Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Sahabat di Sisi Aora


__ADS_3

"Hah.......


Kapan selesainya ini?"


Aora, dengan mata malasnya, tengah membalik beberapa dokumen di depannya, tidak hanya itu, tumpukan kertas yang menggunung di sekitarnya, menunjukkan bahwa pria dengan rambut abu yang melawan grafitasi itu benar-benar super sibuk


Tok.... Tok... Tok....


Ketukan pintu itu, menyeruak keheningan di ruang kerja Aora, ruang yang tidak begitu besar dengan segala berkas tersusun rapi di setiap sudut ruang kerjanya itu.


"Hm... Masuklah.... " ucap Aora sambil terus membalik halaman demi halaman dokumen di depannya.


Seseorang memasuki ruang Aora dengan sebuah dokumen persetujuan di tangannya, tidak lupa anak buah Aora itu memberi hormat pada atasanya itu


" Ini dokumen yang harus anda setujui, Kapten" ucap pria itu


"Hm.... Kau bisa meletakkannya di tumpukan berkas di sana, Moku" ucap Aora sambil menunjuk tumpukan map di sampingnya


"Mengenai sistem keamanan yang akan di bahas dengan Kapten Rou, saya..... "


Belum sempat Moku melanjutkan ucapanya, tangan Kaptennya sudah lebih dulu menunjuk ke lemari kayu di depannya


" Sudah aku siapkan...... Rak ke-3 barisan ke-2" ucap Aora cepat, sambil menunjuk rak dokumen di depannya


"Wuah.... Anda memang hebat kapten" ucap Moku sambil menatap Aora kagum


Meski Aora dikenal dengan tampang dan kelakuanya layaknya orang pemalas. Namun, sebagai kapten sebuah devisi Militer, ia tidak pernah melalaikan tugasnya, sebisa mungkin ia menuntaskan tanggung jawabnya dan tidak ingin membebani anak buahnya. Bahkan semua anak buah di bawah komandonya, merasa bahwa kapten mereka sangat bisa diandalkan, dan kompeten


"Kalau begitu saya akan membawa dokumen itu ke Kapten Rou di devisi Intel dan sensor" ucap Moku sambil tersenyum dengan wajah capeknya


Aora hanya bisa menghela nafas, ia pun menutup dokumen di depannya sambil berdiri dari tempat duduknya


"Kau sudah bekerja lembur beberapa hari terakhir, sekarang kau bisa pulang beristirahat, aku sendiri yang akan menyerahkanya pada Rou" ucap Aora


Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, ia berjalan mengambil dokumen itu,


"Pulanglah, serahkan semua padaku.Jangan memaksakan diri, Ini perintah!


Hah....


Tampaknya aku harus menganggu Rou, siapa tahu dia mau mentraktirku" ucap Aora yang seperti bergumam,


Moku hanya bisa membungkuk atas perhatian Kaptennya itu


"Terima Kasih Kapten"


......................


Aora berjalan menyusuri Loby kantornya dengan membawa dokumen di tangannya, pandangannya kini tertuju pada pria pincang yang di borgol oleh beberapa orang berseragam Militer Sora yang berpapasan dengannya


Pria pincang itu adalah ayah si kembar Zuma dan Zumo. Kakinya tampak di Gips, sedangakan pria itu masih saja memberontak, menolak dibawa oleh petugas


Salah seorang petugas yang mengawal pria itu, memberi hormat kepada Aora. Merasa penasaran, Aora pun bertanya kepada anak buahnya itu


"Kenapa kalian menangkap warga sipil? " ucap Aora sambil menatap tahanan di depannya


" Dia adalah pelaku kekerasan kepada 2 anaknya. Seorang anonim telah melaporkan kejahatanya, beserta beberapa bukti Kapten"


"Oh....... Kalau begitu, kerja bagus" ucap Aora


Sedangkan pria pincang itu, kini berteriak keras di depan para penjaga itu


"Sudah aku bilang! Orang yang membuat kakiku patah adalah gadis militer bermata dingin, dia bahkan menggunakan elemen es nya padaku.... Kalian tidak percaya, hah!!! " triak pria itu


Sang penjaga pun mengisyaratkan agar orang itu segera di bawa pergi. Mendengar hal aneh dari tahanan itu, Aora pun bertanya kepada anak buah di depannya

__ADS_1


" Apa maksudnya itu? " ucap Aora


" Ah...... Orang itu, mengaku ia di tangkap oleh seorang gadis berelemen es, itu mustahil. Dia adala seorang pemabuk. Mungkin saja ia terjatuh, dan mematahkan kakinya sendiri.


Kalau begitu, saya permisi kapten Aora" ucap pria itu sambil membungkuk, dan pergi


"Elemen es? " gumam Aora sambil terus menatap kemana pria pincang itu di bawa


......................


Tessss............


Suara nyaring daging yang dipanggang, membuat siap saja yang mendengarnya lapar seketika


" Kau seharusnya tidak menyeret kami ke sini Aora, siapa yang mentraktir hari ini hah? "


Ucap Rou, dengan sumpit yang setia bertengger di jarinya, pandangannya pun tidak beralih dari daging yang di panggang di depannya


" Kau"


Ucap Aora singkat, sambil memandang keluar jendela, dengan dagu yang bertumpu di tangannya, tidak lupa dengan tatapan malasnya


"Apaaaa? " Rou merasa tidak terima


" Sudah.... Sudah.... Bukankah waktu ini aku dan Aora yang traktir, sekarang giliranmu Rou" ucap Ten yang sedari tadi sibuk memanggang daging


"Ck... Tetap saja, kalau seperti ini, aku tidak akan memilih restoran daging untuk makan siang" uca Rou sambil menatap tajam orang yang menjebaknya, Aora


Aora teringat sesuatu.....


"Oh ya...... Kau tahu.... Apa ada pengguna elemen Es yang masih ada? " ucap Aora, sambil menatap sang Kapten Sensor dan Intel Sora, Rou. Dialah orang yang mengetahui informasi apapun di Sora


Ten memasang tampang terkejutnya, memdemgar apa yang di ucapkan Aora. Ia juga begitu penasaran, kenapa Aora mengungkit orang yang bisa menggunakan elemen es


Aora tidak menjawab Ten, ia hanya menunggu jawaban dari Rou. Ten pun mengikuti kemana tatapan Aora


Rou yang sedari tadi di tatap kedua orang sahabatnya itu, ia hanya bisa berdecih sambil mengambil mengambil potongan pertama daging yang matang


"Ck.... Apakah itu mungkin? Pengguna elemen es hanya dikuasai dan berasal dari Clan salju. Sangat mustahil jika ada penggunanya yang masih hidup saat ini. Bukankah mereka semua diban........ " ucapan Rou terhenti, ia buru-buru melihat Aora, takutnya perkataanya itu menyakiti prasaan sahabatnya


" Maaf aku mengungkit masalah itu" ucap Rou cepat


" Aku tidak apa-apa, kenapa kalian memasang ekspresi seperti itu? " ucap Aora


Brakkkk.....


Seorang gadis berambut pendek tiba-tiba saja menggebrak meja ketiga pria yang dalam kondisi canggung itu. Hanna dengan cepat duduk di samping Rou


" Maaf aku terlambat, wuah.... Seseorang tampak kaya, dia bahkan mentraktir Yakiniku" ucap Hanna dengan mata berbinar melihat daging cantik di depannya


"Cih... Kalau urusan makan, kau pasti datang Hanna......... Seseorang yang 'kaya' itu adalah aku" ucap Rou sambil menyipit melihat gadis yang duduk di sampingnya


"Benarkah, kalau begitu.... Terimakasih makanannya...... " ucap Hanna merebut sumpit Rou dan mengambil daging di depannya


" Pelan-pelan Hanna, semua ini untukmu, makanlah pelan-pelan" ucap Ten sambil tersenyum


"Tidak akan ku biarkan setan kelaparan mengalahkanku, lagi pula ini kan dagingku" ucap Rou tidak mau kalah


Sedang kan Aora dan Ten hanya bisa geleng-geleng melihat kedua orang yang makan lahap, seakan mereka kelaparan selama beberapa dekade


"Ckck... Kalian memang pasangan rakus...... Ehem.... Hanna... Dimana Mirai? " ucap Aora, ia penasaran kenapa gadis spesialnya tidak terlihat hari ini


" Mirai? Dia libur sama sepertiku, tapi dia bilang ia akan pergi ke luar daerah.... "


Hanna masih setia dengan pipi yang mengembung, Ten pun mengambilkan tambahan daging ke mangkuk Hanna.

__ADS_1


Dengan senyum cerianya, Hanna dengan senang hati menerima potongan daging dari pria yang ditaksirnya itu


" Mungkin dia bertemu seseorang.....Entahlah.... Mungkin dia punya pacar di daerah lain......


Hei Rou..... Kenapa kau merebut potongan daging dari Ten hah!!!!! " ucap Hanna jengkel


Entah karena apa, Rou merebut daging di mangkuk Hanna, membuatnya di hadiahi tatapa tajam dari gadis itu


" Ini dagingku" ucap Rou yang ngajak berantem


Brakkkk.....


" Tidak mungkin dia menemui seseorang....... " Aora menggebrak meja sambil berdiri


Krik..... Krik.... Krik.....


Bahkan pertengkaran Rou dan Hanna terhenti sejenak, sedangkan Ten kaget dengan apa yang di lakuka sahabatnya itu. Tangannya yang masih mecapit daging, menjatuhkan daging berharga Rou asal


" A.... Ada a.... Apa Aora? " ucap Rou kaget, hingga tersedak


Aora buru-buru duduk kembali, sikapnya yang ceroboh membuat teman-temannya menatap ke arahnya


" Memang kenapa kalau Mirai punya pacar? ..... Aku mendukungnya.....


Atau jangan-janga...... Aora kau....... " ucap Hanna sambil menyipitkan matanya, menatap Aora curiga


Semua orang menatap Aora, seakan menuntut jawaban pria bermasker itu atas apa yang baru saja ia lakukan


Aora buru-buru mengalihkan perhatian,


" Berhentilah membuat spekulasi sendiri....... Kalian itu........ Bukan bibi-bibi penggosip kan.... Terutama kau Hanna....


K... Kalian seharusnya membantuku membeli perlengkapan untuk upacara peringatan ibuku besok...... Itu yang ingin aku katakan.... Uhuk... Uhuk..... " ucap Aora sambil terbatuk


" Benar, besok harinya...... Baiklah kami akan membantumu Aora" ucap Ten


"Seharusnya kau bersyukur memiliki teman seperti kami...... Bahkan di tengah kesibukan kami... Kami masih setia..... " ucap Rou,


" Bukankah kau yang sejak minggu kemarin, selalu mengangguku untuk tidak melupakan hari peringatan ibuku? " ucap Aora ke Rou sambil terkekeh


Meski terdengar agak kasar di luar, nyatanya Rou adalah salah satu orang paling perhatian di antara teman-temannya. Ia mengerti harus bertidak serta peka dalam situasi apapun. Dan selalu ada untuk teman-teman nya


Mereka pun menghabiskan waktu makan siang mereka dengan akrab, Rou dan Hanna dengan segala pertengkaran mereka. Aora dengan sifat pemalasnya, sedangkan Ten, dengan telaten menyiapkan daging untuk para sahabatnya. Layaknya orang biasa, dan teman pada umumnya


Aora memandang ketiga sahabatnya itu sambil tersenyum di balik maskernya, mata merah kecoklatannya seakan bersembunyi, digantikan kelopak mata yang tertutup membentuk bulan sabit


Mungkin..... Aku bisa mengandalkan teman-temanku.... Seperti kata Guru....


Namun, apakah aku pantas memimpin Desa ini?


Beban di pundakku, terasa berat sekali.......


Aora.... Apa kau bisa?


"Baiklah.... Teman-teman, hari ini aku yang teraktir...... " ucap Aora


" Terima kasih makanannya~~~~Tumben kau baik Aora....... " ucap Ten, Rou Hanna kompak


"Tapi.........


Jangan buat aku bangkrut....... " ucap Aora dengan tatapan horor


Di sisi lain, Mereka adalah orang-orang penting yang memegang kendali di Desa tercinta Mereka, beban besar berada di pundak mereka sebagai Tunas Muda Sora.


Namun, melihat kekonyolan Rou, Ten, Hanna. Aora merasakan sedikit beban di pundaknya sedikit Hilang

__ADS_1


__ADS_2