Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pertarungan


__ADS_3

Tressssss........


Hembusan badai angin mengelilingi tubuh Hotaru, serangan bola api sihir milik Hito dipatahkan dengan mudah. Bahkan Hotaru tidak terlihat berusaha dan hanya mengaitkan tangannya di dadanya


Hotaru adalah tipe pengguna elamen angin, ia juga dapat memanipulasinya menjadi tipe badai. Salah satu elemen pengrusak yang cukup berbahaya jika digunakan dalam pertaruang


Hito tidak mau kalah, ia mencoba menyerang dengan melipat gandakan besar bola api yang keluar dari gyokunya. Targetnya adalah pertahanan angin Hotaru, dengan memanfaatkan jumlah oksigen di daerah pegunungan membuat bola api ciptaanya berubah emoat kali lipat dari ukuran sebelumnya. Oksigen sangat menguntungkan elemen Apinya.


"Rasakan ini, apiku akan membakar hangus tubuhmu! " ucap Hito bangga, ia pun melemparkan bola api raksasa itu menuju kearah Hotaru


Wusssss......


Bola api raksasa menyerang Hotaru secara cepat. Namun itu tidak berarti apa-apa baginya, Hotaru mampu menghidari drngan elemen badai miliknya. Kini giliran Hotaru yang menyerang, ia mulai mengankat tangannya dan mengaktifkan gyokunya untuk mengendalikan sihirnya


Hotaru mengendalikan angin di sekitar mereka, membuat pusaran angin raksasa dengan hebusan yang begitu cepat mirip topan. Sebuah pusaran angin besar, yang mampu mengurung Hito dan dirinya di dalamnya.


"Sudah aku katakan, kau tidak bisa meremehkan seorang sepertiku. Kau tidak bisa lagi menggunakan elemen apimu lagi di sini. " Hotaru bahkan tidak bergeming sedkiitpun, akibat pusaran angin miliknya tanah mulai terangkat di sekitarnya. Gerusan angin Hotaru benar-benar kuat. Kekuatan Hotaru mengurung Hito kedalam ruang yang tercipta oleh pusaran angin miliknya


" Jangan Sombong. Aku tahu bahwa pemimpin Negri Hoshi dalam keadaan sakit keras. Aku tahu kelemahanmu, bukankah serangan Fisik akan sangat merepotkan untukmu? Saat pengguna berfokus pada elemenya akan jauh lebih mudah menyerangnya" ucap Hito sambil tersenyum


Dengan cepat Hito mengarahkan pedang ke Hotaru, tapi tetap saja Hotaru bisa menangkis pedang tersebut. Hotaru membentuk sebuah pedang dengan energi sihirnya


Ting....... Treng..... Teng.....


Hotaru dengan luwes menghindari serangan demi serangan, namun pria berambut biru pucat itu tidak mencoba melawan atau menyerang balik, sebisanya ia menghindari serangan Hito


Berbeda dengan Hito, dia secara penuh berusaha menebas Hotaru, mengeluarkan semua kemampuannya untuk membunuh Hotaru


Buahhhhh..... Hah....hah.....


Hito mulai kehabisan tenaga serta kehabisan nafas. Sedangkan Hotaru masih diam anteng, bahkan tanpa berkeringat setetes pun


"Aku tidak tahu, bahwa pemimpin Hoshi sangat pengecut seperti ini" ledeknya dengan seringai. Ia mengira Hotaru sengaja menghindar karena takut berhadapan dengannya


Tiba- tiba senyum di wajah Hito hilang, berganti wajah terkejut dengan mata membulat. Tangannya memegang dada yang mulai terasa sesak


"Haaaghghh...... Kenapa aku tidak bisa bernafas? " Hito mulai tersengal, dengan mulut menganga berusaha mencari udara segar


" Jangan sekali meremehkan lawanmu, meski kau tahu dia dalam keadaan sakit, sebaliknya kau sendiri yang melupakan kelemahanmu? " ucap Hotaru


" Apa yang terjadi di sini. Udara menjadi pengap dan tidak ada oksigen sedikitpun! Argh! "


"Aku mengepungmu dengan teknik angin miliku. Angin yang berputar cepat dan memadat. Ruang yang tercipta dengan kadar udara yang rendah. Membuat akses oksigen tidak bisa masuk ke dalam bola Anginku, elemen apimu tidak berguna di sini


Sihirku mengunci seluruh akses udara dari luar, bosa dibilang didalam ruang ciptaanku oksigen sangat terbatas.


Jika terus berada di dalam bola anginku, ruang hampa ini akan membuatmu kesulitan bernafas. Kau tidak menyadarinya dan malah menghabiskan oksigen berhargamu dengan menyerangku secara acak, membuat sisa oksigen di sini kian menipis. Sekarang kau bahkan tidak bisa bergerak perlahan tubuhmu akan melemas! "


Hotaru mulai keluar dari Bola angin miliknya. Ia sengaja menjebak musuh masuk ke ruang hampa di tengah bola Angin miliknya


"Nikmatilah angin segar terakhirmu, setidaknya untuk otak bodohmu yang berani meremehkanku. Sampai sekarang tidak ada yang selamat keluar dari sini" ucap Hotaru


Di luar bola Angin besar yang terus berputar cepat. Hotaru mulai mengangkat tangannya. Perlahan bola itu berubah menjadi gelap, dengan listrik mengaliri di sekitarnya.


"Rasakan Serangan Badai dari ku! " ucap Hotaru


Di dalam Bola angin yang sudah berubah menjadi bola badai berwarna hitam pekat. Kilapan listrik terlihat memenuhi seluruh permukaan, itu adalah serangan terakhir Hotaru dan mengalahkan Hito secara telak.

__ADS_1


......................


Di waktu bersamaan, Aora juga menghadapi Salah satu rekan Shira. Pria itu dengan cepat menyerang Aora dengan Pedangnya.


Trengg........


Aora bertahan dengan menangkis serangan Itoi menggunakan pedangnya. Aora menahan tekanan serangan Itoi menggunakan kedua tangannya


"Satu-satunya cara melawanmu adalah menyerangmu dengan kecepatan tinggi, sayangnya itu adalah keahlianku senior Aora! " Itoi mencoba menekan pedangnya lebih kuat lagi


Tess.........


Itoi tiba-tiba menghilang. Aora pun mulai siaga, ia menoleh ke segala arah, memastika tidak ada celah bagi Itoi untuk menyerangnya


Tesssss........


Itoi menyerang Aora dari samping dengan cepat, bahkan Aora tidak menyadari keberadaannya di mana dan akan muncul di arah mana.


"Rasakan hadiahku ini, senior!" ucap Itoi


Serangan Itu mengenai lengan Aora, hingga berdarah. Itoi kembali menghilang.


" Ini benar benar merepotkan" ucap Aora, sambil memegangi lengannya yang terluka. Lagi Itoi muncul di belakang Aora


"Sudah aku katakan, kecepatan miliku bahkan sulit untuk dilacak ataupun dilihat" ucap Itoi sombong. Itoi mulai mengayunkan pedangnya, hendak menebas punggung Aora.


"Inilah akhirmu, senpai! "


Tranggggggg.............


Suara pedang beradu, ternyata Aora dapat menangkis serangan Itoi dengan tepat.


Mata Aora berubah menjadi merah darah, pupil yang memancarkan sorot mata tajam dan menakutkan


"B-bagaimana bisa kau menebak asal seranganku? Dan Mata apa itu? "


Itoi terkejut melihat Mata merah Aora. Ia merasakan kekuatan aneh yang terpancar dari sorot mata Aora


Aora mengaktifkan kekuatan Matanya, mata yang mampu secara efektif menebak darimana asal serangan, bahkan jika serangan itu setara dengan kecepatan Cahaya. Mata itu dapat membaca serangan lawan, dua detik sebelum serangan asli dilancarkan. Yang artinya Mata itu dapat membaca Masa Depan.


Petir Merah Mulai melapisi pedang Aora, merasa itu tidak menguntungkan dengan cepat Itoi menjauh dan menghilang. Namun kecepata Aora dapat menandingi Itoi, Aora kini tepat di belakangnya.


"Oi! Aku di belakangmu" ucap Aora yang kini berada tepat di belakang itoi. Namun belum sempat menghindar, tubuh Itoi sidah di tebas dengan pedang petir milik Aora


Brassss.....


"B- bagaimana mungkin ia mengimbangi lecepatanku? " ucap Itoi dengan mata membulat ketika menerima serangan telak dari Aora


Itu adalah kalimat terakhir Itoi sebelum tubuhnya teraliri kekuatan petir Merah Aora dan melebur menjadi abu


......................


Di saat bersamaan Mirai juga berhadapan dengan Shira. Pria bertubuh kekar, dengan wajah penuh kelicikan


" Kau sungguh pengecut! membiarkan anak buahmu melawan lawan tangguh, sedangkan kau mengincar seorang gadis?


Tapi maafkan aku. Aku bukanlah gadis lemah seperti yang kau kira! " ucap Mirai sambil tersenyum sinis

__ADS_1


"Lemah atau tidak, lihat saja nanti! "


Shira mulai mengaktifkan Gyokunya, sebuah bola lava besar terbentuk dari tangannya. Gumpalan bola mendidih seukuran batu yang sangat besar "Rasakan ini, gadis sombong! "


Trassssss.....


Ia melempar bola lave mendidih itu ke arah Mirai, dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Mirai


Mirai tidak bergeming atau menunjukkan sorot ketakutan sesikitpun, ia hanya menatap datar bola api yang menuju ke arahnya. Sambil menunjukkan seringai di wajah cantiknya, ia lalu membuka segel Gyoku salju Miliknya.


Hanya dengan jentikan jarinya bola api itu berhenti menerjang, Mirai lalu tersenyum ke arah Shira.


"Kau hanya melemparkan batu kerikil ke arahku? Lemah sekali! "


Bola Lava itu seketika berubah menjadi Bola salju besar dan pecah menjadi kepingan salju kecil. Shira terkejut, bagaimana bola lavanya dapat dibekukan dengan mudah oleh Mirai. Ia masih bingung sebenarnya kekuatan apa yang di miliki Mirai


" Elemen Es? Cih! Kau benar-benar gadis merepotkan" ucao Shira. Ia lantas menyerang Mirai dengan cepat dengan pedangnya.


Tringgggg......


Mirai menahan serangan Shira, dengan tangan yang diapisi es Miliknya. Mirai membuat pertahanan dengan memanfaatkan es miliknya sebagai senjata. Shira tersenyum penuh arti.


"Jangan harap kau mampu menandingiku gadis kecil, seharusnya kau bersembunyi saja di belakang Aora! "


Pertahanan Mirai melemah, lapisan es di tangannya mulai retak. Saking berat serangannya, tanah tempat Mirai berpijak mulai Hancur.


"Cih! Sial..... " dengus Mirai


" Kau tidak akan mampu menahan seranganku ini. Aku memanipulasi elemen tanah, sehingga beratku setara dengan satu buah batu sebesar Rumah, tubuh kecilmu tak akan sanggup menahannya" ucap Shira puas melihat ekpresi Mirai


Shira memanfaatkan manipulasi elemen tanah, sehingga ia dengan sesuka hati membuat tubuhnya menjadi berat, bahkan 1000 kali lipat berat normalnya


"Kita lihat saja! " ucap Mirai tidak mau kalah


Mirai menahan serangan Shira dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk melumpuhkan Shira. Tangan kanannya ia lapisi dengan kekuatan dari Gyokunya, sinar biru merambat di seluruh tangan Mirai


Tap..... Tap.... Tap.....


Mirai menekan titik kekuatan Shira di tubuhnya. Ia menutup seluruh aliran energi di tubuh Shira


"Kau jangan meremehkan seorang tim medis, mengetahui aliran energi seseorang adalah mutlak! " ucap Mirai sambil melupuhkan aliran energi di Tubuh Shira dengan teknik medis miliknya


Tubuh besar Shira kini mulai roboh ke tanah, tanpa mengulur waktu Mirai pun menendang wajah Shira.


"Rasakan ini, ini balasan untuk Yuhee! "


Shira Terhempas, tubuhnya kini tidak bisa bergerak. Ia pun menabrak batu besar di belakangnya


Mirai berjalan ke arah Shira yang sudah sekarat, Ia hendak mengakhiri pertarungan itu dengan menghisap jiwa pria itu. Tangan Mirai hendak memegang kepala Shira yang telah lemah.


"Matilah....! " ucap Mirai sambil memegang kepala Shira, belum sempat ia mengaktifkan sihirnya. Shira mencengkram erat tangan Mirai, dengan sisa kekuatannya, ia menjerat tubuh Mirai menggunakan elemen tanah miliknya.


"Setidaknya, meledaklah bersamaku! " ucapnya sambil tersenyum puas


Segel dengan pola garis hitam uncul di tubuh Shira dan mulai mengeluarkan sinar silau serta mengeluarkan energi penghancur


Mirai terkejut, ia berusaha melepaskan tangan dan tubuhnya, namun tidak bisa. Cengkraman Shira terlalu kuat

__ADS_1


Tessssssss.......


__ADS_2