
Jam di kantor Aora sudah menunjukan pukul 01.00 siang, sudah dua jam lamanya pertemuan antara Pemimpin ke-3 negara berakhir. Namun, itu bukanlah akhir bagi tugasnya yang masih menggunung dan harus di selesaikan.
"Hah..... Pemimpin Tsuki, membuatku harus bekerja lembur" keluh Aora
Hisui memang menaruh kepercayaan kepada Sora selama penyelidikan yang menyeret namanya dalam Kasus peledakan Asrama Sora. Tapi, sebagai seorang Pemimpin Negara Tsuki, tentu ia harus mempertimbangkan dengan serius tawaran Sora atau Hoshi, apakah menguntungkan negaranya apa tidak. Bisnis tetaplah bisnis, kerja sama akan terjalin jika semua pihak diuntungkan
Aora masih berkutat dengan tumpukan dokumen di mejanya, ia harus segera menemukan tawaran menarik untuk Negeri Tsuki. Sehingga dapat mengangkat perekonomian Sora dengan kerja sama dengan Negara lain.
Sora memerlukan bantuan Tsuki, sementara Tsuki memerlukan Hoshi, sedangkan Hoshi ingin membangun ikatan persahabatan dengan Sora. Karean masa lalu kedua Negara yang pernah menjadi musuh bebuyutan. Bukankah hubungan ketiga negara seperti lingkaran tidak berujung?
"Hah.... Semua dokumen ini, aku harus membaca dan segera menemukan solusi untuk memulai kerja sama.... " Keluh Aora
Sambil terus menulis di selemebar kertas, sesekali membalik beberapa dokumen refrensi, mata merah kecoklatan Aora tidak bisa menyembunyikan rasa bosannya.
Bagi pria pemalas yang mementiknan kenyamanan dan benci hal yang merepotkan, duduk di kantornya dengan segudang dokumen merupakan momok paling mengerikan bagi Aora. Ia lebih memilih bekerja di lapangan daripada menghabiskan waktu yang membosankan
Aora mulai bosan, didalam pikirannya dia hanya ingin tidur siang di bawah pohon rindang dihari cerah seperti hari ini. Dengan menempelkan wajahnya di meja kerjanya, ia berusaha terus menulis tanpa mempedulikan seseorang telah berdiri tepat di depannya
"Hah! Kapan semua ini selesai? Jika semua berakhir, aku akan menuntut libur pada pak tua itu. Apapun yang terjadi" gumam Aora, sekali lagi dengan helaan nafas menandakan bahwa ia benar-benar bosan. Namun, sesuatu tampak ia rasakan
"Apa ini? Kenapa tiba-toba suasana berubah mencengkram seperti ini? "
Aora pun mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya dia, sesosok wanita berambut panjang dengan lingkar mata menghitam menatapnya sambil berkacak pinggang
" Wuaaaaaaa... Kk... Kau mengagetkanku Mirai! " ucap Aora dengan wajah terkejutnya
Mirai tidak mendengarkan keluhan Aora, ia masih setia berkacak pinggang, sambil menatap tajam Aora
" Apa-apaan kau pemalas, kenapa kau menulis sambil membungkuk heh? " ucap Mirai sambil menatap Aora horor
" Aku bosan" ucal Aora sambil melanjutkan posisis menulis tidak sehatnya itu
Mirai berdecak, lalu berjalan ke arah belakang kursi Aora. Ia pun membenarkan posisi duduk Aora, membuat pria berambut abu duduk di kursi membentuk sudut 90° dengan posisi tegak ke arah meja
"Jika kau melakukan kebiasan bodoh ini terus menerus. Kau akan merusak tulang belakangmu, dan juga membuat pinggangmu cedera
Kau tahu betapa pentingnya pinggang bagi seorang laki-laki? Hah! " ucap Mirai marah, dengan wajah horor
Aora hanya mengernyitkan alisnya, memangnya hanya pria yang menganggap pinggang bagian penting, bukankah tangan, kaki serta kepala juga penting?
" Ada apa memang dengan pinggang? " ucap Aora polos
" T... Tidak... Kau salah paham Aora! Aku hanya mengingatkan saja! " ucap Mirai memalingkan wajahnya, ia mengutuk dirinya sendiri kenapa membahas hal itu. Tentu dengan semburat merah dipipinya
" Begitu... Tapi posisi ini membuatku tidak nyaman Mirai" keluh Aora
__ADS_1
"Diam! " ucap Mirai, Aora langsung menghentikan keluhannya dan mulai bekerja
Mirai pun berjalan menuju sofa di dalam ruang kerja Aora, lalu meletakkan sebuah kotak bekal di meja
" Aku membawa bekal untukmu, makanlah.... Kau pasti belum sempat makan dari tadi" ucap Mirai sambil duduk di Sofa, membuka bungkus bekal untuk Aora
Seketika itu, pandangan Aora tetuju pada gadis yang duduk di Sofa, matanya tampak berbinar. Untuk pertama kalinya ia akan memakan masakan buatan Mirai
"Kau sendiri yang memasaknya Mirai? Aku jadi terharu " ucap Aora mendramatisir
Mirai hanya menatap Pria di depannya, tampaknya Aora begitu menaruh harapan terhadapnya
" Tidak.... Mana mungkin aku bisa memasak. Aku membelinya di salah satu kedai ketika menuju ke sini" ucap mirai dengan tampang tidak berdosanya, seketika itu harapan Aora sirna
"Ck.... Setidaknya aku mengantri selama 30 menit untuk mendapatkan bekal ini. Makanlah, kau jangan banyak bicara Aora" ucap Mirai
Aora hanya bisa menelan ludah, bagaimanapun ia belum bisa menjinakkan sikap bar-bar Mirai, yang semakin menggila hari demi hari
"T... Tunggu sebentar, biarkan aku menyelesaikan ini dulu" ucap Aora
Tidak ada balasan dari Mirai, Aora pun melanjutkan kerjanya sebentar
~15 menit kemudian~
"Kau pasti lelah, sudah 2 hari kau tidak tidur "Aora menatap Mirai dengan pandangn melembut
Ia meliha sosok cantik di depannya tengah duduk di Sofa sambil menyandarkan tubuhnya. Mirai tertidur lelap bahkan sesaat setelah ia duduk di sofa. Dengkuran halus (?) Bahkan terdengar hingga ke meja Aora
Tidak... Sebenarnya posisi tidur Mirai jauh dari kata cantik. Mirai tidur dengan posisi menyandar, sehingga kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka. Dengkuran keras, bisa Aora dengan dari radius yang jauh
"Bahkan belum lama aku menyuruhmu menunggu, kau sudah tidur Mirai" ucap Aora sambil menggelengkan kepalanya
Aora hanya bisa tersenyum, meski wajahnya tertutup masker, senyuman tampak jelas dari matanya yang membentuk bulan sabit. Aora pun berjalan ke arah Sofa
"Jika kau tidur dalam posisi ini, kau juga akan mengalami cidera leher, Mirai" ucap Aora sambil tekekeh
Ia pun mengangkat tubuh mungil Mirai, membenarkan posisi tidurnya di Sofa. Dengan telaten Aora melepas sepatu Mirai, membaringkannya dengan nyaman. Aora pun langsung melepas rompi Militernya dan menggunakannya sebagai bantal Mirai
Tak lupa, Aora mengambil selimut di bawah meja kerjanya, karena sering lembur dan menginap di kantor, Aora memiliki selimut ektra di kantornya
Ia pun menyelimuti pelan tubuh Mirai yang masih pulas tertidur, ia tidak ingin wanitanya kedinginan dan mengganggu tidur lelapnya
Aora tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, baginya jarang-jarang melihat Mirai yang tertidur. Aora pun duduk di samping Mirai, memandang sosok cantik gadis berambut hitam panjang itu
"Jika kau tertidur seperti ini, kau begitu polos Mirai. Tidak akan ada yang menyangka kau gadis berkepribadian bar-bar dengan ekpresi dingin" ucap Aora sambil mengelus pelan kepala Mirai
__ADS_1
Kini pandangan Aora tertuju ke arah tangan kecil Mirai, ia pun mengenggam tangan kecil nan kokoh itu.
"Bagaimana tangan sekecil ini, bisa melakukan hal yang hebat? " ucap Aora sambil mengaitkan tangannya dengan tangan Mirai
Ukuran Tangan Mirai jauh lebih kecil dari miliknya. Beberapa goresan terlihat menghiasi tangan putih itu, serta kuku cantik Mirai yang sengaja ia patahkan demi menyelidiki kasus Korban pembunuhan
"Aku sudah mendengarnya dari Rou, kau bahkan mematahkan kukumu dengan paksa demi mendapat sebuah petunjuk " ucap Aora
Ia memgelus pelan jari Mirai, dengan ekpresi yang sarat akan penyesalan di wajah bermaskernya
Aora sadar, bagi wanita entah itu rambut atau tatanan kuku merupakan simbol kecantikan, ia juga tidak mau Mirai melakukan pengorbanan seperti itu, dan memaksakan melukai tubuhnya demi membantunya menyelidiki kasus Asrama Sora
Namun, Aora mengerti maksud Mirai, gadis itu hanya ingin membantunya. Jika keadaan terbalik, dan Mirai di posisi terdesak, Aora bahkan rela mempertaruhkan segalanya demi menolong Mirai
"Terima kasih" ucap Aora pelan
"Bahkan di saat pertama aku melihatmu, kau sudah membuat jantungku berdetak kencang. Aku sangat bersyukur kau ada bersamaku, Terima kasih Mirai" gumam pelan Aora
Aora teringat saat pertama kali ia melihat sosok Mirai di gerbang Sora. Entah kenapa, jantungnya seakan berpacu ketika Mirai berjalan mendekat ke arahnya. Pandangan mata Lefender Mirai, seakan bisa menembus pertahanan di hati Aora.
Di saat bersamaan Aora merasa ia pernah bertemu Mirai sebelumnya, tapi dimana?
Karena alasan itulah, ketika misi pertama atau ketika ia di tugaskan mengantar Mirai menghadap ketua Zen, Aora memperlihatkan sikap bodoh dan cerobohnya di depan Mirai. Nyatanya sikapnya jauh berbeda dengan apa yang ia perlihatkan di hadapan Mirai. Aora melakukan semua itu, Semata-mata ia hanya ingin lebih dekat dengan gadis itu
Aora hanya bisa tersenyum, sambil mengingat kelakuannya di hadapan Mirai
"Mungkin karena itu, kau selalu memperlakukanku dengan baik. Kau pasti menganggapku benar-benar bodoh dan ceroboh Mirai" gumam Aora
Ia pun membenarkan selimut Mirai, dan melihat bekal makanan yang 'Mirai siapkan' secara khusus. Sebuah bekal makan siang berupa paket Nigiri dan pangsit.
"Terima kasih bekalnya, aku akan menikmatinya di luar. Tidurlah yang nyenyak Mirai" bisik Aora
Ia pun menarik masker yang menutupi setengah wajahnya, dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Mirai
Cup.......
Sebuah kecupan hangat di kening Mirai, Aora tersenyum tulus sambil memandang wajah tertidur Mirai. Wajah tampan dengan dua lesung pipit di pipinya terlihat jelas
"Kalau begitu, aku pergi" ucap Aora sambil membenarkan maskernya dan pergi meninggalkan ruang kerjanya
Mirai yang sedari tadi jatuh ke alam mimpinya tampak tersenyum. Meski tengah tertidur pulas, ia merasakan kehangatan kecupan yang di berikan Aora di keningnya
...----------------...
Siapa yang sadar kenapa Mirai gugup membahas pinggang Aora? Heheh... Jika kalian mengerti masud Mirai.... Kalian berada di level berbeda Yorobeun.....
__ADS_1