
Di sebuah telaga besar, air yang berwarna hijau pekat serta banyak ditumbuhi bunga Loutus cantik. Angin berhembus belan, meniup rumpun bambu hingga menciptakan suara decitan yang khas. Mirai, Nee dan Zou menatap lurus sebuah pulau kecil yang terletak ditegah telaga luas. Sebuah tali tambang, dengan berbagai segel kertas serta lonceng kecil menghiasi tepian Telaga itu.
Sebuah Telaga mistis, yang terletak jauh di jantung Hutan. Tidak seorang pun manusia berani datang ke tempat itu. Bahkan sebagai tanda bahaya, penduduk yang mengetahui keberadaan Telaga misterius itu memasang berbagai jimat penghalau kekuatan. Tentu ada sebab kenapa orang-orang memasang pembatas seperti itu.
"Jadi, ini tempatnya. " ucap Mirai pelan, iris seindah bunga Lavender miliknya menyapu pemandangan sekelilingnya. Tempat yang cantik sekaligus tenang. Aliran air yang begitu memabukkan, serta bau semerbak Lotus memenuhi tempat itu. Bahkan, ketika hari masih siang pun, kunang-kunang cantik membanjiri tempat itu
"Tempat dimana dua dunia terhubung. Aku tidak menyangka, akan menginjakkan kaki ditempat misterius seperti ini. Situasi ditempat ini bahkan lebih menyeramkan dari Kota Iblis. Nee apa kau yakin batu itu ada disini, hah! " ucap Zou sambil memandang telaga didepannya dengan tatapan kosong.
Bahkan ketika ia melihat tali tambang berjimat terbentang didepannya, ia pikir seharusnya mereka tidak boleh melewati batas itu
" Ayo kita masuk! " ucap Nee datar, tanpa memperdulikan ucapan Zou.
Ia pun melangkahi tali pembatas, berjalan menuju jembatan kayu, yang menghubungkan tepi danau dengan pulau kecil didepannya. Mirai juga ikut mengambil langkah pertamanya, sementara Zou hanya bersembuyi di belakang Mirai, sambil memegang bahu gadis itu, takut.
Suara dencitan kayu jembatan menemani langkah mereka. Tidak ada sesuatu yang berarti, hanya saja Nee, Zou dan Mirai merasakan langkah mereka diiawasi oleh sesosok hal yang kasat mata
"Hei kalian! Manusia-manusia tidak kenal rasa takut! Kalian tidak berpikir ada yang mengawasi kita?! Tempat ini sudah aneh, ditambah masuk lebih dalam lagi membuatku sedikit bergidik" ucap Zou sambil mengeratkan cengkaramannya di bahu Mirai.
"Hei! Zou! Sebelum kau takut dengan apa yang tidak terlihat. Bukankah sebaiknya kau takut dengan apa yang kau lihat! " ucap Mirai dengan tatapan tajamnya. Cengkraman Zou membuat bahunya sakit. Zou yang paham maksu 'hal yang terlihat' itu adalah Mirai, ia buru-buru melepaskan cengkramannya
" Hehe... Maaf Mirai!" ucap Zou sambil nyengir kuda. Mirai pun hanya bersengus kesal.
Mereka bertiga akhirnya sampai diujung jembatan. Sebuah hutan bambu menyambut kedatangan mereka. Hutan yang kelam, dengan sedikit cahaya matahari yang mampu menerobos masuk. Didepan mereka, sebuah jalan setapak kecil menjadi akses di pulau itu. Nee memimpin didepan, dengan tenang ia melangkahkan kaki mengikuti kemana jalan setapak itu membawanya
Mereka berjalan semakin jauh ke dalam. Suara-suara binatang menemani hampir di sepanjang langkah. Hingga tepat ketika mereka sampai di tengah hutan bambu yang rimbun, sebuah kabut pekat tiba-tiba muncul dan menghalau pandangam di sekitar mereka
"Apa ini?! Kenapa tiba-tiba ada kabut aneh disini?! " Mirai mencoba mencari keberadaan Nee dan Zou. Namun karena pekatnya kabut, ia bahkan tidak bisa menemukan kedua orang yang sesaat sebelumnya masih bersamanya
" Mirai! Nee! Dimana kalian?! " teriakan Zou terdengar. Namun, sosoknya bahkan tidak dapat Mirai pastikan dimana ia berada
" Zou! Di mana kau?! "
" Aku disini! Mirai! " teriak Zou.
Mirai berusaha menemukan Zou, namun ada Sosok aneh yang ia lihat ditengah pekatnya kabut. Mirai menyipitkan matanya sejenak, mencoba menerka siapa kiranya sosok yang berdiri menatapnya lurus. Mirai mencoba mendekati sosok itu, betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang pria yang bergitu amat familiar untuknya
Mata Mirai bergetar hebat, tangannya yang dingin mulai ia tautkan didepan dadanya. Ia tidak percaya akan melihat sosok itu disana. Dengan suara parau, Mirai coba memanggil sosok pria didepannya
"A- ayah?! " ucap Mirai pelan, tanpa berpikir panjang ia mencoba mengejar sosok Kizuna yang berjalan menjauhinya. Namun, sebuah tangan menggapai lengan Mirai lalu menariknya menjauhi sosok Kizuna
" Mirai! Sadarlah! Semua yang kau lihat itu adalah ilusi muslihat pencipta kabut ini! " teriak Nee sambil berusaha menyadarkan Mirai. Gadis berrambut panjang itu akhirnya tersadar ia cepat-cepat menggelengkan kepala untuk mengembalikan kewarasannya
" Apa yang terjadi? " Mirai seakan linglung. Ia tatap Nee lekat. Sementara Zou, hanya bersembunyi di balik tubuh Nee
" Kau tidak apa-apa kan, Mirai? " tanya Zou
" Kau hampir saja termakan ilusi yang diciptakan kabut aneh ini. Menurut informasi yang aku ketahui, tempat ini memang dilindungi semacam kabut sihir.
Siapapun yang masuk kesini tidak akan pernah kembali. Hanya ada dua alasan bagi mereka terjebak ditempat seperti ini. Entah itu Gila karen adihantui orang yang dirindukan. Atau terjebak selamanya di hutan bambu ini tanpa pernah menemukan jalan keluar! " ucap Nee sambil memperhatikan sekelilingnya
Mirai mengangguk paham. Nee mengulurlan tangannya ke arah Mirai yang dibalas tatapan heran oleh gadis itu
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Pegang tanganku. Pastikan kau tidak pernah melepasnya apapun yang terjadi! " ucap Nee masih mengulurkan tangannya.
Mirai menggapai tangan Nee ragu. Namun, Nee dengan cepat menggapai tangan Mirai dan menggenggamnya erat. Sementara Zou, hanya menyipitkan mata melihat situasi 'romantis' dadakan yang ada karena tempat aneh itu
" Apa ini? Apa kalian mencoba mempraktekkan adegan di Novel romantis! " gumam Zou asal
" Diam! " ucap Mirai dan Nee kompak sambil menatap tajam Zou. Pria bermabut merah itu hanya bisa meneguk ludahnya kasar. Ia mulai berpindah kesisi Mirai karena menurutnya gadis itu sudah berubah
" Aku akan disampingmu saja! " ucap Zou takut-takut. Mirai mengulurkan tangannya " Kita harus keluar dari sini hidup-hidup! " gumannya
Mereka bertiga akhirnya berjalan beriringan, dengan tangan menggengam satu sama lain agar resiko terpisah ditengah kabut menjadi tipis. Nee menggunakan sihir anginnya untuk memecah kabut didepannya. Mengikuti kemana jalan setapak membawa mereka.
Hingga sebuah pondok tua terihat di ujung jalan. Pondok yang sederhana, dengan lentera kecil menghiasi sisi kiri dan kananya. Tepat setelah mereka sampai didepan pondok itu, tiba-tiba kabut pekat yang memenuhi tempat itu hilang seketika.
Brasssss.....
Pintu pondok terbuka, menampakkan wujud seekor siluman kucing. Kepala dan badannya menyerupai kucing pada umumnya, namun yang membedakan adalah cara berjalan kucing itu yang menggunakan dua kaki serta berbakaian layaknya manusia.
"Kalian sudah berhasil melewati rintangan Kabut Ketakutan. Sekarang katakan, apa alasan manusia seperti kalian datang ketempatku. Apa kalian menginginkan Harta? Tahta? Atau Wanita?! Meong.... " ucap kucing itu lantang.
Tanpa memperhatikan siapa orang yang berdiri didepannya, kucing itu hanya menyesap cerutu sambil berdiri membelakangi Mirai dan yang lain
" Apa? Barusaja aku melihat seekor kucing mengenekan kimono dan merokok dengan cerutu panjang? Bahkan kehidupannya lebih manusiawi dibanding denganku! "celetuk Zou asal
" Kami datang kesini ingin mencari tempat dimana batu Pilar ke-3 berada! Apa kau tahu dimana keberadaan batu itu?! " ucap Mirai.
Tubuh kucing itu menegang, ia tidak menyangka tiga orang didepannya mencari batu keramat itu. Kucing itu pun langsung berbalik dan menatap Mirai tajam
" Beraninya kau mencari sesuatu berharga seperti itu! Kelaurlah dari tempat ini! Aku tidak akan pernah memberi tahukannya pada kalian! Meong! " ucap siluman kucing itu sambil memalingkan wajahnya
"Hei! Ayolah! Jika kau memberitahukan letaknya, akan aku beri banyak ikan sebagai bayaran. Bagaiman! Setuju kucing manis~~uwu.. Uwu... " goda Zou.
Ia bahkan sengaja memonongkan mulutnya seolah berbicara pada anak kucing yang ia temui dijalan
"Jaga ucapanmu! Aku ini bukan kucing manis! Aku adalah Nekonin! pertapa yang menjaga gerbang menuju dunia lain, tahu! Ops! Meong! " kucing itu tiba-tiba menutup mulutnya rapat. Ia tidak sadar telah membagi informasi rahasianya pada Mirai dan yang lain
" Jadi kau penjaga gerbangnya! Itu berati kau bisa membawa kami kesana bukan?! "
Petapa Kucing itu mulai mundur pelan, jika ia melawan orang militer tentu ia akan kalah. Kucing itupun mencoba kabur dari sana. Namun, Nee dan Zou sudah berada tepat sampingya dan memegang tubuh tambun
kucing itu
......................
" Meong! Meong! Tolong aku! Meong! " teriak Kucing itu. Tangan dan kakinya sengaja diikat Nee dan Zou. Saat ini kucing malang itu berada ditengah ruang intrograsi Mirai
" Sekarang! Cepat katakan bagaimana cara agar kami bisa pergi ke dunia Yokai! " tegas Mirai. Namun, Nekonin tetap menolak memberitahu Mirai
" Zou! " ucap Mirai tegas " Kita mulai penyiksaannya! "
Zou tersenyum jahat. Ia pun mendekati Nekonin sambil membawa kayu kecil dengan kapas yang diikat di ujungnya. Melihat hal itu, Nekonin hanya bisa meneguk ludah kasar. Keringat mulai membanjiri bulunya
" Cepat katakan! Atau aku akan mengelitikmu hingga kau mati menahan geli! "ancam Zou
__ADS_1
Melihat kelakuan absurd Mirai dan Zou, Nee hanya bisa menghela nafas panjang. Cara itu memang konyol tapi mereka tidak bisa menyakiti Yokai begitu saja. Hukum tetaplah hukum, dunia ia dan para Yokai berbeda. Jadi mau tidak mau, para manuias harus menghormatinya
"Tidak! Jangan lakukan! Aku mohon! Meong! " teriak Nekonin sambil meronta-ronta. Zou semakin mendekat, dengan kayu berisi serat kapas halus. Zou pun mengarahkannya ke kaki Nekonin dan menggelitiknya
" Tidakkk! Ha.. Ha... Ha... Hentikan! Itu geli tahu! Ha.. Ha.. Ha... Meong! "
Nekonin tertawa hingga air matanya keluar. Tidak berhenti disana, Zou kembali mengarahkan tongkat kayu itu ketelinga kucing Nekonin
" Rasakan ini! " ucap Zou dengan raut wajah iblisnya. Ia begitu bersemangat menyiksa Kucing didepannya
" Tidak! Tidak! Jangan disana! Aku mohon! Ha... Ha... Ha.... Hentikan! MEONG! AAAA........ "
Melihat dua makhluk itu, Mirai mulai merasa bosan. Ia pun menghampiri Zou dan mengambil alih penyiksaan atas Nekonin
" Jadi kau masih mau menutup mulutmu?! " ucap Mirai sambil berjongkok menatap Nekonin
" Hah! Hah! Aku tidak akan menyerah semudah itu! Meong! " ucap Nekonin sambil terengah. Mirai mengangguk mengerti.
" Baiklah! Jika itu maumu! Aku tidak punya pilihan selain melakukan cara itu! "
Mirai mengeluarkan pisau kecil dari kantong perlengkapannya. Sebuah pisau bedah tajam ia arahkan ke Nekonin. Melihat pisau itu, Nekonin hanya bisa menatap Mirai takut
" A-apa yang ingin kau lakukan! Jangan bilang kau ingin membunuh seorang Yokai! "ucap Nekonin takut. Tubuhnya bergetar hebat, ketika Mirai mengarahkan pisau kecil itu ke perutnya. Nee yang sadar akan hal itu, berusaha menghentikan Mirai
" Mirai! Hentikan! Jika kau membunuh Yokai! Sebuah kutukan akan mengenai jiwamu! " ucap Nee
Hukum yang berlaku di alam semesta. Dua dunia dipisahkan untuk sebuah keseimbangan. Yokai dan manusia tidak pernah berada di satu tempat. Namun, jika salah satu dari mereka melanggar aturan itu, seperti membunuh seorang Yokai di alam manusia. Orang itu akan mendapat kutukan sepanjang hidupnya
"Siapa bilang aku akan membunuh kucing ini?! " ucap Mirai datar. Kini ia arahkan pisau kecilnya menuju kumis si kucing
" Kumis bagi seekor kucing, adalah lambang kehormatan. Aku tidak yakin, apa kau bisa bertahan jika kumismu aku potong hingga habis?! "
" Hei! Kau bercanda! Memotong kumis seekor kucing itu sama saja seperti menelanjangi seorang gadis! Hentikan! Meong! " ucap Nekonin ketakutan
" Katakan bagaimana cara kami pergi ke dunia Yokai! Atau-" Mirai hendak memotong kumis Nekonin
"Baiklah! Akan aku katakan! Jadi aku mohon jauhkan pisau itu dari kumis berhargaku! Bahkan 1000 tahun lamanya kumis itu tidak akan tumbuh seindah ini! Meong! " Nekonin akhirnya menyerah. Mirai tersenyum puas, ia masukkan pisau ditangannya kembali
" Jadi, dimana tempatnya? "
......................
Nekonin mengantar Mirai dan yang lain menuju sebuah tempat di ujung pulau. Tepat di bibir telaga, di atas sebuah altar batu usang, sebuah bibit pohon kecil tumbuh. Sinar matahari yang menyusup diantara dedaunan rimbun bambu menerangi pohon kecil itu. Bahkan hewan sejenis kupi-kupu asyik bermain disekitar tempat canyik itu
"Jadi, dimana gerbang menuju Dunia Yokai berada? " tanya Mirai yang celingukan mencari hal yang mungkim saja menjadi jalan menuju dunia lain
" Gerbang itu, ada disini! Meong! " ucap Nekonin dengan tatapan serius. Ia arahkan telapak kucingnya ke tanah.
" Kau tidak menipu kami kan? Awas saja kau-" belum sempat Zou melanjutkan ucapannya sebuah sihir berwarna hijau muncul di altar batu
Tunas pohon kecil tiba-tiba tumbuh dengan cepat. Dalam sekajap menjadi pohon besar dengan daun yang rindang. Hanya dengan tepukan kaki kucing, batang pohon itu terbelah hingga membentuk sebuah pintu dengan energi sihir yang menyelimuti
"Apa ini?! " ucap Mirai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
" Inilah pintu gerbang menuju Dunia lain!. Sebuah dunia Utopia tempat para Yokai berada" ucap Nekonin