
Sore hari yang masih sangat terik Di Desa Sora, selepas Aora pergi Mirai hanya berjalan-jalan di pusat Desa untuk menghabiskan hari liburnya.
Meski rencananya ia ingin menghabiskan waktu dengan Aora, yang mungkin sangat jarang ia lakukan, tapi mau bagaimana lagi tugas penting memanggil kekasihnya itu
Di tengah pasar, Mirai melihat gadis kecil yang begitu familiar utuknya, siapa lagi kalau bukan Yuhee yang tengah asyik memilih beberapa barang bersama sang ibu yang baru saja berkumpul dengannya
Senyum sumbringah mengembang di wajah sayu Mirai, ia begitu senang melihat keakaraban antara ibu dan anak di depannya, bahkan ia merasakan kebahagian Yuhee meski hanya memandang sosok muridnya dari jauh
"Yuhee....... "
Mirai putuskan untuk menghampiri muridnya, sambil berlari kecil. Mendengar namanya di panggil, gadis berambut coklat itu pun menyambut Mirai dengan senyuman
"Kak Mirai,sedang apa kau disini? "
" Apa kau saja yang sedang berkencan, aku juga tau" ucap Mirai tidak terima, namun tetu saja ia iri dengan kebersamaan Yuhee dan ibunya
"Apa kabar Bibi Kyuhee" sambung Mirai memberi salam pada ibu Yuhee
"Baik nona Mirai" balas Kyuhee ramah
"Jadi maksudmu berkencan, kau hanya mengjabiskan eaktu berjalan-jalan seorang diri? Dimana kak Aora? "
Yuhee memang sangat peka, ia tahu Mirai biasanya menghabiskan waktu dengan Aora jika tidak bekerja atau mengajar
" Rapat, benar-benar membosankan" gerutu Mirai
"Hem.... Ternyata mempunyai pria keren berstatus komandan militer memang merepotkan ya......
Ibu kalau begitu, daripada berkencan aku akan terus hidup denganmu..... Selamanya..... "ucap Yuhee sambil memeluk ibunya
" Ck... Awas saja kau Yuhee, kalau aku dengar kau menyukai seseorang, aku orang pertama yang akan menyentil dahimu. Ingat itu!
Ngomong-ngomong, apa nyonya Kyuhee akan tinggal di Sora? " ucap Mirai penasaran
" Iya Nona, Tuan muda Hotaru sudah memberikan Ijinya, Ketua Zen juga menginjinkan saya untuk membantu sebagai utusan Hoshi untuk Desa Sora.
Jadi kami bisa hidup bersama sekarang"
"Syukurlah...... Aku senang mendengarnya..."
Pandangan Mirai tertuju pada kerumunan orang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tunggu, apa itu? Bibi, Yuhee aku pergi dulu
Sampai jumpa"
Mirai putuskan untuk mendekat, karena penasaran apa yang membuat orang-orang memadati papan penyampain berita di desa Sora
Sebuah selebaran tertempel, berita mengenai Organisasi penjahat Tengu terpangpang dan menjadi berita utama di Desa
"Tengu?" gumamnya tidak percaya
Mirai melihat berita mengenai penyerangan yang di lakukan Tengu. Ia bahkan dapat mendengar, beberapa masyarakat mengutuk anggota Tengu karena penyerangan brutal terhadap beberapa desa di Negeri Sora
"Apa-apaan ini? Kita tidak pernah melakukan hal sekeji ini" gumam Mirai
Tangan Mirai mengepal, siapa orang yang berani membuat ulah dengan menyeret nama Tengu. Tentu itu tidak bisa di biarkan
Mirai pun mencoba pergi dari sana, ia harus menyelidiki apa yang terjadi.
Namun, baru saja Mirai hendak melangkahkan kakinya, seseorang memanggil namanya
__ADS_1
"Mirai...... Kau disini? Hah... Hah... Hah
Kemana saja kau, aku dari tadi mencarimu"
"Hanna? Ada apa "
Nafas Hanna masih berpacu, sadar ada yang tidak beres sehingga Hanna begitu tergesa-gesa, bahkan Mirai dapat melihat keringan membanjiri wajah Hanna
" Aora.... Aora dilarikan ke rumah Sakit, Mirai"
"Apa maksudmu? "
......................
Di sebuah ruang perawatan, Mirai hanya memandang diam laki-laki berambut perak yang tengah tertidur lelap di depanya.
Beberapa bekas luka tampak jelas di wajah serta tubuh Aora, setelah mendengar kabar mengejutkan dari Hanna, Mirai segera bergegas menuju rumah sakit Sora dan mendapati pria yang bahkan baru saja menikmati semangkuk Kare dengannya jatuh pingsan hingga di bawa ke rumah sakit
Hanna mengatakan bahwa Aora sempat mengamuk ketika menghadiri rapat berasama ketua Zen, menurut Hanna tubuh Aora sempat dikuasai sihir kegelapan yang membuatnya menyerang gurunya sendiri.
Aora bahkan tidak bisa membedakan teman-temannya, yang ia lakukan hanyalah mengamuk serta menampakan mata merah menyeramkan layaknya monster.
Hanna juga menambahkan, bahwa Tuan Tanuki masuk begitu saja ke dalam rapat, dan mengejek orang tua Aora sehingga membuat Aora kehilangan kendali
"Ada apa denganmu? Kau bukan tipe orang yang melakukan semua itu, terlebih kepada guru yang begitu kau hormati hanya karena amarah menguasai dirimu, Aora"
Mirai menatap lekat pria yang tengah tertidur pulas di depannya, sesekali membenarkan selimut yang menutupi tubuh Aora
Pandangan Mirai kini tertuju pada telapak tangan Aora, simbol matahari tampak jelas terlihat. Sebuah simbol Gyoku yang benar-benar mirip dengan miliknya
Mirai mengusap lembut tangan Aora, Mirai dapat merasakan tangan besar nan kokoh itu terasa hangat dan membuatnya begitu nyaman. Meski hanya tertidur karena kelelahan, Mirai begitu mengkawatirkan Aora
Dalam lamunnanya, Mirai mengingat kejadian yang menimpanya 8 tahun yang lalu, tepat saat ia bertemu Xio untuk pertama kalianya
Ketika ia benar-benar mencapai titik terendah dalam hidupnya, kekuatan mengerikan itu akan bangkit dalam dirinya. Ia tidak bisa membedakan, mana kawan atau lawan. Yang ia rasakan hanya amarah dan kebencian yang menguasai tubuhnya
Jika bukan karena Xio yang menyegel kekuatan mengerikan itu, ia mungkin akan membunuh lebih banyak orang selain prajurit yang menyiksanya 8 tahun lalu
"Apa semua itu, karena kekuatan di dalam tubuh kita?
Jika itu benar-benar terjadi, kita mungkin terhubung lewat ikatan khusus di masa lalu, Aora
Gyoku yang sama persis, kekuatan mengerikan yang tertidur dalam diri kita. Aku penasaran, apakah Xio juga pernah mengalami hal yang sama? " gumam Mirai
Mirai pun bangkit berdiri, meninggalkan tempat duduk yang sudah berjam-jam ia tempati itu. Ia tidak ingin beranjak dari sana, namun sesuatu yang penting harus segera ia laksanakan.
Misi Tengu, serta kebanaran rumor aneh yang menyeret nama organisasi yang menaunginya selama ini
Mirai putuskan untuk menyusup ke markas Cops merah malam ini, ia ingin menyelidiki siapa pria bernama Tanuki itu.
Pria yang membuat Aora seperti ini dan bahkan sang Leader pun begitu penasaran dengan pemimpin Cops Merah itu
Sebelum pergi Mirai mengelus pelan kepala Aora, setitik cahaya keluar dari jari telujuk Mirai. Mirai menyalurkan kekuatan Sihir medisnya, untuk membuat Aora segera pulih kembali serta menyembukan luka di tubuhnya
"Aku harap kau segera pulih, aku merindukan semua hal manis yang kau lakukan untukku
Selamat malam, Aora
Aku mencintaimu...... " gumam Mirai ririh, dengan senyum lembut menghiasi wajah cantiknya
Sesaat setelah itu, Mirai pun berubah menjadi butiran salju dan lenyap begitu saja.
__ADS_1
......................
Di markas Cops Merah, stempel penyegelan Sora menghiasi setiap sudut ruang bawah tanah milik Tanuki itu. Meski sudah dibekukan oleh ketua Zen, nyatanya Tanuki masih melenggang bebas di tempat yang menjadi markas sekaligus rumahnya di Desa Sora
Ia tidak peduli seberapa kuat Zen menekannya, aturan itu tidak bisa menghilangkan fakta, bahwa dirinya juga bagian penting dalam sejarah Desa Sora, terlebih kostribusi Tanuki untuk Sora di masa lalu
Pria berkimono hitam dengan wajah keriput yang hampir setengahnya dililit perban, tengah duduk santai di meja kerjanya sambil membaca sebuah buku.
Tidak ada lusinan Cops Merah yang menjaga tempat itu, setelah pembubaran Cops Merah, hanya beberapa anak buah Tanuki yang diijinkan mengawalnya
Slap.... Slap... Slap....
Tanuki membalik halaman demi halaman kitab tebal di depannya. Namun, suasana berbeda ia rasakan, suhu ruangannya turun drastis begitu saja, angin dingin yang entah datang dari mana tiba-tiba bertiup di ruangan bawah tanah miliknya
"Apa ini? "
Tanuki merasakan kekuatan aneh mendekat, ia bahkan dapat merasakan uap panas keluar dari mulutnya, tubuh tuanya mejadi begitu dingin bahkan di tengah cuaca musim panas
Krtttak... Krettttak.....
Tiba-tiba saja, gumpalan es mejalar masuk dari luar ruangannya, membekukan pintu, lantai serta barang-barang di dalam ruangan Tanuki dalam waktu cepat. Akibat hawa dingin yang kuat, bahkan secangkir ocha panas di meja Tanuki menjadi beku seketika
Sadar ada yang tidak beres Tanuki pun memanggil anak buahnya yang bertugas berjaga di luar
"Apa ada orang diluar!!!!!! "
Tidak ada respon dari penjaga yang berjaga di luar, sementara lantai di depannya semakin membeku dan terus menjalar ke arahnya.
Jika ia diam disitu, bisa saja tubuhnya ikut membeku
Tanuki mengaktifkan Gyoku di tangannya, ia menggunakan sihirnya untuk mengangatkan tubuh dengan elemen api miliknya.
Di tengah ruang yang kian membeku itu, Tanuki dapat bertahan dan lepas dari serangan musuh dengan sihirnya
"Tujukkan siapa kau!!!!! Beraninya kau main-main dengan Tanuki!!! " ucap Tanuki garang
Tanuki pun menembus tembok di depannya, sebuah serangan berlapis bola api panas menembus tembok ruangannya yang membeku. Bahkan dengan sekali serangan saja, Tanuki dapat merubuhkan tembok ruangannya begitu saja
Brakkkkkk
Tanuki berkalan keluar dengan santai, ia bahkan dapat melihat para penjaga yang sudah tewas membeku di depannya.
Dan sosok wanita bertopeng, dengan rambut panjang terhempas angin di depannya mungkin penyebab semua itu. Tanuki bahkan melihat cahaya biru terang dari gyoku miliknya
" Siapa kau? Dilihat dari teknikmu, kau mungkin berasal dari Clan Saju
Tapi semua itu mustahil, Clan itu sudah lama punah"
Tanuki menatap tajam sosok misterius dengan topeng menutup wajahnya, meski dalam jarak yang jauh Tanuki dapat melihat kilapan iris ungu di balik sosok bertopeng itu
Sosok dengan rambut hitam panjang yang mengenakan pakaian serba hitam, serta menyembunyikan identitasnya lewat topeng yang menutupi wajahnya.
Dia adalah Mirai yang tengah menyusup kedalam markas Tanuki. Mirai berusaha menakut-nakuti Tanuki, dengan menggunakan sesikit sihir istimewanya
"Anggap saja aku iblis, yang datang untuk menjemput nyawamu"
Tanuki hanya tersenyum licik melihat sosok di depannya, ia tahu siapa orang yang berani menyerangnya itu.
Tatapan dingin di balik topeng itu, hanya satu gadis yang selalu menatapnya seperti itu.
"Lama Tidak berjumpa, gadis kecil. Apa kau masih mengingat suaraku?
__ADS_1
Oh ya.... Aku lupa kau bukan gadis kecil lagi. Kau bahkan memberikan kejutan menarik untuk pamanmu ini
Aku tidak menyangka, setelah kau kabur dari genggamanku kau sendiri yang justru datang menemuiku"