Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Masa Lalu Hotaru


__ADS_3

"Banyak orang mengira, menjadi seorang putra penguasa Negeri Hoshi adalah sebuah keberuntungan dari surga.


Namun, itu tidak berlaku untukku. Sejak hari di mana aku lahir ke dunia ini, aku telah merenggut orang yang aku cintai. Begitu pula yang ayahku cintai, dia adalah ibuku sendiri


Aku tunbuh dengan melihat punggung dingin ayahku. Aku memang hidup dengan segala hal yang membuat orang lain iri. Tapi itu bukan termasuk kasih sayang yang aku terima dari ayahku.


Aku hanya memiliki seorang kakak, satu-satunya orang yang menganggap seorang Hotaru ada di dunia inu. Kakak yang terlalu sempurna untuku, hingga rasa kagumku berubah menjadi rasa iri"


~Hotaru ketika berumur 5 tahun~


Hah! ..... Hah! .... Hah! .....


Seorang anak kecil dengan rambut berwarna biru pucat, terlihat berlatih di tepi sebuah tebing tinggi dan curam. Pemandangan laut biru tampak indah terhampar dihadapannya. Namun keindahan biru lautan tidak terlalu penting untuk anak itu. Ia berlatih keras hingga tangannya dipenuhi bekas lecet hanya untuk meningkatkan kemampuan bertempurnya.


Anak itu mulai mengaktifkan gyoku di tangan kecilnya, untuk ukuran seorang bocah, ia cukup hebat dalam mengendalikan elemen angin miliknya. Hotaru kecil mulai berkonsentrasi penuh, mengatur nafas dan mulai mengendalikan sihir miliknya


"Baiklah! Aku akan mengendalikan anginku, agar air laut bisa naik kesini dengan kekuatan anginku" gumamnya.


Wuuuussss....... Trassssssss.......


Angin besar mulai tercipta dari segel gyokunya, membuat air laut di bawah tebing setinggi 20 meter naik ke permukaan. Ledakan terjadi, ombak besar mirip Tsunami menghantam tepat di depan Hotaru kecil. Senyum bahagia terpancar di wajah imutnya, ia lantas berbalik menghadap sang kakak yang berdiri tepat belakangnya


"Lihatlah kak Hikari! latihanku selama sebulan penuh kini berhasil. Dengan sihirku, aku bisa mengendakikan elemen angin hingga membuat air lautnya naik! " ucap Hotaru sambil ngos-ngosan. Namun kilau matanya menunjukkan bahwa ia senang telah menguasai sesuatu yang baru dengan kerja kerasnya


Hotaru mengusap peluh di wajahnya. Tangan kecilnya penuh luka lecet, akibat berlatih fisik guna meningkatkan kekuatan Gyokunya


Sementara itu, seorang anak yang terlihat lebih tua dengannya, tersenyum ke arah Hotaru. Anak yang tidak beda jauh penampilannya kini menghampiri Hotaru sambil bertepuk tangan


"Bagus Hotaru, sekarang tinggal kau tunjukkan saja ke ayah. Dia pasti bangga akan pencapaianmu! " ucapnya sambil tersenyum hangat. Hotaru mengangguk semangat ia tidak sabar akan mengatakan pencapaian yang ia raih hari ini pada sang ayah


"Tentu. Itu adalah tujuan dari latihan kerasku kakak. Aku ingin ayah mengakuiku, serta aku ingin menjadi kuat sepertimu! "


"Tentu. Kau harus lebih kuat dariku, Hotaru! " ucap Hikari sambil mengelus kepala Hotaru


Hotaru tersenyum, ia sangat menyukai kakaknya itu. Untuk itu dia berlatih keras agar bosa tumbuh kuat sepertinya. Hotaru kecil tidak sengaja melihat keranjang di tangan Hikari. Alisnya mentaut, apa yang sedang Hikari bawa di keranjang itu


"Tapi, Kenapa kau membawa burung kecil itu? "ucap Hotaru penasaran. Ia melihat burung kecil di keranjang yang ditengteng Hikari


" Oh! Ini . Aku ingin membawanya ke kastil. Anak burung ini terluka karena jatuh dari pohon, aku akan menggobatinya nanti" Baru saja Hotaru dan Hikari hendak pergi dari tempat latihan, seorang pria berwajah dingin tiba-tiba menghamoiri mereka


"Hikari! " Seseorang memanggil Hikari dari belakang. Sorot mata pria itu begitu dingin. Sambil menatap kedua anak didepannya, ia hanya terlihat tertarik pada Hikari. Sementara untuk Hotaru, pria berwajah pucat itu hanya mengabaikan anak itu begitu saja


" Ayah...... " ucap keduanya kompak, mereka lalu membungkuk dan memberi salam ke ayah mereka. Pria yang di panggil ayah itu, bernama Hozuki. Ia adalah pemimpin Negeri Hoshi. Pria yang terlihat tegas serta memiliki wajah datar dan dingin.


" Aku mencarimu Hikari. Kita harus terus berlatih agar kau bisa menguasai elemen Besi sepenuhnya. Keadaan negara kita amat genting, Perang mungkin pecah dengan Sora! " Hozuki lalu menatap Hotaru sekilas, Hotaru hanya memasang senyum ketih ke arah dang ayah. Namun sekejap kemudian, ayahnya hanya pergi begitu saja tanpa mengucaokan seoatah kata untuk putra keduanya


"Baik Ayah! " ucap Hikari. Hotaru berdiam sejenak. Seperti biasa, sang ayah terus saja mengabaikannya. Hal itu tidak membuatnya menyerah dengan senyum lelah mengisi wajah imutnya. Ia berlari ke arah sang ayah

__ADS_1


Hotaru juga ingin berlatih bersama sang Ayah, Hotaru berusaha menyingkirkan ketakutan didalam dirinya, ia lantas menghampiri sang ayah dan menceritakan pencapaiannya


"Ayah..... Ayah..... Apa kau tahu, aku berhasil dalam mengendalikan teknik Anginku. Apa kau mau melihatnya? " ucap Hotaru antusias


Namun, sang ayah hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Tanpa menjawab Hotaru ia hanya berbalik dan meninggalkan mereka.


" Kakak mu bahkan menguasai teknik itu lebih dini darimu. Kau hanya akan membuang waktuku!


Hikari.... Cepatlah.....


Sebagai pewaris Negeri Hoshi, kau tak boleh membuang waktu berhargamu itu. Terlebih jika untuk bermain-main dengan bocah seperti adikmu itu! " ucap Sang Ayah acuh


Hotaru hanya bisa memandangi punggung sang ayah yang menjauh. Sorot mata yang sayu kini dipenuhi air mata kekecewaan yang hampir saja terjatuh. Hikari hanya menepuk bahu Hotaru pelan. Ia mengerti perasaan Hotaru, tapi ia pun tidak bisa berbuat apa-apa


"Seperti biasa, hanya tatapan dingin ayah yang aku terima. Aku tidak meminta hal lain, tapi aku harap..... Setidaknya ayahku dapat mengakui keberadaanku.... "


" Hotaru, Kau pulang saja ke rumah. Aku akan berbicara dengan ayah tentang pencapaianmu hari ini. Kau sudah bekerja keras hari ini. Kerja bagus Hotaru! Kau anak yang berbakat" Hikari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


"Dan ini, Kakak punya sesuatu untukmu" ucap Hikari. Ia memberikan Hotaru sebuah gelang berliontin bintang kepada Hotaru. Mata Hotaru membulat, ia begitu terkejut dengan hadiah yang Hikari kasih untuknya


"I-ini?" ucap Hotaru tidak percaya. Hikari hanya tersenyum lembut, sambil memakaikan sebuah gelang di tangan Hotaru


"Ini adalah gelang pemberian kakek padaku. Tapi aku ingin memberikannya kepadamu. Ini adalah hadiah untuk kerja kerasmu selama ini, Hotaru. " ucap Hikari


"Tapi, Hanya calon pemimpin Hoshi yang boleh memilikinya" Hotaru mencoba melepas gelang pemberian Hikari. Namun sang kakak menghentikannya


"Kau boleh memilikinya, kau sudah bekerja keras selama ini, ini hadiah atas usahamu.


"Baik kakak, terima kasih Kak Hikari. Aku akan menyimpannya! "


"Hikari memiliki bakat yang diturunkan oleh leluhur kami dalam mengendalikan elemen Besi. Oleh sebab itu ia dilatih secara Khusus oleh Ayahku sebagai calon pemimpin Negeri Hoshi


Ia adalah kakak yang penyayang. Di luar itu, ia juga seorang prajurit militer hebat di usianya yang masih muda. Ia adalah jenius yang mampu mempelajari teknik sihir dengan cepat, sehingga ayahku sangat bangga padanya


Hikari di besarkan agar bisa membuat Negeri Hoshi kuat dan dapat memenangkan peperangan dengan kemampuannya


Namun, ia hanya seorang anak yang mencintai perdamaian dan memiliki hati yang lembut"


......................


~Hotaru berusia 10 tahun~


Dalam usianya yang menginjak umur 14 tahun, Hikari sudah di percayai memimpin pasukan di medan Perang. Dalam sebuah diakusi, Hozuki memutuskan untuk menyerang Sora. Ia mempercayakan pasukan penyerangan itu kepada putra sulungnya


"Aku akan memerintahkan Hikari untuk memimpin pasukan untuk menyerang Sora! "


Para Tetua terlihat mengagguk setuju, namun mereka meminta agar seseorang membantu misi itu.

__ADS_1


"Bukankah untuk tugas besar itu, seseorang harus mendampinginya, tuan? "


Hotaru yang ikut dalam diskusi itu menatap ayahnya lekat. Ia bisa mempercayai kemampuannya yang telah berkembang dengan kerja kerasnya selama ini untuk membantu sang kakak. Hozuki memandang putra bungsunya itu. Namun secepatnya, pandangan itu ia alihkan


" Aku akan meminta pasukan Khusu Hoshi untuk membantu Hikari" Seketika, harapan Hotaru lenyap, bahkan dalam situasi saat ini, sang Ayah masih belum mengakuinya. Tangan Hotaru mengepal kuat, kenapa? Kenapa sang ayah masih saja menganggap Hotaru seperti sosok yang tidak terlihat


"Semenjak itu, rasa kagumku kepada Hikari berubah menjadi rasa iri. Kakaku dengan mudah mendapatkan pengakuan dari orang-orang termasuk ayahku


Berbeda denganku, seberapa keras aku berusaha. Tidak ada yang mengakuiku.


Rasa iri ini, membuatku semakin jauh jatuh kegelapan. Bahkan aku sering mengabaikan kakakku yang mengkhawatirkanku"


Selesai rapat, Hotaru berjalan seorang melewati ruangan sang ayah. Perasaanya sangat kacau, ditambah dengan ucapan sang ayah terakhir kali membuat Hotaru begitu marah. Ketika melewati ruang kerja sang Ayah, Ia secara tidak sengaja mendengar percakapan ayahnya dengan Hikari


"Apa aku harus memimpin penyerangan Desa Sora, ayah tau target kita hanya sebuah desa kecil di perbatasan? " Hotaru mendengar Hikari menolak perintah dang ayah. Dalam hatinya ia begitu membenci keputusan Hikari. Sesuatu yang Hotaru idamkan kebih dari apapun. Kenapa kakanya itu begitu mudah menolak kepercayaan yang diberikan padanya?


" Itu adalah balasan yang kita kirim untuk Sora, kau adalah calon pemimpin Hoshi selanjutnya. Aku tidak menerima sikapmu yang lemah itu! " suara Hozuki terdengar nyaring sampai di kuar ruangan. Hotaru hanya mendengarkan pertengkaran itu dari balik pintu


" Buktikan kemampuan yang kau kuasai sampai saat ini, jangan sampai kau mengecewakan ayah atau Hoshi. Kau hanya perlu menghabisi desa di perbatasan itu, menghabisi warga biasa tidak sulit untukmu! "


"Bagaimana mungkin, aku membunuh orang biasa untuk tujuan balas dendam seperti ini? "


Brakkkkk.....


Sang ayah mengebrak meja, membuat Hotaru yang menguping pertengkaran itu terkejut


" Aku tidak butuh sikap lemahmu itu, dalam perang tidak ada yang namanya simpati.


Turuti apa yang ayah katakan padamu! " ucap Sang Ayah sambil berjalan keluar ruangan


Hotaru yang masih terpaku mendengar pertengkaran itu, tidak bisa menghindari sang ayah. Hozuki keluar dari ruangan itu. Ia melihat putra bungsunya berdiri di depan pintu ruangannya. Seperti biasa, ia hanya menatap Hotaru tajam dan meninggalkannya begitu saja. Namun belum sempat sang ayah melangkah lebih jauh, ia mengatakan sesuatu ke Hotaru


"Temui ayah nanti, di ruangan Ayah! " ucapnya sambil meninggalkan Hotaru


Hikari yang keluar dari ruangan itu terlihat murung, pertengakran dengan sang ayah memberinya begitu banyak tekanan. Tapi ketika ia melihat adiknya berdiri di hadapannya, senyum Hikari mengembang meski dengan wajah yang sayu. Senyum itu hanya senyum terpaksa, ia tidak ingin menunjukkan perasaannya kepada adika satu-satunya itu


"Kau di sini Hotaru? Apa kau mau makan malam dengan kakak? " ucap Hikari ririh. Satu hal yang membuat ia menjalani hidup yang keras, alasan selama ini ia dapat bertahan adalah karena adiknya, Hotaru. Untuk itu, ia tidak mau menunjukkan rasa sakit didepan sang adik


Hotaru hanya memandang Hikari dingin. Di banding dengan menerima ajakan makan malam dengan Hikari, Hotaru kebih memilih mempermasalahkan kenapa Hikari menolak Misi yang diberikan sang ayah untuknya


" Kenapa kakak tidak mau mengambil Misi dari ayah?


Apa jangan-hangan kakak menganggap remeh misi ini, karena kakak sudah di akui oleh seluruh rakyat? Seharusnya kakak dapat melakukan misi ini dengan baik! " ucap Hotaru sambil meninggalkan Hikari


"Saat itu, aku benar-benar iri dengan kakaku. Aku lampiaskan kekesalanku kepadanya. Tanpa tahu beban seberat apa yang harus ia tanggung dipundaknya


Untukku, mendapat pengakuat ayahku adalah tujuanku, entah dengan jalan seperti apa pun itu. Aku pasti akan melakukan semua yang aku bisa untuk diakui.

__ADS_1


Aku tidak bisa membenci kakaku, tapi dalam masa itu, hubungan kami semakin menjauh.


Tidak..... Lebih tepatnya.... Aku mulai menjauhi kakaku! "


__ADS_2