
Zou mulai mengerjap pelan, ia merasakan seluruh tubuhnya remuk akibat terlempar jatuh ke suatu tempat. Mata Hazelnya mulai membuka pelan, sebuah pemandangan yang tampak familiar kini menyambutnya. Mata Zou membulat sempurna tatkala melihat pemandangan indah sebuah desa yang dikelilingi bukit bebatuan yang asri.
"Bu-bukankah ini Desa Tsuki? Kenapa aku ada disini? " gumamnya heran pada dirinya sendiri. Meski diterpa berbagai kebingungan, ia akhirnya memutuskan untuk memasuki desa yang pernah menjadi kampung halamannya itu
Ada yang aneh dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Keberadaan Zou seolah tidak terlihat atau tersentuh apapun. Ia layaknya roh yang berkelana ke suatu tempat
Brakkkk....
Seorang anak kecil lucu berambut merah terjatuh tepat dikakinya. Zou hendak menolongnya. Namun, ia tidak bisa menggapai anak itu dengan kedua tangannya. Ia melihat tubuhnya seolah tembus pandang.
"Apa ini? Kenapa aku tidak bisa menyentuh apapun?! "
Zou menatap anak yang terjatuh didepannya. Mata secoklat Hazel anak itu tampak sembab, sementara tumpukan buku ditangannya jatuh berhamburan ketanah. Lagi-lagi Zou dibuat terkejut dengan sosok anak didepannya
" Anak itu? Bukankah dia diriku? "
Zou menunjuk ke arah dirinya sendiri. Ia tidak percaya ia kembali melihat potret masa kecilnya. Zou menatap bingung sekelilingnya. Sihir macam apa yang telah Tora tanamkan pada dirinya. Ia tidak ingin kembali ke jaman itu! Masa kecilnya merupakan masa paling buruk selama hidupnya
"Hirui! " ucap Suara Tora entah dari mana. Tidak ada wujud pasti dimana harimau putih itu berada
" Pertapa Agung! Apa maksudmu membawaku ke tempat seperti ini?! "
" Aku sudah pernah mengatakan sebelumnya. Ketakutan, penyesalan serta semua yang kau sembunyikan selama ini harus kau hapuskan dalam hatimu.
Ini adalah bagian dari jalan yang harus kau lewati. Kalian bertiga, aku mengirim kalian kembali ke momen yang paling menentukan jalan hidup kalian selama ini!"
Setiap orang pasti memiliki ketakutan dalam diri mereka. Hal itu juga berlaku untuk Zou. Alasan ia melarikan diri dan akhirnya bergabung dengan tim Tengu. Alasan kenapa ia bersembunyi sebagai Zou dan melupakan namanya serta identitas masa lalunya sebagai Hirui dari Tsuki. Mendengar penjelasan Tora, Zou hanya memandang sayu sosok kecil dirinya
"Kau harus menemukan jawaban atas ketakutan yang selama ini kau coba hindari! Mulai sekarang kau akan melihat momen-momen paling penting di hidupmu lagi! " suara Tora pun menghilang begitu saja.
Zou melihat gerombolan anak penyitas datang. Meski tahu suaranya tidak akan terdengar ia masih saja berusaha memperingatkan versi kecilnya untuk kabur dari sana
" Mereka adalah anak-anak yang sering membulimu! Larilah! Kembali ke kastil Tsuki! Anak sepertimu tidak seharusnya berada disini! Hirui! " gumam Zou pada anak versi kecilnya
Hirui kecil hanya menangis sesenggukan sambil memungut buku-bukunya yang berhamburan ke tanah. Hingga segerombolan anak yang lebih besar menghadangnya
" Lihatlah! Kenapa Tuan Muda kita berkeliaran didesa sendirian?! Hei! Tuan muda, apa kau tersesat heh? " ucap seorang anak laki-laki bertubuh gemuk sambil menatap remeh ke arah Hirui kecil
" A-aku hanya I-ingin membeli beberapa buku dikota" ucap Hirui kecil dengan raut wajah ketakutan. Anak-anak didepannya kembali tertawa mengejek
"Hahaha.... Benar kata ayahku! Negeri kita tidak memiliki pewaris yang cakap! Lihatlah anak lembek sepertinya! Di saat orang-orang sibuk berperang! Anak yang disiapkan menjadi penerus kepemimpinan Tsuki justru menangis cengeng hanya karena bukunya jatuh ketanah! "
Anak itu mengeratkan tinjunya. Kini ia menatap Hirui kecil dengan sorot mata penuh amarah. Beberapa penduduk tahu kelakuan anak-anak nakal itu. Tidak sedikit dari mereka juga tahu siapa anak yang menjadi korban buli. Tapi tidak ada seorang pun yang peduli. Bagi mereka, percuma memiliki Tuan Muda yang lemah dan hanya bisa mengurung diri didalam perpustakaan sambil membaca buku.
Hirui kecil menatap orang-orang dewasa yang berlalu lalang melewatinya begitu saja. Meski diam tanpa kata, ia meminta pertolongan dengan sorot mata ketakutan miliknya. Setidaknya, jika mereka tidak mau menganggapnya sebagai bagian dari keluarga penguasa Tsuki. Ia tetaplah anak kecil yang memerlukan pertolongan
Zou yang melihat kilas kehidupan masa lalunya hanya menatap nanae sosok versi kecilnya
__ADS_1
"Tidak akan ada yang mau menolong anak kecil lemah sepertimu.... Kau terlalu tidak beguna untuk dibela oleh rakyat yang seharusnya kau lindungi dengan kekuatamu! "gumamnya pelan
Anak-anak itu mulai mendekat, mereka mengelilingi Hirui kecil dan memojokkannya. Salah satu anak menendang buku ditangan Hirui. Hal itu membuat tubuh ringkih Hirui terpental hingga membentur tembok dibelakangnya
" Apa kita tidak akan mendapat masalah jika memukul anak ini begitu saja? Ayahnya seorang penguasa Tsuki! " seru anak yang lain
" Dia terlalu pengecut untuk mengadukan kita ke dewan desa! Ayo teman-teman! Kita beri pelajaran anak pengecut ini! " anak yang menjadi pemimpin pun menginjak tangan Hirui kecil keras. Hirui hanya bisa pasrah, dengan kemampuannya ia bahkan tidak bisa melawan perlakuan anak-anak itu padanya
" Kehidupan kelamku, ternyata dimulai pada titik ini.... " gumam Zou pelan
......................
Situasi berubah begitu cepat. Hanya dalam sekejap mata, Zou kembali terlempar disaat dirinya mulai beranjak dewasa. Usianya kala itu masih 15 tahun. Zou kini paham sistem sihir ini, ia akan mendatangi dan menyaksikan setiap ingatan yang membekas didalam hatinya.
Kali ini ia berada disebuah ruang pepustakan yang megah. Ribuan bahkan jutaan buku berjejer diruangan luas. Ia masih ingat dengan jelas, perpustakaan Negeri Tsuki merupakan tempat faforitnya menghabiskan waktu. Dibanding mendegarkan cemooh orang-orang, ia lebih memilih belajar dan menenggelamkan diri dalam bacaanya. Zou lebih tertarik dengan rahasia racun sihir. Untuk itu ia bertekat menjadi ahli racun terbaik didunia
Ia tumbuh tanpa teman ataupun orang-orang yang bisa dianggapnya dekat untuk sekedar menjadi sandaran dalam kesendiriannya. Hirui tidak begitu tertarik dengan pertarungan langsung atau menggunakan sihir untuk menyakiti seseorang. Meski kerap diragukan, jauh didalam dirinya ia memiliki bakat bertarung jarak jauh yang mumpuni. Terlebih dalam memanfaatkan racun untuk melumpuhkan lawan.
Tentu saja, sikapnya yang mudah minder serta super introvert akhirnya membelenggu dirinya dalam sebuah kesendirian.
Hirui lebih senang berkutat dengan buku-buku tebal. Semenjak kejadian itu, ia takut pergi keluar kastil. Membaca membantunya tahu mengenai apa saja yang terjadi di luar sana tanpa perlu repot-repot pergi keluar kastil
Zou yang melihat ruang kerja faforitnya kembali bernostalgia. Sambil memandang deretan buku-buku yang hampir seluruhnya sudah pernah ia baca itu
"Datang ke tempat ini mengingatkanku pada hari istimewa itu. " gumam Zou pelan. Zou mencoba menyentuh deretan buku didepannya, tapi benda itu menembus tangannya begitu saja. Ia kembali teringat, mungkinkah hari yang ia maksud adalah hari ini?
"Tidak mungkin! "
" Tuan Muda! Nona dari Clan Kudo ingin bertemu dengan Tuan! " ucap pelayan dari luar.
Hirui yang masih sibuk berkutat dengan buku hanya bisa mengangkat alisnya bingung. Siapa orang yang ingin bertemu dengannya? Sambil menggosok kasar rambut merahnya, dengan tampang super malas ia berjalan ke arah pintu
Zou yang melihat kelakuan absurd dirinya dimasa lalu hanya bisa menghela nafas pelan
"Salah satu hal yang masih aku sesali adalah momen ini. Kenapa dulu aku tidak merapikan rambut dan pakaianku sebelum membuka pintu itu hah!" ucapnya frustrasi
Hirui membuka pintu malas. Tampangnya benar-benar kacau dengan mata panda menghiasi kelopak matanya.
"Siapa ya? Wuah! " Hirui menganga seketika
Sesosok gadis cantik menyambutnya dengan senyuman dari balik pintu. Untuk pertama kalinya, pipi Hirui memerah semerah warna rambutnya, ketika berhadapan dengan gadis cantik yang terlihat seusianya itu
"Jadi kau Tuan muda Hirui? Senang bertemu denganmu. Namaku Haruko dari Clan Kudo. Mulai hari ini, aku ingin menjadi teman belajarmu! Mohon bantuannya ya, Hirui-kun! " ucap Haruko dengan senyum cerianya.
Hirui yang masih membeku hanya bisa menganguk pelan tanpa memalingkan pandangannya dari Hiruko. Ini pertama kalinya ia melihat gadis yang begitu cantik dan langsung mencuri hatinya kala itu
Zou yang masih berdiri samar diantara mereka, mulai mendekati gadis bernama Haruko itu. Sorot matanya berubah melembut, seolah bertemu kembali dengan orang yang sangat ia rindukan selama ini. Sosok yang mungkin tidak bisa ia temui bahkan dalam mimpinya sekalipun
__ADS_1
"Kau masih tampak begitu cantik, Istriku. Maafkan aku, tidak bisa melindungimu dan anak-anak kita dengan baik! " gumam Zou dengan suara bergetar penuh emosi. Ia hendak menggapai Haruko dengan tangannya untuk sekedar membalas rasa rindu dihatinya, namun tentu saja ia tidak bisa. Dunia yang ia datangi saat ini adalah serpihan masa lalunya. Bukan dunia asli tempat dimana ia dapat berbagi sentuhan rindu dengan wanita yang paling ia kasihi selama hidupnya
Haruko merupakan satu-satunya gadis yang mampu membuat hati seorang Introvert seperti Hirui terbuka. Gadis periang dan bayak bicara, setidaknya itulah yang terlukis di sifat hangatnya. Ia adalah gadis yang dijodohkan untuk Hirui demi kepentingan Penerus Kekuasaan Tsuki. Seperti yang diketahui, sistem di Tsuki mengharuskan penerus pemimpin mereka menikah sedini mungkin
Mereka bedua tumbuh bersama. Hirui menganggap kehadiran Haruko lebih dari sekedar kekasih di hatinya. Gadis itu bagaikan teman, kakak dan bahkan orang tua yang selalu berada disisi Hirui. Senang maupun susah. Ia satu-satunya wanita yang begitu berharga melebihi hidupnya sendiri.
Ketertarikan mereka dengan ilmu racun, membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Kedua insan itu akhirnya membuka hati untuk menerima cinta satu sama lain. Tepat di tahun kedua mereka bertemu, mereka akhirnya resmi menikah.
Usia keduanya saat itu masih 17 tahun. Akibat perang yang semakin mencengkram, pemimpin Tsuki yang tidak lain adalah ayah Hirui akhirnya gugur dimedan perang. Hirui tidak punya pilihan lain selain mengambil alih kepemimpinan Negeri Besar Tsuki diusia yang masih sangat belia.
Tahun pertamanya sebagai pemimpin Tsuki, ia lewati dengan sangat sulit. Banyak Tetua yang menentang segala keputusan yang ia keluarkan. Berbagai alasan timbul, mulai dari pemimpin yang masih bocah sampai pemimpin lemah yang hanya mengerti dunia lewat buku semata. Hirui hanya menginginkan perdamaian didalam Negeri tercintanya. Lewat perdamaian itu, dibanding memegang senjata ditangannya, anak-anak justru bisa menggapai apa keinginanya lewat hal-hal menarik seperti belajar di kelas. Setidaknya itulah harapannya sebagai seorang penguasa
"Perdamaian adalah sesuatu yang mustahil. Itu semua hanya angan-angan kutu buku seperti Tuan Hirui! Jika kita bersikap lemah seperti itu, Hoshi yang sudah mengincar negeri kita sejak dulu tidak akan tinggal diam! "
" Hah! Seandainya kita memiliki pewaris lain selain tuan Hirui. Kita pasti melengserkannya dari jabatan itu! Kita tidak memiliki pilihan lain"
Para Tetua menggunjing kebijakan Hirui dibelakangnya. Zou yang hadir di momen itu hanya memandang dirinya dimasa lalu dengan iba. Bukannya tidak tahu, tapi Hirui sengaja diam dan mendegarkan semua ucapan buruk mengenai dirinya. Seperti seorang pengecut ia hanya bisa bersembunyi di balik pintu tanpa berani mengutarakan pendapatnya
"Kau memang seorang pengecut! " gumam Zou sambil mengepalkan tangannya keras
Hirui yang murung kembali berjalan menuju kediamannya. Disana, istrinya Haruko datang menyambut kedatangannya. Wanita cantik itu tidak sendiri, ia mengajak putrinya yang berusia 2 tahun untuk menyambut kepulangan ayah mereka
"Tou-chan..." ucap balita cantik itu memanggil ayahnya. Melihat putrinya memanggilnya, Hirui tersenyum lembut.
"Harui, ayah merindukanmu. Putriku! " ucap Hirui sambil memeluk putri kecilnya. Haruko juga menghampiri suaminya. Dengan cekatan ia melepas Kimono berlambang Bulan itu dari tubuh suaminya
" Kau pasti melalui hari yang berat, Hirui-kun" Hirui kini memeluk istrinya, ia tumpahlan seluruh perasaanya lewat sebuah pelukan hangat
"Hari melelahkan itu akan terlewati begitu saja ketika aku bertemu dengan 'obat' spesialku. Kalian adalah obat yang memberiku kekuatan"
Wajah Haruko memerah. Suaminya selalu memberikan kata-kata indah untuk memuji dirinya. Ia pun menggenggam tangan Hirui erat, menuntunya untuk duduk di sofa. Mata Aquamarine kini bertemu denga mata secoklat hazel. Hirui tersenyum lembut, entah kapanpum ia tidak pernah bosan memandang paras cantik didepannya
"Ada apa? Kau pasti memiliki sesuatu untuk dikatakan? " Hirui seolah tahu apa yang ada dipikiran Haruko. Wanita berambut pirang itu tersenyum cantik
" Tampaknya, kau akan memiliki satu 'obat' istimewa lagi Hirui-Kun. Aku.... Aku hamil! "ucap Haruko dengan air mata kebahagiaan. Mendengar hal itu, Hirui hanya bisa membeku.
" Apa katamu? Coba kau ulangi lagi... "
" Kita akan mendapat malaikat kecil lagi" ucap Haruko sambil memeluk erat Hirui. Air mata Hirui menetes begitu saja. Dengan lembut, ia menyentuh perut rata istrinya
"Malaikat kita masih terlalu lemah. Dokter mengatakan aku harus menjaga kondisiku dengan baik. Aku sangat baha-
Uhuk! Uhuk! " tiba-tiba saja Haruko terbatuk. Dari telapak tangannya terlihat bercak darah kecil. Ia buru-buru menyembunyikan itu dari Hirui yang masih diliputi kegembiraan menyambut malaikat lain di hidupnya
" Ada apa? Apa kau sakit? "
Haruko menggeleng pelan " Aku tidak apa-apa. Mungkin karena terlalu bersemangat, aku jadi tersedak. Hehe.... " ucap Haruko bohong
__ADS_1
Zou yang melihat kenangan miliknya kembali terputar jelas dihadapannya hanya bisa memasang senyum pilu. Pandangganya tidak bisa lepas dari sorot sayu sang istri
" Seandainya saja kau bisa menyadari kondisi Haruko lebih cepat. Mungkin saja, ia masih bersamamu hingga kini! " gumam Zou pada dirinya dimasa lalu