
Nue, tertidur dalam jeratan segel abadi milik Dewi Salju. Tidak ada yang bisa membuka segel, kecuali empat batu pilar kunci digabungkan.
Namun, segel tidak selamanya bisa kokoh menjerat kekuatan kegelapan Nue yang besar. Sudah menjadi tangung jawab keturunan tiga pilar penjaga, untuk mengukuhkan segel yang mulai melemah.
Jika salah satu keturunan pilar tidak bisa memenuhi kewajibannya, kekuatan kegelapan Nue bisa terlepas. Jika itu terjadi, Nue bisa bangkit dan kembali menyelimuti dunia.
Di ruang bawah tanah Cops Awan Merah, Tanuki tengah membalik halaman demi halaman sebuah kitab. Di salah satu halaman kitab tebal itu terdapat gambar seekor monster berbadan singa dengan seorang dewi yang diiputi cahaya kehidupan. Tanuki tersenyum simpul, ia lantas menutup Kitab Merah dan melirik dua anak buah didepannya.
"Kalian baru saja mengatakan, Yukio hamil anak Kizuna? " Dua prajurit bertopeng dewa kematian di depan Tanuki mengangguk
" Kami sudah memastikan informasi yang kami dapatkan. Dan juga, mulai besok Putri Yukio akan melakukan ritual penghormatan di kuil dewi Salju. Ritual akan dilaksanakan kurang lebih selama 10 bulan lamanya, Tuan."
"Cih! Wanita licik itu, dia berusaha menyembunyikan kehamilannya dengan dalih berdoa di kuil Dewi Salju! "
" Apa yang harus kami lakukan, Tuan? Apa kita harus melaporkan kejadian ini pada Tetua Clan Salju? "
" Tidak, ini belum saatnya. Balas dendam akan terasa jauh lebih manis ketika waktunya tepat. "
Tanuki mengetuk pelan meja didepannya, ia tampak berpikir sejenak sebelum memberi perintah lebih lanjut untuk anak buahnya. Senyum penuh arti terukir di wajah liciknya.
" Kalian berdua, Terus awasi pergerakan Yukio, dan laporkan semua yang kalian temukan langsung padaku! " ucap Tanuki tegas.
" Baik Tuan! "
Pria itu langsung beranjak keluar dari ruang kerjanya. Tepat di sebuah lorong markas, Tanuki bertemu seorang wanita dengan seorang anak berusia tiga tahun di gendongannya.
" Tanuki. " ucap wanita itu dengan suara parau. Tanuki hanya diam, sambil melirik anak di dekapan wanita itu.
" Ada apa malam-malam datang kemari, Mito? Kau seharusnya berada di rumah dan menjaga Ten. " ucap Tanuki acuh sambil berjalan melewati Mito begitu saja.
" Aku mendengar semua percakapan antara kau dan anak buahmu! " ucapan Mito sontak membuat langkah Tanuki terhenti.
" Aku mohon Tanuki, apapun rencanamu terhadap Yukio. Aku mohon hentikan sampai disini. Kau tidak boleh menyakiti teman-temanmu hanya karena ambisi didalam dirimu. " ucap Mito dengan suara ririh.
Ten kecil yang masih tertidur lelap di pelukan Mito tampak terganggu, ia hampir saja menagis akibat suara lantang ibunya.
" Cukup! Berhanti mencampuri urusanku, dan segeralah pulang!
Aku peringatkan, kau memang istriku. Tapi untuk beberapa hal, kau sebaiknya tidak melewati batasmu. Aku harap kau melakukan apa yang aku perintahkan, setidaknya untuk kepentingan putramu dan dirimu sendiri! "
Tanuki mulai beranjak pergi, ia terlihat tidak peduli terhadap putranya yang mulai menagis sejadinya. Seakan tahu perasaan yang dirasakan ibunya, Ten kecil menagis hingga wajahnya memerah.
" Kau dan ambisimu itu! Pernahkan terbesit dipikiranmu, bahwa hanya dengan kehadiran kami, hidupmu akan jauh lebih bermakna dari keserakahanmu. Karena ambisi besarmu, kau bahkan menyembunyikan kelahiran putramu sendiri! "
Tanuki mengepal tangannya geram. Dengan langkah tegas, ia berbalik dan mulai memojokan istrinya. Kilapan amarah tampak jelas di sorot matanya
__ADS_1
" Dengar! Aku melakukan semua ini untuk kelangsungan hidupku dan putraku kelak.
Sebanyak apapun aku berusaha, dunia tidak akan pernah berubah. Tanpa kekuasaan dan tanpa kekuatan, orang-orang sepertiku tidak pernah dianggap oleh dunia.
Akan aku buktikan, bahwa orang sepertiku mampu mengenggam dunia ditanganku dengan mudah. Dunia yang aku impikan, juga akan menjadi dunia milik putra kita kelak!
Camkan ucapanku, kau sebaiknya tutup mulutmu. Dan anggap apa yang kau dengar malam ini tidak pernah kau ketahui! Mengerti, Istriku? "
Tanuki mengancam Mito dengan penuh penekanan. Mau tidak mau, Mito hanya bisa mengangguk. Tubuhnya bergetar hebat, jujur baru kali ini ia melihat sisi gelap suaminya.
" Bagus. Para pengawalku akan mengantarmu dan Ten ke rumah dan Istirahatlah. " ucap Tanuki pelan.
Ia lantas melirik Ten yang masih menagis, dengan lembut Tanuki mengusap pucuk kepala Ten. Meski menjadi pria dengan watak psyco, tampaknya Tanuki paham bagaimana menenangkan putranya sendiri.
......................
Musim telah berganti, kini buliran salju cantik turun dan menyelimuti hampir seluruh permukaan bumi. Tunas-tunas baru seakan tertidur didekapan es yang dingin, menunggu waktu ketika musim kembali berganti. Musim Semi, sebuah awal yang baru ketika kehidupan baru mulai bersemi dan memancarkan kecantikannya. Tunas-tunas itu hanya menunggu waktu yang tepat.
Di Kuil Dewi Salju, sebuah kuil cantik yang terlatak di tengah luasnya lembah yang dijuluki Lembah Kehidupan, hamparan selimut putih mulai membekukan apapun yang dilewati .
Seorang wanita berkimono tebal, tampak memghiasi kuil dengan lilin-lilin berbentuk bunga lotus yang cantik. Rambut pirang panjangnya tersapu angin lembut, sementara mata secantik bunga lavender tampak berbinar ketika melihat cahaya lilin yang gemerlap.
Yukio mulai mencakupkan tangannya, sebuah doa ia tujukan untuk sang pencipta demi kesehatan calon bayi yang ada di perutnya.
Usia kandungan Yukio sudah menginjak 8 bulan, sebentar lagi ia akan bertemu dengan malaikat kecilnya. Senyuman tidak pernah hilang dari wajah cantiknya, meskipun Kizuna tidak bisa berada di sisinya. Setidaknya, Yoshiro selalu menemaninya.
" Kupu-kupu? Bukankah kupu-kupu melambangkan sebuah kehidupan serta kesembuhan. Yukio, anak di dalam kandunganmu pasti meniliki takdir yang kuat biasa! " ucap Yoshiro antusias.
" Aku harap juga begitu. Hanya saja, aku sedikit khawatir. Bagaimana jika anak di dalam kandunganku terlahir perempuan "
Yukio bukan bermaksud membenci anaknya jika terlahir sebagai wanita. Hanya saja, garis darah Clan salju akan terus mengalir jika anak di dalam kandungannya seorang gadis.
Sebuah hukum turun temurun, di dalam garis darah Clan Salju, hanya para wanitalah yang akan mewarisi kemampuan penyembuh yang diturunkan Dewi Salju.
Dan untuk Yukio, dia adalah pewaris darah Pilar Salju yang murni, jika anak yang terlahir kelak adalah seorang perempuan, maka takdir yang Yukio miliki juga akan diwarisi ke sang putri. Takdir sebagai penjaga segel Nue, sekaligus mewarisi kekuatan penyembuh Clan Salju.
"Apa kau khawatir, hidupnya akan persis sama sepertimu? Terjerat dalam sebuah rantai takdir terkutuk, dimana hidupmu harus kau korbankan untuk menjaga Nue agar tetap tertidur. "
" Kau benar. Jika para tetua tahu aku melahirkan anak perempuan, mungkin anakku akan selamat. Karena ia akan mewarisi kekuatan Clan Salju.
Tapi, aku tidak ingin anakku hidup sepertiku. Aku tidak pernah merasa bahagia sebagai Yukio dari Clan Salju! "
Yukio mengelus pelan perutnya yang mulai membesar. Ia kembali teringat masa kecilnya yang kelam. Sebagai pewaris darah Clan Salju, ia hampir tidak pernah memiliki hidupnya sepenuhnya. Kekangan dari Clan. Tanggung jawab yang besar, semua itu menghantui Yukio hampir seumur hidupnya
Namun, ketika ia bertemu Kizuna, untuk pertama kalianya Yukio merasakan sesuatu yang berbeda. Cinta serta kasih yang diberikan Kizuna begitu tulus. Perasaan itu membuat Yukio merasa memiliki kesempatan hidup untuk kedua kalianya. Untuk itu, Yukio memilih untuk membesarkan anaknya di luar pengaruh Clan, dan ingin kelak anaknya hidup menjadi orang biasa tanpa kekangan apapun.
__ADS_1
"Aku hanya ingin, anakku memiliki masa depan yang cerah. Hidup bahagia dan melakukan apapun yang ia sukai. Hanya itu, harapanku sebagai ibunya. "
Di tengah peracakap antara Yukio dan Yoshiro, sebuah hentakan kaki terdengar berlari memecah lorong kuil. Pintu kuil terbuka lebar. Menapakan siluet pria berambut putih dengan nafas berburu. Salju di luar tampak turun lebat dengan lebatnya, membuat nafas Aoryu membentuk gumpalan kabut uap saking dinginnya.
"Ada apa kau kemari, Aoryu? " tanya Yukio dengan raut wajah kebingungan.
Aoryu menata kembali nafasnya, sambil berusaha mengatakan apa maksudnya datang ke kuil di tengah malam bersalju
" Ini gawat! Para Tetua beserta prajurit Clan Salju tampaknya sudah mengetahui berita kehamilanmu, Yukio! "
" Apa maksudmu, bukankah hanya kau dan aku yang tahu kebenarannya! " ucap Yoshiro tidak percaya
" Seseorang diluar sana pasti sidah mengetahui rahasia ini dan melaporkannya ke tetua Clan Salju. Saat ini mereka mungkin sudah mulai bergerak dan menuju ke sini. Kita harus segera lari! "
" Ayo Yukio! Kita harus kabur dari sini. Bayimu harus kita selamatkan! " Yoshiro mulai menarik lengan Yukio, namun Yukio justru tidak bergeming sedikitpun.
" Yukio, kenapa kau- "
Yukio terdiam sejenak. Ia tampak mengeratkan kedua tangannya- gugup. Kedua sorot matanya tampak bergetar hebat.
" A- aku, tidak bisa pergi dari sini. " ucap Yukio ririh.
" Kenapa? Jika kau tetap disini, bayi yang ada di kandungamu akan dibunuh para Tetua, bahkan ketika kau belum bertemu dengannya! " ucap Yoshiro panik.
Yoshiro paham, konsekuensi apa yang akan diterima sahabatnya jika tertangkap. Yukio mengatakan, jika ia melahirkan seorang putri kemungkinan putrinya akan selamat.
Tapi jika seorang putra, yang bahkan ayahnya sendiri berasal dari rakyat biasa, mereka berdua akan dibunuh begitu saja. Tapi yang jadi masalah saat ini adalah Yukio belum melahirkan. Jadi bisa dipastikam, anak di dalam kandungan Yukio akan digugurkan (dibunuh) secara paksa. Karena bagi Clan Salju, anak yang lahir selain dari laki-laki Clan mereka, dianggap sebagai pencemar darah murni dewi Salju.
Selain itu, sang ayah kandung sang bayi (Kizuna) juga terancam dijatuhi sangsi berupa hukuman mati.
"Yukio! "
" Kita, kita tidak bisa lari begitu saja. Jika aku kabur sekarang, siapa yang akan mengukuhkan segel Nue.
Selama ini, kau dan Yoshiro sudah berusaha memperlambat kerusakan. Tapi kenyataanya, segel itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi. "
Yukio paham, ia bisa saja lari saat ini. Tapi bagaimana dengan segel Nue yang kian hari kian melemah? Itu adalah tanggung jawabnya, meski ingin Yukio tidak bisa lari begitu saja.
" Jadi, apa yang harus kita lakukan?! "
Aoryu tampak frustrasi, ia tidak ingin Yukio berakhir di tangan Tetua Clan Salju. Yukio mungkin masih bisa selamat setelah kekacauan ini. Tapi bagaiman dengan nasib Kizuna dan juga anak di kandungan Yukio. Para tetua kolot itu pasti langsung memerintahkan orang untuk menbunuh Kizuna dan bayinya.
"Hanya ada satu cara- " ucap Yukio mantap, kini pandangannya tertuju ke arah Yoshiro dan Aoryu
" Aku harus menyelamatkan anakku, apapun yang terjadi. Meski itu berartu, aku harus melahirkan bayi ini detik ini juga! "
__ADS_1
...----------------...
Sejahat jahatnya Tanuki, ia masih sosok ayah bagi Ten. Bagaimana kisah selanjutnya? Ayuk dukung Author yuk!