Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Arc Awa dari Sebuah Akhir : Strategi


__ADS_3

"Argh!" sinar berwana biru muda keluar dari mulut prajurit Sihir. Tubuh pria itu mulai mengering, hingga menyisakan tulang berlapis kulit kriput. Sinar biru itu memvisualisasikan jiwa manusia yang di hisap oleh prajurit Yurei.


Yurei membuat unit pertahanan yang dipimpin Hotaru kewalahan. Meski mereka sudah mengetahui letak kelemahan prajurit besi itu, tetap saja tidak mudah untuk melumpuhkan satu Yurei. Salah sedikit saja, jiwa prajurit menjadi taruhan. Tidak hanya itu, semakin banyak Yurei menyerap jiwa manusia, semakin tinggi tingkat transformasi makhluk itu.


Hotaru masih mencoba bertahan. Dengan menggunakan elemen badai hitam, ia mengurung beberapa Yurei kedalam pusaran angin kuat dan melumpuhkannya dengan teknik petir miliknya. Semua orang masih berusaha bertahan, meski gempuran pasukan iblis Yurei banyak jumlahnya.


Tak jauh di sisi Hotaru, seorang gadis berambut merah muda tengah berjuang memenggal beberapa Yurei dengan pedangnya. Harui, memutuskan ikut terjun kedalam medan pertempuran. Luka di kakinya, yang sempat membuat gadis bermata secantik kristal Emerald itu kesulitan berdiri, sepenuhnya sudah di sembukan Mirai dengan teknik pengobatan sihirnya. Untuk itu, ia ingin membalas kebaikan Mirai dengan membantunya berjuang di tengah medan perang.


"Nona! Kau tidak apa-apa?! " Harui tiba-tiba jatuh. Salah satu prajurit berseragam Tsuki mengkhawatirkan kondisi nona muda mereka. Harui menggunakan seluruh kemampuan berpedangnya untuk melumpuhkan musuh. Tentu hal itu membuat energi fisiknya terkuras dengan cepat.


" Tetaplah Fokus dengan apa yang ada di depan kalian! Kalian lupa, kita berada di tengah pertarungan! Jangan cemaskan kondisiku, ini hanyalah pemanasan biasa untuku! " senyum tipis terukir di wajah cantik Harui. Ia pun kembali bangkit.


Melihat semangat Harui, Hotaru tersenyum simpul. " Rupanya Tsuki juga memiliki prajurit handal! Hoshi juga tidak boleh kalah! "


Beberapa Yurei sudah mulai bertransformasi ke level 2. Dalam level itu, Yurei sudah bisa menggunakan kekuatan sihir untuk membunuh atau memanipulasinya sebagai senjata pemusnah masal. Semakin tinggi tingkat transformasi, semakin sulit juga membunuh Yurei.


Hotaru menyadari, sebuah bola api raksasa diciptakan salah satu prajurit Yurei. Makhluk itu menargetkan para prajurit sihir yang sibuk bertarung. Sialnya, ia masih harus menghadapi empat Yurei didepannya. Hotaru mencoba mempersingkat pertarungan mereka, namun Yurei yang ia hadapi sudah menjelma menjadi Level 2


"Sial! Apa aku masih sempat?! " Hotaru mencoba mengurung ke empat Yurei dengan eleman anginnya. Namun, salah satu Yurei dapat meng- counter serangan dengan elemen tanah miliknya. Angin lemah terhadap tanah.


Brassss!


Bola api raksasa sudah di luncurkan. Kekuatan penghancur itu bahkan mampu membuat parit besar di sepanjang jangakuan targetnya. Rausan prajurit sihir, beserta Yurei lain menjadi tagetnya. Serangan yang dilontarkan itu tidak mengenal yang namanya lawan apa kawan


Trassss!


Hotaru mencoba memukul mundur empat Yurei didepannya. Dengan gerakan super cepat, ia mengayunkan pedangnya dan memutus kepala empat Yurei itu. Tanpa membuang waktu lagi, Hotaru segera berlari menuju ke arah pusaran bola api yang melesat. Ia hendak membelokan serangan lawan dengan sihir anginnya. Namun sesuatu yang aneh terjadi.


Serangan bola api itu tiba-tiba meleset dan akhirnya menabrak sebuah bukit yang berjarak ratusan meter dari medan pertempuran. Langkah Hotaru tiba-tiba berhenti. Siapa sebenarnya orang yang mampu membalikan serangan seperti itu?


Samar, di udara terlihat serpihan debu besi tipis terbang menuju ke arah Yurei yang melemparkan serangan. Debu Besi itu berubah menjadi merah menyala, melesat cepat serta mengikat tubuh Yurei dan memelehkannya begitu saja.


"Teknik debu besi? " pandangan Hotaru kini tertuju pada sosok pria berjubah hitam, yang masih sibuk bertarung di ujung sana.


" Bukankah dia, kak Hikari? " gumam Hotaru tidak percaya. Setelah mengalahkan musuhnya, Nee atau Hikari langsung berlari ke arah Hotaru. Namum laki-laki berwajah datar itu, hanya melewati Hotaru begitu saja.


" Jika kau berdiam diri saja, musuh akan menembus pertahananmu. Hotaru! Tetap Fokus! "


Hotaru kembali sadar, meski seribu pertanyaan memenuhu banaknya kali ini. Ia putuskan untyk menyimpan semua, dan kembali Fokus


" Kau berhutang penjelasan padaku, Kak! "


Hotaru kembali membuat kuda-kuda dan bersiap membasmi Pasukan Yurei dihadapnya. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Hotaru dan Hikari melawan musuh dengan posisi saling membelakangi. Untuk pertama kalinya, ia bisa bertarung bersama kakaknya di medan perang. Impian Hotaru cukup sederhana, ia ingin membuat sebuah tim bersama sang kakak di dalam sebuah pertarungan, menghadang musuh dan saling bekerja sama. Dan impian itu akhirnya menjadi kenyataan.


" Jumlah musuh masih terlalu banyak. Para prajurit Yurei juga mulai bertransformasi dan berubah. Jika terus dibiarkan seperti ini, prajurit kita akan kewalahan. "

__ADS_1


Nee mulai membaca situasi, ia juga melihat banyak prajurit sihir gugur dan menjadi santapan Yurei. Otak jeniusnya mulai berpikir keras. Jika ini tetap berlanjut, maka hanya menunggu waktu untuk kalah.


Hotaru masih sibuk mengayunkan pedangnya. Dua saudara itu saling melindungi satu sama lain.


"Jika saja kita bisa membuat lubang besar dan mengubur mereka hidup-hidup! Auh! Memikirkannya saja membuatku senang! " celetuk Hotaru begitu saja.


" Itu dia! Hotaru, idemu sangat luar biasa! "


" Eh?! Aku hanya asal bicara. Bagaimana mungkin juga kita membuat lubang tanah besar. Diantara kita, tidak ada yang menguasai elemen tanah, kak! "


" Aku bisa melakukannya! Meski kemampuan sihirku tidak sehebat kalian. Akan aku pastikan membuat lubang tanah yang besar! " suara Harui mengintrupsi dua orang saudara itu.


Tubuh Nee tiba-tiba membeku, manik sebiru lautan kini menatap ke arah Harui. Dua sahabat itu akhirnya bertemu setelah sekian lama. Takdir tidak benar-benar memutus benang merah diantara mereka.


" Kak Hikari?! Kenapa kau melamun! Katakan apa rencanamu kak! " suara Hotaru langsung membuyarkan lamunan Nee.


" Kalain berdua! Mendekatlah! " Nee mulai membagikan rencana miliknya.


......................


" Kalian mengerti?! " bisisk Nee pelan. Harui dan Hotaru mengangguk paham. Merekapun langsung berpencar.


Kali ini, Nee mulai melompat menuju ke tempat paling tinggi di area itu. Tepat di sebuah atab dari puncak tertinggi bangunan pos pengintai, Nee berdiri tegap sambil menatap lautan manusia di bawahnya.


Nee mencakupkan kedua telapak tangannya. Sinar biru muda mulai keluar dari Gyoku di tangannya. Sebuah Teknik sihir rahasia yang ia pelajari dari Zou. Dari sinar biru itu, munculah sebuah hologram sihir yang menyerupai miniatur manusia


Zou atau Hirui dikenal sebagai pengendali sihir kutukan kematian. Ia menggunakan jiwa yang diambil dari Dna korban (air liur, rambut, darah, kuku, dan bahkan nafas) sebagai media untuk melancarkan tekniknya. Zou akan mebuat sebuah boneka sihir, dan mengaplikasikan dengan dna target. Sebuah kutukan terbentuk, dan jika sampai korban terkena kutukan, korban bisa saja mati hanya dengan sebuah tusukan jarum di boneka sihir itu. Mirip keja Vodoo.


Namun, yang dilakukan Nee adalah kebalikannya. Ia membuat boneka sihir menggunakan energi kehidupannya. Dengan pengendalian yang sulit, Nee memusatkan energi kehidupan dan mengeluarkannya dalam bentuk Fisik (hologram sihir).


Namun, ada harga yang harus di bayar, jika ia mengeluarkan energi kehidupan a.k.a separuh jiwa miliknya, kekuatan sihirnya akan cepat melemah. Dari ketinggian, ia melihat Hotaru dan Harui sudah di posisi mereka. Nee kemudian mengirimkan sinyal, berupa debu besi yang digunakannya sebagai kembang api kecil.


Cussss!


"Sekarang saatnya! Hotaru! Harui! "


Sinyal sudah di terima. Harui langsung mengaktifkan gyoku dan menempelkan tangannya ke tanah.


" Semua prajurit Sihir! Menjauh dari sini! " teriak Harui lantang. Perintah di terima, semua prajurit sihir melompat dan menjauh dari medan perang. Energi kekuatan Harui merambat di tanah, menyebar membentuk sebuah persegi panjang sejauh 100 m persegi.


Sebuah lubang dalam tercipta, kini giliran Nee yang akan menggiring Yurei masuk. Nee menatap gumpalan energi di tangannya, ia lantas melemparkan sihirnya tepat ke tengah lubang besar di hadapannya.


"Energi Kehidupan milikku memiliki aura yang sama persis seperti jiwa manusia. Kekuatan itu akan memikat para Yurei masuk ke dalam lubang itu. Aku sudah mengirim umpan, sekarang giliranmu. Hotaru! "


Cara kerja energi kehidupan Nee cukup sederhana. Anggap saja, Para Yurei adalah lebah yang haus akan madu (Jiwa Manusia). Nee memberikan setetes madu (jiwa atau energi kehidupan miliknya) untuk mengirim Yurei masuk ke dalam lubang jebakan. Kini, sisanya ia serahkan ke adiknya, Hotaru.

__ADS_1


"Serahkan padaku, Kakak! " Hotaru mulai mengaktifkan gyokunya.


Yurei secara otomatis berjalan ke arah lubang besar, dengan kekuatan angin badainya, ia menyapu seluruh Yure dan membuat mereka semua masuk ke dalam jebakan. Guluman angin badai menutupi seluruh permukaan lubang itu.


Hotaru mulai mencakupkan kedua tangannya. Dengan kekuatan manipulasi petir, Hotaru juga menciptakan sebuah petir hitam berkekuatan penghancur tinggi. Semua prajurit sihir tampak terkesima, level kekuatan seorang pemimpin negera tidak main-main. Saking kencangnya badai yang tercipta, beberapa orang harus tiarap dan mengaitkan tangannya ke tanah agar tidak terbawa angin badai


"Luar biasa! Kekuatan tuan Hotaru benar-benar berada jaih di atas kita! "


Kekuatan Hotaru sudah terkumpul semua. Dan dengan hempasan tangannya, petir hitam mulai memenuhi lubang dan melahap semua tubuh Yurei kedalam sebuah ledakan kekuatan besar.


" Rasakan! Ini! "


Booooommmmm!


Cahaya menyilaukan menembus angkasa yang luas. Sebuah ledakan hebat yang mampu menggetarkan daratan. Selang beberapa lama, kepulan asap mulai memenuhi udara. Semua orang tampak menunggu hasilnya. Akankah mereka mampu memusnahkan Yurei.


" A- apa kita berhasil? "


" Entahlah! " semua prajurit memasang wajah tagang. Sementara Hotaru, hanya bisa menunggu dengan nafas tersengal.


Semua mata tertuju pada lubang jebakan Yurei. Tanpa mereka sadari, sesosok tubuh terjatuh dari ketinggian. Akibat memangkas jiwanya sendiri, dan menggunakannya sebagai umpan, Nee akhirnya kehilangan kesadaran hingga membuat tubuhnya jatuh terhempas.


Tap!


Harui segera menggapai tubuh Nee, memapah dan membawanya ke tempat yang aman.


"Hikari! Kau baik-baik saja?! " ucap Harui dengan nada khawatir. Nee mulai mengerjapkan matanya, samar hanya paras cantik Harui yang tertangkap indranya.


" Maafkan aku, Harui. Karena aku, kau mengalami kehidupan yang mengerikan. "


Harui memggelang pelan. " Setidaknya, setelah badai yang cukup panjang itu. Aku masih bisa bertemu denganmu, Hikari. "


......................


Senyuman mulai menghiasi wajah-wajah para prajurit sihir. Lubang jebakan yang tertutup asap, mulai menampakan wujudnya. Tubuh besi Yurei berserakan, tertimpa timbunan tanah di bawah sana. Mereka berhasil mengalahkan Yurei


" Kita berhasil! Hore! "


Sorakan kemenangan terdengar, hal serupa di rasakan Hotaru. Ia akhirnya bisa bernafas lega.


" L- lihat itu! Matahari mulai kehilangan cahayanya! " salah seorang prajurit kembali berteriak.


Semua tertuju ke arah timur, matahari di ufuk timur perlahan mulai tertelan sebuah kekuatan aneh. Bukan hanya itu, sebuah energi hitam mengulum, dan membuat seluruh daratan terkukung kegelapan. Hari yang seharusnya dipenuhi cahaya matahari, kini berubah bak malam menyingsing.


"Kekuatan mengerikan apa ini? Aku merasakan energi kegelapan yang kuat datang! " gumam Hotaru pelan

__ADS_1


__ADS_2