Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Keserakahan


__ADS_3

Brakkk.........


Suara hempasan dokumen menyeruak keheningan di markas bawah tanah Cops Merah


"Bisa kau jelaskan padaku, kenapa tidak ada satupun laporan mengenai insiden penyerangan bos Bandit, Tanuki?"


Ketua Zen mendatangi sendiri markas bawah tanah Tanuki. Dengan tatapan tajamnya, ia menuntut penjelasan dari sahabatnya itu


Tanuki hanya bisa menatap dokumen yang di banting Ketua Zen, tidak ada ekspresi apa pun dari pria dengan perban di wajahnya itu


"Bukankah ini otoritasku, sebagai petinggi militer desa Sora? hal sekecil ini tidak berlu kau ributkan Zen'


Pandangang Tanuki kini tertuju Cops Putih yang mengawal ketua Zen di belakangnya. Barisan prajurit bertopeng binatang Cops Putih dengan sigap memasang ancang-ancang menyerang di belakang Ketua Zen



Tentu, Tanuki tidak mau kalah. Cops Merah pun bersiap memasang pertahanan. Baik Merah dan Putih, mereka adalah kekuatan yang seimbang


"Ancaman kecil? Bagaimana kau bisa menyepelekan hal itu, dilihat dari korban yang tewas, tidak mungkin pelakunya adalah orang militer biasa! "


"Aku sudah mengurusnya, mereka hanya kelompok kecil yang beruntung saja. Mereka hanya mau balas dendam ke Ketua Bandit, tidak lebih! " Tanuki masih berkilah dihadapan Zen. Untuk saat ini, ia ingin informasi mengenai keberadaan Tengu tetap rahasia


"Aku sudah sangat meragukanmu, Tanuki! "


Ketua Zen pun mendekat ke arah Tanuki, ia membisikkan sesuatu padanya


"Insiden desa Fuu, aku yakin semua itu adalah ulahmu! " ucap Zen, tanpa Tanuki sadari sahabatnya itu tahu mengenai kebusukannya bermain koror terhadap warga Desa Fuu


Mata Tanuki pun membesar, bagaimana Zen bisa tahu? bahkan ia secara sempurna sudah menutup kasus itu. Tidak mau kalah, Tanuki pun membalas berkataan Zen


"Apa kau menuduhku mengkhianati Sora, apa kau punya cukup bukti Zen? " ucapnya sambil berbisik


" Aku masih menganggap kau sebagai pelindung Sora dan juga sahabatku. Tapi aku tidak dapat mentoleril tindakanmu itu, tunggu saja Tanuki! Aku akan mengungkapkan perbuatanmu...... Setidaknya itulah yang bisa aku lakukan sebagai sahabatmu, untuk menyadarkan keserakahanmu itu! " ucap Zen


"Braninya kau Zen! " Tanuki mencengkram kerah Ketua Zen. Pria paruh baya itu hanya bersikap tenang, Zen menatap mata lekat sahabatnya itu,


" Akan aku pastikan, kau melepas keserakahanmu itu. Apapun rencanamu kau tidak akan pernah berhasil. Tidak ketika aku masih hidup! " mendengar ancaman Zen, Tanuki hanya tersenyum licik. Ia begitu memandang rendah sahabatnya itu. Baginya, Zen tidak lebih dari pemimpin lemah yang hanya mementingkan perasaan lembutnya saja. Tanuki percaya, hal itulah yang membuat Sora hancur dibawah pemerintahannya


"Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu? Jangan kira hanya kau saja yang bermandikan cahaya....... Jauh di dalam dirimu, kau memiliki jiwa yang lebih busuk dari pada aku, Zen! "

__ADS_1


Melihat ketegangan semakin memanas antara kedua pimpinan mereka. Baik Cops Merah atau Putih bersiap menyerang dengan mengeluarkan pedang masing-masing


Meski dalam keadaan di cengkram, Ketua Zen mengangkat tangannya. Mengisyaratkan agar Cops Putih tidak menyerang dan membuat kegaduhan


Kedua Cops kembali tenang. Topeng Hewan serta Topeng Dewa kematian seakan menyembunyikan emosi kedua Cops itu, mereka hanya mendengar perintah pemimpin mereka.


"Aku tidak mau membuat darah antar saudara tumpah di sini. Memang benar, aku membuat kesalahan yang tidak dimaafkan 18 Tahun lalu, aku bahkan siap jika anak-anak itu meminta nyawaku sekarang.


Tapi, Tanuki......


Itu salah kita sebagai orang Dewasa, dan kau juga harus menyesali apa yang kau perbuat!


Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak meragukanmu dalam melindungi Sora. Tapi dengan keserakahanmu itu, kau hanya mengancurkan hidupmu dan Sora pada akhirnya" ucap Zen. Tanuki menatap Zen tajam, rahangnya mengeras karena menahan emosi


"Kau saja yang melakukan itu. Bagiku aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku anggap masalalu sebagai bayarana atas apa yang hendak aku capai" Zen pun melepas cengkraman tangan Tanuki,


"Jika itu keinginanmu, terpaksa aku berbalik melawanmu. Tapi, sekali lagi, aku mohon padamu, hentikan semua hal yang kau rencanakan........


Kembalilah ke Tanuki, sahabat satu-satunya yang masih aku miliki! " Pinta Zen, sorot matanya melemah. Bahkan hingga detik ini, ia berharap Tanuki menghentikan semua dan kembali menjadi sosok yang ia kenal dulu


"Tanuki yang dulu sudah lama mati, bahkan aku sendiri tidak mau mengingat pria lemah itu.


Sekarang pergilah...... Jika kau tidak mau ada darah yang tumpah. Sebaiknya jangan coba-coba menerobos masuk ke markasku lagi, Zen! " Ucap Tanuki meninggalkan Zen, yang kini berdiri menatapnya


Tatapan Tanuki tampak kesal, ia pun berbalik menuju lorong di depannya. Ia lalu memerintahakan bawahannya untuk melakukan sesuatu


"Cepat bawa gadis itu ke hadapanku, berani sekali 'dia' menusukku dari belakang! " ucap Tanuki sambil berjalan pergi


......................


Di sebuah ruang gelap, sesosok gadis berambut violet tengah diikat kedua tangannya. Dengan tubuh tergantung akibat kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya


Yume, dengan tubuh penuh dengan luka, tidak sadarkan diri akibat siksaan berat yang diterimanya. Seragam Cops Merahnya bahkan basah oleh noda darahnya sendiri


Brass........


Seseorang menyiramnya dengan air, Yume pun sadar dari pingsannya. Ia tengah di siksa di ruang intrograsi markas Cops Merah


Tanuki yang sedari tadi duduk di depannya tampak tenang, ia sama sekali tidak peduli dengan gadis yang terluka parah di depannya

__ADS_1



"Apa kau tahu kesalahanmu Yume? "


Yume masih terpejam, dengan kepala yang merunduk. Sambil tertatih, ia berusaha menjawab pertanyaan Tuannya


" Aku...... Aku tidak becus mengawasi Ten, sehingga dia membuat masalah, Tuan! " ucap Yume dengan suara pelan


Wajah Yume yang penuh luka lebam, ia berusaha menjawab pertanyaan tuannya dengan tenaga yang tersisa. Siksaan Cops Merah dikenal sangat sadis, bahkan mereka tidak segan mencambuk korban hingga tewas


"Bagus..... Peraturan Cops Merah adalah tidak menerima kesalahan apapun, tapi kau sendiri yang melanggar aturan utama itu, Yume! "


Brakkkkkkkkkkkkk..........


Ten menerobos masuk ke dalam ruang penyiksaan itu, beberapa pengawal mencoba menghentikannya tidak bisa menghalanginya. Ten pun berlari ke arah Yume


" Yume...... Apa kau baik-baik saja? " ucap Ten khawatir. Sorot matanya bergetar, ketika melihat wanita yang ia cintai diikat dan sisiksa dengan sangat kejam


" Apa yang kau lakukan pada Yume Ayah! " Teriak Ten tidak terima


" Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memberi pelajaran kepada anakku yang berani membangkang. Satu-satunya cara adalah bermain dengan barang kesukaanya! " ucap Tanuki dingin


Tangan Ten mulai mengepal, tubuhnya bergetar menahan amarahnya. Ia lalu mencoba melepaskan Yume dari jeratan tali yang mengikat tangannya


"Kau tentu tidak lupa akan kontrak Kutukan milikku kan Ten? " Suara Tanuki seketika menghentikan Ten untuk melepaskan ikatan Yume


Ten dengan emosinya, langsung berbalik dan berjalan menuju ke hadapan Tanuki. Ia menatap tanuki dengan Tajam, bibirnya bergetar akibat amarahnya yang kian memuncak


Brakkkkkk.........


Ten berlutut di hadapan sang Ayah, dengan kepala menunduk ia memohon pada ayahnya untuk melepaskan Yume


"Aku mohon ayah. Tolong lepaskan Yume........ Aku tidak akan lagi menghianati mu........ Aku Mohon, mulai sekarang aku akan menuruti semua perkataanmu! "


Tangan Ten mengepal di pahanya, dengan kekuatannya, tidak mungkin ia bisa mengalahkan sang ayah. Melihat anak kesayangannya mulai menurut, Tanuki tersenyum puas


"Baiklah. Tampaknya Kau sudah belajar dari kesalahanmu. Tentu Ayah akan mengabulkan apapun permintaan Putraku satu-satunya" ucap Tanuki


Seringai menhiasi wajah Tanuki, ia merasa puas dapat memberi putranya itu pelajaran.

__ADS_1


Ia pun berdiri, dan meninggalkan ruangan itu, beserta anak buahnya


"Sudah aku bilang padamu, orang yang kuatlah yang akan selalu menang, dan mengendalikan orang yang lemah, Ten! " gumamnya


__ADS_2