Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Menyusup Masuk


__ADS_3

Puluhan orang berbaris dan berjalan tertatih menuju sebuah pos militer Cops Awan Merah. Matahari bersinar terik, semetara angin yang tak kalah panas berhembus menghempas tubuh kering para tawanan. Pakaian yang mereka kenakan begitu lusuh, tak jarang diantara mereka mengalami luka siksaan disekujur tubuhnya. Tidak ada air atau makanan. Orang-orang berjalan tenpa alas kaki di ayas pasir yang panas, dengan kedua tangan diborgol serta kepala ditutup sebuah kantong hitam pengap.


Seorang pria berjubah hitam, dengan topeng dewa kematian menuntun para tawanan di barisan depan. Surai kuning pucat miliknya tersembunyi di dalam tudung hitam jubahnya. Sesekali, Itasuke melirik dua tawanan yang berbaris dibarisan paling belakang. Sejauh ini, ia telah berhasil menyelundupkan Aora dan Yora sebagai tawanan.


Tinggal melewati penjaga gerbang pertama, maka misi penyusupan akan berjalan lancar


"Berhenti! " ucap salah satu prajurit berjubah hitam di depan sana. Ia terlihat seperti kapten penjaga gerbang Markas.


Itasuke mengugulung lengan jubahnya. Sebuah gelang bertuliskan angka Romawi XII-O sengaja ia perlihatkan. Kapten itu mengangguk pelan, ia telah mengkonfirmasi identitas Itasuke dari gelang khusus keanggotaan Cops Awan Merah miliknya


"Sesuai permintaan Tuan Tanuki. Aku membawakan 50 objek penelitian baru. Merek terdiri dari penjahat Militer dan buronan ketiga Negara Besae. Dan juga- " ucapan Itasuke terhenti sejenak. Kali ini ia melirik ke arah belakangnya.


Yuri dengan pakaian lusuh serta tangan diikat tali muncul dari balik tubuh Itasuke. " Aku ingin merekomendasikan gadis ini untuk bekerja di Markas. Ada seseorang yang menjual gadis ini di Kasino milikku. Dia akan cukup berguna. Kemampuan medisnya bisa Tuan Tanuki manfaatkan untuk membantu penelitian di markas." ucap Itasuke.


Meski pelan dan penuh kepura-puraan, Itasuke menendang kaki Yuri untuk membuat gadis itu berlutut. Hal itu ia lakukan untuk membuat semua penjaga gerbang percaya padanya.


"Kami tidak pernah memintamu membawa tim medis baru." ucap Kapten seolah menolak tawaran Itasuke


"Dia gadis bisu. Jadi kalian tidak perlu khawatir gadis itu akan memebocorkan apapun mengenai tempat ini. Selain kemampuan medisnya, dia ahli dalam berbagai bidang yang lainnya. Dia akan sangat berguna. "


Kapten mulai melangkah maju mendekati Yuri. Ia mengangkat dagu Yuri kasar. Metapa lurus dari balik topengnya seolah menilai gadis berkaca mata didepannya


" Cih! Tidak biasanya kau berbicara banyak seperti ini, Itasuke. Kau bersikap sedikit aneh! Bisanya kau tidak pernah menjelaskan secara detail mengenai tawanan yang kau bawa kesini. Apa mungkin gadis ini sengaja kau kirim ke sini?! " gumam Kapten itu curiga. Dengan pertanyaan menjebak, ia tengah menguji kesetiaan Itasuke


" Benarkah? Senior Mitsusuke, Kau mencurigaiku. Aku hanya ingin membantu organisasi dengan hadiah pemberianku. Apa perlu aku membunuh gadis ini tepat didepan matamu agar kau percaya padaku? Tapi sangat disayangkan, kemapuan pengobatan gadis itu akan lenyap bersama jasadnya! " balas Itasuke tanpa ragu. Aora yang berada di barisan paling belakang hanya bisa mendegar percakapan Itasuke dengan gugup.


" Dia sudah gila! " gumam Aora pelan.


Kapten terdiam sejenak. Ia langsung mengeluarkan pedangnya dan menggores lengan Yuri. Darah segar menetes dilengan Yuri. Itasuke meremas luka di lengan Yuri, tanpa menghawatirkan gadis itu kesakitan atau didak. Namun, baik Itasuke atau Yuri, mereka berdua bahkan tidak bergeming sama sekali.


" Kau benar, dia gadis yang bisu. Bahkan dengan luka seperti ini, ia tidak berteriak sama sekali. Biarkan dia masuk! " perintah sang Kapten. Itasuke buru-buru menyelipkan sesuatu di Tangan Yuri


" Peta ini akan membantumu menemukan setiap ruangan penting di markas. Yuri, apa kau baik-baik saja dengan luka ditanganmu? " bisik Itasuke. Yuri hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Dua orang prajurit Cops Merah langsung menbawa Yuri pergi. Sekarang yang tertinggal hanyalah barisan para tawanan di belakang sana


" Kami akan memeriksa semua Tawanan yang masuk. Untuk hari ini, tugasmu sudah berakhir. Kembalilah ke pos penempatanmu, Itasuke! " Itasuke mulai melangkah pergi, namun suara sang Kapten membuat langkahnya terheti


" Oh ya, satu lagi. Karena Krisis Cops Awan Merah baru-baru ini, penjagaan disekitarmu sudah ditarik mundur. Sebagai Outer organisasi, kau sebaiknya jangan pernah berpikir untuk mengkhianati Tuan Tanuki. Hiduplah hanya untuk Tuan Kita. Jika sampai terjadi, kami berjanji akan memburumu bahkan sampai keujung duniapun. Ingat itu, Itasuke! "


Tanpa membalikan tubuhnya, Itasuke mengangkat tangannya. Memperlihatkan sebuah tatto berbentuk cincin yang tersemat dijarinya. Tanda itu adalah Tanda Kontrak Kutukan milik Tanuki


" Kau dan aku terikat dengan cara yang sama. Bahkan sejak masuk ke organisasi ini, jiwa dan nyawaku sudah bukan milikku sepenuhnya. " Itasuke pun melanjutkan langkahnya.


" Semua! Kawal semua tawanan ini masuk ke dalam! "


Semua tawanan mulai digiring masuk ke dalam sebuah lorong bawah tanah. Lorong yang menghubungkan langsung markas yang terletak jauh di tengah gurun. Jadi secara teknis Cops Merah memiliki jalan tersendiri tanpa harus menginjakan kaki di atas gurun yang panas.

__ADS_1


Tepat di barisan Aora dan Yora, Itasuke kembali menghentikan langkahnya.


" Kalian ingatlah semua pesan yang aku sampaikan. Aku hanya bisa membantu kalian sampai disini. Sisanya aku serahkan ke kalian! " bisik Itasuke.


......................


Aora dan Yora melewati pemerikasaan pertama di pintu Utama menuju markas Cops Awan Merah. Meski seluruh kepalanya tertutup kantong Hitam, Aora masih bisa merasakan kakinya menyentuh sesuatu yang lembek. Sangat aneh menemukan tanah lembab mengingat mereka berada di tengah gurun pasir yang tandus.


Jadi, tahap pertama pemeriksaan sudah dimulai. Jika berhasil melewati ini, kami akan dibawa ke bunker tempat orang-orang disekap. Apapun yang terjadi, kami harus melewati pemeriksaan ini dengan baik!


Aora melirik ke arah Yora, meski tidak bisa melihat jelas, ia yakin saudaranya itu juga merasakan keganjilan yang ia rasakan.


Sebelum penyusupan, Itasuke sempat mengatakan bahwa tahap pemeriksaan pertama merupakan tahap yang paling sulit. Akan ada banyak prajurit Cops Merah yang berjaga di sepanjang pintu masuk. Bahkan sekelas Kapten seperti Itasuke (Pasukan Cops merah berjubah hitam) tidak diijinkan masuk ke dalam markas secara leluasa.


Sebisanya mereka harus melewati pemeriksaan itu tanpa seorangpun yang curiga.


Aora mulai merasakan tanah yang ia injak, kaki tanpa alasnya bahkan sempat merasakan sesuatu yang lengket. Sambil berusaha menebak bau menyengat yang tercium di area sekitarnya


Bau aneh ini? Sepertinya aku pernah mencium bau ini di suatu tempat.


Aora kembali memfokuskan kembali ingatannya. Mencoba menemukan apapun yang tersimpan dimemorinya untuk menebak pemeriksaan jenis apa yang Cops Awan Merah gunakan. Pemeriksaan Fisik, warna sihir atau tingkat kekuatan individu. Semua pemeriksaan itu bisa saja mereka gunakan untuk mengetahui kemampuan sihir tawanan.


Cops Merah ingin mengetahui segala sesuatu mengenai tawanan yang masuk, termasuk kemamapuan sihir bawaan para tahanan. Apakah mereka benar-benar cocok sebagai kelinci percobaan (biasanya orang militer dengan sihir lemah) atau justru mereka musuh yang menyamar dengan kekuatan besar yang sengaja mereka sembunyikan. Persis seperti kasus Aora dan Yora.


Untuk menghindari kecurigaan dengan cara yang tepat, Aora harus mengetahui teknik pemeriksaan lebih dulu. Tubuh Aora menegang, sepertinya ia sudah tahu jenis lumpur yang ia injak saat ini.


Aora merasakan tenaganya sedikit terkuras. Lumpur dikakinya merupakan lumpur khusus yang digunakan untuk melemahkan kekuatan fisik orang yang menginjaknya. Tidak hanya itu, sensor sihir yang terkandung di dalam lumpur juga bisa membaca kekuatan sihir yang dimiliki orang yang terjebak didalamnya. Di banding tawanan lain, tentu kekuatan sihir yang dimiliki Yora dan Aora jauh ditingkat yang berbeda. Jika dibiarkan terus seperti ini, mereka bisa cepat ketahuan


"Yora! Kau pasti tahu apa yang kita injak ini, kan? " bisik Aora pelan


" Hn, ini lumpur hitam yang biasa digunakan ibu saat mendeteksi pergerakan musuh dulu. " ucap Yora. Sesuai dugaan Aora, Yora juga menyadari hal itu


" Aora, kau ingat apa yang diajarkan ibu. Untuk mengelabui sensor sihir di lumpur ini. Kita harus mengacaukan energi sihir di tubuh kita. "


" Tentu aku ingat. Perlu waktu satu bulan lebih untuk menguasai teknik rumit seperti itu. " ucap Aora pelan.


Benar saja, di ujung lorong salah satu anggota Cops Merah mulai mengaktifkan Gyoku miliknya. Sihir biru mulai menjalar di atas lumpur pekat berwarna hitam itu. Bagi orang-orang lemah yang tidak bisa membendung kekuatan besar, mereka secara otomatis akan jatuh pingsan atau bahkan tewas . Sementara yang bisa bertahan dan sanggup berdiri, sekujur tubuh mereka akan terasa sakit karena lumpur mulai menghisap energi sihir yang mereka miliki.


"Arghhhhh! Hentikan! " orang-orang mulai berteriak.


Sementara itu, Aora dan Yora mulai jatuh berlutut. Nafas mereka terengah-engah. Mengacaukan energi sihir bukanlah hal yang mudah, perlu konsentrasi kuat serta teknik rumit untuk menjalankannya. Biasanya, teknik seperti itu hanya bisa di kuasai Clan Bulan Sora. Karena bagaimanapun merekalah pencipta teknik Lumpur Hitam ini.


Setelah beberapa saat anggota Cops Merah mulai mengentikan sihirnya. Hampir setengh orang diruangan itu kehilangan kesadarannya, sisanya hanya bisa berlutut lemah dengan nafas terengah.


"Aku sudah membaca kekuatan Fisik dan sihir para tahanan. Semua prajurit! Bawa masing-masing satu tawanan yang berhasil bertahan masuk ke dalam. Sisanya, tahanan yang tidak lulus tes ini, kalian bisa singkirkan mereka! Laksanakan! "ucap salah satu satu Kapten yang bertugas


" Baik! Kapten! "

__ADS_1


Masing-masing prajurit membawa satu orang tawanan masuk. Sementara yang lain, mulai membereskan orang-orang yang pingsan tadi dengan cara menebas tubuh mereka dan membawanya kembali keluar dalam keadaan tewas. Tepat di samping Aora, ada salah satu tawanan yang tidak lulus. Aora bahkan merasakan darah orang itu mengenai tangannya, ketika tubuh tidak berdaya itu ditebas oleh prajurit Cops Merah


Tangan Aora mengepal kuat. Meski orang-orang disini adalah orang-orang militer buangan dan penjahat, tetap saja Cops Merah memperlakukan manusia secara brutal. Aora merasakan seseorang menariknya, menyeretnya masuk lebih dalam menuju lorong tanpa cahaya didepan sana


Semua Tawanan sudah digiring masuk. Di ruangan gelap nan pengap itu, kini hanya twrsisa dua Kapten Cops Merah. Salah satu kapten berjubah itu adalah orang yang Itasuke temui di depan gerbang, sementara yang lain adalah Kapten yang bertugas memeriksa Tahanan di ruangan itu


"Kapten Mitsusuke, apakah orang-orang tadi adalah orang-orang yang dibawa Itasuke atas perintah Tuan Tanuki? " ucap Kapten Sensor


" Kau benar. Apa ada masalah yang kau temukan? "


" Bukan begitu. Hanya saja aku belum sepenuhnya percaya dengan Itasuke. Meski ia begitu dipuji oleh Tuan Tanuki karena keberhasilannya memonopoli persenjataan Sora.


Tapi, sesuatu yang aneh selalu terlihat dari sikap tenangnya itu. Kalian berasal dari panti asuhan yang sama, apakah kapten mengetahui sesuatu mengenai Itasuke? "


Kapten berjubah hitam yang diketahui bernama Mitusuke itu mulai mengepalkan tangannya erat. Sebuah tatto yang sama persis dimiliki Itasuke juga terlihat menghiasi jarinya


" Bocah itu selalu menutupi emosi dengan sikap yang tenang. Siapapun tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Kami memang tumbuh di tempat yang sama, tapi aku juga tidak yakin apa yang dia pikirkan mengenai Tuan kita! Tapi, jika saja ia berani berkhianat, aku sendiri yang akan membunuhnya! "


" Mengenai tawanan tadi. Ada satu hal aneh yang aku temui selama pemeriksaan tadi. Aku tidak terlalu yakin. Tapi, Kapten lihat dua orang tawanan yang berjalan paling akhir?! " ucap Kapten sensor sambil menunjuk ke arah Yora dan Aora


" Ada apa dengan mereka? "


" Meski terlihat kelelahan. Tapi aku menangkap kondisi fisik mereka terlihat baik-baik saja. Bahkan selama perjalanan kesini, mereka tidak terluka sama sekali. Terlebih setelah memalui tes sulit yang bahkan membuat sebagian orang tewas itu, mereka masih bisa berjalan tegap. Aku mencurigai sesuatu, apa mungkin orang-orang itu adalah penyusup yang sengaja dikirim ke markas ini? Tapi itu hanya kekhawatiran dari ku saja. "


" Keragu-raguan bahkan bisa menghancurkan sebuah Negeri! "


Kapten Mitsusuke langsung beranjak pergi dari sana. Memgikuti kemana arah prajurit membawa Yora dan Aora.


" Sedikit kecurigaan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Aku akan membunuh dua orang mencurigakan itu! "


......................


Di tengah lorong yang panjang, hanya cahaya lilin yang menerangi sebagian sisi ruangan bawah tanah itu. Dua orang tahanan digiring dan dipaksa berjalan dengan wajah tertutup kantong hitam. Semenatara itu, dua orang prajurit bertopeng dewa kematian mengawasi dari belakang. Menuntun tawanan ke arah sel-sel penjara objek penelitian berada


Sreshhhhh....


Hentakan kaki berlari cepat memecah lorong yang gelap. Tanpa para prajurit sadari, dari arah belakang mereka, sosok berjubah Hitam berlari cepat dengan pedang terhunus. Sihir berelemen petir yang menyelimuti bilah tajam itu terangkat dan menebas tubuh dua tahanan yang bahkan tidak sempat menghindar.


Dua orang tawanan akhirnya ambruk. Jatuh ke lantai dengan darah segar keluar dari perutnya. Yuri kebetulan ada disana. Tubuh Yuri membeku ketika melihat pakaian yang dikenakan dua orang tahanan didepannya. Pakaian yang sama persis digunakan Aora dan Yora saat mencoba masuk ke dalam markas.


"Oi! Kau gadis berambut merah disana! Cepat perisa apakah dua pria ini sudah tewas apa belum! " perintah Mitsusuke. Yuri hanya diam mematung. Meski dalam kondisi terkejut seperti ini, ia masih mengingat penyamarannya sebagai gadis bisu dan tuli.


Mitsusuke hanya mengetes Yuri kembali, bahkan dalam kondisi seperti ini ia masih ragu apakah gadis yang di rekomendasi Itasuke benar-benar bisu atau tidak. Lagi-lagi, Yuri mendapat kepercayaan pria itu.


Akhirnya Mitsusuke melabaikan tangannya, sebagai kode agar Yuri mendekat. Yuri pun mulai melangkahkan kakinya mendekat, menatap ke adalam topeng dewa kematian Mitsusuke sambil menunggu perintah darinya. Pria berjubah Hitam itu mengangguk, dan menunjuk dua pria bersimbah darah didepannya.


Yur mulai berjongkok. Dengan tangan gemetar, ia memeriksa denyut nadi di tangan salah satu tahanan. Yuri kembali menatap ke arah Mitsusuke, dengan wajah ketakutan serta air mata menetes, ia menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kalian berdua. Cepat buang jasad mereka ke gurun! " perintah Mitsusuke pada dua orang prajurit didepannya. Ia pun mulai beranjak pergi dari sana


__ADS_2