
Mirai dan Rou terkejut dengan apa yang mereka lihat. Sosok berjubah hitam dengan topeng dewa kematian menghampiri korban, sesaat sebelum ledakan terjadi di Asrama Sora
"Wanita ini, benar-benar telah dikendalikan" gumam Rou
Dalam pikiran wanita itu, pria bertopeng mulai mengaktifkan segel Gyoku, berkas cahaya merah pun terlihat. Cahaya berbentuk seperti gumpalan lava yang mengeras, dan panas. Lalu pria bertopeng itu melemparkan bola api padat sebesar kelereng ke lagit, selepas menggunakan sihirnya pria misterius itu lenyap menjadi abu
Wanita itu mendapat kesadarannya kembali, dilihat dari gerak tubuhnya yang gemetar. Ia pun segera berlari menjauhi pria itu
Belum sempat ia membuka pintu samping Asrama. Ledakan besar terjadi, membuat tubuhnya terpental ke arah taman yang tidak jauh lokasinya dari Asrama Sora
Wanita itu berusaha berdiri, ledakan yang kuat melempar tubuhnya jauh. Samar ia melihat sosok pria berambut merah berlari ke arahnya
"Bukankah dia Hisui? , dia berusaha menolong wanita itu bukan ingin membunuh seperti apa yang di tuduhkan selama ini" ucap Mirai
Hisui, pria itu mencoba menolong wanita itu, namun kendali atas diri wanita itu kembali di aktifkan. Wanita itu pun mencekik lehernya sendiri. Dalam ingatan terakhir wanita itu, Hisui tampak berusaha menghentikannya
"Seperti dugaan kita Mirai, wanita itu benar-benar membunuh dirinya sendiri" ucap Rou
Rou pun menghentikan Sihirnya, kemudian membuka matanya pelan sambil melihat sosok tubuh wanita di depannya
"Wanita ini, tubuhnya telah dikendalikan oleh pria bertopeng itu. Kita harus melaporkan hal ini kepada Aora, besok adalah hari terakhir untuk mengungkapkan semua hal yang terjadi" ucap Rou sambil menatap Mirai
Mirai hanya terdiam, mereka sudah menemukan titik terang kasus ini, namun ia masih belum mengetahui siapa pria bertopeng itu
"Tapi Rou, kita belum mengetahui siapa pria bertopeng itu, tanpa pelaku sebenarnya semua bukti ini hanya akan sia-sia saja" ucap Mirai
Kreetttt.....
Suara pintu terbuka, seseorang dengan topeng kucing beserta seragam lengkap Cops Awan pitih memasuki ruangan Autopsi tempat Mirai dan Rou berada
Laki-laki berambut coklat itupun mmembuka topengnya, ia adalah Ten
"Bukankah kita masih memiliki gelang ini? " ucap Ten memecah keheningan di ruang itu, tangannya tampak mengangkat plastik berisi bukti dari tempat kejadian
" Ten.... Sedang apa kau di sini? " ucap Rou
Mirai hanya memandang Ten dingin, baginya pria di depannya itu begitu banyak menyembunyikan sesuatu, di samping itu Ten juga pernah memergoki Mirai menyusup ke ruang dokumen Sora
" Gelang ini, dapat menuntun kita kepada pemilik aslinya, kau lihat angka romawi yang terukir di gelang ini?
Ini adalah nama pemilik gelang, jika dia berasal dari Cops Merah setiap anggota akan memiliki gelang dengan angka romawi sebagai Code Namenya" ucap Ten sambil menunjukkan angka romawi dengan tulisan VII-I itu
"Dia adalah pasukan khusus Cops Merah dengan spesialisasi Intel, sama sepertimu Rou. Ia bernama Satori ,aku sudah memberi informasi ini kau pasti bisa menemukannya kan? " ucap Ten
Rou segera mengambil gelang itu, tanpa menunggu lagi ia langsung keluar untuk menangkap pelaku peledakan sebenarnya
" Terima kasih Ten" ucap Rou sambil menepuk bahu sahabatnya dan pergi
__ADS_1
Kini hanya ada Ten dan Mirai, Ten hanya menatap sekilas Mirai lalu mengenakan topengnya kembali. Ia sadar wanita di depannya menaruh curiga yang besar dari tatapan tajam yang di arahkan padanya
"Kau tidak perlu khawatir, aku juga sahabat Aora dan aku hanya melakukan Tuesday saja....Mirai " ucap Ten sambil berjalan keluar
......................
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Aora yang masih membaluk beberapa dokumen tiba-tiba menghentikan kegiatannya.
" Aku tidak boleh hanya berdiam diri disini " gumamnya.
Di tengah malam, ia berjalan sendiri menuju mansion tempat utusan Tsuki menginap, sekaligus tempat di mana Hisui di jaga sebagai tahanan rumah
Slesss.....
Aora merasakan seseorang mengikutinya, di tengah malam yang sunyi, dengan lampu jalan yang tidak begitu terang, Aora dengan jelas dapat merasakan keberadaan orang yang membuntutinya
Ia pun kembali berjalan dengan tenang, dan dengan cepat Aora menghilang di tengah hembusan angin
Wussss.......
Aora menghunuskan pisau ke leher orang yang membuntutinya sedari tadi. Mata Aora kini berubah menjadi merah darah, menunjukkan bahwa ia dalam kondisi serius saat ini
"Aora.... Aora.... Ini aku.... Hotaru... Hey! “ ucap pria itu sambil mengangkat tangannya tanda menyerah
"Hotaru? Sedang apa kau di sini? " ucap Aora mulai menurunkan pisaunya
Hotaru sedikit menjauh, sedari tadi ia sudah mebuntuti Aora
"Lalu dimana semua pengawalmu? "
" Aku sengaja mengecoh mereka dan kabur. Ngomong ngomong, apa kau akan menemui pemimpin Tsuki? " tanya Hotaru
" Itu tidak ada urusannya dengan Hoshi, kau sebaiknya kembali ke penginapanmu" ucap Aora sambil meninggalkan Hotaru
"Aora........ Aku akan membantumu untuk membujuk Tsuki. Bagaimanapun, Hoshi berutang banyak pada Sora.
Jika kau tidak bisa menerima bantuan Hoshi, bisakah kau menerima bantuanku sebagai temanmu? “ ucap Hotaru dengan nada serius, yang sukses menghentikan langkah Aora
Hotaru mengetahui kesulitan yang Aora hadapi, sebagai pemimpin Hoshi ia sangat paham posisi Aora. Keputusan yang bijak sangat diperlukan dalam kondisi genting seperti ini
Jika satu saja kecerobohan yang di ambil seorang pemimpin dalam situasi seperti ini, perang mungkin akan benar-benar pecah
"Untuk membujuk Tsuki, kau perlu bantuanku. Kau lupa, Tsuki menyetujui pertemuan ini karena mereka sangat membutuhkan sumber daya alam yang Hoshi miliki" ucap Hotaru
Aora hanya terdiam, jika dia membiarkan Hoshi terlibat dengan masalah internal negaranya, para petinggi tidak mungkin membiarkanya, terutama Tanuki. Riwayat aliansi dengan Hoshi jauh lebih pendek ketibang riwayat permusuhan mereka
"Tidak usah, ini urusan internal negara kami. Maafkan aku Hotaru tapi aku sangat menghargai tawaran bantuanmu"
__ADS_1
Hotaru sadar Aora tidak munkin langsung setuju dengan tawarannya. Tapi ia sangat ingin membantu Sora, lebih tepatnya ingin membantu temannya
"Bagaimana kalau aku membantumu secara rahasia Aora, toh sekarang tidak ada yang tahu pertemuan ini.
Aku akan membantumu sebagai temanmu, bukan pemimpin Hoshi. Jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Hotaru meyakinkan Aora
Aora terdiam, Hotaru menawari bantuan sebagai temannya. Ia teringat kata-kata ketua Zen, bahwa Aora tidak harus melakukan semua sendiri. Masih ada teman-temannya yang siap membantunya, ia sadar Rou, Ten, Hanna dan bahkan Hotaru kini berusaha membantunya untuk keluar dari situasi rumit ini
Aora pun berbalik, menghadap sahabat Hoshinya
"Kalau begitu, bisakah kau membantuku, Hotaru?" ucap Aora
Hotaru mengangguk
"Hm tentu....... Di banding kau, aku sudah lebih dulu mengalami kegalauan akut sebagai seorang pemimpin Negeri. Kau adalah juniorku Aora" ucap Hotaru sambil tersenyum puas
......................
Di mansion utusan Tsuki, di sebuah kamar VIP yang cukup luas seorang pria berambut merah tengah menatap kosong ke luar jendela. Pria itu hanya menyilangkan tangan di dadanya, tidak ada kecemasan berarti dari sorot mata berwarna jade miliknya. Bahkan di tengah tudingan sebagai pelaku utama peledakan sebuah asrama anak yatim piatu
"Sampai kapan Sora akan memperlakukan kita dengan tidak sopan seperti ini? ....
Hisui-san apa kau sama sekali tidak marah? " ucap wanita berambut coklat yang menghampiri Hisui, sambil menuangkan pot berisi ocha ke dalam gelas kecil di atas meja
Raut muka kesal tampak jelas di wajah cantik gadis yang kini tengah duduk disofa
Hisui pun berbalik, berjalan menghampiri gadis itu. Ia pun duduk di sampingnya dan mulai mengambil gelas berisi ocha di depannya
"Jika aku benar-benar tidak bersalah, bikti-bukti akan tetap menunjukkan fakta yang terjadi. Kazumi apa kau begitu mencemaskanku? " ucap Hisui dengan tenang sambil menyesap ochanya
Wanita yang bernama Kazumi hanya bisa mengembungkan pipinya,
" Kau hanya pria polos bagiku, untuk itu aku mengikuti kemana kau pergi selama perjalanan bisnismu....... Hah..... Baru beberapa menit kau lolos dari pengawasanku, kau malah dijebak.....
Suamiku yang malang" ucap Kazumi
Dia adalah nyonya besar Tsuki, istri dari pemimpin tertinggi Negeri mereka Hisui. Meski Hisui seusia Hotaru dan Aora, nyatanya ia mengalahkan ke dua pemimpin muda lainnya dalam menaklukan wanita.
Hisui hanya terdiam mendengar protes istrinya
"Tapi.... Tetap saja secara tidak langsung Sora tidak mempercayai Negeri kita, apa kau terus berdiam diri Hisui?
Jika kau mau, laporan tetang kejadian ini akan aku kirim ke Tsuki. Para dewan tidak akan membiarkan dirimu di remehkan di negeri orang......... " ucap Kazumi
" Tunggu dulu... Aku hanya ingin melihat respon Sora dalam menangani kasus deperti ini..... " ucap Hisui tenang
__ADS_1
Ting..... Tong......
Seseorang tampak mengunjungi penginapan Hisui