Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Mirai Kembali


__ADS_3

Langit musim semi terlihat cerah mengiasi langit Sora. Namun, Kabut duka tampak jelas menyelimuti seluruh penjuru desa Sora. Berita kematian pemimpin tercinta mereka, sudah tersebar ke seluruh rakyat Sora. Orang-orang sengaja menutup toko dan menghentikan segala aktifitas demi memasang bendera putih, tanda berduka di depan rumah mereka.


Wajah semua orang terlihat murung. Dengan setelan kimono hitam, rakyat Sora berbondong-bondong menuju aula di depan kantor pemerintahan desa Sora. Sebuah altar penghormatan didirikan untuk mengenang mendiang pemimpin bersahaja mereka. Pemakaman Zen, dilakukan sehari setelah pertarungan lembah kehidupan berakhir.


Di kantor Ketua Zen, Ten hanya diam mematung sambil menatap kosong meja kerja didepannya. Penampilan Ten benar-benar Kacau. Ia bahkan masih mengenakan Seragam Cops Awan Putih yang rusak akibat pertarungan. Beberapa bekas luka menghiasi wajahnya, sementara kedua sorot matanya tampak memerah akibat menahan tangis. Wajah Ten terlihat pucat, dari lingkar hitam di bawah matanya, bisa dipastikan Ten terjaga semalaman.


Ten mengeluarlan hadiah yang di siapkan oleh Yume. Ia sedikit menyesal, bahkan syal yang sudah ia siapkan sebagai hadiah, tidak pernah sampai ketangan Zen. Ten mengusap lembut syal di tangannya, dan meletakkan tepat di atas meja orang yang paling ia hormati itu.


Kejadian yang menimpanya kemarin, bagaikan mimpi mimpi buruk tak berujung. Ten masih belum bisa menerima bahwa sosok hangat itu sudah pergi.


Di ruangan ini, ruangan dimana ia selalu bertemu dan disambut senyum hangat Zen. Ruangannyang biasanya di hiasi suara cerewet Zen kini tampak kosong. Pria paruh baya itu selalu memberikan perhatian hangatnya berupa omelan ke setiap murid-muridnya, meskipun ia selalu sibuk dengan tugas negara yang berat, Zen tidak pernah lupa menanyakan keadaan Ten.


'Kau sudah makan, Ten? ` 'Berhenti bekerja, dan tidurlah di rumah malam ini. Ini bukan permintaan, tapi perintah!'


Suara Zen masih terngiang segar ditelinga Ten. Ia hanya bisa tersenyum pahit, tanpa ia sadari air matanya mentes. Meskipun ia mencoba menerima dan tegar, tetap saja Ten masih menyembunyikan sebuah luka dihatinya. Pria berambut coklat itu lantas melirik ke sebuah foto yang dipajang di ujung jendela.


Foto yang memamerkan dirinya, Aora dan Rou ketika berhasil mencapai pringkat seorang kapten divisi militer. Zen merangkul ketiga muridnya sambil tersenyum cerah. Ia bagaikan ayah, yang sangat bangga melihat putra-putranya tumbuh menjadi pria terhormat.


"Jika aku tahu, malam itu menjadi malam terakhir aku melihatmu. Aku pasti akan mencegahmu bertemu dengan pria itu (Tanuki). Maafkan aku, Ketua. " gumam Ten ririh.


Pandangan Ten tertuju pada tumpukan surat di sudut meja, tanpa sengaja ia melihat namanya tertulis di salah satu amplop. Ten segera mengambil tiga buah surat itu, lalu membuka surat yang berisi namanya.


Ten, Aora dan Rou kalian sudah bekerja keras selama ini demi keamanan desa Sora, maafkan aku tidak bisa selalu bersama kalian.


Dan untukmu Ten, kau pasti kesulitan menjaga rahasiamu selama ini. Mengenai fakta bahwa kau anak Tanuki, aku sudah mengetahui hal itu sejak lama. Senyum hangat serta semangat yang kau miliki, mengingatkanku pada sahabat lamaku, Mito. Kau sudah tumbuh menjadi pria terhormat, seperti yang Mito harapkan.


Setelah kau membaca surat ini, aku mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi. Untuk itu, aku titipkan Sora pada kalian. Lindungi Sora dan bawalah perdamaian di negeri ini. Hanya itu mimpi yang ingin pria tua ini wariskan pada kalian. Daun layu sepetiku sidah seharusnya pergi dan diganti. Kalian adalah Tunas Muda Sora yang baru.


Ten menutup surat ditangannya. Ia pun mulai berdiri tegap, dan mulai bersimpuh sambil membukukan tubuhnya (penghormatan kepada mendiang). Sebuah penghormatan terakhir, Ten berikan kepada Zen.


"Aku berjanji, akan menjaga mimpi yang kau percayakan padaku, Guru. "


......................


Halaman kantor Desa Sora sudah dipenuhi Rakyat Sora yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk oemimoin mereka. Sebuah Altar megah, dengan foto Zen didalamnya dibangun di atas balkon Gedung Sora. Semua rakyat tampak menundukan kepala sejenak.


Angin musim semi bertiup lembut. Kelopak bunga sakura bahkan mulai berguguran, terhempas terbawa angin dan jatuh di depan altar milik Zen. Upacara penghormatan akan segera dilaksanakan. Semua Kapten divisi Militer Sora, satu persatu mulai meletakkan setangkai bunga putih di altar mendiang. Berdoa, dan mulai memberikan penghormatan terakhir.


Ten, dengan kimono serba hitam dan pita putih (tanda kerabat berduka) yang terlilit dilengannya mulai naik ke sebuah podium di depan altar. Ten membawa salah satu surat yang ditujukan untuk rakyat Sora, sebuah pengumuman resmi milik Zen yang ditulis langsung sebelum ia meninggal.


"Untuk semua Rakyat Negeri Sora. Di tanganku ini, ada sebuah surat yang berisi pernyataan penting mendiang Ketua Zen untuk kalian. Aku sendiri yang akan membacakan pesan beliau! "


Semua orang heboh, pengumumuman apa yang hendak disampaikan? Masyarakat yang memiliki trauma perang mulai cemas. Mungkinkah ini pengumuman perang?

__ADS_1


Ten mulai membuka surat itu. Sambil menghela nafas pelan, ia mulai membaca setiap kata yang tertera pada surat di depannya dengan suara lantang.


" Untuk Rakyat Sora.


Aku Zen. Sebagai pemimpin tertinggi militer Sora, aku hendak menyampailan sebuah rahasia yang dijaga ketat oleh para petinggi terdahulu. Pengumuman ini, mungkin akan membuat pandangan kalian sedikit berbeda. Karena sejatinya, kenyataan pahit telah dikaburkan dari orang-orang.


15 tahun yang lalu. Sebuah pengukuhan segel Nue dilakukan secara rahasia oleh pemimpin Sora terdahulu, Aoryu. Nyatanya pengukuhan segel itu gagal di lakukan.


Sebagian kekuatan iblis Nue terbebas dan mengancam dunia sihir. Karena kesalahan kami, seorang anak harus menanggung tanggung jawab besar untuk menutupi insiden itu.


Sebagai pemimpin, dan orang dewasa aku tentu merasa malu. Mengorbankan hidup seorang anak, demi menutupi kesalahan yang kami perbuat.


Anak-anak yang dikorbankan itu, justru kini menjadi kunci untuk menghentikan kebangkitan Nue. Sesuai pesan leluhur kita, kebenaran pasti bisa bersinar kembali.


Matahari, Bulan Dan Salju harus kembali bersatu dan menjaga langit (Sora).


Untuk itu, aku serahkan jabatanku kembali kepada orang yang berhak. Dan kalian semua, rakyat Negeri Sora harus selalu mendukung pemimpin baru Sora! "


Ten mengakhiri surat yang ia baca. Alisnya sedikit bertaut bingung. Jujur, ia sendiri tidak mengerti apa yang disampaikan Ketua Zen. Keturunan Tiga Pilar penjaga masih ada? Lalu siapa itu? Setahu Ten hanya Aora lah yang masih tersisa, dan saat ini ia bahkan tidak tahu keberadaanya.


Rakyat Sora semakin heboh. Beberapa di antara mereka, bahkan meragukan apa yang diltulis Zen. 15 tahun lamanya, keturunan bagsawan Sora sudah musnah. Mereka percaya, tidak mungin ada keturun Clan yang masih tersisa. Khususnya keturunan Clan Salju.


Di tengah kehebohan itu, salah seorang warga merasakan sesuatu yang dingin menembus wajahnya. Pria itu segera mengusap benda kecil yang meleleh itu. Matanya membulat sempurna.


Semua orang mulai memperhatikan langit, benar saja buliran salju turun di antara kelopak bunga sakura yang gugur. Hal ini tentu jarang terjadi, sebentar lagi musim semi usai dan musim panas akan datang. Bagaimana mungkin salju turun di cuaca hangat seperti ini?


"Hei! Semua! Coba kalian perhatikan di depan altar Ketua Zen! Siapa wanita itu?! " semua orang kompak melihat ke arah altar. Orang-orang tampak keheranan.


" Siapa wanita itu? "


......................


Langkah lembut bak kelopak bunga yang jatuh ke tanah. Rambut hitam panjang, setengahnya digulung dengan hiasan ornamen salju yang cantik. Kimono Sutra mewah terbentang hingga lantai, dengan sentuhan warna ungu pucat tampak anggun memeluk tubuh rampingnya. Sementara itu, sebuah lambang Salju berwarna biru, terlihat kontras terbordir di kedua bahu serta dada kimononya.


Mata seindah lavender menatap lurus altar didepannya, dengan lembut ia meletakan bunga tanda penghormatan untuk mendiang. Mirai memejamkan matanya sejenak, ia berdoa agar arwah Zen tenang di alam keabadian.


Suara riuh terdengat dari bawah sana. Mirai putuskan untuk melangkahkan kakinya naik ke atas podium. Mirai tidak sedirian, di sampingnya sososk pria tampan bermata kelam juga turut mendampinginya.


Yora terlihat berbeda. Ia begitu gagah dengan balutan Kimono mewah bernuansa hitam dan putih. Sebuah lambang bulan berwarna putih keemasan tersulam di kedua sisi bahunya. Yora memancarkan pesona bak bulan purnama di malam hari.


"I- itu, bukankah pakaian kebesaran pemimpin Clan Salju?! " teriak salah seorang di bawah sana.


" Dan pria di sampingnya. Bukankah dia Tuan Muda Yora?! " Semua orang terpaku.

__ADS_1


Mirai dan Yora berdiri berdampingan. Di tengah podium, ada tiga buah lingkaran yang berisi masing-masing gambar simbol tiga Clan Utama. Itu adalah Tempat khusus dimana pemimpin clan utama biasanya berdiri, saat rakyat Sora berkumpul.


Matahari, Salju, Bulan. Tidak seorang pun selain keturunan clan itu yang diperbolahkan menginjak simbol di lantai.


Tempat yang selalu di biarkan kosong, untuk menghormati Clan Bangsawan Sora. Kini telah terisi. Kecuali Aora, Mirai dan Yora berdiri tepat dimana bisanya ayah atau ibu mereka berada.


"Kenapa gadis itu berani menginjak simbol Salju. Siapa dia sebenarnya?! " salah satu rakyat tidak terima.


" Simbol Salju hanya bisa ditempati pemimpin Clan Salju! Jangan berani menginjaknya! "


Tentu saja, mereka sama sekali tidak tahu bahwa ada keturunan Clan Salju yang selamat.


Mirai hanya memasang wajah datar. Ia tahu, ucapan saja tidak akan dipercayai orang-orang. Siapa juga yang akan percaya wanita asing yang tiba-tiba mengaku menjadi orang penting?


"Aish! Merepotkan! " gumam Mirai kesal. Ia segera melirik Rou dan Hanna yang bersembunyi dibelakang panggung.


Dua orang itu hanya bisa nyengir tanpa rasa bersalah. Jujur, semua ini adalah ide Rou. Tampil elegan, muncul dengan berwibawa bak putri kerajaan. Pakaian kebesaran. Tak lupa, memberi sentuhan sihir kecil dengan menurunkan salju di tengah matahari terik. Rou pun mengibaskan tangannya sambil berbisik.


"Perlihatkan sedikit kekuatanmu, Mirai! " bisik Rou.


" Mirai, gambatte! " Hanna pun tidak mau kalah.


Mirai hanya bisa menghela nafas frustrasi. Jelas-jelas ini buka ngayanya. Ia sempat melirik ke arah Yora, sepertinya leader Tengu itu juga merasa tidak nyaman.


" Sial kau Rou! Tunggu saja, aku akan membekukanmu hingga ke leher! Awas Saja! " Mirai mulai menarik nafas panjang. Ia pun membenarkan posisi berdiri, dan berlaku seelegan mungkin.


Ia mengagkat tangannya ke atas. Simbol Gyoku Saljunya mulai mengeluarkan cahaya, tepat saat itu buliran salju berhenti jatuh.


Angin dingin datang entah dari mana, perlahan mulai membekukan apapun yang dilewatinya. Salah satunya, kelopak bunga sakura yang tadinya jatuh berguguran mulai berubah menjadi es. Semua orang merasakan dingin yang hebat, beberapa dari mereka bahkan merasakan tubuhnya mengigil


"Kalian pasti tidak akan percaya apa yang aku katakan, bukan? Dibanding membuang suaraku yang berharga, akan aku buktikan ini lebih dulu! " ucap Mirai lantang. Sikap barbarnya nyatanya masih lekat di diri Mirai.


Semua orang mulai terdiam, dari raut wajahnya ia mulai mempercayai Mirai. Melihat hal itu, senyum tipis terukir di wajah cantiknya.


Akhirnya, aku kembali ketempat dimana aku berasal. Ayah, ibu. Apa kalian melihatku dari atas sana?


" Aku adalah Keturunan terakhir Clan Salju Sora. Namaku, Yuki Mirai! "


...----------------...


Yeay! Tembus 200 chapter... Di cahpter kali ini, Author nyiapin Come Back Mirai ke desa Sora. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan nama Yuki Mirai.


Seperti kalian tahu, nama Yuki menunjukan identitas Clan Mirai. Dan Author sengaja menyiapkan kemunculan Mirai di chapter 200....

__ADS_1


Selain Aora, Pilar Penjaga Langit sudah sepenuhnya kembali ke Sora. Mereka akan memulai perlawanan Kurasu dari sana. Penasaran kelanjutannya? Yuk dukung Author!


__ADS_2