Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Ketulusan dan Rasa Rindu


__ADS_3

Mirai kini sibuk memeriksa kondisi Hotaru, dengan cekatan ia menulis benerapa informasi mengenai perkembangan di sebuah formulir yang bertuliskan 'Rekam Medis'.


Mata seindah lafender itu terus berkutat dengan kertas di depannya, memastikan tidak ada yang tertinggal atau lupa ia catat. Hingga sebuah ketukan pintu membuyarkan fokus Mirai


Mirai menengok ke arah pintu masuk, seorang gadis berambut pirang panjang masuk ke ruang perawatan Hotaru. Dengan sorot mata ragu, Tasuyu meberanikan diri masuk ke ruang itu.



"Selamat Pagi Nn. Mirai. " ucapnya sambil membungkuk


"Selamat pagi Nn. Tsuyu, apa kau ke sini ingin menengok Hotaru? "


Tsuyu pun mendekat, ia menatap sekilas Hotaru yang masih belum sadar. Sedikit lega ia rasakan ketika mengetahui operasi Hotaru berjalan lancar.


" Iya Nn. Mirai, sebelumnya terima kasih atas kerja kerasnya selama ini. Berkat Nona, Tuan Hotaru bisa sembuh. " Pandangan Tsuyu tidak bisa lepas dari pria yang masih terbaring lemah didepannya. Mirai menggeleng pelan.


"Tidak Nn. Tsuyu. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang dokter. Semua berkat Hotaru. Dia bisa bertahan dengan baik, berkat tekat dalam dirinya.


Oh ya... Hotaru baik-baik saja, aku sengaja membuatnya tertidur agar ia bisa pulih dengan cepat, kau tidak perlu khawatir lagi" ucap Mirai mencoba menenangkan Tsuyu


Mirai sadar, dari tadi Tsuyu memandang Hotaru dengan raut wajah khawatir. Bahkan Mirai melihat, wajah cantik Tsuyu kian sayu. Matanya menunjukkan lingkaran hitam samar, entah karena ia menangis semalaman atau kurang istirahat


"Begitukah, syukurlah.... Dia bisa kembali sehat....... "


" Aku dengar kau menunggu di depan ruang operasi hingga selesai? Berarti kau begadang semalaman Nn. Tsuyu...... Kau terlihat lelah sekali. "


"Ah.... Itu bukan apa-apa, di banding dengan Nona, aku tidak lelah sama sekali"


Mirai mengeluarkan pil suplemen dari sakunya, ia memberikan kepada gadis di depannya itu


"Kau bisa meminum obat ini, itu akan membantumu pulih kembali. Oh ya.... Kau terlihat seumuran dengan Hotaru, jadi kau tidak perlu berbicara sopan padaku, Nn. Tsuyu" Tsuyu menerima obat yang ditawarkan Mirai. Dengan senyuman, ia mulai bersikap santai dengan Mirai


"Terima kasih. Kalau begitu boleh aku panggil Mirai saja? "


" Tentu..... Itu jauh membuatku lebih nyaman, aku juga akan memanggilmu kak Tsuyu" ucap Mirai sambil tersenyum


"Hm...... Mirai di usiamu ini, kau memang gadis yang hebat" Tsuyu memuji kemampuan Mirai. Tidak heran, seorang gadis muda bahkan mamou melakukan operasi yang dikenal mustahil bagi sebagian orang. Dan syukurnya, orang itu bisa membantu Hotaru. Hal itu membuat Tsuyu besyukur Mirai mau melakukan operasi meski dengan taruhan nyawanya sendiri


"Kak Tsuyu tidak usah bilang begitu, bagaimana pun aku hanya berusaha memenuhi tugasku untuk menyelamatkan pasien dengan segenap kemampuanku"


Tsuyu tersenyum, gadis berambut panjang itu kini berjalan ke arah balkon yang menghadap laut itu.


"Mirai, maukah kau minum secangkir Teh sambil mengobrol denganku? "


......................


Kini, dua orang wanita cantik duduk di balkon Kastil sambil menikmati secangkir teh. Sambil menikmati pemandangan laut yang sangat indah dari tempat itu.

__ADS_1


Mirai membuka percakapan dengan Tsuyu. Selama ini ia begitu penasaran dengan gadis di depanya itu. Mirai menganggap Tsuyu sangat elegan, dan mencerminkan seorang gadis yang memiliki kharisma dari penampilannya yang anggun itu.


"Em.... Kak Tsuyu, kalau boleh tahu. Apa kau dan Hotaru berteman? tentu di luar hubunganmu sebagai sekretaris pribadinya"


Sambil menyeruput tehnya, Tsuyu menjawab pertanyaan yang Mirai ajukan itu. Sambil menatap kosong hamparan laut didepannya, ia kembali teringat akan masa lalunya. Saat dimana ia bertemu dengan Hotaru untuk pertama kalinya.


"Kami bertemu untuk pertama kalinya, ketika aku dan ayahku mengunjungi kastil Hoshi. Kira-kira waktu itu umur kami 12 tahun.


Selepas kepergian Pemimpin kami, aku ditugaskan untuk mendampingi Hotaru dalam menjalani pendidikan menjadi Penguasa Hoshi berikutnya. Aku pun di angkat sebagai sekretarisnya waktu itu" ucap Tsuyu. Mirai terkejut, ia tidak menyangka wanita didepannya itu adalah wanita hebat. Seorang sekretaris seorang pemimpin Negera, tentu sebuah posisi yang sulit didapat.


"Wah.... Kau hebat sekali, kau menjadi sekretaris seorang pewaris bahkan di usiamu yang masih muda! " Tsuyu tersenyum simpul. Posisi itu memang terpandang, tapi itu semua bukan murni darinya. Semua karena campur tangan sang ayah


"Itu semua karena perintah Ayahku, di satu sisi ia ingin aku mengawasi Hotaru" Tsuyu pun menatap Mirai yang duduk di sampingnya itu


"Aku melihat, Hotaru sangat menyukaimu Mirai. Sehari sebelum operasi, bukankah ia menyuruhmu mengantarnya jalan-jalan di tepi pantai? " ucap Tsuyu. Sorot matanya bergetar. Ia tentu iri dengan Mirai. Bagaimanapun hanya Mirai wanita pertama yang Hotaru biarkan berada disisinya. Namun, Tsuyu sadar posisinya. Ia tidak pernah mengharapkan hal yang lebih dari pada apa yang ia miliki saat ini.


Mendengar hal itu, dengan cepat Mirai menjelaskan apa yang terjadi. Sambil menggelengkan kepalanya keras, ia menjelaskan hubungan antara ia dan Hotaru kepada Tsuyu


" Tidak.... Itu tidak benar Kak Tsuyu! kami hanya sebatas teman saja tidak lebih. Jika Hotaru menyukai seorang gadis, pastilah ia akan memilih wanita elegan sepertimu.


Kau cantik, pintar dan menurutku kau sosok yang sempurna! " ucap Mira sambil mengeluarkan isi pikirannya. Melihat ekpresi Mirai, sontak membuat Tsuyu tertawa pelan. Ia tidak menyangka reaksi Mirai akan sejelas itu


"Benarkah? Aku harap Hotaru juga menganggapku seperti itu.


Tapi........


Mungkin Hotaru menganggapku hanya sebagai mata-mata ayahku. Ia tidak pernah menunjukan sisi lembutnya padaku, bahkan untuk sekedar teman masa kecil" ucap Tsuyu ririh. Pandangannya hanya tertuju oada gelas cangkir ditangannya.


Ia menunduk, raut mukanya begitu sedih. Mirai yang tidak tau harus berbuat apa, hanya bisa menepuk bahu Tsuyu pelan


"Namun, ketika aku melihat Hotaru menghabiskan waktu denganmu. Hotaru tampak bisa menunjukkan senyumannya yang selama ini jarang terlihat.


Meskipun Hotaru tidak menganggapku. Keinginanku hanya satu, yaitu membuat senyumannya terus menghiasi wajahnya


Ia tidak pernah cerita, bagaimana masa lalunya, terutama tentang kakaknya Tuan Hikari


Aku pikir, dia tidak menganggapku sebagai teman. Setidaknya aku biasa menjadi tempat untuknya menceritakan masa lalunya kepadaku"


"Aku yakin Hotaru menyiapkan tempat khusus di hatinya untukmu, mungkin aku tidak pandai dalam urusan percintaan.


Tapi, aku yakin Hotaru bukan orang yang bisa menilaimu hanya karena kau putri orang yang menentangnya, aku yakin dia juga bisa merasakan ketulusanmu.


Bahkan, aku mendengar Hotaru meminta salah seorang pengawalnya mengabarimu, bahwa ia akan pergi jalan-jalan ke tepi pantai waktu itu.


Aku yakin, Hotaru juga tidak mau membuatmu cemas"


"Bagiku, Aku tidak perlu berada di sisinya sebagai seorang wanita. Meskipun hanya sebatas rekan kerja, aku akan berusaha menjaganya dengan segenap kekuatanku, Mirai"

__ADS_1


Perasaan Tsuyu begitu murni untuk Hotaru. Ia tidak pernah menginginkan hal yang lebih. Bahkan ketika Hotaru dekat dengan gadis lain, ia diam-diam mendukungnya. Meski ia tahu, hal itu akan melukai perasaanya. Mirai tidak bisa berkata banyak. Jujur ia masih belum paham ikatan antara pria dan wanita. Yang bisa Mirai lakukan, adalah mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini


"Tentu, terkadang ketulusan seseorang dapat menghancurkan dingding yang kokoh sekalipun, termasuk dingding hati seseorang"


"Terima kasih Mirai, hah! Akhirnya beban di hatiku sedikit terangkat, setelah menceritakan perasaanku yang sebenarnya kepadamu Mirai, terima kasih kau bersedia mendengarkanku"


Tsuyu tersenyum ke arah Mirai, ia mengusap air matanya yang menetes begitu saja. Bercerita dengan teman, tentu bisa mengangkat sedikit beban dihati.


" Tidak masalah Kak, Tsuyu. Dengan senang hati. "


" Kau tahu Mirai, kau memang gadis yang luar biasa. Kau cantik ahli dalam ilmu medis dan juga dokter yang handal........


Aku jadi iri denganmu Mirai. Kau gadis yang penuh dengan kehangatan..... Yah.... Meskipun terkadang kau juga bersikap dingin. Tapi itu tidak memungkiri bahwa kau gadis yang hebat... " ucap Tsuyu sambil tertawa


" Benarkah? " Mirai hanya bisa membalasnya dengan senyuman


Merekapu menikmati segelas teh pagi dengan menikmati obrolan sebagai teman. Bahkan di negeri Hoshi, Mirai mendapat teman baru lagi


......................


Mirai berjalan di pesisir pantai di dekat Kastil Hoshi. Pasir Putih dengan ombak pantai yang tenang mengiringi perjalanan yang kian jauh dari Kasti Hoshi, ia kini menuju sisi paling ujung tempat itu


Mirai menikmati waktunya sendiri, tanpa alas kaki, ia berjalan melewati pasir putih dan menyisakan jejak kakinya.


Angin berhembus pelan, menghempaskan rambut panjangnya lembut. Dari kejauhan ia melihat kapal nelayan yang tengah menangkap ikan di sekitar pulau


Ia melihat seorang ayah dan putrinya tengah asyik memancing ikan. Sang ayah mengajarkan putrinya bagaimana menarik kail pancing dengan pelan, dengan memegang tangan sang putri, ia mengajarkan teknik memancing dan di balas antusias oleh sang anak


Kini Mirai hanya menatap sendu keakaraban antara sang Ayah dan Putrinya itu, sesekali ia menunjukan senyum lembut penuh kepiluan di wajah cantiknya.


Namun, senyum Mirai sirna begitu saja. Digantikan tatapan sedih di raut mukanya


"Aku Merindukanmu, Ayah.......... "


Gumam Mirai ririh, kristal bening mulai jatuh membanjiri wajah cantiknya. Mirai hanya berdiri menatap lautan di depannya, perlahan ia mulai duduk di pasir sambil memeluk kakinya


Kau tahu ayah...... Bahkan ada orang yang mengatakan aku hebat dan iri dengan kehidupanku.


Namun.......


Hidupku jauh dari kata indah, setelah kepergianmu....... Hidupku hancur bagai di neraka......


Aku......


Mirai sangat merindukanmu Ayah.....


Sejak segel ingatannya rusak, tidak sekalipun Mirai dapat melalui hari tanpa merindukan sang ayah. Meski di luar ia terlihat tangguh dan dingin, namun Mirai tidak pernah tidak menangis ketika ia sendirian

__ADS_1


__ADS_2