Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Kenangan Buruk lll


__ADS_3

"A- ayah?"


Mirai mendekati tubuh kaku yang tergeletak di lantai. Ia menghela nafas dalam, dengan tangan gemetar mencoba membalik badannya dan memastika siapa itu


Mata Mirai membulat. Tubuh orang itu bukanlah Ayahnya, melainkan wanita yang di temuinya kemarin. Tubuh Mirai masih gemetar, kini ia hanya bisa duduk dilantai dengan kaki yang mulai lemas. Setidaknya Ayahnya mungkin berada di suatu tempat, Mirai percaya dengan kekuatan sang Ayah, ia bisa bertahan dan selamat


Doooommmmm......... Krtttttttttttt.......


Ledakakan Bom besar terjadi. Efek ledakan bahkan terasa hingga ke dalam rumah Mirai


"Ayah...........?! " Pandangan Mirai tertuju pada kepulan asap tebal tak jauh dari sana. Dengan cepat Mirai berlari menuju asal suara. Mirai teringat bahwa ayahnya memiliki elemen sihir Khusus, yaitu elemen debu peledak yang jarang dikuasai orang. Tidak salah lagi, ledakan itu berasal dari sihir khusus Ayahnya


Mirai kecil berlari memecah gelapnya malam.


Aku mohon....... Ayah......


Bertahanlah! Jangan pernah tinggalkan aku sendiri......


Kau sudah berjanji padaku, akan melihatku memanjangkan rambutku, serta mengenakan gau cantik jika aku sudah besar nanti!


Jadi, Aku mohon.......


Mirai terus berlari, dengan air mata yang masih saja mengalir deras di pipinya. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang terluka parah, atau kaki tanpa alas yang berlari di jalan yang penuh dengan kerikil


Samar, dari kejauhan ia melihat sosok Ayahnya. Kizuna tengah berbaring lemah dengan kondisi dataran sekitarnya hancur lebur akibat bekas pertarungan


Mirai tidak paham, apa yang sebenarnya terjadi? Tanah di sekiling ayahnya terangkat, pepohonan tumbang dengan bekas ledakan besar, pertarungan sengit pasti telah terjadi di tempat itu


Mirai berlari menuju sang Ayah. Tapi langkahnya terhenti begitu saja tatkala melihat kondisi parah Kizuna. Tubuhnya seakan membeku, melihat kondisi Ayahnya yang terluka parah dengan darah keluar dari perutnya


"Mirai....... Kau datang? Apa kau baik-baik saja? Uhuk..... Uhuk...... " Kizuna mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Nafasnya tersengal lemah. Melihat putrinya datang menjemputnya, senyum lembut terukir di wajah pucatnya


Dengan cepat Mirai mengaktifkan segel Gyokunya, mengalirkan Kenkou ke tubuh Ayahnya, ia tidak peduli tangannya kini penuh dengan darah sang Ayah. Menyelamatkan Kizuna meruoakan fokusnya untuk saat ini


" A- Aku..... B-Baik-baik saja ayah! Kau terluka parah....... Apa sakit sekali? " Mirai tak hentinya menangis ketika melihat kondisi ayahnya


" Tidak sakit sama-sekali putriku. Ayah baik-baik saja! " Seperti kebanyakan orang tua, Kizuna tidak ingin memperlihatkan rasa sakit didepan putrinya


Kizuna melihat tangan Mirai, tangan kecil putri kesayangannya penuh dengan luka serta sayatan yang cukup dalam. Lebih dari siapapun, Kizuna tahu betapa sakit yang dirasakan Mirai ketika anaknya itu terluka


"Kau pasti sangat kesakitan. Luka ini.......... Maafkan ayah, tidak bisa menjagamu Mirai! " Mirai menggeleng cepat.


"Tidak Ayah, kau jangan Bicara dulu. Biarkan aku mengobatimu....... "


Darah terus mengucur dari perut Kizuna. Mirai dengan sekuat tenaga, mengeluarkan seluruh kekuatan sihir miliknya. Sinar biru yerang melapisi telapak tangannya. Namun begitu banyak usaha yang ia curahkan untuk menolong sang ayah, tetap saja kondisi Kizuna sudah sangat parah


Jauh di dalam dirinya, Mirai sangat menyesal. Seharusnya ia berlatih keras dalam mengembangkan teknik sihir medisnya. Setidaknya pelajaran itu akan sangat berguna saat ini Namun, karena ia ingin terus bermanjaan dan bermain dengan sang ayah, kadang ia mengabaikan pelajarannya. Ia hanya anak kecil berusia 6 tahun waktu itu


" Aku...... Aku pasti bisa! Bertahanlah Ayah.....! " Mirai terus menekan luka di perut Kizuna


Di tengah perjuangan Mirai, Kizuna mengenggam erat tangan putrinya. Dengan pelan ia mengelus tangan kecil Mirai, Mirai hanya memandang wajah Ayahnya dengan air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir


" Sudah cukup Mirai...... " ucapnya ririh. Kizuna menatap lekat wajah putrinya, ia tahu dia tidak mungkin selamat kali ini


Kizuna terdiam sejenak, ketika menatap wajah cantik putri kecilnya ia kembali teringat dengan wanita paling berharga dalam hidupnya. Sosok berarti untuknya, sosok yang memberikan seorang malaikat kecil di depannya


" Mirai, kau tahu? Kau sangat mirip dengan Ibumu. Maafkan Ayahmu ini.......Jika saja ayah lebih kuat, mungkin kau bisa bertemu dengannya. Semua salah ayah....

__ADS_1


Ayah tidak bisa menjaga ibumu..... Dan sangat disayangkan, aku pun tidak bisa bersamamu lebih lama lagi......"


Mirai mengeleng cepat "Jangan katakan hal menakutkan seperti itu! Ayah janji! Akan terus bersamaku sampai kapanpun! Jadi, aku mohon. Tepati janji ayah!"


Darah kembali keluar dari mulut Kizuna. “Ayah mohon, kau harus bertahan Mirai. Kau harus menemukan tujuan Hidupmu.....


Mulai saat ini, perjalananmu akan semakin sulit dan berliku. Tapi, kami percaya kau mampu melewatinya dengan baik. Ayah dan ibumu akan selalu menyangimu...


Maafkan kami, tidak berada di sampingmu Mirai.......... " Kizuna menggengam erat tangan Mirai


Wajah Kizuna tersenyum untuk terakhir kalinya, baginya Mirai adalah masa depan pemberian Tuhan kepadanya dan juga Yukio, istrinya. Kizuna pun memejamkan matanya, genggaman eratnya kini benar-benar terlepas.


Mata Mirai membulat, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru kemarin Ayahnya berjanji untuk terus bersamanya


" T- tidak Ayaah! ....... Aku mohon buka matamu! Jika kau pergi..... Siapa lagi yang akan ada di sisiku? ........ Ayah! ......... Aku mohon..........! "


Mirai teringat akan kata-kata prajurit yang ingin mengambil darahnya, mereka menyebut darahnya istimewa. Sebuah ide terlintas didalam pikirannya yang kalut. Ia pun melihat bekas luka di tangannya, meskipun darah sudah berhenti mengalir.


Mirai berpikir sejenak, mungkinkah darahnya bisa mengembalikan ayahnya?


Tangan Mirai yang masih gemetar, mengambil serpihan batu di sampingnya. Pandangannya kini tertuju kepada sang Ayah


"Jika darahku bisa menyelamatkan Ayah, aku akan menahan rasa sakit itu! " ucap Mirai kecil mantap


Trassss......


Ia menggores lukanya dengan batu, membuat tangannya kembali mengeluarkan darah segar miliknya. Rasa Sakit yang luar biasa Mirai rasakan. Dengan menggigit bibirnya, ia berusaha menahan rintihanya. Matanya terpejam akibat rasa sakit yang teramat sangat


Tes.... Tes... Tes....


Ia teteskan darahnya ke luka di perurut Kizuna, rasa sakitnya kini berganti. Di kepala Mirai hanya ada harapan, jika darahnya benar-benar seistimewa itu, akankah darah itu mengembalikan nafas Ayahnya?


Mirai menatap penuh harap, ia tidak memperdulikan tangannya yang sudah mati rasa akibat rasa sakit yang hebat.


Namun, bahkan darahnya pun tidak bisa menolong Ayahnya. Kekuatanya memang untuk menyembuhkan luka apapun, namun tidak bisa mengembalikan nyawa seseorang yang telah meninggal


"Tidak........... Ayah...... "


Mirai menangis sejadi-jadinya, cahaya hidup satu-satunya yang ia miliki, kini meninggalkannya sendirian untuk selamanya


Hujan kembali turun dan semakin deras membasahi bumi dan segala isinya. Hujan seakan ikut menemani Mirai menangis di samping tubuh Ayahnya yang semakin mendingin


2 jam berlalu. Kini Mirai hanya bisa memandangi tubuh Ayahnya yang mulai dingin. Ia pun mulai mengais tanah dengan tangan yang bahkan masih terus mengeluarkan darah


Wajah Mirai sangat pucat, dengan mata yang tidak hentinya mengeluarkan tangisan


"Setidaknya...... Aku harus membuat tempat yang nyaman untukmu. "


Mirai mengais tanah sekuat tenaganya. Malam kian larut, bahkan kejadian yang menimpanya terasa seperti mimpi buruk buatnya. Ia berharap suara Kizuna yang akan membangunkannya dari mimpi itu


......................


Fajar Mulai terlihat di ufuk timur. Mirai melihat nanar ke arah gundukan tanah di depannya. Dengan berat hati, ia meletakkan bunga krisan putih kesukaan Ayahnya di atas pusaranya.


Tangan yang penuh deunga lupur serta mulai mengelupas, bertumpu untuk memberi penghormatan. Mirai memberi hormat untuk terakhir kalinya kepada sang Ayah,


"Selamat tinggal Ayah.... "

__ADS_1


Mirai berjalan sempoyongan, matanya kini tidak menunjukan emosi apapun. Dia terus berjalan menuju medan perang yang masih setia berkecamuk. Orang yang selama ini ada untuknya kini sudah pergi. Mirai bertanya pada dirinya, sanggupkah ia hidup lebih lama lagi?


......................


Sampailah Mirai di sebuah desa yang hancur akibat perang. Seseorang pengungsi yang iba kepada Mirai, memberikannya sepotong kue kupu-kupu kepadanya


"Menjauhlah dari sini. Tidak jauh dari sini ada pertempuran prajurit, itu berbahaya buatmu! "


Mirai tidak menjawab, ia hanya merundukkan kepalanya sebagai tanda terimakasih. Ia terus berjalan menuju medan perang itu


Dengan wajah yang pucat, serta bibir yang mulai membiru - kedinginan, Mirai melangkah pelan dengan tubuh terhuyung


Cusssss..........


Bola api raksasa dengan cepat menuju ke arahnya. Mirai hanya tersenyum ke arah bom itu, seakan menyambut kedatangannya. Mirai memejamkan matanya. Bunuh diri, adalah tujuannya datang ketempat itu


"Mungkin....... Inilah akhir hidupku........"


(Time skipp........ Scene ini adalah secen di chapter 1)


Setelah bertemu dengan sosok bertopeng dengan rambut Abu-abu. Mirai kini mulai sadar. Ia bukan satu-satunya anak di dunia ini yang berjuang untuk Hidup


Mirai kembali teringat apa pesan terakhir sang ayah, Kizuna menyuruhnya untuk terus Hidup dan menemukan tujuan hidupnya


"Dunia ini memang keras, tapi ayah! Aku berjanji. Aku akan terus hidup. Bahkan jika aku harus melawan dunia sekalipun..............! "


Mirai berjalan ke arah Hutan, namun beberapa langkah Ia berjalan. Sekelompok Orang Militer datang dan tiba-tiba mengepungnya.


" Tidak aku sangka, kau kabur hingga sejauh ini gadis kecil! "


Mirai terkejut, orang-orang itu adalah cops Awan Merah yang pernah menyekapnya kemarin. Kapten dari Cops itu pun muncul dihadapan Mirai. Anak buah Tanuki itu dengan tenang mendekati Mirai........


Melihat orang jahat itu mendekat. Mirai hanya bisa melangkah mundur, namun belum sempat ia melarikan diri, pria itu sudah mecengram lengannya


"Ketua memyuruhku mengawasimu, berani sekali kau mencoba kabur heh! "


Ia adalah dokter yang pernah Tanuki tebas, dengan cepat ia membawa Mirai pergi dari sana.


......................


Inilah masa-masa terpahit Mirai. Ia di bawa ke pusat medis di bawah komado Cops Merah. Kurang lebih selama 10 tahun ia tumbuh di tengah medan perang


Mirai kini berusia 16 tahun. Cops Merah memasang segel kutukan di tubuh Mirai, sehingga tidak ada jalan untuknya kabur dan terpaksa menjadi tawanan Cops Merah


Selama 10 tahun terakhir, ia ditugaskan merawat tetatara terluka di setiap medan perang yang melibatkan Cops Awan Merah. Diperlakuan bak budak tanpa belas kasihan sedikitpun. Akibat penderitaan itu. Mirai yang dulu periang berubah menjadi gadis yang menutup diri dan bersembunyi didalam kegelapan


"Hei kau..... Cepatlah ke sini! ..... Ada banyak pasien di sini! " gertak salah satu prajurit


Ada ratusan prajurit yang sekarat di dalam tenda. Namun, hanya dua orang medis yang bertugas termasuk Mirai. Tidak ada waktu istirahat bagi Mirai, tenaga dan kekuatannya terus diperas untuk mengobati luka pasukan Militer itu


"Kondisi mereka, tidak memungkinkan kami rawat! Lukanya cukup parah........ Dan kami sudah bertugas selama lebih dari dua hari tanpa istirahat! " ucap Mirai mencoba menjelaskan situasi


Dokter jahat yang membawa Mirai pun datang. Ia melihat pasisen di sekelilingnya, ratusan orang terus saja berdatangan


Ia menatap Mirai penuh arti. Mirai sadar apa tujuan dokter jahat itu. Mirai langsung berlutut, dan memohon di kaki si dokter


"Aku mohon...... Dengan kondisiku saat ini, jika kau mengambil darahku...... Rasa sakit itu dapat membunuhku...... Aku mohon.......Jangan lakukan itu, Tuan! " ucap Mirai sambil mencakupkan kedua tangannya

__ADS_1


" Bukankah itu tujuan kami merawat anak sepertimu? "ucap Dokter itu dengan senyum mengerikan


__ADS_2