
...~Tiga Tahun Kemudian~...
Desa Sora mulai berbenah setelah peperangan berakhir, hampir 90% pembangunan kota sudah mulai rampung selama kurun waktu tiga tahun terakhir.
Sora yang sempat hancur karena serangan Kurasu, sudah mulai pulih menjadi kota baru yang tidak kalah megah dari sebelumnya. Masyarakat sipil mulai membangun usaha mereka kembali. Ekonomi Sora secara berangsur mulai tumbuh berkembang pesat sejak era perdamaian berjalan.
Di sebuah ruang kerja, siluet pria bertubuh tinggi tegap mulai melepas Yukata santainya. Tubuh bagian atasnya terekspos, otot yang terbentuk sempurna tanpa lemak berlebih. Sebuah bekas gigitan dua taring ular terpangpang jelas di bahu bidangnya.
Pria berambut hitam itu langsung mengambil serangam militernya, sementara manik kelamnya tidak lepas menatap pemandangan indah desa Sora dari balik jendela besar kantornya.
Yora tidak pernah melupakan hari itu, tepat tiga tahun sudah berlalu semenjak pertarungan melawan pasukan Yurei dan Kurasu. Ia pikir, ia akan tewas ketika kepala ular di ekor Nue mengigit tubuhnya. Bagaimana tidak, racun mematikan ular itu menjalar ke seluruh tubuhnya dalam beberapa detik, serta membawa rasa sakit yang kuat hingga memecahkan pembuluh darahnya.
Jantung Yora sempat berhenti akibat bisa ular itu. Yora sudah diambang kematian. Namun, sebuah keajaiban mendatanganginya. Karena bantuan seseorang, ia bisa selamat.
Orang itu tidak lain adalah Mirai. Dengan kemampuan sihir penyembuhan yang kuat, Mirai mampu mengembalikan detak jantung Yora yang sempat berhenti dan menetralkan racun ukar yang memenuhi tubuhnya. Bisa dibilang, Yora bisa menghindar dari maut berkat kemampuan Mirai.
Suara pintu diketuk seseorang di luar sana. Yora segera bergegas memakai rompi militer khas parjurit Sora. Sambil menbenahi beberapa bagian, ia mempersilahkan orang itu masuk.
"Masuklah. "
Pintu terbuka. Menapakan siluet wanita berambut merah, dengan kaca mata membungkai mata secantik kristal rubi miliknya. Yuri mulai memasuki ruang kerja Yora. Wanita itu tampak anggun menggunakan jubah peneliti putih yang membungkus tubuh mungilnya. Rambut merah yang sempat terpotong, kini kembali panjang.
Sebagai penyandang gelar 'Akai Sode' si lengan merah peracik obat surga, Yuri menyalurkan seluruh bakat dan talentanya untuk mengembangkan obat-obatan sihir di Rumah Sakit Sora. Dan hasilnya, kini ia disibukan untuk memasok persediaan obat di seluruh Negeri Sora.
"Kau masih belum siap juga? Kau sudah terlambat, Yora! "
Yuri mendengus ketika melihat Yora masih sibuk merapikan pakaiannya. Bahkan ketika waktu mengejar pria itu. Yora hanya tersenyum simpul, sudah biasa baginya mendengar omelan wanita super cerewet didepannya. Bagaimana tidak, mereka sekarang sudah tingga di bawah atab yang sama sebagai pasang suami istri yang kadang harmonis (?)
"Cepat! Cepat! Para pemimpin Militer Sora, Hoshi dan Tsuki sudah menunggumu! "
Yuri segera bergegas, mengambil syal berwarna emas dengan lambang tiga negara besar. Ia segera mengalungkannya di lengan kokoh Yora. Yuri sedikit merapikan pakaian Yora, merasa cukup ia segera mendorong tubuh Yora agar segera bergegas pergi menuju tempat pertemuan.
Yora hanya memasang wajah datar khasnya, ia sedikit melirik wajah Yuri yang memerah akibat kesal karena ulahnya. Cantik, batin Yora.
"Yuri, kau lupa aku bisa berpindah tempat dengan cepat melalui sihir teleportku?! " Yuri hanya menggeleng cepat, sambil menghela nafas pelan.
" Hah, Kau akan menghamburkan tenagamu hanya untuk hal sepele seperti itu? Cepatlah, berjalan kaki ke kantor Sora juga tidak buruk! "
" Memangnya, kenapa kalau aku membuang tenagaku? " ucapan polos Yora sontak membuat Yuri terdiam.
Yora tersenyum simpul, ia pun mendekatkan wajahnya ke Yuri. Sontak, hal itu menbuat wajah Yuri merah padam.
" I- itu.... Maksudku- "
__ADS_1
" Aku janji tidak akan membuang tenagaku. Oleh karena itu, pastikan kau dirumah malam ini. Mengerti? Aku pergi dulu. " ucap Yora penuh penekanan.
Belum sempat Yuri membalas, ia sudah hilang menjadi kumpulan gagak.
......................
Pertemuan Tingkat Tinggi negara-negara besar kembali di adakan di Negeri Sora. Semenjak berakhirnya pertempuran melawan Kurasu, jalinan kerja sama antara Tsuki, Hoshi dan Sora semakin erat. Kerja sama itu membawa sebuah perdamaian bagi seluruh Negeri. Tidak ada acmana perang yang menghantui layaknya apa yang terjadi di masa lalu.
Hotaru, Hisui serta Ten. Tiga Pemimpin Militer tertinggi berkumpul di dalam sebuah ruang konfrensi megah. Masing-masing pemuda tampan itu menduduki kursi, dimana lambang negara mereka tersemat.
Berbeda dari sebelumnya, sebuah Kursi Khusus di tambahkan di tengah-tengah meja persegi panjang itu. Tiga sisi diisi pemimpin Militer Tertinggi, sementara posisi pusat diisi Pemimpin Dewan Perdamaian HoTsuSo.
Hotsuso, adalah wadah yang menaungi tiga negara besar. Sebuah organisasi yang di rancang khusus oleh Aora, untuk mempertahankan perdamaian di antara tiga negara besar, serta sebagai wadah penyembuh bagi para korban perang. Satu-satunya peninggalan Aora yang sukses membawa perdamaian bagi seluruh Negara.
Pintu utama terbuka, semua undangan serta para Pemimpin militer menyambut kedatangan Yora. Pria berambut hitam itu berjalan dengan gagah, dengan sorot mata tegas ia berjalan menuju arah kursi miliknya. Yora tampak menawan dengan seragam militer bernuansa hitam yang membalut tubuh tegapnya. Tidak lupa, syal berwarna emas yang menunjukan pangkat tertinggi tersemat di lengannya.
"Selamat datang kembali di negeri kami, Tuan Hotaru. Tuan Hisui. " ucap Yora sopan menyambut tamu kehormatan Sora.
" Sora sudah seperti rumah kedua kami. Ada banyak kenangan di desa ini. " ucap Hotaru
" Aku harap, kalian menikmati kunjungan kalian. Kami sudah menyiapkan banyak hal untuk kalian semua selama tinggal di Sora. "
Ten sebagai tuan rumah menujukan kehagatannya untuk para tamu terhormat.
Empat orang pemimpin saling menunduk hormat satu sama lain. Mereka mengambil posisi duduk saling berhadapan, dan mulai membuka tumpukan dokumen didepannya.
" Baiklah. Kalau begitu kita akan mulai rapat tingkat tinggi mengenai pembangunan di tiga Negara Besar. " Yora memimpin rapat, semua orang mengangguk dan mulai berdiskusi
......................
Setelah menyelesaikan rapat, Hotaru, Hisui datang mengunjungi monumen peringatan perang yang terletak di pusat Desa Sora. Sebuah monumen penghormatan, yang sengaja di bangun di atas sebuah bukit kecil.
Di sana, ribuan foto-foto prajurit militer yang gugur dalam tugas diabadikan. Foto Aora menempati posisi utama. Sebagai pahlawan perang, jasanya sangat dihargai orang-orang diseluruh negeri.
Hotaru dan Hisui mulai meletakkan bunga di atas altar khusus. Mereka tidak sendiri, tepat di samping mereka para Nyonya Hoshi dan Tsuki juga turut hadir. Tsuyu mengikuti jejak Kazumi, dua wanita cantik yang sudah resmi menyandang gelar 'Nyonya besar' dibelakang nama mereka.
Tsuyu menjadi orang terakhir yang meletakan setangkai bunga krisan putih di monumen itu. Mereka berempat kompak memberi hormat, dan menundukaan kepala sejenak.
"Kami sangat menghargai, pengorbanan kalian. Perdamaian akan tetap kami jaga dengan segenap jiwa kami. Beristirahatlah, dalam damai. "
Setalah selesai, mereka berempat mulai berjalan menuruni tangga menuju ke tempat dimana Yora dan Yuri menunggu.
Monumen peringatan, dikelilingi sebuah taman luas yang asri. Berbagai bunga musim semi tumbuh disepanjang mata memandang. Letak tempat yang lebih tinggi dari dataran sekitarnya, membuat pemandangan Desa terlihat jelas dari atas sana.
__ADS_1
Mereka ber enam, tampak menikmati pemandangan cantik itu. Mereka seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana berubah menjadi hening.
Semilir angin, menghempas pelan kimono hitam yang mereka kenakan.
Tanpa terasa, Musim semi telah tiba di negeri Sora. Hempasan angin lembut membawa ratusan kelopak bunga jatuh ke tanah. Meski mereka semua bersama, ada satu hal yang mengganjal. Dua sosok yang dekat dengan mereka, kini tidak pernah mereka temui.
" Tuan Yora, apa kau tahu dimana Mirai sekarang? "
Ucapan Tsuyu memecah keheningan. Raut wajah wanita berambut pirang itu berubah sedih ketika mengingat sahabatnya, Mirai. Sudah sejak lama, ia tidak bertemu dengan teman Soranya itu.
" Aku penasaran, apa dia baik-baik saja? " sambung Tsuyu, manik aquamarine gadis itu meerawang langit di atasnya. Hotaru yang melihat Tsuyu terpuruk, mulai menepuk bahu Tsuyu pelan.
" Tsuyu, kau seperti tidak mengenal Mirai saja. Gadis setangguh Mirai, pasti baik-baik saja, di manapun ia berada saat ini. "
Sudah hampir satu tahun lamanya, Mirai memulai perjalanannya. Semenjak perang berakhir, sisa-sisa keberadaan Yurei belum sepenuhnya musnah.
Yurei yang berhasil memakan jiwa manusia akan bertransformasi menjadi level yang lebih tinggi. Kekuatan mereka akan berlipat ganda.
Bahkan ada beberapa Yurei yang berhasil menembus dimensi dan pergi ke semesta lain. Untuk itu, Mirai bertekat menyelesaikan tugasnya dengan memburu para Yurei yang berhasil lolos.
"Sudah satu tahun lamanya, sejak kepergian Mirai. Kami pun sangat merindukannya. "
Yuri tidak bisa melupakan, hutang budinya terhadap Mirai. Gadis itu telah menyelamatkan hidupnya dan juga Yora.
" Aku yakin dia baik-baik saja. Samar, aku bisa merasakan, ia tidak sedang berada di dunia sihir ini. " ucap Yora
" Apa maskudmu, Mirai tidak berada di dunia ini? " Hisui penasaran mengenai arti ucapan Yora.
" Semesta masih menyimpan berbagai misteri. Kekuatan batu pilar ke empat yang saat ini berada di tangan Mirai, mampu membawa Mirai pergi kemanapun. Tidak terbatas ruang dan waktu.
Mungkin saja, Mirai berhasil membuka gerbang dimensi, dan pergi ke semesta lain. Mirai melakukan perjalanan untuk sebuah tujuan mulia. Ia memburu Yurei, yang berhasil lolos dalam pertempuran terakhir. Empat batu Kunci kini berada di tangannya, tidak sulit baginya untuk membuka semua pintu dimensi di alam semesta ini. " ucap Yora, ia berusaha menjelaskan semua yang ia tahu mengenai batu pilar.
" Mirai memiliki tugas berat. Begitu juga dengan kita. Untuk melanjutkan perjuangannya, mari kita jaga Negeri Sihir ini agar tetap damai. " Hotaru mulai mengulurkan tangannya.
Semua orang kompak ikut mengulurkan tangan, menyatukan keoalan tangan, dan berjanji menjaga perdamaian di negeri sihir.
" Mimpi yang mustahil, akhirnya bisa terwujud. " gumam Yora pelan.
Dunia sihir sudah damai. Untuk itu, tugas pilar Penjaga sepertinya sudah usai. Yora kini memiliki hidup yang normal. Tidak ada kutukan yang menghantuinya. Semua itu berkat pengorbanan Aora dan Mirai.
" Alam semesta lain, aku penasaran seperti apa tempat itu. Apakah disana orang-orang bisa mengendalikan sihir seperti kita? " ucap Kazumi
...----------------...
__ADS_1