
"Tuan!" seorang pria bertopeng muncul, berlutut hormat dihadapan Tanuki. Pria dengan jubah hitam itu bukanlah bagian militer Sora. Lebih dari itu, ia adalah agen khusus Cops Merah. Tidak seorang pun tahu nama, identitas atau usia mereka.
"Bagaimana reaksi Hoshi? Hadiah dariku tentu membuat Hozuki senang". Tanuki menatap jauh kebelakangnya. Lebih dari 100 orang tentara bertopeng Dewa Kematian menunggu printahnya, tak terkecuali Aora. Satu-satunya orang dengan topeng hewan yang sangat kontras
"Pasukan Hoshi langsung bergerak dan mengirim prajurit terbaik ke benteng Utara. Dia bernama Yamada, saat ini prajurit Sora sudah dikepung musuh. Hampir mustahil begi mereka untuk keluar hidup-hidup dari sana"
Mendengar berita itu, Tanuki tersenyum puas. Menghancurkan rencana yang dibuat Yora, serta menyiapkan jebakan untuk membunuh seorang anak tentu bagian dari rencana liciknya. Sebuah kesepakatan dengan pihak musuh, dimana Tanuki memberikan sesuatu sebagai tumbal untuk memenuhi ambisinya. Sepeti yang diketahui, Sora dalam keadaan terpojok. Banyak prajurit teluka karena peperangan. Jumlah prajurit kian menipis sedangkan dipihak musuh kekuatan terus tumbuh karena bantuan tenaga medisnya yang tersohor. Tanuki tidak bisa membiarkan Sora kalah begitu saja, untuk itu ia membuat suatu kesepakatan dengan mempertaruhkan putra penguasa Sora sebagai Tumbal. Hozuki selaku pemimpin Hoshi, tentu menerima begitu saja tawaran Tanuki
"Hoshi sudah mengambil tawaran kita, itu berarti mereka akan memberikan kita waktu dalam peperangan kali ini. Dengan menyerahkan Yora, Hoshi memberikan kita waktu lebih dan berhenti menyerang benteng Tengah. Seperti rencana Awal, tujuan kita adalah merebut benteng Tengah kita. Yah, meskipun seorang anak sombong datang dengan rencana kekanak-kanakannya! Itu membuatku sedikit jengkel! " Tanuki mengeratkan tangannya kesal. Baginya jebakan untuk Yora sama halnya melempar satu batu untuk membunuh dua ekor burung. Yora memang masuk kedalam rencananya dari awal. Anak yang begitu peka dengan situasi sangat mengancam posisinya, terlebih beberapa waktu Yora mengetahui aktivitas ilegal yang dilakukan Tanuki.
"Kau sudah menangkap anak dengan darah istimewa itu? "
" Sudah tuan, anggota yang lain sudah membawanya ke tempat yang aman! "
" Bagus. Seperti perintahku, gunakan darah anak itu untuk mengobati prajurit yang terluka. Kita akan pulihkan kondisi prajurit kita, sebelum Hoshi berubah pikiran dan menyerang kita. Jaga dia baik-baik, gadis kecil itu adalah kartu As untuk membalikkan keadaan kita! "
"Baik Tuan. Dan satu lagi, saya mendapat informasi bahwa Nyonya Yoshiro keluar dari misi dan pergi kebenteng Utara sendirian" lapor pria bertopeng itu
"Yoshiro? Sial! Apa dia mencium jebakan dariku?! Orang-orang dari Clan bulan memang merepotkan"
"Tuan Tanuki! " Aora tiba-tiba datang menghampiri Tanuki. Sadar seseorang mendekat pria bertopeng itu langsung menghilang dari hadapan Tanuki. Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya, menatap bocah berambut perak dengan mata liciknya
" Ada apa Aora? "
" Tuan, bukankah sekarang waktunya kita bergerak menuju benteng Utara. Jika bantuan terlambat, nasib prajurit kita bisa dalam bahaya! "
Senyum samar terukir di wajah Tanuki " Kenapa? Kau mengkhawatirkan nasib saudaramu? "
Aora terdiam sejenak, memang benar ia mengkhawatirkan nasib Yora. Untuk alasan itu juga ia bergabung dengan tim bantuan Cops Merah yang selama ini dibencinya. Namun Aora tidak bisa mengungkapkan rasa cemasnya begitu saja. Ia adalah prajurit Sora, tentu perasaan pribadi tidak boleh ia bawa kedalam misi
" Bukan begitu. Hanya saja- "
" Jika kau tidak memiliki jawaban yang pasti. Kau sebaiknya kembali ke pasukanmu. Setelah semua siap, aku akan memerintahkan pasukan untuk bergerak maju! " ucap Tanuki sambil memalingkam wajahnya.
Dalam diri Aora, ia begitu geram dengan sikap tenang Tanuki. Nyawa rekan-rekannya sedang dipertaruhkan, bagaimana bisa pria rakun itu bersikap tenang tanpa rencana seperti ini
" Jika kau tidak keberatan. Ijinkan aku untuk pergi lebih dulu-"
"Silahkan saja! " potong Tanuki. Ia kembali menatap bocah bertopeng rubah didepannya. Seringai licik terukir diwajahnya
" Tapi kau jangan lupa satu hal Aora! Berani kau melangkahkan kaki tanpa perintah resmi dariku kau akan dianggap sebagai pemberontak.
Kau tahu, hukuman bagi prajurit yang melanggar perintah kapten pasukannya kan? Meski kau Tuan muda Sora sekalipun! Disini! Dipasukan ini! Kau tidak lebih dari bawahanku!
Jika sekali lagi kau menentangku, kepalamu mungkin akan lepas dari badamu! Mengerti! " Tanuki melenggang pergi. Aora tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah. Meski jauh didalam dirinya, ia merasakan perasaan aneh. Sesuatu mungkin menimpa Saudaranya sekarang.
......................
__ADS_1
Yora mencoba membuka matanya perlahan. Ia bisa merasakan, sesuatu yang kental dan hangat mengalir dipipinya. Samar, sosok wanita berambut hitam panjang berdiri membelakanginya. Wanita itu menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk melindunginya
Tangan Yora bergetar, matanya membulat sempurna ketika ia mengetahui sosok yang melindunginya dari serangan brutal Yamada. Liontin bulan putih yang tersemat di rambut Yoshiro terjatuh ketanah. Tenggelam didalam darah pemiliknya dan menyisakan berkas noda pada perhiasan cantik itu
Tubuh Yoshiro rubuh ketanah. Tepat dipangkuan putranya, Yoshiro terbaring sekarat. Tubuhnya penuh luka, sementara darah terus keluar dari mulutnya.
"I-ibu?! "Yora masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berusaha menekan luka di perut Yoshiro tapi sayang serangannya terlalu dalam
Sementara itu, Yamada yang baru sadar bahwa lawannya menghilang ditengah pertarungan hanya tersenyum pelan. Ia tidak menyangka, Yoshiro akan menggunakan sihir teleport miliknya untuk menyelamatkan Yora
"Sial! Hampir saja aku berhasil menebasnya. Tapi itu sama saja. Dibunuh olehku atau menyerahkan nyawa demi menyelamatkan putranya. Aku akui, kau memang prajurit sejati Yoshiro! " Yamada tahu, dengan kemampuan sihir yang hebat, bisa saja Yoshiro menghindari serangannya dengan mudah. Tapi dia tetaplah seorang ibu, dan perasaan itu benar-benar Yamada manfaatkan sebagai kelemahan Yoshiro.
Senyum diwajah Yamada tiba-tiba hilang. Tepat didepannya, Yora menatapnya dengan sorot mata dingin menakutkan. Ia tidak pernah melihat sorot mata itu sebelumnya, seolah sesosok monster akan keluar dari tubuh anak itu. Nyali Yamada sedikit menciut, entah apa perasaanya tidak enak dan memilih mundur dari sana
Dengan tubuh sekarat sang ibu dipangkuannya, serta tubuh tidak bernyawa rekan-rekannya yang mengeliling Yora. Aura kegelapan mulai memenuhi diri Yora. Segel Gyoku ditangannya mulai menunjukkan pola bulan yang jelas. Kemarahan yang ia rasakan, kini memakan jiwanya bersama dengan sihir kegelapan yang mulai memekat
"Arghhhh! " Yora merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sejalan dengan itu, langit malam yang cerah kini berubah mendung seketika.
Nafas Yora terengah, ia merasakan tubuhnya terbakar. Namun perasaan itu seketika sirna, ketika ia merasakan kekuatan sihirnya muncak berkali lipat. Dengan tatapan kosong, tubuh Yora sepenuhnya dikuasai sihir kegelapan
Sorot mata dingin, serta ekpresi datar yang diliputi kebencian. Ia menatap Yamada yang berjalan menjauh. Cahaya biru menjalar dari Gyoku di tangannya, menyebar di tanah hingga menciptakan gelombang kekuatan yang besar
Boooommmm....
Rambatan kekuatan kegelapan memenuhi tempat itu. Yamada beserta pasukan Hoshi yang tersisa terlihat ketakutan dan memilih mundur. Namun, belum sempat mereka keluar dari dalam benteng, tembok benteng yang kokoh tiba-tiba rubuh dan menutup jalan
Sedetik kemudian, gerombolan jutaan gagak hitam memenuhi langit malam. Kicauan gagak-gagak itu begitu memekik telinga. Melihat fenomena aneh diatasnya, Yamada berusaha melarikan diri dan menuju gerbang yang lain
" Mata dibalas mata! Gigi dibalas gigi! Sekarang rasakanlah pembalasanku! " gumam Yora pelan
Gak! Gak! Gak!
Gerombolan gagak terbang mengitari benteng, mata burung itu tampak merah menyala. Yamada dan ratusan prajurit masih terjebak di dalam benteng.
" Matilah kalian! " ucap Yora
Seakan mengikuti kehendak Yora, gagak-gagak itu terbang merendah dengan paruh terbuka labar. Sasaran mereka adalah Yamada beserta prajurit Hoshi yang lain. Dengan cepat gagak-gagak sihir itu menerjam tubuh prajurit dan membuat mereka tewas mengenaskan. Hampir seluruh isi perut mereka keluar akibat serangan hewan sihir itu
Yamada berusaha menggunakan sihir anginya untuk menghindari serangan gagak-gagak itu, dan itu berhasil. Ia bisa menghindari serangan Yora tanpa terluka sedikitpun
"Hah... Hah.. Hah" Nafas Yamada terengah, untuk menghindari terjaman gagak ia menggunakan seluruh sihir anginnya. Tenaganya terkuras habis, namun pria botak itu masih bisa memamerkan senyum jahatnya
"Kau masih bisa tersenyum!? " suara Yora terdengar. Yamada kini terjebak di dunia ilusi Yora. Sebuah dunia tanpa ujung ataupun akhir. Tanpa langit ataupun bumi. Hanya dunia hampa berwarna merah darah yang mengelilinginya
" Dimana kau! Anak sialan! " teriak Yamada menangtang Yora. Pandangannya tertuju kesegala arah tapi tidak satupun pandangannya menemukan sosok Yora
Tes! Tes!
__ADS_1
Percikan darah tiba-tiba menetes entah dari mana. Yamada yang merasakan kepalanya dialiri cairan kental pun mengulurkan tangannya untuk mengusap cairan itu. Matanya membulat ketika darah megalir dikepalanya. Kakinya menjadi lemas, hingga jatuh bersimpuh tanpa bisa melakukan apa-apa
Tidak sampai disana, sikasaan Yora terus saja menghantui pria itu. Dari balik kolam darah di bawah kakinya, munculah kelabang raksasa seukuran pohon. Kelabang itu melilit tubuhnya kuat hingga ia kesulitan bernafas. Beberapa kali Yamada berusaha melepaskan diri dari jerat kelabang itu, namun semua sia-sia
"Sekarang, apa kau mengerti apa yang namanya rasa sakit? Kau membunuh orang-orangku tepat didepan mataku. Kali ini, aku pun akan berbuat hal yang sama" kabut hitam muncul dihadapan Yamada. Perlahan berubah menjadi sosok bocah dengan tatapan dingin menyeramkan
"Bunuh aku! Cepat! " ucap Yamada yang tidak bisa menahan siksaan Yora lebih lama lagi
Mendengar hal itu, Yora tersenyum dingin " Membunuhmu? Baiklah! Kau membunuh lebih dari 100 orang rekanku! Jadi akan aku buat kau merasakan hal yang sama! "
Deng!
Mata Yamada membulat sempurna. Kelabang raksasa itu menjerat tubuhnya. Yamada bahkan bisa merasakan, kaki-kaki tajam hewan itu menusuk lehernya kuat. Perlahan-lahan, kaki kelabang itu mengiris sedikit daging dilehernya. Pelan tapi pasti, Yora membuat Yamada mati perlahan. Yamada hanya bisa berteriak sambil memohon agara Yora menghentikan siksaan sadis ini dan segera membunuhnya
"Aku mohon! Hentikan ini! Cepat bunuh aku sekarang juga!!! Arghhhhhhh! "
" Ini baru yang pertama. Kau akan merasakan siksaan serupa yang akan membunuhmu 99X lagi! " ucap Yora, ia pun menghilang dari sana
Manipulasi Ilusi, membuat Yamada terjebak didalam dunia ilusi yang dibuat Yora. Ia pun merasakan apa namanya sensasi terbunuh dengan sadis puluhan kali. Sihir itu akan berakhir hingga ia merasakan kematian yang ke 100. Saat itulah, Yora akan membuat ia benar-benar mati didunia nyata
......................
Di dunia nyata, Yora hanya menatap tubuh Yamada dengan tajam. Sihir kegelapam masih menyelimuti tubuhnya. Beberapa detik kemudiam, sihir Yora membuat kepala Yamada terputus dari tubuhnya. Ia pun mati dengan cara mengenaskan
Yoshiro yang sekarat dipangkuan Yora merasakan sihir hitam menguasai tubuh putranya. Samar ia melihat simbol gyoku Yora berubah menampakkan sebuah bentuk yang menyerupai bulan sabit. Yoshiro akhirnya mengerti bahwa putranya merupakan reinkarnasi sempurna dari tiga pilar penjaga langit yang telah diramalkan
Yohshiro mengumpukan kekutan terakhirnya, ia bermaksud menyegel sihir kegelapan Nue yang memenuhi tubuh putranya
"Yora~" ucapnya ririh memanggil nama putranya. Ia pun menempelkan telapak tangannya dikening Yora. Menekan kegelepan dan menyegelnya kedalam sebuah sihir khusus Clan Bulan.
"Segel! " kekuatan sihir Yoshiro menyerap sihir kegelapan ditubuh Yora
Perlahan kesadaran Yora kembali "I- ibu!" ucapnya dengan raut khawatir
"Ibu tidak apa-apa Yora! Putraku maafkan ibu, mungkin ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik buat kalian!" ucap Yoshiro dengan senyum ririh. Yora hanya menggelengkan kepala, sambil terisak dihadapan Yoshiro
"Ibu harap kau bisa menjaga Aora dengan baik. Ibu percaya padamu Yora! Aku percaya kau akan menjadi kakak yang bisa melindungi adikmu yang pemalas itu"
Yora sadar dengan kondisi ibunya. Ia berusaha tersenyum meski air mata membanjiri pipinya. Yora pun mengangguk, ia berjanji dihadapan sang ibu bahwa ia akan melindungi Yora aoapun yang terjadi
"Hn.... Aku janji, Ibu! "
Yoshiro tersenyum lembut, ia pun mengelus wajah putranya pelan " Ibu bersyukur, Ibu bisa menjadi ibu kalian dikehidupan ini.... Aku menyayangi kalian putraku! " Yoshiro memejamkan matanya dipangkuan Yora.
Rintik air kembali membasahi bumi, bersamaan dengan itu Aora tiba di benteng Utara. Aora hanya memandang kosong dua orang didepannya. Tanpa berani melangkahkan kakinya mendekat, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ibu? Yora! Maafkan aku datang terlambat" gumam Aora sambil meneteskan air mata
__ADS_1