
Masih Flashback
Langit mulai menghitam, kicauan burung malam sudah mulai terdengar. Hanya cahaya bulan purnama yang menyapu dataran berbatu dibawahnya. Ditengah hamparan bukit kapur, beberapa orang prajurit bersenjata lengkap tengah mengintai benteng besar didepannya.
Yora tengah mengintai pergerakan musuh dari kejauhan. Mata sekelam malamnya menelisik, setiap pergerakan lawan dengan seksama. Menunggu waktu yang tepat, untuk menyusup kedalam benteng yang sudah dikuasai musuh
Merasa cukup, ia berjalan kearah tempat dimana anak buahnya menanti. Sekitar 50 orang prajurit Sora ikut bersamanya. Cukup sedikit untuk sebuah Tim penyelamatan biasa. Banyak orang yang menolak bergambung.
Beberapa dari mereka, rela ikut dalam misi ini hanya untuk menyelamatkan anggota keluarga yang turut terjebak didalam Benteng, sisanya adalah rekan-rekan Yora yang percaya pada rencananya. Tim yang dijuluki 'daging' persembahan untuk Hoshi, tentu saja tidak ada yang berani bergabung.
Ditengah langkahnya, Yora menemukan sebuah foto keluarga yang terjatuh. Pemilik foto itu adalah salah prajurit bawahnnya
"Pamam, kau menjatuhkan fotomu" ucap Yora sambil menyerahkan foto usang itu kepemiliknya. Salah seorang prajurit akhirnya sadar, bahwa benda berharga miliknya telah hilang
"Ah! Terima kasih kapten! " ucap pria bernama Ugi, sambil tersenyum lemah ia menatap foto yang berisi potret istri dan bayinya
" Bukankah paman bernama Ugi dari devisi 6? Apa mereka keluargamu? " tanya Yora. Ugi menatap Yora tidak percaya. Meskipun ia seorang prajurit rendahan yang tidak terlalu menonjol, ia tidak menyangka Yora mengetahui namanya
" I- iya tuan muda. Mereka adalah istri dan anakku"
"Kau memiliki keluarga yang harus kau lindungi. Kenapa kau memilih ikut kedalam misi berbahaya ini? "
Ugi terdiam sejanak, ditatapnya foto usang ditangannya. Wajah yang penat serta bau amis akibat darah musuh memenuhi tubuhnya. Hal itu juga sebagai bukti bahwa selama ini ia berusaha keras untuk bertahan hidup dalam peperangan
" Mereka yang terjebak didalam benteng juga memiliki keluarga yang menunggu kepulangan mereka. Anak-anak pemasok bahan makanan yang menjadi tawanan perang, mereka juga memiliki orang tua yang menunggu mereka. Aku, hanya melaksanakan kewajibanku menjadi pelindung Sora. Tidak lebih"
Yora tersenyum pelan, kini ia turut menatap foto keluarga Ugi. Seorang anak kecil digendongan sang istri mencuri perhatiannya
"Jika misi ini berhasil, aku ingin bertemu dengan putri, paman" ucap Yora pelan
"Ya? Bertemu putriku? Tapi rumahku jauh dari kata layak untuk Tuan muda seperti anda. Dan juga-"
" Yora panggil aku Yora. Paman tidak perlu memanggilku dengan formal, paman bisa memanggilku dengan namaku saja. Aku benar- benar ingin berkunjung, tidak bisakah paman mengijinkanku? " ucap Yora dengan tatapan memohon. Tentu saja, ia hanyalah bocah 10 tahun yang masih berjiwa anak- anak
" Tentu saja, aku akan menyuruh istriku untuk memasakan makanan yang banyak untuk kapten! " ucap Ugi dengan semangat
"Jangan lupa, aku menyukai makanan yang manis! " imbuh Yora. Mereka pun tertawa pelan. Berkat Ugi dan Yora sedikit melupakan ketegangan didalam benaknya
"Kapten! Patroli terakhir Hoshi sudah berakhir! "lapor salah satu prajurit. Ekpresi Yora kembali serius.
" Ayo kita mulai misinya! "
Dengan hentakkan tangan, ia memberikan aba-aba anak buahnya agar mulai bergerak maju. Beberapa prajurit mengendap diantara bebatuan besar, bergerak mendekat menuju tembok besar pembatas benteng
Tali dengan kail sudah terlempar sempurna. Mereka tidak bisa menggunakan sihir dengan gegabah, satu saja kesalahan akan membuat musuh mengendus keberadaan mereka. Dengan aba-aba Yora para prajurit mulai mendaki tembok dan melumpuhkan penjaga yang berada di sepanjang Tembok benteng
Cepat tapi mematikan. Pergerakan prajurit terlatih bahkan tidak meninggalkan kejak suara sedikitpun. Mereka membunuh satu-persatu prajurit Hoshi dalam diam.
Yora kembali mengangkat tangannya, memberi aba-aba untuk menghentikan pergerakan sejenak. Mata kelamnya kembali menyapu keadaan. Sedikit aneh Yora rasakan, kenapa benteng sebesar ini dijaga sedikit prajurit musuh? Suasana disekeliling ia rasa sedikit janggal, tidak ada pergerakan prajurit sama sekali
"Apa yang harus kami lakukan, Kapten Yora? "
Yora terdiam sejenak. Suasana sunyi ini sungguh membuat perasaanya tidak enak.
" Pecah tim menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan mencari orang-orang yang disekap. Sementara sisanya akan ikut denganku! "
" Baik, Kapten! " mereka lalu pecah menjadi dua kelompok dan mulai menghilang.
Yora menyisir keadaan sekitar, benteng yang sudah diduduki musuh beberapa jam yang lalu masih terlihat sepi. Yora heran, Kemana semua prajurit Hoshi pergi?
" Ini aneh. Selain penjaga gerbang aku tidak menemukan keberadaan prajurit Hoshi yang lain! "
Yora yang diikuti beberapa orang di belakangnya sibuk memeriksa isi benteng. Tidak ada satupun orang yang mereka temui. Hanya jejak sisa-sisa pertarungan yang ia temui. Selebihnya beberapa mayat prajurit Sora yang dibiarkan tergeletak dan digantung di beberapa titik benteng
__ADS_1
"Apa mungkin mereka menyerah kapten? " tanya anak buahnya
" Dibanding itu, aku lebih mencemaskan situasi kita yang mungkin saja berada dalam jebakan musuh! "
Cusssss.....
Kembang api dilunjurkan ke langit. Hoshi tampaknya menyiapkan jebakan untuk Yora. Ratusan prajurit Hoshi tampak berjaga mengelilingi benteng, mengepung pasukan Yora yang terjebak ditengah-tengah balikade. Panah api sudah bersiaga membidik Yora dan prajurit Sora. Beberapa pengguna elemen api dari pikah musuh juga sudah mulai bersiap
"Apa ini? Kita masuk dalam jebakan musuh? " ucap prajurit yang sudah memasang aba-aba siap bertarung
" Sial! Kita dikepung musuh! " ucap prajurit lain. Sorot mata mereka mulai bergetar, bahkan dalam masalah jumlah mereka sudah pasti kalah
Yora masih terdiam, sambil mencoba membaca situasi saat ini. Apa yang dilakukan prajurit Hoshi sungguhlah mustahil. Selama menyusun rencana ini, Yora sudah memperhitungkan bahwa Hoshi akan memusatkan kekuatan di benteng Tengah. Sementara pasukannya yang menjaga benteng Utara hanya untuk pertahanan belaka.
Bahkan pemimpin negaranya, Hozuki juga terdeteksi di wilayah tengah. Tidak mungkin Hoshi memecah pasukannya dan mengirimnya ke benteng Utara bukan? Hal itu sangat beresiko dalam situasi perang seperti ini. Jika begini keadaanya, hanya satu jawaban yang bisa menjelaskan situasi saat ini
" Seseorang, pasti sudah menghianati kita. Orang itu membagikan rencana kita ke pihak musuh. Karena itu mereka mempersiapkan jebakan ini dengan sangat sempurna! Seolah mereka tengah menanti kehadiran kita! " ucap Yora
" Sudah aku duga, putra keturunan Clan Bulan memang sangat cerdas. Tidak heran ibumu sangat merepotkan pasukan kami! " seorang pria botak dengan tato menutupi hampir setengah wajahnya muncul dari balik brikade musuh. Ia adalah jendral Militer Hoshi, Yamada.
Laki-laki itu tersenyum licik ke arah Yora. Meski setengah dirinya merasa dihina, harus menyiapkan pasukan hanya untuk berhadapan dengan bocah yang dianggapnya lemah seperti Yora
" Kalian benar-benar meremehkanku, untuk orang lemah seperti kalian sangat mudah untukku membunuh kalian sekarang juga!
Ayo kita persingkat pertemuan ini. Dengan kepala putra penguasa Sora sebagai jaminan. Aku yakin Aoryu dari Sora akan berpikir dua kali untuk melawan Hoshi! " Yamada menjentikan jarinya.
Beberapa orang prajurit membawa tawanan Sora ke tengah arena. Tidak hanya warga serta 30 anak yang menjadi sandra. Yamada juga menawan rekan Yora yang bertugas mencari keberadaan Warga termasuk Ugi. Leher mereka diikat bagai hewan jagal, bahkan wajah bawahannya sudah tidak berbentuk akibat dipukuli prajurit Hoshi
"Tuan Muda, jangan dengarkan kata-kata mereka! " teriak Ugi namun perajurit Hoshi langsung melumpuhkannya dengan memukul tepat di ulu hati Ugi. Hal itu membuat Ugi jatuh tersungkur dengan darah yang memuncrat dari mulutnya
" Beraninya kalian! "
Tangan Yora mengepal hebat, ia pun mengaktifkan segel Gyokunya. Namun belum sempat ia melawan, Yamada menghunuskan pedangnya dan menebas salah satu tawanan dengan brutal
Satu orang anak kehilangannya nyawanya. Mata Yora membulat sempurna. Ia menatap tubuh lemah yang mulai mengeluarkan darah segar dari luka dilehernya
"A- apa yang baru saja kau lakukan? " ucap Yora tidak percaya
" Kesepakatan! Sebelum Aoryu mengibarkan bendera putih. Satu per satu orang-orang didepanmu akan aku bunuh. Waktumu 60 menit, dan selama itu aku akan membunuh dua orang dalam waktu 5 menit!
Tunggu apa lagi? Cepat kirim pesan ke ayahmu itu! " ancam Yamada
Yora menatap sekelilingnya bimbang. Meskipun ia harus mati disini, setidaknya ia harus menyelamatakn warga tidak berdosa itu. Ia menatap gyokunya, samar sebuah simbol bulan terlihat.
" Apa yang harus aku lakukan? " ucapnya pelan. Namun lagi-lagi Yamada menghabisi dua anak yang lain
" Sial! Ini tidak seperti ucapamu baru saja! Ini bahkan belum 5 menit! " ucap Yora geram. Namun Yamada hanya tersenyum jahat.
" Nyawa mereka juga terancam ketika kau berpikir ragu! Tunggu apa lagi, cepat hubungi markas pusat Sora! "
Bresssshhhh....
Dakkkkk.......
Belum sempat Yamada menyelesaikan ucapannya sebuah panah sihir melesat dan menewaskan 5 orang orajurit Hoshi. Semua mata tertuju ke arah serangan. Tapat diatas atab benteng, Seorang wanita dengan baju Zirah hitam tengah mengarahkan busurnya ke arah Yamada. Baju Sutranya terhempas angin, dibawah sinar terang purnama mata sekelam malam menatap tajam pasukan Hoshi di bawahnya. Mata kelamnya menatap dingin buruannya, sebuah liontin bulan tersemat di rambut hitam panjangnya
"I-ibu? " ucap Yora tidak percaya. Yoshiro melompat dari atap bangunan. Cahaya biru keluar dari telapak tangannya, ia mendarat kakinya ketanah dan langsung menempelkan gyoku di atas permukaan tanah
Brassshhhhhh
Sihir Yoshiro menjalar di tanah. Melumpuhkan semua pasukan Hoshi dalam sekali serangan. Yora yang sadar apa yang hendak ibunya lakukan, langsung memerintakan semua orang menutup telinga rapat
"Semua! Tutup telinga kalian! "
__ADS_1
Dengingan halus namun mencekik mulai terdengar. Kekuatan sihir khusus clan bulan adalah melumpuhkan lawan dengan media bunyi. Sihir akan masuk ketubuh target lewat saluran telinga, melumpuhkan lawan dengan merusak jaringan otak hingga tewas
Semua prajurit menggerang kesakitan. Mereka mencoba mengankat tangan untuk menutup telinga mereka, namun sia-sia. Sihir Yoshiro bekerja. Beberapa prajurit Hoshi sudah mulai rubuh ketanah dengan cairan otak mereka keluar dari telinga
Yora tidak membuang waktu, ia pun menggiring para sandra untuk ikut dengannya. Mereka semua berjalan mengendap, menuju saluran air benteng yang terhubung langsung keluar benteng. Saluran itu akan menkadi jalan, bagi orang-orang untuk segera kabur dari sana
"Tidak akan aku biarkan kalian lolos dari sini! " dengan sihir Anginya, Yamada memblokir jalan dengan merubuhkan tembok. Orang-orang kembali terjebak
Yamada tidak tinggal diam. Bunyi tidak akan mempan diruang hampa, ia adalah pengendali angin terbaik Hoshi. Yamada pun mengaktifkan gyokunya dan membuat badai topan mengelilingi benteng
Angin bertiup cepat dan menyerap oksigen yang tersisa, membuat segala yang terjebak didalammnya kehilangan udara segar. Sihir bunyi Yoshiro kini tidak mempan sama sekali
Brassshhh...
"Hah!... Hah!... Hah!.. " Yoshiro mulai kelelahan. Ia menatap Yamada kesal, baginya Yamada adalah musuh yang kuat
" Apa ini? Apa kau datang kesini untuk menyelamatkan putra kesayanganmu? Siapa sangka sosok hebat sepertimu mau menyerahkan diri datang kesini seorang diri? "
" Urusi saja urusanmu! Pria botak! Masalah putraku aku bisa mengurusnya seorang diri. Setidaknya aku tahu putraku tidak akan tumbuh menjadi pengecut sepertimu!
Jendra besar Hoshi? Hah! Kau begitu memalukan! Bagaimana bisa seorang jendral sepertimu mengeroyok anak kecil serta wanita lemah sepertiku dengan ratusan prajurit?! " ucap Yoshiro dengan senyum mengejek
" Sial! Tutup mulutmu! " Yamada mulai maju kedepan, dengan sebilah pedang ditangannya ia pun bersiap menghadapi Yoshiro
Trang......
Benturan pedang tidak dapat dielakkan. Pertarungan dua prajurit utama berlangsung sengit
" Semuanya! Serang! " Pertarungan tidak bisa dielakkan. Dengan jumlah yang tidak seimbang, prajurit Hoshi menggempur pertahanan prajurit Sora
Yoshiro melawan Yamada. Sementara Yora dan yang lain berusaha melindungi warga dan melawan prajurit Hoshi yang menyerang secara membabi buta. Pertumpahan darah tidak bisa dihindari. Satu persatu prajurit Sora gugur, sementara Yora dan Yoshiro masih berjuang untuk bertahan
Yamada begitu licik. Ia merasakan tidak akan menang jika terus bertarung melawan Yoshiro. Di tengah pertarungannya, ia mengaktifkan segel Gyoku miliknya. Gelombang angin muncul tanpa Yoshiro sadari. Perlahan gelombang angin membentuk tombak runcing kecil dan bersiap menghujam apapun yang berada dibawahnya
"Hei Yoshiro! Kau mungkin adalah prajurit handal Sora. Tapi aku penasaran, bisakah kau melindungi anakmu ditengah pertarungan kita? " ucap Yamada sambil terus mengayunkan pedang menyerang Yoshiro
Yoshiro kehilangan pertahannanya. Beberapa kali ia hampir ditebas Yamada. Yoshiro mencoba menghindari serangan lawan namun Fokusnya hanya tertuju kearah Yora. Tepat diatas Yora, puluhan ribu tombak angin siap menghujamnya
" Tidak! Yora menyingkirlah!" Yoshiro tidak bisa berbuat banyak, serangan beruntun Yamada menyulitkannya untuk menghampiri Yora
"Terlambat! Aku berjanji, akan membunuh kalian berdua dengan tanganku! "
Yamada tersenyum licik, dengan kehendaknya ribuan tombak runcing itu mulai berjatuhan. Sementara ia, dengan pedang runcing ditangannya mulai mengayunkannya ke arah Yoshiro yang lengah
Tranggggg..........
......................
Di lain tempat, semua mata tertuju pada benda berkilau diatas mereka. Bentuk benda itu menyerupai air yang bercampur dengan angin. Membentuk sebuah benda runcing dengan bantuan sihir kuat
" A- apa itu? " orang-orang mulai menatap takut ke arah langit. Ribuan tombak angin mulai berjatuhan dan menghujam tubuh mereka dengan brutal. Tidak ada waktu untuk menghidar, semua orang ditempat itu akhirnya tewas dengan perut berlubang
Yora yang sadar dengan serangan itu mulai menghidar sebisanya. Namun jumlah tombak yang luar biasa banya membuatnya terjebak pada akhirnya. Yora sadar, didalam situasi itu ia tidak bisa menghidar lebih lama lagi
Brassssss.....
Yora menutup matanya, ia pikir inilah akhir dari semuanya. Namun ia tidak merasakan apa-apa. Seolah sesuatu tengah menghalau tombak runcing itu untuk menghujam tubuhnya
Trasss.....
Cipratan hangat mengenai wajahnya. Yora merasakan sesuatu yang hangat serta kental berjalan menuruni pipinya. Yora mencoba membuka matanya pelan. Ia tidak percaya seseorang telah berkorban untuk menyelamatkan hidupnya
"T- tidak mungkin! "
__ADS_1