
Suasana pagi yang cerah di Desa Sora. Begitu banyak orang-orang mengawali hari mereka, namun tidak sedikit orang yang bahkan bekerja hingga pagi menyapa
"Kalian lakukan sesuai apa yang aku intruksikan! " ucap seorang pria berambut coklat, lengkap dengan seragam Militer desa Sora.
Ia memerintahkan kedua anak buahnya untuk melanjutkan pekerjaan yang hampir semalaman ia susun.
Ten, dia adalah sosok tunas muda yang dimiliki Sora. Di usianya saat ini ia menjabat sebagai kepala militer sekaligus anggota aktif Cops Putih berpangkat Kapten. Laki-laki tinggi, dengan senyum ramah di wajahnya. Kini mengakhiri pekerjaanya setelah hampir 2 hari ia habiskan bekerja di Kantor Pemerintahan Sora
Ia berjalan pelan, keluar dari gedung megah kebanggaan Desa Sora itu. Kantung mata menghiasi wajahya, lengkap dengan penampilan yang menunjukkan 'aku habis lembur' dan rambut yang acak-acakan
Matanya kini menuju sosok laki-laki dengan kimono hijau yang sangat familiar untuknya. Laki-laki paruh baya, yang sedang mengomeli 2 orang bocah akademi Sora yang nekat membolos
"Dengar...... Kalian harus memanfaatkan waktu kalian untuk belajar, jangan hanya membolos, tau! " ucap Pria yang menjadi orang nomor satu di Desa Sora, Zen
"T- Tapi kami kan tidak sedang ada jam belajar" elak salah satu anak
"Seharusnya, kalian belajar sendiri, latih sihir kalian sehing- " Belum selesai Ketua Zen mengomeli anak-anak itu, bocah didepannya itu menyela perkataannya
" Baik, kami mengerti. Sampai jumpa lagi Tuan Zen! " Ucap mereka kompak sambil membungkuk. Mereka pun meninggalkan Zen yang masih ternganga
"Hah! Dasar anak-anak, mereka bahkan tidak mau mendengar nasihatku! " ucap Zen sambil menghela nafas
Ia pun berbalik dan tidak sengaja melihat sosok laki-laki yang sedari tadi memperhatikannya. Sontak Ten membungkuk, memberi hormat kepada atasannya itu
"Selamat pagi, Ketua Zen. " ucap Ten sopan
"Bukankah kau Ten? Apa kau baru datang bekerja, tapi? Anak muda sepertimu, kenapa berpenampilan seperti itu? "
Mata Zen terus memandangi penampilan Ten yang urak-urakan, dengan cepat Ten membenahi penampilannya
" Em. Sebenarnya aku baru saja pulang kerja ketua. Sudah dua hari aku tidak sempat pulang ke rumah, hehe" ucap Ten dengan senyum canggung, tangannya pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Senyum mengembang terlhat di wajah berkeriput Zen
"Kalau begitu, maukah kau ikut denganku, bukannya waktumu luang sekarang? "
" I.... Iya? " ucap Ten tidak percaya
......................
Ten pun terpakasa menuruti permintaan Ketua Zen. Meskipun matanya kini setengah sadar dan tubuhnya begitu lelah karena habis lembur semalaman
Ten hanya mendengar celotehan Zen di sepanjang jalan. Ketua Zen ingin agar Ten menemaninya menyusuri pasar, sambil melihat kondisi rakyat Sora
"Anak-anak sekarang, jika tidak ada jam pelajaran saja sudah membolos. Giliran di kasih tau..... Mereka kabur.... Ckckck" ucap Zen sambil menggelengkan kepalanya
"Itu mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan Ketua. " ucap Ten berusaha menengahi
Zen pun berhenti di sebuah kedai Ramen yang cukup tua di tengah pasar Sora. Sambil terus mengoceh ia mengajak Ten untuk mampir di sana sebentar
Mereka pun memesan dua mangkuk ektra jumbo. Seorang bibi pemilik kedai ramen itu, bahkan secara khusus melayani Petinggi Desa Sora itu
__ADS_1
"Hah! Suasana di sini, bahkan tidak berubah sama sekali. " ucap Zen sambil melirik sekitar kedai Ramen itu
"Apakah ada kenangan Khusus Ketua di tempat ini? Dilihat dari bentuk bangunannya, kedai ini mungkin sudah berdiri lebih dari 40 tahun"
Sambil menggosok dagunya, Zen mulai mengawali ocehannya.
"Haruskah aku menceritakan masa mudaku padamu? Kau tahu..... Bagi orang tua sepertiku, menceritakan masa mudaku kepada anak muda sungguh mengasyikan" ucap Zen sambil tersenyum puas
"B- benarkah?" ucap Ten dengan alis mengkerut
Tampaknya Ten telah membuka pertanyaan yang seharusnya ia tidak tanyakan jika ingin pulang cepat
"Hemm........ Aku... akui. Tempat ini adalah tempat paling bersejarah bagi teman-temanku, bahkan juga untukku"
Zen mengeluarkan sebuah Foto tua, foto itu berisi dirinya dan teman-temannya ketika mereka seumuran Ten
Mata Ten membulat, selain ketua Zen, ia menemukan sosok lain difoto yaitu Tanuki
"Pertama kali, kami bertemu ketika menjadi murid Akademi Sora. Aku memiliki 3 orang sahabat dengan karakter yang unik.
Aku dengan temanku yang bernama Kizuna, adalah murid bandel yang sering membolos. Kau tahu, nilai kelakuan kami bahkan F.
Sedangkan dua orang lagi, adalah orang jenius di antara angkatan kami. Aoryu, adalah anak yang jenius dari clan terpandang. Namun ia enggan untuk belajar. Ia memilih mengikuti jejak kami yang bandel.
Sedangkan Tanuki, satu-satunya anak yang rajin dan cerdas. Meskipun ia bergaul dengan kami, ia sama sekali tidak melupakan tugasnya"
Zen menatap Foto ditangannya, matanya di penuhi kenangan akan teman-teman masa kecilnya itu. Sedangkan Ten, ia hanya mendengarkan kisah masa lalu Zen.
"Bukankah tadi anda menegur anak yang bolos itu? " canda Ten sambil terkekeh. Jika dulu ketua Zen anak yang bandel, bukankah dia 11 12 dengan anak-anak tadi. Mendegar pertanyaan Ten, Zen terkekeh pelan
" Kau tahu, Kenakalan adalah kunci anak-anak menjadi sukses. Lihat aku sekarang hahahaha" ucap Zen sambil tertawa. Namun seketika itu tawanya berhenti.
"Hah! Aku harap kedamaian ini terus berlanjut........... " ucap Zen sambil menghela nafas pelan.
Zen pun menengok keluar kedai melalui jendela di sampingnya. Ia melihat amak-anak yang berlarian kesana kemari tanpa beban sedikitpun, tawanya kini berubah menjadi senyum hangat di wajahnya yang mulai keriput
"Kau mungkin pernah mengalaminya, namun tidak separah jamanku dulu. Peperangan......
Ketika kami seusia mereka (anak-anak di luar kedai), kami seharusnya hanya berfokus pada studi kami, namun dunia berkata lain.....
Bocah-bocah ingusan, di latih untuk memegang senjata dan mempertaruhkan nyawa mereka dalam kedok melindungi Negara.
Bahkan tidak ada kata belajar secara teori. Kami merasakan sendiri beratnya peperangan, serta kepedihan kehilangan sosok teman secara langsung
Untuk itu, jika keadaan kembali mereda, dan kami bisa menghabiskan waktu kami belajar di akademi. Kami memilih untuk membolos, dan menghabiskan waktu kami dengan teman-teman berharga kami. Karena, tidak ada dari kita yang tahu, kapan maut menjemput kami.
Lucunya, Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan merasakan nikmat sake. Karena aku yang paling lemah dan kemungkinan akan mati lebih dulu! " ucap Zen sambil mengenang masa kecilnya yang sulit
Ten hanya menatap laki-laki di depannya " Apa anda merindukan teman-teman anda?"
__ADS_1
"Hn..... Tentu, satu-satunya yang tersisa dari mereka hanya Tanuki. Sedangkan Kizuna dan Aoryu........." ucapan Zen terhenti. Sorot matanya kini melembut.
Zen menunduk sedih ketika mengingat nasib teman-teman seperjuangannya dulu, namun ketika ia ingat apa impian mereka ia kembali sadar
"Namun...... Pengorbanan mereka tidak sia-sia, aku pastikan anak-anak tadi tidak merasa pahitnya perang secara langsung.
Untuk itu aku memerlukan Tunas Muda sepertimu Ten. Hanya kau, Aora dan Rou serta semua tunas-tunas Muda berbakat yang dimiliki Sora di masa depan. Aku harap Kalian melanjutkan mimpi kami yang belum sempat terwujud! " Ucap Zen sambil tersenyum ke arah Ten.
Di tengah nostalgia itu. Pesanan Ramen mereka pun datang, seorang bibi membawakan dua mangkuk ramen kepada Ten dan Zen
"Maaf menunggu lama, Ketua Zen. Ini pesanan spesial ramen untuk kalian..... Selamat menikmati... "
Ten menunduk "Terima kasih bibi, kami akan menikmatinya! " bibi penjual Ramen menatap Ten sekilas
"Ketua Zen, kau jarang mampir kesini. Sekarang kau bahkan membawa pemuda tampan bersamamu? " canda bibi pemilik kedai
" Benarkah....... Dia putraku...... Bukankah wajah kita sama-sama tampah heh? "
Ten yang sedari tadi menyiapkan peralatan makan Ketua Zen tampak tertegun. Ia pun menatap laki-laki di depannya dengan sorot mata yang bergetar
" Dia jauh lebih tampan dari kakek tua sepertimu! " Bibi itu pun meninggalkan meja mereka
"Cih! Dulu dia bahkan mengejar-ngejarku, lihatlah dia..... Dia juga tidak cantik lagi, dia hanya bibi tua sekarang! " protes Ketua Zen
Ten pun tersenyum " Kau memang pria yang hebat, Ketua! "
Ten begitu mengagumi Zen sejak dulu. Ia lah yang mengajari Ten menjadi prajurit handal.
Ketua Zen pun mengambil potongan daging di mangkuknya, lalu ia letakkan di mangkuk Ten
" Apa yang salah? Aku memang menganggapmu sebagai putraku sendiri. Jika aku memiliki seorang putri, mungkin aku akan menjodohkannya padamu.
Kau tahu, di banding dengan Aora kau itu lebih lembut dan penurut Ten. "
Ten pun pura-pura mengaduk mie nya, ia berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya kini. Bahkan ia tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh orang yang di sebutnya 'ayah'
"Jika saja anda adalah ayahku, aku pasti sangat bahagia. "
Ten dengan cepat mencampur ramenya dengan bahan pendukung secara asal, namun tangan Zen segera menghentikannya
"Jika kau mau, kau bisa menganggapku Ayahmu. Bukankah orang Tuamu gugur dalam perang? Jika mereka masih ada, mereka pasti bangga padamu Ten"
Zen pun mencampur ramen Ten, dengan takaran yang pas dan bisa di nikmati Ten
Ten hanya memandangi Ketua Zen, dengan wajah di penuhi rasa bersalah bercampur senang. Bagaimana ia bisa membohongi pria yang begitu baik kepadanya. Pria yang justru ingin ia panggil 'Ayah'.
Sedangkan ia senang, ia merasakan kasih sayang dari sosok 'Ayah' lewat diri Zen.
"Makanlah..... Sebelum mie nya lembek Ten" ucap Zen lembut
"B- Baik..... Ketua"
__ADS_1
"Terima kasih..... Atas kerja kerasmu untuk Sora, Aku bangga kepadamu Ten. " ucap Zen sambil tersenyum
Untuk pertama kalinya, Ten merasakan hangat sosok seorang Ayah. Sosok yang bahkan memujinya atas kerja kerasnya tanpa mengharapkan sesuatu darinya.