Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Perhatian Kecil


__ADS_3

Di sebuah ruang dengan deretan loker-loker memenuhi tempat itu, Mirai hanya berdiri mematung sambil memandangi pantulan bayanganya sendiri pada cermin besar didepannya


"Sudah berapa lama aku tertidur? " gumam Mirai pada pantulan bayangan dirinya, ia pun menengok jam dingding di sampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 petang


Sudah 8 jam lamanya ia menghabiskan waktu tertidur di kantor Aora, melihat bayangannya sendiri ia bahkan dapat menebak posisi tidurnya pasti memalukan dan jauh dari kata 'tidur cantik'


"Apa yang kau lakukan Mirai? " ucap Mirai frustrasi, sambil menjambak rambutnya sendiri


Dengan rambut singa, jejak iler membentuk sungai kecil di mulutnya, sementara itu pakaiannya sudah compang-camping layaknya seorang gelandangan. Mirai mengutuk dirinya sendiri, memperlihatkan sisi 'gelapnya' kepada Aora


Pandangannya kini tetuju pada kotak di depannya, sepucuk surat tersemat di atas kotak besar itu. Sirat dengan tulisan, Untuk Mirai


"Ini dari Aora" gumam Mirai, ia begitu penasaran apa yang ditulis di dalamnya


Kau sudah bangun, Tukang Tidur? Aku baru saja melihat sisi liar seorang Mirai ketika tidur... Hahahah.....


"Apa-apaan kalimat pembuka ini? " ucap Mirai sambil menyipitkan matanya, baru ia baca paragraf pertama, sudah ada ejekan dari laki-laki pemalas itu


Aku sudah menyuruh anak buahku membersihkan loker, serta membuat loker itu senyaman mungkin. Kau bisa membersihkan tubuhmu di sana. Akan sangat merepotkan jika kau pulang ke apartemenmu yang jauh


Mirai tekekeh, pantas saja salah satu anak buah Aora menyuruhnya menggunakan loker pria dengan nyaman, ternyata semua itu ulah atasannya.


Tidak seperti loker pria pada umumnya, tempatnya sekarang memang di set sedemikian rapi dan bersih, pantas saja Mirai merasa nyaman meski ia memasuki loker laki-laki (Di kantor Aora tidak ada loker cewek)


Kini pandangan Mirai tertuju pada kotak besar di depannya, ia pun membukanya. Mirai sedikit berkenyit, dengan alis yang terangkat melihat isi kotak itu


"Apa ini? " ucapnya heran melihat isi kotak besar di depannya


Bagaimana tidak terkejut, kotak besar itu berisi alat mandi lengkap bernuansa ungu bergambar kupu-kupu. Sama dengan warna kesukaan gadis bermata lafender itu. Aora benar-benar mengerti seleranya


Mirai melihat 5 set botol shampoo, serta sabun dengan varian wangi berbeda. Membuatnya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dipikirkan Aora ketika membeli semua itu


Ia pun kembali membalik surat di tangannya, Mirai seketika tertawa membaca isi lanjutan surat dari Aora


Aku sudah memilih set keperluan mandi untukmu, aku bahkan memaksa bibi pemilik toko untuk membertahu semua yang diperlukan seorang gadis untuk mandi. Dan untuk shampoo dan sabun, aku tidak yakin wangi apa yang kau suka, jadi aku beli semua yang di rekomendasikan pemilik toko.....


"Entah Aora benar-benar bodoh atau tidak, lihatlah caranya menghabiskan uang" gumam Mirai sambil terus membaca isi surat yang cukup panjang itu


Kini pandangan Mirai tertuju pada dress berwarna ungu muda di depannya. Sebuah dress cantik yang biasa digunakan gadis-gadis untuk pergi kecan, atau sekedar nongkrong dengan teman-teman menikmati masa muda


Mirai bahkan tidak terbayang, ia akan mengenakan dresss secantik ini, selama ini tubuhnya hanya mengenakan seragam militer penunjang pekerjaannya yang jauh dari kata modis karena memperhatikan kenyamanan belaka


Mirai pun menatap pantulan dirinya di cermin, ia teringat permintaanya kepada sang Ayah waktu kecil. Mirai ingat bahwa ia sangat ingin memanjangkan rambut, serta mengenakan gaun yang cantik agar ayahnya bisa melihat bahwa ia memiliki putri yang cantik


"Ayah........ Aku sangat ingin bertemu denganmu. Putrimu bahkan sudah memanjangkan rambutnya..... Bukankah aku cantik ayah? Aku sangat merindukanmu" gumam Mirai pada pantulan dirinya di cermin, sambil menyentuh rambut hitam panjangnya


Mirai pun menggelengkan kepalanya, mencoba keluar dari lamunanya. Ia kemabli membaca surat dari Aora


Aku memilih gaun yang mungkin cocok untukmu, tentu setelah aku menggangu pemilik toko dan memintanya membantuku. Aku ingin kau mengenakannya. Aku harap kau tidak membuangnya, Mirai karena menganggap itu berlebihan. Aku yakin kau cantik mengenakan dress itu

__ADS_1


Datanglah ke restoran Yakiniku dekat Kator Sora, Aku menunggumu di sana~


Itulah akhir surat Aora, seketika itu muka Mirai memanas. Bagaimana mungkin pria pemalas itu begitu peduli dan memberikan semua yang ia butuhkan. Aora begitu mempertimbangkan apa yang Mirai sukai


"Dia begitu manis~~"gumam Mirai gemas, namun pandangannya kini tetuju pada benda yang ditata paling bawah, dengan sebuah kotak kecil


"Apa ini? " gumam Mirai sambil mengangkat 'benda itu'


" Bra? " Mirai mengangkat hadiah terakhir Aora, ternyata barang terakhir di kotak itu berisi satu set pakaian dalam wanita, yang tentu tidak sesuai tipe Mirai


Mirai mengernyitkan alisnya, ia melihat memo di dalamnya


Em.... Ano.... Aku juga berpikir kau perlu menggantinya, jadi setelah menjelaskan kepribadianmu dan ehem.........postur tubuhmu, bibi pemilik toko merekomendasikannya........Katanya itu akan sesuai seleramu. Sungguh... Aku bahkan tidak melihat isinya.......


"Ini.... Bukankah terlalu kecil..... Entah ini selera Aora atau bibi pemilik toko..... Benar-benar kuno.... " gumam Mirai sambil mencocokkan dengan ukurannya


" Ck... Padahal aku lebih suka yang berenda" Miraipun berjalan pergi untuk mandi


......................


Langit Sora telah menghitam, setelah menangani beberapa urusan di berbagai tempat di Desa. Aora putuskan untuk pergi menuju restoran tempatnya dan yang lain berkumpul. Semua itu adalah bagian dari perintah Ketua Zen, ia menyuruh Aora mentraktir Hisui dan Hotaru


Sambil berjalan santai, dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana. Aora mulai measuki restoran itu. Seorang pelayan mengantarkan ke meja yang sudah di pesan sebelumnya


"Hah.... Tampaknya aku yang pertama datang" ucap Aora dengan malas, ia pun duduk di meja besar dekat jendela


"Simbol ini.... Juga ada di tangan Yora. Tapi...... Kenapa Mirai memiliki simbol yang sama persis. Bukankah itu simbol Salju? " gumam Aora pelan


Secara tidak sengaja, Aora melihat telapak tangan Mirai. Ia hendak mengobati tangan Mirai karean telilit perban, namun bukan luka yang ia temukan melainkan simbol aneh di gyoku Mirai


Mirai memanag sengaja melilit tangan kananya dengan perban atau sekedar menyembunyikan gyoku istimewanya. Untuk itu baru kali ini Aora melihat gyoku Mirai


"Gyoku salju......


Simbol salju....


Dan.... Elemen es? " gumam Aora


Pikirannya kini terpokus dengan apa yang Ketua Zen pernah katakan. Seseorang dengan simbol salju, bukankah dia akan memiliki kekuatan sihir yang begitu spesial? Apalagi kejadian dengan elemen es yang ia temui tempo lalu?


Aora tenggelam dalam lamunannya, sambil menatap telapak tangan dengan simbol gyoku metahari miliknya.


"Tidak mungkin Mirai melakukan semua itu? Dia terlalu lembut untuk membunuh atau menyiksa seseorang dengan kejam" gumam Mirai


Aora teringat dengan kasus Kuru, yang dibunuh secara brutal oleh pengguna elemen es. Aora juga teringat kasus penyiksa anak Zumo dan Zuma, bukankah dia menyebut wanita pengguna elemen es?


"Tidak mungkin" ucap Aora sambil menggelengkan kepalanya, ia tidak mau tersesat dalam prasangka buruk


Kini pandangannya tertuju keoada dua orang yang menghampirinya, Aora pun mengangkat tangannya, menunjukkan dimana posisinya berada

__ADS_1


"Di sini, Hotaru.... Tuan Hisui" ucap Aora


Dua pria tampan dengan rambut berwarna kontras itu pun menghampiri Aora.




"Maaf membuatmu menunggu, Aora" ucap Hotaru sambil mempersilahkan duduk Hisui yang datang bersamanya


Kharisma ketiga pria tampan itu tidak bisa di dembunyikan, meski mereka menyamar layaknya masyarakat biasa, dengan meninggalkan status sebagai seorang Pemimpin Tertinggi sebuah Negara besar. Tidak membuat pesona mereka luntur


Hisui dengan wajah kalem, serta rambut merahnya seakan membius siapapun yang melihatnya. Hotaru dengan paras tampan bak pangeran negeri dongeng tidak kalah mempesona, dengan senyumannya ia bahkan membuat dua wanita di sebrang memandangnya lekat tanpa berkedip


Sedangkan Aora, meskipun wajahnya tertutup masker, namun dengan postur tubuh tinggi tegap, serta mata tajam berwarna merah kecoklatan menambah aura misterius yang tentu semakin membius


"Tidak apa-apa, aku harap anda merasa nyaman dengan jamuan sederhana ini, Tuan Hisui" ucap Aora sopan dengan Hisui, sedangkan dengan Hotaru ia hanya mengabaikannya saja



"Em.... Ano...... Kita tidak dalam pertemuan formal. Bisakah kau memanggilku dengan namaku saja, tidak usah terlalu sopan dengan menyebutku dengan embel-embel Tuan segala karena...... " belum sempat Hisui menyelesaikan ucapannya, Hotaru tiba-tiba saja ikut nimbrung


" Kau merasa begitu Tua kan.... Ayolah umur kita bahkan belum mencapai 30 tahun. Namun semua orang menyebut kita dengan Tuan, tuanku dan blablabla" ucap Hotaru hotaru seakan meluaokan semua kejengkelannya


Hisui hanya tersenyum, bagaimanapun tidak ada dari mereka yang menikmati masa-masa muda seperti orang kebanyakan. Tidak ada kata kencan, tidak juga ada istilah nongkrong bareng.


Dalam hidup mereka, sudah ada beban untuk melindungi sebuah negara besar menunggu. Beban yang sangat berat di berikan pada usia yang begitu muda, apapun keputusan mereka akan berdampak kepada Negara masing-masing


"Tentu... Sekarang kita duduk bukan sebagai pemimpin sebuah negara, melainkan sebagai teman seperjuangan, bukan begitu Aora? " ucap Hotaru


Namun orang yang dipanggilanya justru tidak merespon, pandangannya tertuju ke arah lain


" Ada apa Aora? " ucap Hisui dengan nada kasual, melupakan aksen Formalnya


" Hotaru lihatlah! " tunjuk Aora dengan pandangan menuju ke arah seorang pria


" Bukankah dia brengsek waktu itu, yang duduk merangkul Mirai serta tersenyum ke arah Tsuyu? " ucap Hotaru dengan tatapan tajam, padahal yang terjadi sebaliknya. Mirai dan Tsuyu lah biang kerok kesalah pahaman itu


Pria yang ditatap tajam Hotaru dan Aora adalah Shin, junior Mirai yang dilibatkan dalam misi memanas-manasi Hotaru. Tampaknya kedua pria yang salah paham itu sedang menargetkan junior malang Mirai


"Lihatlah.... Berani sekali dia bermain-maim dengan gadis lain. Setelah kencan buta dengan Mirai dan Nn. Tsuyu" ucap Aora dengan pandangan Horor


"Apa maksud kalian? " tanya Hisui kebingungan sambil melihat dua laki-laki yang dibakar api cemburu


Mereka pun berdiri, sambil menatap Hisui dengan tajam


" Kau belum pernah membuat keributan kan? Kalau begitu ayo, ikut dengan kami.....waktunya kita berbuat onar " ucap Hotaru mantap


" Kita buat berengsek itu menyesal" sambung Aora

__ADS_1


__ADS_2