Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Dua Saudara


__ADS_3

Mata Yuri membulat sempurna. Ledakan dahsyat terjadi tepat didepan matanya. Gelombang ledakan kuat melahap hutan sekitarnya, retetan aliran petir menyebar dan membuat dataran disekitar arena pertarungan berubah menjadi cekungan. Tubuh Yuri tidak bisa menahan besar gelombang ledakan. Ia berupaya menyelamatkan tubuh Mirai yang masih terbaring lemah. Namun sayang, kuatnya gelombang ledakan yang tercipta, hampir saja menghempas tubuh Mungil Yuri


"Yuri! Kau tidak apa-apa? " Oro-ryu datang menyelamatkan Yuri. Ia pun berubah menjadi ular putih raksasa. Melilitkan tubuhnya, untuk melindungi Yuri dan Mirai


Asap mengepul hebat. Akibat ledakan tadi, awan mendung terhempas, hujan lebat tiba-tiba berhenti. Kini langit kembali cerah, menampakkan bintang berkelip dengan sinar bulan mulai merangkak di hutan yang luluh lanta


"Oro-ryu! Untunglah kau datang tepat waktu"


"Tuan Xio memintaku untuk melindungi kalian berdua, ia pasti sudah menduga hal seperti ini akan terjadi" ular putih itu, Oro-ryu kembali ke wujud kecilnya. Desisan kecil keluar dari mulut bertaringnya, menatap jauh medan pertempuran yang sudah hancur berantakan. Dari tempatnya jarak medan pertarungan sekitar 100 meter, Oro-ryu dapat merasakan apa yang terjadi didepan sana


"Tidak mungkin. Aku tidak bisa merasakan kebradaan Yora! " ucap Yuri dengan mimik khawatir. Iris ularnya bergetar, ia tidak dapat merasakan keberadaan Yora sedikitpun


Lidah Oro-ryu menjulur keluar, kini pandangannya beralih ke gadis berambut merah disampingnya " Tentu saja, kau tidak bisa merasakan kehadiran Tuan Xio. Karena saat ini, ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri! "


" Apa maksudmu? "


......................


Aora jatuh kebawah, tubuhnya terpental dan mendarat di kawah luas yang tercipta dari serangannya sendiri. Tanah berubah berlumpur, serta puing bangunan yang berserakan menjadi hal yang tertangkap indranya. Dengan nafas terengah, ia mencoba mencari keberadaan Yora.


Mata Aora membulat, mata spesialnya menangkap sesuatu diantara puing bangunan yang runtuh


"Tidak mungkin! "gumamnya. Namun apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Cahaya bulan mulai menerangi medan pertempuran. Sebuah bola tanah raksasa tiba-tiba muncul ditengah reruntuhan bangunan.


Kretak.... Kretakk....


Bola tanah itu mulai merapuh. Sedikit demi sedikit, tanah yang membungkus sesuatu didalamnya mulai berjatuhkan


Brassss......


Siluet pria muncul dan menghancurkan gumpalan tanah yang membungkusnya. Mata kelamnya menatap tajam Aora, semetara tubuhnya diselimuti aura sihir berwarna gelap. Yora mulai berjalan mendekat. Pedang hitam masih bertengger kokoh di tangan kananya, sementara gagangnya sudah dilapisi api biru yang berkobar-kobar. Pria berwajah dingin itu mulai membuka jubah hitamnya, menampakan tubuh atletis penuh bekas luka. Sebuah simbol bulan terukir di dada kanannya, simbol yang mengeluarkan cahaya hitam yang tersambung langsung dengan Gyoku di tangannya


"Segel! Lepas! "gumam Yora. Bersamaan dengan itu, sihir hitam mulai menyelimuti tubuhnya


Aora yang melihat penampilan saudaranya, hanya bisa mengeratkan tangannya. Sebenarnya kekuatan apa yang dimiliki Yora? Kenapa sihir kegelapan itu menyelimuti tubuhnya? Apakah dia sudah dikendalikan sihir jahat itu?


Sementara Yuri baru menyadari ada yang aneh dengan Yora, dengan iris ularnya ia dapat membaca situasi yang terjadi "Kekuatan apa itu?" ucapnya, ia dapat merasakan kekuatan besar menyelimuti tubuh Yora saat ini sangatlah aneh


"Itu adalah kekuatan kegelapan Nue yang tertanam di dalam setiap reikarnasi Tiga Pilar. Kekuatan hitam yang dapat bangkit kapanpun, kekuatan yang sangat besar, hingga mampu menelan kesadaran seseorang yang dirasuki! " jelas Oro-ryu


" Apa itu akan membahayakan Yora? "


" Tentu saja. Jika pemilik tubuh kehilangan dirinya sendiri, bisa saja Nue Bangkit kembali! Namun- "Oro-ryu menghentikan ucapannya, ia kembali mendesis sambil memperhatikan medan pertempuran didepannya


" Ada apa Oro-ryu? " ucap Yuri penasaran


" Kekuatan kegelapan memang memenuhi tubuh Tuan Xio. Tapi, dia tidak kehilangan dirinya saat kekuatan besar itu muncul. Dengan kata lain, ia mampu mengendalikannya! "


Yora berjalan pelan ke arah Aora. Sebuah sinar biru muncul dari Gyoku ditangannya. Sinar biru dan hitam melebur menjadi satu, menciptakan kekuatan yang sangat besar


" Ini belum berakhir, Aora"


Dataran disekitar Aora bergetar hebat. Ratusan tobak batu runcing tiba-tiba keluar dari tanah. Aora langsung melompat untuk menghidari serangan Yora. Dengan cepat ia mengibaskan pedang Shiroi dan meratakan batu-batu runcing itu dengan kekuatannya


"Dia tidak kehilangan kesadaran saat sihir kegelapan menguasai tubuhnya. Apa mungkin, Yora bisa mengendalikan sihir itu? " gumam Aora, ia terus menghindari serangan yang dilontarkan Yora secara bertubi-tubi


" Sial! Aku harus segera menghentikan ini! Tidak ada jalan selain ini! "


Aora tidak mau tinggal diam. Ia kembali mengaktifkan kekuatannya, sinar merah tercipta. Dengan sekali hentakkan ia menempelkan tangannya kebawah

__ADS_1


Drasssss....


Rembetan sihir Aora berjalan kesegala penjuru. Genanagn air disekitar tempatnya mulai berkumpul menjadi satu, semakin banyak hingga terciptalah sebuah naga Air raksasa dengan mata semerah darahnya.


Brassss.....


Sesosok naga raksasa tercipta tepat dibelakang Aora, menggerang marah sambil menatap Yora yang masih bediri tenang dihadapannya


"Jadi, kau masih ingin melanjutkannya? "


" Tentu saja! Sebelum aku membunuhmu! Aku tidak akan berhenti sedikitpun! "


Aora mengalirkna energi listriknya ke naga raksasa itu. Elemen listrik jika digabungkan dengan air, keduanya akan menjadi elemen yang akan mendukung satu sama lain


Melihat saudaranya begitu keukuh untuk membunuhnya, seutas senyum penuh arti terukir di wajah Yora. Ia mulai mencakupkan tangannya dan membentuk sebuah bola sihir hitam. Perlahan tanah mulai ditarik oleh bola sihir, memciptakan sebuah monster batu dengan api biru yang menyelimutinya


Grahhhhhhwwww......


Dua sosok monster tercipta, mulai melangkah maju untuk menyerang satu sama lain dengan buas


......................


"Api lemah terhadap Air. Sementara Petir lemah terhadap tanah. Lucunya hanya air yang mampu melemahkan tanah. Dua kekuatan besar itu, memiliki kelemahan masing-masing. Aku penasaran siapa diantara mereka akan kalah dalam pertarungan ini? " ucap Oro-ryu sambil terus mengamati


" Aku heran, kenapa Yora tidak menggunakan kekuatan pikirannya. Dengan media bunyi ia bisa menjebak lawan kedalam ilusi kuat dan langsung mengalahkannya" Yuri teringat kejadian di ring kematian. Bahkan tanpa berusaha pun, Yora bisa menanamkan sihir ke targetnya dengan mudah. Lalu kenapa ia tidak melakukan hal yang sama?


"Yuri? Kau lupa? Mereka reinkarnasi Pilar penjaga. Di kehidupan lalu, mereka masih saudara sedarah. Bulan dan Matahari merupakan hal yang saling melengkapi agar tercipta sebuah keseimbangan


Kekuatan pikiran sang pilar Bulan, tidak akan berpengaruh di hadapan mata sang Matahari. Seharusnya mereka tidak bertarung seperti ini, untuk menciptakan kekuatan yang luar biasa kuat untuk melawan Nue. Mereka seharusnya saling membantu dan menutupi kekuarangan masing-masing! "


Dua mosnter sihir itu saling menyerang. Naga air Aora menjerat tubuh besar monster batu, menyerangnya dengan sengatan listrik hebat hingga membuat monster batu menggerang kuat. Monster batu tidak mau kalah, ia pun mengayunkan tangan kokohnya untuk merobek perut sang naga. Sebuah bola api biru, menusuk ke dalam tubuh sang naga. Api biru Yora bukanlah api sembarangan. Api biru adalah sibol keadilan, tidak ada satupun hal didunia ini yang mampu memadamkannya. Api kramat yang bahkan mampu membakar air sekalipun


Yora dan Aora berdiri berhadapan. Mereka menggunakan monster sihir untuk satu tujuan, yaitu menguras habis kekuatan sihir masing-masing. Dengan konsentrasi Sihir yang besar, tentu akan mudah menumbangkan lawan yang kelelahan. Siapapun yang pertama kehabisan energi, dialah yang akan menjadi pecundang dalam pertempuran ini


" Tentu saja! " Yora mulai berisap dengan Bakuro no ken


Tranggg...


Trangg....


Suara besi bergesek bertenting keras. Selama berjam-jam pertarungan berlangsung. Matahari sudah terlihat diufuk timur, itu artinya hampir semalaman pertarungan itu terjadi.


Dua ekor moster sibuk bertarung, sementara dua pengguna sihir mengayunkan pedangnya satu sama lain. Beberapa serangan bahkan mampu merusak dataran disekitarnya. Menciptakan kawah-kawah besar akibat ledakan yang timbul akibat pertarungan


Yora dan Aora masih mengadu pedangnya. Dua pasang mata yang kontras menatap satu sama lain penuh dendam. Keahlian bertarung mereka sama kuat, hanya saja Aora yang paling sering menyerang dengan brutal. Berbeda dengan Aora, Yora hanya bertahan dan tetap tenang. Beberapa kali ia hampir menembus perut Aora dengan pedangnya.


"Apa ini? Yora selalu membuang kesempatan untuk melumpuhkan musuh! Aora memang petarung yang kuat dan penuh perhitungan, tapi aku akui gerakannya terkesan cepat dan dipenuhi emosi!


Tapi berbeda dengan Yora. Jika ia ingin, bisa saja ia mengakhiri pertarungan ini dengan cepat! " Yuri memperhatikan pertarungan dengan seksama. Ia juga merasakan, kekuatan sihir keduanya hampir berada di batas akhir


Trang.....


Trang...


Tubuh Aora terpental jauh. Menyapu bebatuan hingga terbentur di tanah keras. Aora mencoba berdiri, meski tertatih. Ia menatap monster sihirnya juga hampir kalah. Ia merasakan nyeri hebat di dadanya.


"Arkh! " Aora menggerang kesakitan. Kekuatannya sudah terkuras, sementara lawannya bahkan tidak merasakan apapun.


Kau tidak bisa melawan saudaramu hanya men ggunakan kekuatanmu saja. Ayo! Aora! Kau bisa meminjam kekuatanku! Biarkan aku mengusai tubuhmu! Akan aku pastikan, akan membawa kepala Yora sebagai hadiah!

__ADS_1


Bisikan aneh memenuhi kepala Aora, bersamaan dengan itu Aora merasakan sesuatu kuat menimpa kepalanya. Begitu sakit hingga membuatnya menggeliat di tanah


"Arkh! Hentikan! " Aora memegang kepalanya sendiri. Sihir hitam mulai memenuhi tubuhnya, sedikit lagi ia mungkin saja akan dikendalikan Kuarsu lagi


" Menyingkir dari tubuhku! Aku tidak butuh kekuatanmu! Dengan tanganku sendiri, aku akan membunuh Yora! "


Aora mulai bangkit berdiri. Berlari hendak menyerang Yora kembali


Trang..... Trang....


Pertarungan kembali berlanjut. Lagi-lagi tubuh Aora terhempas jauh. Semenyara Yora sudah merasakan efek akibat membuka segel kkeuatan ditubuhnya.


Burfffff....


Darah mulai keluar dari mulut Yora "Sedikit lagi, batas kemampuanku mengendalikan kekuatan sihir ini!"


Sementara Aora masih mencoba bangkit berdiri, sambil memegang dadanya yang sakit. Monster sihirnya miliknya lenyap seketika. Itu menadakan kekuatannya sudah berada di atas batas kemampuannya


"Menyerahlah! " teriak Yora


" Tidak akan! " ia kembali berdiri. Kali ini adalah serangan terakhirnya. Aora mengarahkan tubuhnya menerjam Yora. Pedangnya terhunus lurus, besriap menembus tubuh pria yang menjadi targetnya.


Yora beesiap menerima serangan Aora, ia pun melapisi pedangnya dengan api biru miliknya.


Brasssss........


Tranggggg.....


Boommmm......


Ledakan kekuatan sihir kembali terjadi. Menyapu apapun disekitarnya hingga menjadi debu.


Dua pedang legendaris itu menancap di tubuh masing-masing. Aora membulatkan matanya tidak percaya. Kenapa? Kenapa Yora tidak menghindari serangan terakhirnya? Ia unggul saat ini, tapi kenapa?


"Kenapa kau tidak menghindari seranganku? Ini adalah kesempatanmu untuk membunuhku, Yora! " ucap Aora pelan. Ia sudah merasakn darah Yora mengalir di tangannya


" Bagaimana mungkin aku membunuh saudaraku sendiri? Keluargaku satu-satunya yang masih tersisa! "


Brussss....


Darah keluar dari mulut Yora " Tidak ada waktu lagi! " Perlahan ia pun mengulurkan tangannya, mengaktifkan Gyokunya dan mulai mengalirkan energi sihir ke tubuh Aora.


" Segel! " Simbol bulan muncul di tubuh Aora. Ternyata tujuan Yora bertarung melawan Aora adalah untuk menyegel kekuatan kegelapan ditubuh saudaranya. Ia sengaja menebas Aora dengan pedangnya. Hal itu bertujuan untuk melemahkan Aora


" Mulai sekarang, bisikan menyebalkan itu tidak akan terdengar lagi. Aku sudah menyegel kekuatanmu, dasar bodoh! " Yora tersenyum pelan sebelum akhirnya roboh lebih dulu


" Selalu saja! Kau bersikap begitu menyebalkan! " ucap Aora. Tubuhnya pun roboh ketanah


Yora dan Aora terbaring berdampingan. Pedang keduanya masih menacap di dada satu sama lain. Namun senyum pelan menghiasi wajah keduanya.


Masker yang menutupi setengah wajah Aora robek akibat serangan tadi. Kini dua wajah yang begitu mirip itu terlihat jelas.


"Yora! Kenapa kau sembunyikan kebenaran 13 tahun yang lalu? Saat pertarungan tadi, aku melihat semuanya! " ucap Aora pelan.


Mata merahnya bergetar, dengan mata itu ia melihat kebenaran yang disembunyikan Yora selama ini. Salah satu kekuatan spesial Mata Aora dalah melihat jauh kedalam diri orang, termasuk masa lalunya


"Kau ingat? Kita selalu bertanya siapa diantara kita yang menjadi kakak. Sebelum meninggal, Ibu memberitahuku. Aku harus melindungimu apapun yang terjadi. Karena aku kakakmu!"


" Yora! Aora! " samar suara Mirai terdengar memanggil nama mereka.

__ADS_1


" Akhirnya kau datang“ ucap Yora dan Aora kompak ketika mendengar suara Mirai


Baik Yora dan Aora mulai merasakan kantuk yang kuat, sebelum akhirnya mereka benar-benar menutup mata dan kehilangan kesadaran


__ADS_2