
"Apa yang terjadi dengan Mirai?" Aora menatap lekat ketiga temannya, menunggu salah satu dari mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan kekasihnya
"Dia menghilang. Aora kau mungkin tidak percaya apa yang aku katakan saat ini, tapi....
Kami curiga, Mirai lah pengguna elemen es sekaligus anggota organisasi bernama Tengu, kelompok kriminal yang kita buru selama ini" ucap Rou pelan, ia mengerti Aora mungkin tidak akan menerima begitu saja apa yang ia ucapakan
"Hentikan omong kosongmu, Rou! " ucap Aora dengan mata bergetar, tentu ia tidak akan percaya sebelum ia membuktikannya sendiri. Aora yakin, Mirai bukanlah orang yang mereka maksud
"Aku tahu kau tidak akanp percaya. Kemarin ada pengguna elemen es yang menyerang markas Cops Merah, dan melumpuhkan Tuan Tanuki. Semua kecurigaan-"
"Cuku! Akan aku periksa kebenarannya sendiri! "
Belum sempat Rou menjelaskan, Aora segera bangkit dari ranjangnya. Mengambil rompi militernya dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan teman-temannya
"Aora! Kau mau kemana? " Ten berusaha menghentikan langkah Aora, namun pria itu sudah menghilang di balik pintu.
Dengan kondisinya, Aora tidak bisa menggunakan sihirnya sedikitpun. Tubuhnya begitu lemah, namun ia tetap memaksakan pergi demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
" Apa dia baik-baik saja dengan keadaan seperti itu? " ucap Rou khawatir
"Entahlah.....
Tapi apa yang terjadi dengan Tuan Tanuki kemarin serta apa yang dituduhkan ke Mirai....
Aku masih belum percaya, Mirai adalah seorang mata-mata organisasi kriminal seperti Tengu" ucap Hanna pelan, sorot matanya masih menunjukkan bahwa ia masih percaya Mirai bukanlah orang yang jahat
"Begitupun aku, tapi semua bukti menunjuk ke arah Mirai...... "
......................
Dengan sekuat tenaga, Aora berlari menuju lokasi dimana markas Cops Merah berada. Mata Aora membulat, begitu memasuki ruang bawah tanah Tanuki pemandangan mengerikan menyambut kedatangannya.
Aora hanya bisa menatap kosong markas megah didepannya, bekas pertarungan dasyat terlihat jelas dari kerusakan fatal markas megah itu. Batu-batu es berserakam, di beberapa sudut ia bahkan melihat mayat anggota Cops Merah dengan keadaan mengerikan
Aora berjalan pelan di atas gumapalan es tebal yang leapisi lantai markas, beton es tebal dan runcing melapisi hampir seluruh ruangan.
Tidak seperti es dimusim dingin yang tipis dan mudah meleleh, es yang dihasilkan khusus dari sihir dasyat didepannya sangat kuat dan tidak mudah meleleh, es yang memantulkan cahaya dan berkilau layaknya sebuah permata. Begitu cantik, tapi disatu sisi juga bisa sangat mematikan
Aora sadar, pengguna sihir mengerikan ini sama persis dengan pengguna es yang ia temui terakhir kali ketika mengejar Kuru. Kekuatan besar yang dapat membunuh siapapun tanpa ampun
"Kapten Aora, kau datang" sapa salah satu prajurit yang bertugas mengumpulkan bukti di TKP. Dilihat dari seragamnya, prajurit iti dalah salah satu anak buah Aora
"Hn, apa yang kau temukan sejauh ini? Ceritakan semua padaku! " ucap Aora
__ADS_1
" Karena gelombang kekuatan yang hebat ditemukan oleh tim sensor Sora, ketua Zen akhirnya mengutus Cops Merah untuk melacak sumber kekuatan.
Dan akhirnya kami menemukan Tuan Tanuki yang sekarat dengan sosok misterius di sampingnya"
"Kalian bisa melacak siapa orang itu? "
" Tidak tuan, kekuatan sihirnya benar-benar kuat segingga kami tidak bisa melihat warna sihir atau petunjuk yang lain. Tapi, menurut laporam Cops Putih yang bertugas mereka yakin bahwa orang misterius itu adalah sosok seorang wanita dengan pakaian serba hitam
Meski ditengah kegelapan, mereka bisa melihat rambut panjang pelaku. Juga dari gerak badannya Cops Putih yakin pelaku dalam keadaan teruka parah saat mencoba kabur dari kejaran Cops Putih"
"Terluka parah? "
" Benar Tuan, kami juga menemukan jejek darah di sekitar sini. Tapi anehnya, darah itu tidak seperti darah manusia normal
Darahnya akan membeku dan menghitam ketiak berada di ruang terbuka, kami juga merasakan darah itu mengeluarkan aura kekuatan yang aneh"
Prajurit itu pun menunjukan jejak darah yang tercecer di lantai, Aora memperhatikan bercak darah itu. Alis Aora terangkat-heran, jejak darah didepannya begitu mirip dengan jejak darah yang tidak snegaja ia lihat di lantai kamar rawatnya
"Apa ini? Jejak ini juga ada di kamarku tadi"
Meski Aora buru-buru meninggalkan kamar rawatnya, ia bisa mengingat segala detail di ruang inapnya. Sejak kecil, Aora diberkahi dengan ingatan yang bagus, ditambah otak yang pintar menjadikannya prajurit hebat hingga saat ini
"Bukankah darah ini, juga ditemukan di kamarku? " gumam Aora pelan
" Dan juga Tuan Aora, kami juga menemukan jepit rambut ini di sekitar tempat kejadian"
Prajurit itu memberikan sebuah plastik berisi sebuah jepit rambut berornamen kupu-kupu penuh dengan noda darah hitam. Hanya sekilas saja, Aora tahu siapa pemilik jepit rambut yang begitu familiar untuknya itu
"Tidak mungkin, I-ini... " ucap Aora sambil memandang kantong plastik didepannya.
Ia sangat yakin, itu adalah jepit rambut Mirai yang pernah ia berikan sebagai hadiah.
Meski setengah dirinya menolak mempercayai bahwa Mirailah pelaku lenyerangan itu, tapi ia juga tidak bisa menutup mata dengan bukti yang dilihatnya saat ini. Jika benar Mirai pelakunya apa tujuannya menyerang Tanuki?
"Aora kau disini? " suara Ketua Zen memecah lamunan Aora. Pria paruh baya itu pun menghampiri muridnya yang sudah sangat kacau itu
" Guru, ini tidak mungkin. Mirai tidak akan melakukan hal mengerikan seperti ini" ucap Aora dengan tatapan kosong sambil menggelengkan kepalanya pelan. Seberapa banyak hati Aora menyangkal, tapi pikirannya mengatakan bahwa benar Mirai lah orang yang melakukan semua ini
"Aku juga masih tidak mempercayainya, Aora. Gadis selembut dan sebaik hati itu, bisa menghancurkan tempat ini dengan kekuatan yang mengerikan"
Zen melihat jepit kupu-kupu di tangan Aora, ia tahu selama ini muridnya itu begitu dekat denegan Mirai. Zen mencoba menyembunyikan, bahwa ia tahu Aora sangat menyukai Mirai.
Melihat musidnya bisa tersenyum lagi ketika bertemu gadis yang diaukainya membuat hati Zen menjadi lega. Namun kejadian saat ini, membuatnya sedikit khawatir, ia takut Aora akan terpuruk dan kembali mengunci diri didalam lerasaan bersalah dan kecewa.
__ADS_1
Sama seperti kematian Aoryu dulu....
"Kami sudah menyelidikinya, di apartemen Mirai kami menemukan peta Sora dengan tanda silang misterius. Tanda-tanda itu menunjukkan tempat-tempat strategis di Desa Sora untuk menyimoan dokumen penting
Entah apa tujuannya masuk ke desa, tapi faktanya setelah kami mengecek untuk kedua kalianya, tidak ada gadis bernama Mirai dari desa Shii.
Bisa dikatakan, Mirai adalah mata-mata yang sengaja masuk ke desa Sora dengan tujuan tertentu, Aora"
Mata Aora bergetar, sejalan dengan tubuh lemahnya yang sudah tidak bisa lagi berdiri tegap. Mengetahui kenyataan pahit didepannya membuat kondisi fisiknya kian memburuk. Dari semua orang, orang yang paling Aora percayai dan kasihi ternyata sudah mengkhianatinya
"Apa Guru sudah menemukan keberadaan Mirai? Setidaknya aku harus menanyakan alasannya langsung
Aku masih tidak bisa mempercayainya, Guru! "
Zen menggeleng, sambil menatap Aora lekat. Untuk pertama kalianya, ia melihat muridnya begitu hancur. Meski tubuh Aora tepat berada dihadapannya, Zen tahu pikiran Aora tidak lagi berada
" Aora apa kau ingat Clan Salju yang pernah aku ceritakan padamu?
Pemilik kekuatan spesial sekaligus reinkarnasi tiga pilar pelindung selain kau dan Yora, sekarang aku yakin Mirai lah orang yang aku maksud dulu
Aku melihat kekuatan elemen es yang luar biasa, serta kekuatan penyembuh Mirai yang hebat.
Tidak salah lagi dia adalah putri sahabatku Yukio dan Kizuna. Dia adalah keturunan terakhir clan salju Sora"
Zen menepuk bahu Aora, mencoba menyadarkan Aora
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin memberikan misi yang snagat berbahaya padamu. Hanya kau yang bisa menyelesaikan misi ini Aora"
"Apa itu guru? "
" Mirai dicurigai adalah anggota wanita organisasi Tengu. Dan menurut informasi Tanuki, Yora lah pendiri organisasi itu
Aku ingin kau membawa saudaramu Yora dan Mirai kembali ke Sora. Meski mereka dicap sebagai buronan. Fakta bahwa mereka reinkarnasi tiga pilar penjaga langit tidaklah berubah..
Hanya kalian yang bisa melindungi dunia dari ancaman kebangkitan Nue. Jadi aku ingin kau melakukan misi ini dan membawa Yora dan Mirai kembali apapun yang terjadi
Bisakah aku mempercayaimu? Aora? "
Aora sedikit terdiam, mengingat kenangan dengan Yora dimasa lalu bukanlah kenangan menyenangkam. Aora melihat sendiri, Yora lah yang membunuh ayah dan seluruh anggota clan mereka dengan mata kepalanya. Bisakah ia memaafkan Yora begitu saja?
Dan juga, fakta Mirai berada di organisasi yang sama dengan orang yang paling Aora benci. Apakah ia masih bisa memegang tangan Mirai lagi? Setelah kebohongan dan penghinatan yang Mirai beri padanya?
Aora takut, Mirai bukanlah orang yang ia kenal selama ini. Ia takut Mirai hanya pura-pura mendekatinya dan memiliki perasaan untuknya. Bagaimana jika selama ini Mirai tidak oernah menyukainya, dan berada didekatnya hanya untuk memata-matainya atas perintah Yora?
__ADS_1
"Aora apa kau mendengarkanku? " ucap Zen membangunkan Aora dari lamunanya.
" Baiklah guru, aku akan menerima misi darimu" ucap Aora mantap dengan tatapan tegas miliknya