduhan padanya sebagai pelaku peledakan. Hisui hanya memsanga muka kalem dan tenang bukan berarti dia bodoh
Tangan Tanuki terkepal kuat, ia tidak bisa membuat rencananya kembali gagal. Baginya perdamaian antara Sora, Hoshi dan Tsuki tidak boleh terjadi. Sora harus memimpin dunia Sihir ini, itulah ambisi Tanuki
"Tapi.... Bukankah wanita pengasuh itu juga patut di curigai? Bagaimanapun...... " ucap Tanuki, ia berusaha agar Aora bungkam, bukankah laporan Autopsi sudah di lenyapkan, serta wanita yang menjadi korban sudah dikremasi. Itu berarti masih ada celah
Namun, Aora segera menyela perkataan Tanuki, Ketua Zen pun memasuki ruangaan itu dengan membawa sebuah amplop coklat di tangannya.
"Jika kau menanyakan ini, Tanuki. Seorang Tim medis menyerahkan hasil Autopsi Wanita itu. Dan bisa di pastikan, bahwa ia bunuh diri akibat terjerat ilmu sihir Satori" ucap ketua Zen
Tanuki kalah telak, ia pun menatap anak buah yang melapor kepadanya tadi. Ia sadar salah satu anak buahnya sudah terkena ilusi sihir Aora.
'Kekuatan Ilusi yang hebat, hingga aku sendiri tidak menyadariny. Mata itu, pasti ulah Aora' batin Tanuki
Tanuki memejamkan matanya sejenak, ia sadar ada satu hal yang Aora tidak mungkin mengetahuinya.
Fakta bahwa Satori salah satu Cops Merah yang secara langsung di latih tampa tahu siapa dia atau bagaimana wajah orang yang memerintahnya
"Jadi... Apa kau sudah menangkap semua pelakunya, Kapten Aora? " ucap Tanuki sembari pura-pura tidak tahu masalah itu
Kini giliran Aora yang mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menandakan ia menahan amarahnya. Salah satu hal yang tidak mampu ia ungkap adalah keterlibatan Tanuki
Tanuki tersenyum puas, ia sadar Aora tidak mengantongi bukti bahwa ia terlibat
__ADS_1
" Satori pria sampah itu, aku lihat dia memakai seragam Cops Merah tapi ia sama sekali tidak mengenakan segel khas Cops Merah. Itu berarti dia bukanlah bagian dari kami, dan mencoba menuduh Cops Merah terlibat
Itu sama saja menghinaku dan menfitnahku sebagai ketua Satuan Awan Merah. Untuk itu biarkan aku menyelidiki kasus ini sebagai salah satu korban yang di seret dalam kasus ini" ucap Tanuki dengan ekpresi bagai koban yang membuat Aora muak
"Tidak perlu, kasus ini akan diambil alih oleh Cops Putih di bawah kendaliku. Dan Tanuki...
Kau harus bertemu denganku di ruanganku. Kita adalah orang yang tidak seharusnya ikut campur dengan Pertemuan ini" ucap Ketua Zen sambil berjalan keluar ruangan itu
Beberapa prajurit memaksa Tanuki keluar dari sana, namun karena ego Tanuki yang besar, ia menghempas prajurit itu dan berjalan sendiri keluar dari ruangan itu
Kini hanya ada Aora, Hisui dan Hotaru serta beberapa utusan yang tampak kecewa dengan masalah yang mereka lihat di Sora
Aora sadar tugasnya lah membereskan kekacauan ini, serta membuat utusan yang kecewa dengan Sora kembali percaya pada Negeri tercintanya itu.
Aora pun berjalan ke depan para utusan yang duduk mengelilingi Aula, Aora menatap sekelilingnya dan melihat tatapan tajam penuh kekecewaan orang-orang yang duduk mengelilinginya
"Apa yang hendak dia lakukan? " ucap Hotaru penasaran, sementara Hisui hanya menatap Aora dengan ekpresi yang sama
Aora menegakkan tubuhnya, dan seketika itu membungkuk 90° di depan para utusan. Jika seseorang membungkuk serendah itu, artinya bahwa orang itu sangat memyesali perbuatanya
" Maafkan aku, jika ada yang harus di salahkan tentang kekecewaan yang kalian rasakan, itu semua karena ketidak becusanku. Untuk itu, sebagai Pemimpin Sora, aku bersedia membayar hukuman dengan nyawaku" ucap Aora sambil membungkuk
Aora seorang kapten Militer Terkuat Sora, yang bahkan Negeri lain tau reputasinya dan segan padanya. Dengan julukan sebagai 'Si petir Merah' Sora menyerahkan hidupnya sebagai balasan atas upayanya mempertahankan perdamaian antara Sora dan Tsuki
Semua hadirin tercengang, baru pertama kalinya mereka melihat seorang pemimpin dan seorang prajurit hebat yang berani mengakui kesalahanya didepan orang-orang negeri asing seperti mereka.
Jika itu pemimpin di era terdahulu, mereka akan memilih mempertahankan ego mereka, sehingga perang sering terjadi sebagai bentuk jawaban bahwa tidak seorang pun yang bisa merendahkan mereka atau melukai ego yang mereka miliki .
Tapi berbeda yang di lakukan Aora, ia secara terbuka mengakui kesalahnya dan meminta maaf
"Jadi dia memilih untuk di salahkan, dan memasang badan melindungi Negerinya Sora" ucap Hotaru dengan kagum
"Jarang ada orang kuat seperti pemimpin Militer sebuah Negara mau menundukan kepalanya dan mengakui kesalahan.
Lagi-lagi orang-orang Sora benar-benar berada di lefel yang berbeda" ucap Hisui, ia juga teringat gadis berani yang mendatanginya tadi malam, Mirai
Hisui dan Hotaru pun bangkit, sebagai pemimpin Tsuki dan Hoshi mereka mengapresiasi Aora dengan menghampirinya, dan membuat Aora berhenti membukuk meminta maaf
"Tsuki memutuskan untu menutup masalah ini sampai di sini, kami menganggap waktu kami dketika di Sora tidak terjadi apa pun, Tuan Aora" ucap Hisui
"Begitupun pihat Hoshi, mengingat bantuan Sora terakhir kali. Aku sebagai orang yang berhutang budi , menjamin masalah ini tidak akan tersebar" ucap Hotaru sambil tersenyum
"Bukankah begitu, para hadirin di ruangan ini? " sambung Hotaru
Orang-orang di ruangan itu tampak setuju, meretka juga hendak mempertahankan kedamaian ini lebih lama lagi.
Sementara Aora hanya memasang wajah lega di balik maskernya. Ia sudah siap menangung hukuman yang Tsuki beri, meski harus membayar dengan nyawanya asalkan Sora selamat
"Kalau begitu.... Mari kita mulai membahas apa yang seharusnya Pemimpin Ketiga Negara agendakan" ucap Hotaru sambil berjalan ke arah meja di belakangnya
Begitupun Hisui "Kau juga memiliki teman yang hebat Tuan Aora, nona Mirai kemarin datang kepadaku dan memintaku percaya tentang apa yang akan kau lakukan" ucap Hisui sambil menepuk bahu Aora
__ADS_1
"Aku tidak menyesal mempercayaimu" ucap Hisui pergi menuju meja pertemuan