
Di restoran, Tsuyu menghampiri Hotaru, ia juag khawatir kekacauan ini mungkin saja membahayakan Tuannya
"Anda tidak apa-apa, Tuan Hotaru? " ucap Tsuyu kahawatir, ia masih saja menganggap jantung Hotaru seperti dulu, mudah terkejut akibat penyakit
" Hm..... Apa yang terjadi, Tsuyu? Aora tiba-tiba saja pergi dari tempat ini" ucap Hotaru
"Masalah internal mungkin saja terjadi, Tuan. Sebaiknya kita menghormati Sistem Negeri ini, kita tidak boleh ikut campur" ucap Tsuyu
Hotaru mengangguk, lantas muncullah dua orang bertopeng hewan dari cops Putih. Memberi hormat kepada penguasa Hoshi di depannya
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Hotaru. Kami akan mengawal anda ke Penginapan anda. Jadi mohon ikuti kami" ucap salah satu prajurit bertopeng itu
"Aku harap.... Sesuatu yang buruk tidak terjadi. Jika sampaai ada masalah untuk pertemuan besok, perang tidak akan terhindarkan lagi" ucap Hotaru sambil melihat kepulan asap pekat, jauh di sebrang
......................
Beberapa pasukan Militer Sora, bersiaga mengepung seorang pria berambut merah. Sedangkan pria yang di kepung masih berdiam diri, tanpa mengucapkan sebuah kata dari mulutnya
Mata jade nya hanya memandang tubuh wanita di depannya, wanita yang tewas itu adalah pengasuh di asrama Sora
"Kami sangat menghormati anda sebagi Pimpinan Negeri Tsuki, namun posisis anda sangat tidak menguntungkan saat ini, jadi tolong bekerja sama dengan kami, sedang apa anda di sini, Tuan Hisui? " tanya salah seorang prajurit
*Hisui memiliki arti batu Giok atau Jade*
Namun pria yang dipanggil Hisui masih terdiam, dengan wajah yang tenang. Meski tuduhan atas peledakan serta pembunuhan wanita pengasuh asrama di tujukan ke padanya
"Hentikan, bagaimanapu kita belum menyelidiki kasus ini, kalian tidak boleh asal menuduh" ucap Suara berat yang datang dari belakang, ia adalah Aora
Aora pun menuju ke arah Hisui, tidak lupa ia memberi salam kepada penguasa Negeri Tsuki tersebut
"Kau datang, Kapten" ucap anak buah Aora komoak, mereka pin mundur 5 langkah, membiarkan Aora berbicara langsung dengan Hisui
Aora pun berdiri tepat di hadapan Hisui, meski sikapnya sangat sopan, sorot mata Aora begitu tajam ke arah pria dengan jubah berwarna merah marun itu
"Jika anda tidak keberatan, anda harus mengatakan alasan anda berada di sini, hal ini agar menghindari spekulasi negatif tengtang anda, Tuan Hisui" ucap Aora
Mata jade Hisui kini menatap Aora, wajah yang tenang serta mimik muka yang kalem. Wajah seperti itu justru semakin mencurigakan bagi sebagian orang
"Apa kau akan percaya, jika aku bilang aku datang kesini hanya untuk memetik seikat bunga? " ucapnya
Aora hanya bisa terheran, bagaimana mungkin hal sekonyol itu digunakan Hisui sebagai alasan. Terlebih, dia salah satu penguasa, bagaimana munkin ia memetik bunga sendirian?
Rou pun datang menyusul Aora, ia mendekati kedua orang yang saling bersitegang lewat tatapan. Sadar keadaan mungkin kacau, Rou segera menghampiri Aora
" Aora, sesuai dengan prosedur, devisi Intel dan sensor akan menyelidiki kasus ini" ucap Ten sambil memandang penuh curiga ke arah Hisui
Ia pun memberi isyarat kepada anak buahnya
"Kami akan mengawal anda ke penginapan anda, Tuan Hisui. Namun, karena kejadian ini, kami akan membatasi pergerakan anda serta menempatkan beberapa prajurit Sora di dekat anda. Mohon kerjasamanya, sampai kami menemukan pelakunya" ucap Rou
Hisui pun dengan suka rela mengikuti kemana prajurit mengantarnya, sedangkan Aora masih belum mengerti maksud dari Hisui
"Keadaan benar-benar kacau, bagaimana Tamu Undangan bisa terlibat dalam insiden seperti ini? " ucap Rou dengan nada Khawatir
__ADS_1
" Tapi.... Jika Hisui merasa bukan ia pelakunya, kenapa justru dia tidak membela dirinya?
Tuduhan ke arahnya akan sangat jelas,jika dia terus berdiam diri bukan? "Gumam Aora
" Aku sudah menyuruh seluruh pasukan, agar insiden ini tidak di dengar oleh utusan lain. Jika sampai hal ini terdengar ke negara masing-masing, Perang benar-benar akan pecah
Tapi...... Hisui benar-benar mencurigakan, terutama sikapnya yang sangat Tenang" ucap Rou
"Apa yang terjadi dengan anak-anak asrama? " tanya Aora ke Rou
" 8 dari 10 anak yang terjebak di dalam gedung telah meninggal. Sedangkan sisanya, Mirai masih berusaha menolongnya" ucap Rou
Tangan Aora mengepal, bahkan dalam situasi seperti ini lagi lagi anaklah yang menjadi korban pertama
"Lalu.... Bagaimana keadaan gadis yang bernama Yuhee? " ucap Aora, suaranya tampak gemetar ia takut gadis itu menjadi salah satu korban yang tewas
" Mirai berhasil menyelamatkannya..... " ucap Rou
Aora bisa sedikit bernafas, gadis yang biasa sering mengganggunya yang ia anggap adik sendiri, ternyata bisa selamat
" Syukurlah...... Tapi apa aku benar-benar boleh lega dalam situasi sepertini? " ucap Aora
" Aku akan membawa mayat wanita ini ke Devisi Intel, akan ku kerahkan semua kekuatanku untuk mengungkap semuanya" ucap Rou sambil menepuk bahu sahabatnya
"Terima kasih, Rou. Aku mengandalkanmu" ucap Aora
......................
Sementara itu, di lolasi ledakan Mirai yang tengah mengendong Yuhee mulai keluar dari dalam gedung yang terbakar
"Apa kau tidak apa-apa, Mirai? Bagaimana dengan anak ini? " ucap Ten dengan nada khawatir. Ia pun mengambil alih, Yuhee kini berada di gendongan Ten
" Kami baik-baik saja, sebaiknya kau rawat Yuhee dulu. Aku tidak ada tenaga lagi.... Uhuk... Uhuk.... " ucap Mirai terbatuk, ia juga terkena imbas dari asap sisa kebakaran
Ten membawa Yuhee ke tenda pos medis, sekilas ia merasakan kulit Yuhee yang sangat dingin, luka bakarnya pun mengecil dengan beberapa bulir air di sekitarnya
" Bukankah di dalam sangat panas? Kenapa tubuh gadis ini begitu dingin? " gumam Ten penasaran
Ia pun menatap Mirai, yang tengah duduk tidak jau dari sana. Ten dengan cepat mengambil sebuah handuk basah, dan membawanya ke arah Mirai
" Aku harus pastikan lebih dulu.... " gumamnya pelan
Ia berjalan menghampiri Mirai, dengan cepat ia memegang tangan Mirai. Ten hendak memeriksa lambang Gyoku Mirai, dengan dalih memberinya handuk basah untuk membersihkan diri dari kotoran
" Mirai..... Kau harus mendinginkan suhu tubuhmu" ucap Ten sambil mengelap tangan Mirai
Mirai tidak sadar, kondisinya tidak memungkinkan untuknya untuk tetap waspada. Ia membiarkan begitu saja Ten mengelap tangannya
Mata Ten membulat, simbol salju terlihat samar di telapak tangan Mirai. Tanpa Mirai sadari, ia mengalirkan sesikit kekuatannya agar bereaksi dengam Gyoku Mirai.
Ten melihat jelas sebuah pola salju, yang cukup aneh di tangan Mirai. Ia pun menatap wajah Mirai yang masih terpejam
"Ja.. Jadi ini... Gyoku spesial yang di katakan ayah? “
Mirai mulai sadar, memgetahui Ten menatap lekat tangannya, ia segera menghempas tangannya, dan menyembunyikannya dari Ten
__ADS_1
Mirai menatap Ten, ia curiga Ten mengetahui segel Gyokunya yang tidak biasa. Sadar, Ten pun mengalihkan oandangan dari tangan Mirai, ia langsung menawarkan sebotol air pada Mirai
"Minumlah.... Kau mungkin lebih paham, air dapat membatu menetralkan efek racun yang kau hirup tadi
Anak kecil dan Yuhee sudah kami kirim ke rumah sakit Sora, kau bisa menemuinya di sana" ucap Ten
Mirai pun segera bangkit dan hendak pergi dari sana, namun Ten menghentikan langkah Mirai dengan memegang pergelangan tangan Mirai
"Kau sudah menyelamatkan sebuah nyawa yang berharga....... " ucapnya sambil menunduk
Mirai sama sekali tidak mengerti ucapan Ten, namun fokusnya kini hanya tertuju Ke Yuhee. Ia pun meninggalkan Ten begitu saja
......................
Di ruang kerjanya, Aora hanya bisa melihat pemamdangan dari balik jemdela besar di depannya, sorot matanya memancarkan kekhawatiran, sedangkan tangannya mengepal karena menahan amarah
Ketua Zen memasuki ruang kerja Aora, ia sadar betul murid kesanyangannya berada dalam situasi yang sulit saat ini
"Aora..... " panggil ketua Zen, ia meletakkan beberapa kotak makanan di meja Aora
Aora pun berbalik, ia menatap pria paruh baya yang kini berada di hadapannya
" Apa yang harus aku lakukan sekarang Guru? "ucap Aora dengan nada bimbang
Ketia Zen hanya menarik nafas panjang, ia juga tidak memiliki jawaban atas pertanyaan sulit Aora
" Jika kita mengacu kepada kepentingan Seluruh Negeri Sora. Posisi kita sangat rentan.
Kita berada dalam ekonomi yang kacau akibat emas yang langka.....
Selain itu, jika kita ceroboh mengambil keputusan, Perang mungkin akan pecah... Mengingat Pemimpin mereka, yang kita curigai terlibat dengan insiden naas itu
Dalam kasus ini, hanya ada 2 cara yaitu menutup rapat kasus ledakan dan menganggapnya tidak pernah terjadi, kita akan berdamai dengan pihak Tsuki
Berhenti menyelidiki kasus ini, adalah bukti bahwa kita berhenti mencurigai Tsuki terlibat. Sehingga kita dapat menghidari perang, dan kedamaian akan terjadi......
Dan yang ke dua..... " ucap Ketua Zen, ia melihat wajah bimbang Aora
" Tapi, kita tidak boleh menutup mata kita atas insiden ini. Anak-anak tidak berdosa menjadi korban.
Terlebih, mereka anak-anak yang tidak memiliki keluarga di sisi mereka, kitalah yang harusnya melindungi mereka, guru
Bukankah itu tidak adil bagi mereka? " ucap Aora
" Kau benar Aora, itulah pilihan ke dua. Kita akan mengungkap insiden ini. Tapi jika Hisui benar-benar terlibat......
Tsuki tidak akan pernah tinggal diam, sudah bisa di pastikan kita akan jatuh dalam peperangan" ucap ketua Zen
Aora pun hanya bisa terdiam, pikirannya sudah sangat kacau sekarang
Di luar pintu, Mirai hanya bisa mendengar percakapan antara Aora dan Ketua Zen
Ia hanya bisa berdiri, menatap Aora yang tengah bimbang lewat celah pintu ruangan yang terbuka
"Tidak bisa ku biarkan..... Aku harus membantu Aora...... "
__ADS_1