
Satu bulan sudah berlalu, semenjak perjanjian gencatan senjata antara Hoshi dan Sora, keadaan negeri mulai berangsur membaik. Perdamaian, sedikit sudah dirasakan rakyat Sora.
Di sebuah lorong bawah tanah yang gelap gulita, terdapat deretan sel tahanan di sepanjang koridor. Di sana, para penjahat ditahan dan menjalani sisa masa tahanan di ruang pengap dan gelap itu. Namun, di atara deretan para penjahat, ada sesosok pemuda dengan perban menutupi mata kanannya tengah duduk di pojok sel.
Suara langkah seseorang menggema, samar terdengar pintu sel dibuka dari luar.
"Tanuki, kau bisa keluar sekarang. " Suara berat Kizuna memecah koridor ruangan sel, Tanuki yang masih duduk tenang di pojok ruangan mulai membuka matanya. Sudah sebulan lamanya, ia dikurung di dalam sel pengap ini.
" Yukio mengurungku disini, agar aku tidak bisa menentang keputusannya. Sora sudah menyerahkan Kehormatannya pada Hoshi.
Aku heran, Kenapa dia tidak mengurungku selamanya di tempat pengap ini? " ucap Tanuki sarkas.
Yukio memerintahkan agar Tanuki dikurung, selama masa perundingan gencatan senjata antara Hoshi dan Sora.
"Kau pasti sudah mendengar, Hoshi dan Sora sudah mengibarkan bendera perdamaian. Gencatan sejanta serta berhentinya peperangan adalah keputusan terbaik bagi kita semua.
Dan juga Tanuki,
Yukio melalukan semua ini (memasukan Tanuki ke penjara), hanya untuk melindungimu Tanuki. Kau tidak boleh salah paham mengenai maksudnya. "
" Cih! Keputusan terbaik katamu?! Kau selalu saja berada dipihak Yukio, Kizuna! Aku pikir, kau akan selalu menjadi temanku. Ternyata aku salah. "
Tanuki mulai beranjak, kilatan amarah tampak jelas di sorot matanya. Ia pun melewati Kizuna begitu saja, sementara pria berambut hitam itu masih diam berdiri di pintu Sel. Langkah Tanuki mulai terhenti. Ia pun melirik ke arah Kizuna dengan ekor matanya, sambil bergumam pelan.
" Mulai sekarang, apapun yang akan terjadi di masa depan, semua berawal dari keputusan Yukio. Jadi, jangan salahkan aku, mulai saat ini aku akan berjalan di jalan yang aku percayai! "
Dengan tatapan tajam, Tanuki mulai berjalan keluar. Dua orang bertopeng dewa kematian sidah menunggunya di ujung lorong, sambil menunduk hormat mereka menyambut kebebasan tuan mereka
" Bagaimana, apa kalian sudah menemukan keberadaan kitab itu? "
" Kitab Merah Nue, sudah berada di tangan kami, Tuan!" Tanuki tersenyum penuh arti.
"Bagus! Kita akan kembali ke markas. Akan aku pastikan, orang-orang yang menentangku mendapat baladan yang setimpal. Itu akan dimulai darimu, Yukio! "
......................
Tahun-tahun Sora untuk sesaat di penuhi angin perdamaian. Empat tahun berlalu dengan cepat. Tidak ada lagi siara bom sihir, tidak ada lagi suara hentakan kaki prajurit militer sihir. Peperangan sekilas benar-benar berakhir.
Rakyat Sora tampak hidup nyaman di bawah kepemimpinan tiga Clan Utama Sora. Masing masing pemimpin Clan memiliki tugas yang besar. Clan Matahari yang memimpin Militer dan mengayomi seluruh pertahanan Negeri Sora, sementara Clan Bulan melindungi negeri dengan sistem segel serta penjagaan Desa Militer kuat. Dan terakhir, Clan Salju bertugas memimpin kedua Clan tersebut, sekaligus sebagai penjaga Kuil Suci Nue.
Sora juga berada dalam suka cita. Dua pemimpin Clan mereka, Bulan dan Matahari telah bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Tidak hanya itu, Aoryu dan Yoshiro juga telah memberikan dua orang penerus tampan yang kini genap berusia 3 tahun.
"Yora dan Aora. Bakat mereka bahkan sudah terlihat sejak dini. Lihatlah, mereka sudah mulai berlatih bela diri. Mereka pasti akan menjadi prajurit kebanggaan Sora suatu saat nanti.
__ADS_1
Yoshiro, kau pasti bangga memiliki dua putra yang pintar. " ucap Yukio, senyuman terukir cantik di wajahnya. Sambil memandang kearah dua anak laki-laki yang masih sibuk bermain pedang-pedangan didepannya.
" Kau pun akan merasakan hal yang sama, Yukio. Kau hanya perlu melahirkan seorang anak yang lucu. Dan juga- "
" Istriku! " Aoryu segera menyela ucapan istrinya. Sambil mengarahkan pandangannya ke arah Yoshiro, Aoryu mulai menggeleng pelan.
Raut wajah Yukio berubah, senyum yang sedari tadi terukir cantik kini mulai memudar. Perlahan Yukio arahkan tangannya untuk mengusap lembut perutnya yang masih rata. Aoryu melirik ke arah Yukio yang masih diam mematung.
Hal serupa juga dilakukan Yoshiro, dengan raut wajah khawatir, ia pun melangkah pelan lalu menepuk lembut pundak sahabatnya
"Apa kau akan terus menyembunyikan pernikahan antara kau dan Kizuna? Cepat atau lambat, para tetua Clan Salju akan tahu. Kau tidak bisa menyembunyikan rahasia itu selamanya, Yukio! "
" Lalu, apa aku harus membiarkan Kizuna terbunuh begitu saja. Menurut aturan Clan Salju, keturunan utama yang menjaga kuil Nue tidak bisa menikah dengan sembarang pria selain dari Clannya sendiri.
Jika para Tetua tahu, bukan hanya aku dan Kizuna, bahkan anak yang ada di dalam kandunganku akan mereka bunuh! "
Yukio tidak bisa bebuat banyak, jika itu menyangkut aturan Clan Salju. Sebagai pemimpin Clan, mau tidak mau ia harus tunduk dengan ucapan para Tetua. Siapapun yang mewarisi darah pilar utama di Clan Salju, ia tidak diizinkan menikah diluar garis darah Clan. Semua itu demi menjaga darah suci.
Yukio dan Kizuna, telah memendam lama perasan satu sama lain. Cinta mereka terlalu kuat untuk dipisahkan sebuah aturan Clan. Oleh sebeb itu, diam-diam mereka mengikralkan janji suci tanpa seorangpun yang tahu. Hanya bersaksikan lilin, didepan kuil dewi kehidupan, mereka berjanji akan melindungi satu sama lain.
Buah cinta mereka tumbuh di tubuh Yukio, meski ikatan mereka belum sepenuhnya terbongkar, namun para Tetua Clan Salju sudah mulai memisahkan dua sejoli itu. Sudah satu minggu lamanya, Kizuna dikirim untuk menjaga perbatasan benteng utara. Ia bahkan belum tahu, bahwa istrinya sudah mengandung buah cinta mereka. Yukio sengaja merahasiakan kehamilannya demi menjaga cinta serta buah hatinya tetap aman. Bagaimanapun, clan tidak boleh mengetahui kehamilannya. Hanya Aoryu serta Yoshiro lah yang tahu kondisi Yukio saat ini.
"Apa rencanamu saat ini? Apa Kizuna sudah tahu mengenai kehamilanmu? "
Yukio menggeleng. Ia lantas menatap bulan, bahkan ketika langit begitu cerah, bulan dilangit sudah menampakan semburat merah
Sebelum aku mengatakannya langsung, kalian tidak boleh mengatakan berita ini ke Kizuna. Aku mohon pada kalian. "
Yoshiro dan Aoryu mengangguk kompak. Di tengah kekhawatiran tiga orang itu, Aora dan Yora kecil berlari ke arah Yukio. Kedua bocah lucu itu langsung memeluk tubuh Yukio erat.
" Aora, Yora sedang apa kalian? " Yoshiro heran kenapa kedua putranya tiba-tiba memeluk Yukio.
Yukio tersenyum lembut, ia mulai berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan sikembar.
" Bibi, apa benar ada bayi di dalam perutmu? " mata bulat Yora berbinar. Tampaknya keduanya tidak sengaja mendengar ucapan Yukio. Yora adalah anak yang peka, bahkan di umurnya saat ini ia sudah mulai memahami apa yang terjadi di sekelilingnya.
" Benar, sebentar lagi bibi akan memiliki bayi yang lucu seperti kalian. "
" Kalau begitu, aku berjanji akan melindungi bayi bibi. Tapi, apa bayi bibi laki-laki atau perempuan? " Aora tidak mau kalah, ia bahkan bertanya bayi apa yang ada di perut Yukio
" Haha... Aora kau lucu sekali. Kau ingin bayi bibi perempuan atau laki-laki? "
Si kembar saling menatap satu sama lain. Senyuman mengembang di pipi tembem mereka
__ADS_1
" Tentu saja perempuan. Jika dia seorang gadis, aku berjanji akan melindunginya sepanjang hidupku. Aku juga akan menjadi suaminya. Hehe " ucap Aora cengengesan. Hal itu sontak membuat Yora cemberut.
" Tapi, aku juga ingin melindungi bayi bibi Yukio! "
Mereka terlihat berdebat, mengenai siapa yang berhak menjaga bayi Yukio. Hal itu sontak membuat kedua orang tuanya tersenyum.
" Yora, Aora. Jika kalian ingin menjaga bayi bibi Yukio, kalian harus tumbuh menjadi pemuda hebat. Untuk itu kalian harus berlatih keras, mengerti? " ucap Aoryu
" Tentu, ayah! " si kembar pun kembali berlari dan melanjutkan permainan mereka.
"Dan juga, Aoryu, Yoshiro ada sesuatu yang ini aku sampaikan" suara Yukio kembali memecah keheningan. Raut wajahnya kembali serius.
Angin bertiup lembut, menghempas pelan rambut pirang panjang wanita bermata lavender itu. Ketiga orang itu tampak bertukar pandang. Di tengah hamparan taman bunga yang luas, keheningan kembali terasa.
"Apa itu? "
" Hal mendesak yang bahkan 'lebih penting dari kondisiku. Aku merasakan firasat, bahwa segel di kuil Nue sudah mencapai batas. Kita harus segera mengukuhkan segel itu. "
" Apa maksudmu? Bukankah segel Nue baru kita kukuhkan beberapa tahun lalu? Segel biasanya akan diperbaharui setelah delapan belas tahun lamanya. Kenapa kerusakannya bisa secepat itu? " ucap Aoryu tidak percaya.
" Itulah keanehan yang aku rasakan. Aku juga merasakan keanehan dalam diriku. Entah kenapa, bayi yang ada di dalam perutku memiliki ikatan aneh dengan Nue yang masih tersegel di Kuil Suci. Hal itu membuatku sedikit cemas. "
Yukio sebagai penjaga Kuil Nue, memiliki kemampuan khusu meeasakan aura kegelapan yang tersegel bersamaan dengan jiwa Nue. Tepat setelh ia tahu mengenai kehamilannya, ia juga merasakan segel semakin rusak. Hal serupa juga terjadi ketika Aora dan Yora lahir. Entah pertanda apa itu, Yukio tidak tahu pasti.
"Tapi kau adalah pilar penjaga utama. Mengukuhkan segel Nue sangat beresiko saat kau sendiri tengah hamil. Bagaimana jika energi kegelapan merasuk ke dalam tubuhmu dan membahayakan anak di dalam kandunganmu? " Yoshiro menentang jeras keputusan Yukio. Bagaimanapun pengukuhan segel Nue sangatlah beresiko, mengingat kondisi Yukio saat ini.
" Tapi aku tetaplah pemimpin clan Salju. Sudah menjadi takdir dan tanggung jawabku menjaga segel Nue agar tetap aman. Ribuan nyawa umat manusia dipertatuhkan, aku tidak bisa menghindari kewajibanku ini.
Tapi- "
Yukio terlihat bimbang, diluar tugasnya sebagai pilar penjaga. Ia tetaplah seorang ibu, yang mengkhawatirkan kondisi anak yang bahkan belum ia temui.
" Kita tidak bisa membatalkan pengukuhan, tapi kita bisa menundanya. Selama kau hamil, aku dan Yoshiro akan tetap memantau segel.
Kekuatan kami sudah lebih dari cukup untuk memperlambat kerusakan segel Nue. Kau bisa mempercayakan tugas itu pada kami, Yukio. " ucap Aoryu
" Aoryu benar, saat ini kau hanya perlu fokus menjaga anak di dalam kandunganmu. "
Yoshiro memberi sahabatnya dukungan. Senyum sayu terukir di wajah Yukio
" Terima kasih teman-teman. "
Tanpa mereka sadari, dua ekor tikus sihir tengah menguping pembicaraan. Tikus-tikus itu lantas berlari menjauh, dan menemui dua orang anggota Cops Awan Merah yang sudah menanti di kejauhan. Tikus-tikus itu langsung merayap, dan membisikan sesuatu di telinga para prajurit. Setelah menyelesaikan tugas, Tikus-tikus itu pun lenyap menjadi abu.
__ADS_1
"Kita harus laporkan berita ini ke Tuan Tanuki. "
" Baik, Kapten! "