Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Batu Pilar Milik Yuri


__ADS_3

Butiran-butiran halus salju mulai bergerumul, berputar cepat membentuk siluet wanita berambut panjang. Kaki Mirai mulai menapak tanah basah. Suara gemuruh air terdengar nyaring. Tepat didepan Mirai, terdapat sebuah air terjun yang tersembunyi di atara rimbunya hutan di bukit Sora.


"Jadi ini tempatnya. "


Mirai menyipitkan matanya, mencoba melihat jauh kedepan apa yang tersembunyi di balik derasnya air. Mirai sadar, ada sebuah penampakan pintu berlumut yang terbuat dari batu, di sekeliling pintu itu juga dilapisi sebuah segel sihir rumit mengelilinginya.


" Mirai. " Suara berat Yora membuyarkan lamunan Mirai, pria berparas dingin itu pun lantas menghampirinya. Yora tidak sendiri, kali ini ia datang bersama Yuri.


" Kalian sudah datang. " ucap Mirai sambil melangkah menuju tempat di salah sungai.


" Kenapa kalian mengajakku ke tempat seperti ini? " Yuri penasaran, apa sebenarnya maskud Mirai mengundangnya datang ke tempat itu.


" Kau akan tahu sebentar lagi, Yuri. "


Mirai mendapati sebuah tugu yang tertimbun semak belukan. Ia pun segera membesihkan semak-semak itu. Sebuah simbol dari ketiga Clan Sora terlihat. Lambang Matahari, Bulan serta Salju terukir di tugu yang terbuat dari batu itu.


" Ketemu! Leader! " Mirai memanggil Yora agar segera mendekat. Mirai dan Yora saling bertukar pandang sesaat, lalu mengangguk kompak. Kini keduanya mulai mengaktifkan gyoku di tangannya.


Sihir yang keluar di gyoku Mirai dan Yora mulai mengirim kekuatan ke segel batu didepannya. Cahaya sihir biru milik Mirai, serta sihir Hitam milik Yora mulai menyapu permukaan segel, dan memenuhi pola rumit segel dengan kekuatan sihir keduanya.


Dua dari tiga simbol itu, Salju dan Bulan mulai mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Bersamaan dengan itu, pintu batu yang berada di balik air terjun mulai bergetar dan akhirnya terbuka sempurna.


Sebuah jembatan sihir tercipta dan membelah air yang turun secara ajaib. Kekuatan sihir yang besar, membuat air yang jatuh dengan derasnya tiba-tiba berhenti mengalir. Kini sebuah tangga sihir terhubung dengan pintu gua.


"Inilah, Kuil Nue yang selama ini kita cari, Leader. " gumam Mirai tidak percaya.


" Kau benar, Mirai. " Yora mempersilahkan Mirai dan Yuri untuk berjalan lebih dulu.


Mirai mulai menapakan kakinya, dan mencoba menyebrangi jembatan sihir itu dengan hati-hati. Mereka bertiga akhirnya memasuki pintu utama Kuil. Siapa sangka, di balik air terjun biasa terdapat sebuah kuil tersembunyi didalamnya.


Kuil tempat Nue tersegel terlihat begitu megah. Meski dibeberapa titik, tampak lapuk dan tua karena termakan usia. Tapi tetap tidak bisa dipungkiri, struktur bagunan yang terbuat dari perpaduan batu yang kokoh serta beberapa sentuhan kayu itu terlihat begitu cantik. Mirai mulai berjalan melewati sebuah koridor panjang yang menghubungkan pintu dengan aula utama


Di setiap bagian dingding kuil, dipenuhi dengan baisan kaligrafi kuno. Entah apa arti dari setiap toresan didingding itu, yang pasti tulisan kuno itu mungkin dibuat puluhan ribu tahun yang lalu. Tidak hanya itu, lukisan mengenai pertarungan antara dewi salju dan makhluk bernama Nue juga tertata cantik di dingding batu. Membungkus sebuah kisah, betapa hebatnya pertarungan para leluhur mereka dulu.


Ada salah satu lukisan yang menyita perhatian Mirai. Meski tidak terlalu tampak karena ditumbuhi lumut, lukisan itu tetap menyimpan sebuah kisah. Tangan Mirai tergerak untuk memberishkan sisa sisa lumut yang menempel.


"Bukankah ini, Kurasu? Dilihat dari potret ini, ia tidak terlihat seperti iblis. "


Di sana sosok pria bermata teduh (Kurasu) tengah berdiri berdampingan dengan seorang dewi secantik salju (Yuki). Mereka tampak saling mencintai. Hal itu terlihat jelas terlihat dari bagaimana cara Kurasu menggandeng tangan sang Dewi.


"Jadi, ini sebabnya Kurasu memperlakukanku berbeda, ia menganggapku seperti dewi Salju. Wanita itu, ternyata sangat dicintai Kurasu. " Mirai sempat terbuai dengan pemandangan didepannya, ia seakan merasakan de javu dari lukisan di depannya.


Tanpa disadari Mirai, air matanya menetes begitu saja.


" Ada apa denganku? Kenapa aku menangis? " Mirai segera mengusap pipinya kasar.


Mirai masih sibuk dengan dunianya, tanpa sadar sejak tadi Yora sudah memanggil namanya.


" Mirai! Kau mendengarkanku? "


" Ah! Iya... " Mirai terbangun dari lamunanya dan langsung bergegas menghampiri Yora. Saat ia mulai memasuki aula kuil yang luas, langkah Mirai terhenti begitu saja ketika ia melihat sebuah simbol besar di ujung kakinya


Tepat di tengah kuil, terdapat sebuah segel besar membentuk lambang salju di lantai. Mirai dapat merasakan, sebuah kekuatan kegelapan tersegel di dalam sana. Tidak salah lagi, inilah segel Nue yang harus segera ia perbaiki.


"Mirai, bisakah kau mengeluarkan kitab merah Nue yang kau dapatkan dari markas Cops Awan Merah? " gumam Yora pelan


" Ini. " Mirai segera mengeluarkan kitab merah. Sementara Yora, mengeluarkan kitab putih yang ia miliki sebelumnya. Dua kitab digabung dengan bantuan sihir Yora, dan membentuk sebuah kitab baru yang di sebut Kitab Nue.


Yora mulai membuka lembar demi lembar kitab yang kini berubah menjadi hitam pada sampulnya. Di sana jelas tertulis, bagaimana cara menyegel Kurasu.


"Mirai lihatlah ini, disini tertulis. Kita harus mengumpulkan empat batu pilar dan menanamnya di keempat sisi segel Nue. "


Mirai mulai memperhatikan sekelilingnya. Memang benar, di empat titik segel terdapat bagian yang hilang. Ukurannya pun sangat pas dengan batu pilar yang selama ini ia kumpulkan.

__ADS_1


" Disini juga tertulis, jika hendak melakukan ritual, kita harus berdiri di masing-masing patung Sang Pilar. Sesuai asal pilar kita. " tunjuk Yora


Di dalam ruangan itu, terdapat tiga patung Pilar penjaga langit yang masing-masing berdiri mengelilingi segel. Tiga patung itu adalah Aorasu sang pilar matahari. Yorasu sang pilar Bulan. Dan terakhir, patung yang berada di antara keduanya, Yuki sang dewi salju.


Kini pandangan Mirai justru tertuju pada Yuri. Sejak tadi, gadis itu hanya diam dengan raut wajah kebingungan.


"Yuri, dengarkan aku. Alasan kami mengajakmu datang ketempat ini adalah untuk meminta batuan yang cukup besar darimu. " ucap Mirai pelan


Yuri akhirnya paham maksud Mirai. Raut wajahnya mulai melembut, ia tahu saat seperti ini akan datang suatu saat nanti.


" Kau ingin mengeluarkan batu pilar ke dua, Mirai? Jika itu maksudmu, kau tidak perlu meminta izinku. Kapanpun, aku siap menyarahkan batu ini! "


Mirai melirik Yora sekilas, Yora hanya mengangguk pelan.


" Tapi resiko yang kau harus hadapi cukup tinggi. Jika batu yang selama ini ada di tubuhmu diangkat secara paksa, kau bisa saja tewas. Bukan hanya itu, rasa sakit yang akan kau rasakan selama mengeluarkan batu pilar juga sangat hebat. " ucap Mirai mantap, ia mencoba menjelaskan apa yang mungkin terjadi kepada Yuri


" Jika kau belum siap untuk itu, kita bisa menundanya! " tawar Yora. Ia tahu, gadis didepannya sudah mengorbankan banyak hal, tentu Yora atau Mirai tidak mau memaksa Yuri untuk melakukan hal beresiko ini.


Yuri terdiam sejenak, manik rubynya tampak menimbang ucapan Mirai.


Namun sedetik kemudian, seulas senyum terukir di wajah sayunya. Ia pun mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.


Kini Yuri hanya mengenakan tank top tipis, dan mulai membalik punggungnya. Yuri pun mulai menurunkan tali tipis yang bertengger di bahunya. Menyikap sedikit tank top, dan memperlihatkan punggunya yang dipenuhi sisik ular. Tampak jelas, guratan batu pilar ke dua tertanam di punggungnya.


"Kalian tahu, selama hidupku aku diperlaukan sebagai moster karena batu ini. Bahkan ibuku sendiri, telah membuangku. Sebelum aku bertemu kalian semua, tidak ada yang pernah mengharagai hidup seorang Yuri. Aku hanyalah benda yang dianggap membawa kutukan.


Tapi kalian memperlakukanku berbeda. Hidup bersama Yora dan anggota Tengu yang lain membuatku mengetahui apa artinya kebersamaan dengan orang-orang.


Terima kasih, telah menerima keberadaanku. Kali ini, biarkan aku memberikan kekuatan miliku yang paling berharga ini untuk melindungi orang-orang. " ucap Yuri mantap.


" Yuri.... "


Yora mulai menghampiri Yuri. Dan memegang kedua bahu rapuh itu. Tidak ada sorot dingin dikedua manik kelam Yora. Yuri sempat tertegun, untuk pertama kalinya ia melihat Yora begitu hangat memandangnya. Manik sekelam malam kini tenggelam kedalam manik ruby Yuri, keduanya hanya saling menatap dalam diam.


" Aku menghargai keputusanmu, Yuri. Kalau begitu, akan aku mulai proses mengeluarkan batu itu dari dalam tubuhmu.


Yuri hanya mengangguk paham. Pandangannya tidak bisa ia alihkan dari pria tinggi didepannya.


......................


Proses ektraksi di mulai. Sebelumnya, Mirai membuat segel sihir di beberapa titik tubuh Yuri. Hal itu bertujuan menbuat kekuatan pilar melemah, dan tidak meledak keluar ketika ektrasi berlangsung. Beberapa pisau medis juga Mirai siapkan.


Yuri duduk membelakangi Mirai, sementara Yora masih setia memegangi kedua bahu Yuri dan duduk bersila tepat didepannya.


"Kau tidak perlu khawatir. Mirai akan membuat prosesnya lebih cepat. Jika kau merasakan sakit, kau bisa memegang lenganku. " tawar Yora dengan eksprsi datar khasnya. Tapibsorot khawatir tidak pernah lepas dari sosok cantik didepannya.


" Pemandangan ini, tunggu dulu...... Situasi norak apa ini? " gumam Mirai


Mirai yang melihat pemandangan didepannya merasa heran. Kenapa ia merasakan seperti membantu proses persalinan dari pasutri yang masih anget-angetnya nge-bucin? Heh! Mirai yakin ada sesuatu di antara kedua orang itu.


" Akan aku Mulai! Bersiaplah!" ucap Mirai yang dibalas anggukan kompak keduanya


Mirai mulai mengaktifkan Gyokunya. Kali ini ia tidak menggunakan Kenkou. Hal itu karena kekuatan penyembuh miliknya begitu mirip dengan kekuatan batu pilar. Kenkou justru tidak akan berpengaruh sama sekali dalam situasi ini.


Mirai menutuskann untuk menggunakan sihir es miliknya. Mula-mula, ia menbekukan bagian disekitar tempat batu tertanam. Membuat aliran darah di sebagian punggung Yuri berhenti. Kekuatan Mirai mulai di rasakan Yuri, gadis berambut merah itu hanya bisa mengigit bibirnya sambil menahan rasa sakit.


Pembekuan berhasil.


"Aku akan mulai langkah kedua. Bersiaplah, ini lebih sakit dari sebelumnya! "


Keringat tipis membanjiri kening Yuri. Tubuhnya mulai bergetar hebat, sepeti saran Yora ia pun mulai mencengkram lengan kokoh pria itu.


" Bertahanlah, Yuri! " Yora mulai menyemangati Yuri. Meski dalam keadaan sakit, Yuri masih bisa tersenyum sambil mengangguk pelan.

__ADS_1


Mirai mulai mengaktifkan gyokunya, kali ini ia menggunakan kekuatan penghisap jiwa untuk melemahkan segel yang ditanam Oro-ryu di tubuh Yuri. Segel khusus di tanam untuk melindungi batu pilar dicuri dari Yuri, hal itulah yang membuat proses pelepasan batu berjalan rumit.


Dengan kekuatan penghisap jiwa Mirai, sisik ular yang memenuhi punggung Yuri mulai menghilang sedikit demi sedikit.


" Argh! " Yuri menggerang pelan, ia merasakan kulit punggungnya terbakar dan mengelupas. Tidak hanya itu, saking kuatnya segel, beberapa organ didalam tubuh Yuri mulai terkoyak. Hal itu menyebabkan darah segar keluar dari mulutnya. Jika bisa dibandingkan, siksaan yang ia terima bahkan setara jika seseorang diceburkan ke bara api hidup-hidup.


Di sisi lain, Yora mulai tidak tega melihat Yuri menderita. Ia hendak memtransfer energinya, berharap dengan memakan sedikit energi kehidupannya, Yuri akan merasakan sedikit rasa sakit. Namun hal itu justru terlihat oleh Mirai.


"Hya! Leader, jangan coba-coba kau mentransfer kekuatanmu pada Yuri. Jika kau lakukan itu, seluruh usahaku akan sia-sia! " hardik Mirai


" Lalu apa yang bisa aku lakukan. Jika seperti ini, Yuri bisa mati karena rasa sakit! "


Mirai menghela nafas berat. Jujur baru kali ini ia melihat Yora bersikap berlebihan. Pria yang biasa tenang dan kalem, bahkan ketika pedang bergantung dilehernya. Pria yang selelu bertindak dengan kepala dingin, Tapi kenapa sekarang Yora berubah gegabah?!


" Kau mungkin tidak tahu, wanita jauh lebih baik ketika menahan rasa sakit. Tidak seperti pria, kami ini makhluk yang kuat! "


Mirai mulai mengambil pisau medis. Kenkou mulai tersalur di tangannya, dengan sihirnya itu Mirai mulai melapisi pisau dengan kekuatan penyembuhan.


" Ini adalah langkah terakhir, bersiaplah Yuri. "


Mirai hendak membuat sobekan di punggung Yuri untuk mengeluarkan batu itu. Namun, ketika pisau hendak menyentuh kulit Yuri, Mirai tiba-tiba menghentikan aksinya


" Ada apa? Kenapa kau berhenti tiba-tiba?! "


Mirai menatap Yora lekat, senyuman penuh arti terukir di wajahnya. Sebelumnya, Mirai sudah mengatakan kepada Yora, bahwa proses pengambilan batu di tubuh Yuri aman jika Mirai sendiri yang melakukannya. Bagaimanapun teknik medis Mirai sudah melampaui manusia normal.


Mirai sengaja berbohong, bahwa selama pengangkatan Yuri bisa saja tewas, semua itu dilakukannya untuk mengetahui tekad Yuri. Mirai ingin tahu sebera serius ucapan Yuri untuk memberikan batu pilar ke dua. Dan sudah dibuktikan Yuri. Tapi melihat Yora panik, membuat sifat jail Mirai tumbuh dengan suburnya.


"Kali ini, Yuri akan merasakan 10 kali rasa sakit dibanding sebelumnya! " ucap Mirai penuh kebohongan. Hal itu sontak merubah raut wajah Yora seketika. Pria tampang lempeng itu sukses dibuat Mirai pucat pasi.


" Lakukan saja Mirai. Aku akan coba menahanya! Arkh! " Yuri mencoba menahan rasa sakit di punggungnya. Mirai pun kembali mengarahkan pisaunya.


" T- tunggu dulu! Apa tidak ada cara untuk mengurangi rasa sakitnya?! " Yora tiba-tiba mengintrupsi


" Ada! "


" A-apa itu? "


Mirai mencoba menyembunyikan senyuman diwajahnya. Jujur, proses kali ini jauh dari rasa sakit. Yuri sudah berhasil menjalani pelepasan segel, itu artinya Mirai hanya perlu mengeluarkan batu yang tertanam seperti biasa.


Tapi..... Mirai akan membuat hal itu berbeda.


"Cepat katakan Mirai! "


" Leader yakin mau melakukannya? "


" Tentu saja, apapun itu. " ucap Yora cepat. Ternyata dia sama saja dengan Aora, bersikap ceroboh jika berhadapan dengan sesuatu yang disukainya.


" Baiklah! Kalau begitu, cepat peluk Yuri! Kau tahu, berbagi energi Yin dan Yang akan meredakan sakitnya! " Mirai spontan mengucapkan alasan absurd. Ia hanya berucap asal dan itu keluar begitu saja dari otak liciknya.


" I- itu, aku rasa tidak usah Mirai.... "ucap Yuri samabil berusaha mengatur bafasnya.


Namun...


Grabb....


Yora langsung mengukung tubuh Yuri kedalam pelukannya. Melihat hal itu, Mirai hanya bisa membuka mulutnya lebar. Tidak mungkin!


" Tunggu apa lagi! Cepat lakukan, Mirai. " Yora mengeratkan pelukannya.


Masih dengan kondisi super Syok, Mirai dengan mudah mengeluarkan batu berwarna hijau toska itu. Batu tiga pilar akhirnya keluar dari tubuh Yuri. Dengan Kenkou miliknya, Mirai segera menutup luka dan menyembuhkan Yuri


" Aku sudah selesai, kalian bisa... " ucapan Mirai terhenti.

__ADS_1


Melihat dua orang didepannya saling berpelukan erat, membuat Mirai sedikit salah tingkah. Ia merasa, bagai nyamuk yang mengganggu momen romatis orang lain.


" Ehem... Haruskah aku keluar dulu? Situasi ini, membuatku serba salah! Aish! "


__ADS_2