
Tanuki pun keluar dari ruangan itu, di luar ruangan tampak 4 orang bertopeng dewa kematian menunggunya. Ia pun memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap pergi
"Tunggu!" ucap Aora sambil keluar dari kamar rawat Yuhee
Tanuki menoleh, tampaknya Aora masih belum selesai bicara dengannya, ia pun menyuruh anak buahnya pergi dari sana.
"Ada apa Aora? " ucap Tanuki
Aora pun mendekati pria yang tampak seumuran dengan ayahnya itu. Dengan tatapan tajam, serta raut muka tegas di balik maskernya
" Jika perang terjadi, sama saja kau membuat orang tidak bersalah mengorbankan nyawanya begitu saja. Baik warga sipil atau Militer semua akan merasakan penderitaan. Anak-anak akan kehilangan orang tuanya, seorang istri akan kehilangan suaminya dan sebuah keluarga akan hancur
Tidak ada yang dibenarkan jika perang terjadi. Tugas Negara, melindungi rakyatnya apapun yang terjadi, bukan hanya memuaskan ego satu orang saja. Itulah jawabanku
Aku akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Jadi hingga aku mengungkap siapa dalang dibalik peledakan itu, kau tidak boleh memperkeruh keadaan dengan menangtang Tsuki" ucap Aora sambil terus menatap pria di depannya. Tidak ada keraguan dalam sorot matanya
"Jadi..... Kau akan memihak Tsuki. Jika itu maumu, kau bisa menutupi insiden ini seolah tidak ada yang terjadi.
Toh itu hanya beberapa nyawa anak yang tidak memiliki orang tua. Tentu bagimu 'perdamaian' jauh lebih penting bukan? " ucap Tanuki, berusaha membalas perkataan Aora
Ia sengaja memutar balikkan perkataan Aora. Membuatnya seakan Aora ingin menutup mata atas insiden ini, dan lebih memilih menjaga hubungan diplomasi antara Tsuki dan Sora
Aora benar-benar geram dengan laki-laki tua di depannya, bagaimana ia begitu meremehkan sebuah nyawa. Aora tidak bisa lagi menahan amarahnya, dengan kuat ia meninju tembok di sampingnya hingga remuk
Brakkk....
"Jika aku tidak bisa membawa keadilan kepada anak-anak malang itu. Sama saja artinya aku tidak bisa menjaga Sora. Jika 'perdamaian' berarti menutup mata dengan perlakuan yang menindas orang lemah. Aku akan berbalik melawan 'perdamaian' itu" ucap Aora
Jika saja Tanuki bukan orang terhormat atau orang lebih sepuh dari Aora, mungkin tinju Aora sudah ia layangkan kepada laki-laki itu. Namun, ia mencoba menahan emosinya, tidak ada gunanya ia memukul orang tua itu, dan menyebabkan masalah lain
"Dasar bocah sombong! " ucap Tanuki sambil menyeringai, tatapan meremehkan terlihat jelas dari sorot matanya
" Jadi maksudmu kau akan melindungi keduanya? Keadilan untuk Anak-anak itu serta hubungan perdamaian dengan Tsuki?
Kau sungguh serakah Aora.....
Tapi....
Dalam kondisi ini, kau harus memilih antara keduanya" ucap Tanuki sambil berjalan meninggalkan Aora
"Setidaknya keserakahanku jauh lebih terhormat, daripada dirimu" balas Aora
Tanuki terus berjalantanpa menghiraukan ucapan Aora. Raut muka pak tua itu tampak kesal
"Kau tidak bisa memilih keduanya, tidak akan pernah aku biarkan itu terjadi" gumam Tanuki sambil terus berjalan
4 pengawal Tanuki pun menghampiri tuannya, Tanuki memberi printah khusus pada orang-orang bertopeng itu
"Terus awasi penyelidikan kasus ini, pastikan kasus ini berjalan sesuai rencana kita. Jika perlu, bunuh orang-orang yang menghalangi kita" printah Tanuki
......................
Mirai dan Rou, kini berada di sebuah ruang autopsi Sora. Di depannya, terbaring tubuh seorang wanita, dia adalah korban yang di temukan bersama dengan Hisui tidak jauh dari lokasi ledakan asrama Sora
__ADS_1
"Jadi dialah pengasuh Asrama Sora? " ucap Mirai sambil menatap tubuh kaku di depannya
Tubuh wanita dengan beberapa luka bakar di lengannya.
" Hn.... Statusnya hanyalah wanita pengasung dari kalangan rakyat sipil. Dia bukanlah orang militer yang mampu menggunakan sihir apapun" ucap Rou
"Jadi ini yang menyebabkan Hisui menjadi orang yang paling di curigai? " ucap Mirai
" Selain itu, wanita ini juga meninggal tepat di hadapannya. Jadi sangat sulit membantah jika Tuan Hisui tidak terlibat sama sekali dengan kejadian itu. Beberapa bercak darah di temukan di tangan Tuan Hisui selama penangkapan. Bercak darah itu adalah milik korban" ucap Rou
Mirai pun mulai memperhatikan mayat di depannya, pertama ia melihat tangan wanita itu. Tangan yang sudah memutih, serta beberapa bercak darah masih menempel di jarinya. Pergelangan tangannya pun terlihat lebam dan terluka
Sedangkan Rou, hanya membaca beberapa lembar kertas di tangannya. Sebuah laporan singkat mengenai pemeriksaan yang sudah dilakukan sebelumnya
"Di sini tertulis, penyebab kematiannya karena kesulitan bernafas serta kerusakan saluran pernafasan akibat cekikan. Selain itu, dia juga diperkirakan berada di dalam gedung ketika ledakan terjadi, dilihat dari luka bakar di lengannya
Sstt.... Tapi bagaimana caranya dia keluar? Bukankah semua gedung terkunci? " ucap Rou sambil menghosok dagunya, ia tampak berpikir sangat keras dengan kejanggalan yang terjadi
"Kukunya patah, serta beberapa bercak darah bahkan masih tersisa di jarinya" ucap Mirai memecah konsentrasi Rou
"Mungkinkah itu karena dia berusaha keluar dari gedung? Kau tahu... Ketika orang-orang terdesak, bisa saja mereka tidak sengaja melukai tubuhnya kan? "
Mirai lebih meneliti lagi, kuku wanita itu tidak patah semua, melainkan hanya kuku jari telunjuk, jari tengah dan jempol saja yang patah
"Tidak... Tidak..... Jika dia mematahkan kukunya ketika berusaha menyelamatkan dirinya. Semua kuku yang akan patah, setidaknya di ke 4 jarinya"
Mirai pun tertuju pada luka cekikan di leher wanita itu, sebuah luka lebam serta beberapa lecet dalam terlihat di leher gadis itu. Ia mencoba memposisikan tangannya sesuai bentuk luka di leher korban
"Jadi, Hisui dicurigai membunuh wanita ini dengan cara mencekiknya kan? Dengan hipotesis bahwa dia ingin melenyapkan saksi mata, atas peledakan Asrama
Rou membalik beberapa lembar dokumen di tangannya. Ia membaca biodata tentang Hisui
" Tidak... Di sini ia menggunakan tangan kanannya lebih dominan. Menurut laporan, ia tidak bisa menggunakan tangan kirinya dengan baik, karena kecelakaan di masa lalu.
Apa kau menemukan sesuatu Mirai? " ucap Rou penasaran
Mirai pun menghentikan pengamatannya, ia hanya memandang Rou datar. Tanpa mengatakan apa-apa Mirai mulai mendekati Rou
Rou yang melihat Mirai mendekat mulai ketakutan sambil melangkah mundur, ia begitu takut melihat ekpresi Mirai saat ini
" A... Apa yang k.. Kau lakukan Mirai? Jangan membuatku takut..... "
Mirai terus mendesak Rou, ia mulai mengulurkan tangannya ke arah leher Rou, dan dengan cepat mencekik Rou dengan tiba-tiba
" Mi.... Mirai.... Apa yang kau lakukan.... Uhuk... Uhuk...." Rou mulai terbatuk, sambil memukul tangan Mirai yang mencekiknya.
Mirai benar-benar mencekik Rou dengan keras, hingga Rou kesulitan bernafas
Mirai melepaskan cekikannya, bekas merah terlihat jelas di leher Rou.
Sedangkan Rou hanya memarahi Mirai sambil menggosok lehernya. Ia tidak mennyangka, di balik penampilan Mirai yang 'lembut', tersimpan jiwa barbar
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau melakukan itu hah? " Ucap Rou sambil mengumpulkan nafasnya
__ADS_1
Mirai langsung mendekat ke arah Rou, ia menarik kerah baju Rou, membuat Rou lebih mendekat agar ia bisa melihat bekas cekikannya yang ia buat di leher Rou
" Tidak sama........ " ucap Mirai pelan, Rou hanya bisa memasang wajah bingunggya.
Ia masih belum mengerti dengan tindakan tiba-tiba gadis di depannya
" Apa maksudmu? Tunggu..... " Rou mulai menaggkap maksud Mirai
Mirai pun kembali melihat mayat wanita itu, memeriksa kembali pola luka di lehernya. Pola jari di leher korban, yang digambarkan dengan bekas luka lebam yang mulai menghitam.
" Bekas ini.... Sama sekali tidak sama. Jika seseorang mencekiknya dengan tangan kanan, posisi jempol di luka lebamnya tidak akan di posisi ini"
Mirai membandingkan dengan bekas cekikan di leher Rou, ia tahu jika laki-laki militer kuat seperti Hisui hendak membunuh wanita lemah dengan mencekiknya, setidaknya ia hanya memerlukan satu tangan dominannya, yaitu tangan kanan
Sedangkan bekas luka lebam di leher wanita itu, terlihat sebaliknya. Bekasnya terlihat kecil, tapi mematikan. Sesui dengan ukuran jari seorang wanita, yang dominan kecil.
Mirai mulai tersenyum, perlahan ia mulai menemukan titik terang di dalam kasus ini
"Jadi maksudmu orang lain yang membunuhnya? Tapi waktu kejadian antara ledakan dengan prajurit mengepung Hisui tidaklah lama, tidak mungkin seseorang dengan cepat mencekiknya kan? "
" Tidak......... Seseorang tidak mencekiknya. Wanita ini...... Mencekik dirinya sendiri.....
Lihatlah, bekas luka di lehernya menandakan bahwa ia orang kidal, seperti yang ku katakan, orang-orang cenderung menggunakan tangan dominan saat melakukan sesuatu baik sadar atau tidak.
Lehernya memiliki bekas luka, pada posisi jari manis dan kelingking. Luka yang di sebabkan sayatan seperti kuku tajam panjang. Sangat tidak mungkin laki-laki seperti Hisui memiliki kuku panjang layaknya wanita kan?
Kita bisa bendingkan dengan sisa kuku yang tidak patah di jari kiri korban, bukankah sama persis" ucap Mirai sambil menjelaskan hasil pengamatannya
"Namun, darah korban di temukan di tangan Hisui Mirai. Itulah poin utamanya" ucap Rou
"Itu tidak bisa menjadi acuan, bagaiman kalau aku akan mereka ulang sesuai potongan-potongan petunjuk tadi.....
Lihat, jariku adalah jari seorang wanita, yang memiki kuku yang panjang, aku akan mencekik diriku dengan tangan kiriku" ucap Mirai
Terlebih dulu, Mirai mematahkan kuku jarinya, layaknya apa yang terjadi dengan korban. Lantas ia mulai mencekik dirinya
"Sekara coba kau hentikan aku, Rou" ucap Mirai
Rou pun menuruti arahan Mirai, ia mencoba menghentikan tangan Mirai. Dengan sekuat tenaga, tanpa menghiraukan ia juga melukai tangan Mirai. Rou mencoba melepaskan jeratan tangan Mirai apapun yang terjadi
Dalam rekonstruksi ini, Mirai benar-benar memposisikan dirinya sebagai korban yang serius mencekik lehernya sendiri. Sedangankan Rou berusaha menghentikannya. Merasa cukup, mereka menghentikan aksinya
"Hah... Hah... Ha....."
Mirai kehabisan nafas, ia langsung melihat pergelangan tangannya yang memerah dan terluka
"Jadi... Jejak darah korban di tangan Hisui, ia dapat karena berusaha melepaskan tangan korban dari jeratannya sendiri. Karena kekuatan laki-laki cukup besar, luka tidak bisa di hindari lagi" ucap Rou ia melihat jari tangannya melukai leher Mirai
Mirai ingat, ia memiliki efek regenerasi cepat, ia pun segera menutupi lehernya dengan perban. Rou tidak boleh melihat kekuatan aslinya
"Maafkam aku Mirai, aku mungkin melukai lehermu...... " ucap Rou menyesal
" T... Tidak.... Aku bisa mengobatinya nanti" ucap Mirai gugup, ia kembali menatap tubuh di depannya
__ADS_1
"Tapi... Kenapa wanita ini mencoba melukai dirinya sendiri? "gumam Mirai