Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pengorbanan : Di bawah Langit Merah


__ADS_3

Malam ketika langit berubah merah. Malam pembantaian tiga Clan keturunan Pilar penjaga langit. Seorang anak bersurai keperakan, dengan kilapan sihir hitam menyelimuti tubuhnya. Mulai mengayunkan pedang ditangannya, merenggut nyawa orang-orang yang tidak berkutik dihadapannya. Tua, muda. Laki-laki, perempuan dan bahkan anak-anak tidak berdosa, semua habis dibunuhnya.


Brassss....


Satu ayunan pedang terakhir, merenggut nyawa seorang pria tua dari Clan salju. Dengan iris mata semerah darahnya, Aora menatap kosong mayat-mayat disekelilingnya. Cahaya bulan merah membuat tubuhnya bergejolak, sementara bau amis darah yang melumuri pedangnya seakan menjadi pacu kegelapan yang bersemayam dijiwanya. Ia tertawa puas, tawa yang memecah keheningan malam berdarah itu.


Sambil mengusap darah korban yang masih menempel di wajahnya, Aora yang kini sepenuhnya dikuasai kekuatan Kurasu menatap rumah megah yang berada tidak jauh dari tempatnya


Ia menghirup pelan bau amis darah yang memenuhi tempat itu, kekuatan yang selama ini dikekang kini telah bangkit. Meski tidak sepenuhnya bangkit, Kurasu yang menjelama menjadi kegelapan didalam jiwa Aora seakan puas melihat keturunan Tiga Pilar Penjaga yang menyegelnya kini sudah musnah ditangannya


"Tinggal satu keturunan lagi yang tersisa. Yang spesial, selalu aku sisihkan belakangan! Aku datang! Jelmaan Pikiranku! Yorasu! “


......................


Distrik Tiga Clan Utama sudah berada didepan matanya. Yora semakin mempercepat langkahnya, ia sekilas melirik bulan dilangit. Masih tetap sama, semburat merah kegelapan masih menyelimuti permukaan bulan. Bahkan sinar keemasan benda langit itu seakan tertelan kegelapan, langit malam yang kelam kini berubah menjadi merah mencengkram.


Keringat tipis membanjiri wajah Yora, tepat ketika ia memasuki pintu utama Distrik, matanya membulat sempurna. Yora melihat mayat-mayat anggota Clan tergeletak begitu saja disepanjang jalan.


Langkah kakinya semakin melambat, Yora benar-benar terkejut dengan oemandangan mengerikan yang menyambutnya. Siapa kiranya yang melakukan hal mengerikan seperti ini?


"Aora! " gumamnya pelan ketika mengingat saudaranya. Yora kembali melangkahkan kakinya cepat, satu-satunya tujuannya saat ini adalah Mansion Matahari. Tempat kemungkinan dimana saudara serta ayahnya berada.


" Aku mohon! Bertahanlah! "


Di sebuah rumah megah, dengan nuansa tradisonal yang kental di setiap arsitekturnya. Yora berlari memecah koridor rumah yang luas, suasana kediaman pemimpin Clan itu begitu gelap dan sunyi. Yora memeriksa setiap ruang dirumah megah itu, ia berusaha mencari keberadaan Aora atau siapapun yang masih bertahan. Namun semua sia-sia. Baik Aora atau sang Ayah, tidak satupun dari mereka yang berada dirumah itu


Dengan langkah pelan, Yora berjalan menuju ruang utama Mansion. Mata kelamnya bergerak menyisir ruangan luas didepannya berharap menemukan tanda-tanda keberadaan anggota Clan yang lain, namun ada satu hal yang mencuri perhatian Yora. Jejak darah berceceran di lantai, sementara itu sebuah siluet hitam tertangkap oleh indra pengelihatannya.


Sosok yang tengah duduk tenang menikmati pemandangan bulan lewat jendela kayu didepannya. Rambut keperakanya diterpa angin lembut, Yora tidak yakin sosok yang duduk membelakanginya itu adalah saudaranya, Aora


"Aora? Kau baik-baik saja? Dimana Aya-" belum sempat Yora menyelesaikan pertanyaannya, ia melihat sesuatu yang aneh dalam diri Aora. Warna sihir saudaranya itu, jauh berbeda dari apa yang ia ketahui. Terlebih kekuatan sihir hitam pekat yang menyelimuti tubuh Aora


Tubuh Yora membeku, ia sadar sosok didepannya bukanlah Aora sepenuhnya. Yora segera melangkahkan kakinya kebelakang, namun suara berat dan menyeramkan yang berasal dari arah sang adik menghentikan langkahnya


"Kau membuatku menunggu lama, Yorasu! "


Alis Yora terangkat, siapa yang Aora panggil dengan nama Yorasu? Baik suara atau sorot mata orang didepannya sanagt bertolak belakang dengan Aora


" Siapa kau? Kenapa wujudmu begitu mirip dengan saudaraku?! "


Sosok itu tidak menjawab pertanyaan Yora ia hanya tertawa keras. Yora mulai memasang sikap siaga. Ia mulai menganalisa situasi, dilihat dari aura hitam yang menyelimuti tubuh Aora, mungkinkah pengukuhan segel Nue gagal dilakukan?


Jika begititu, Yora harus segera pergi dari sana dan menemukan keberadaan ayahnya lebih dulu. Sangat mustahil untuknya melawan kekuatan besar yang membelenggu Aora saat ini. Namun belum sempat Yora pergi dari tempat itu, tubuh Aora tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


"Kemana perginya?! "


Yora mulai memeriksa sekelilingnya. Ia pun menghunuskan pedang ditangannya, sambil terus siaga akan serangan tiba-tiba musuh


Trangggg.....


Aora menyerang Yora, dengan pedang legendaris Shiroi No Ken milik ayah mereka. Yora terkejut melihat pedang sang ayah berada di tangan Aora. Apa mungkin Aora sudah membunuh ayah mereka? Tidak mungkin!


"Apa yang kau lakukan! Aora sadarlah! "


Aora menekan kuat pedang ditangannya ke arah Yora, sementara Yora masih berusaha bertahan. Yora menatap lakat wajah penyerangnya, tidak salah lagi ia adalah saudara kembarnya.


"Aora! Kau bisa mendengarku? Sadarlah! Kuasai pikiranmu, jangan biarkan makluk itu mengendalikan tubuhmu! Aora! " teriak Yora. Ia masih percaya Aora mampu mendengar suaranya

__ADS_1


Brassss....


Tubuh Yora terlempar kedingding, dengan langkah pelan Aora mendekati tubuh Yora. Ia hunuskan pedang ditangannya untuk menebas tubuh Yora. Tidak mau tinggal diam, Yora mengaktifkan segel gyoku miliknya. Menjerat tubuh Aora dengan elemen tanah miliknya. Sihor Yora membuat tubuh Aora tidak bisa bergerak dengan leluasa, sambil menggerang keras ia berusaha keluar dari jeratan sihir Yora


"Kau pikir, sihir selemah ini mampu menjeratku? "


Benar saja, dalam hitungan detik sihir tanah Yora diserap oleh sihir kegelapan. Membuat belenggu yang menjerat tubuh Aora hancur berkeping-keping


Brasssss....


Aora terbebas dan dengan cepat ia menghampiri Yora dan mencekiknya kuat. Yora hanya bisa memegangi tangan Aora. Bocah berambut perak itu mengangkat tubuh Yora tinggi, kaki Yora bahkan kini tidak lagi menginjak lantai. Yora bisa melihat senyum jahat terukir dibalik masker Aora. Beberapa kali Yora berusaha memukul tangan Aora tapi semua sia-sia


"Aora! Sadarlah! Aku tahu kau masih berada didalam sana! Ini aku Yora! Kau mendegar suaraku kan? " ucap Yora dengan suara ririh. Aora terus saja mencekik leher Yora, sorot mata semerah darahnya begitu menakutkan


" Mati kau! "


Belum sempat Aora mengayunkan pedangnya ke arah Yora, tangannya tiba-tiba berhenti. Jauh di dalam sana, Jiwa Aora mencoba mempertahankan tubuhnya, agar tidak lagi dikendalikan Sihir kegelapan yang merasuki serta mengiasai tubuhnya untuk membunuh orang-orang berharga untuknya


Tidak akan aku biarkan, monster sepertimu mengisai tubuhku!


“Arkh! Sial! Anak ini mulai memberontak! "


Iblis yang merasuki tubuh Aora mulai merasakan perlawanan dari dalam tubuhnya. Jiwa Aora yang masih berjuang atas tubuhnya, mulai kembali menampakkan kesadarannya. Meskipun belum sepenuhnya kembali namun Yora bisa melihat sorot mata Aora melembut. Aora bahkan meneteskan air mata ketika mengetahui monster itu menggunakan tubuhnya untuk membunuh Yora


Di sela-sela perlawananya, Aora bergumam pelan. Ia berusaha melepas jeratan monster itu namun tetap saja kendali akan tubuhnya masih dikuasai Jiwa Nue


"Y...o.....r....a !" gumam Aora pelan, monster didalam tubuh Aora kembali menggerang. Meski hanya sebentar, Aora bisa mengambil alih tubuhnya. Namun kekuatan kegelapan Nue masih sangat kuat, dengan cepat Aora yang sudah berhasil dikendalikan oleh sihir kegelapan menghempas tubuh Yora ke tanah


Brassss......


Ucap Iblis ditubuh Aora sambil menunjuk dirinya sendiri


Aora mengayunkan pedang ditangannya, ia kendak menebas Yora yang masih tersungkur ditanah. Yora tidak bisa berbuat apa-apa, sihir dalam dirinya seakan diserap dan lenyap begitu saja


Belum sempat pedang tajam Aora mengenai tubuh Yora, sebuah sihir merah menghentikan pergerakan Aora. Aoryu, dengan tubuh penuh luka masih sempat menyelamatkan Yora dari jeratan Aora.


"Yora! Dengarkan ayah! Aora yang dirasuki sihir kegelapan Nue, hanya bisa disegel oleh kekuatan Keturunan Ketiga Pilar! Kau harus menyegel jiwa Nue sebelum bulan berdarah berakhir! Jika tidak, jiwa Aora akan lenyap dan Nue akan bangkit melalui tubuhnya! "


Aoryu berusaha menekan kekuatan kegelapan menggunakan sihirnya, namun kerena serangan Nue sebelumnya tubuhnya yang terluka cukup parah, tidak bisa menahan sihir kegelapan lebih jauh lagi


Mendegar ucapan sang Ayah, Yora menatap tubuh saudaranya dengan cemas. Apapun alsannya ia tidak bisa membiarkan Aora mati begitu saja, terlebih ketika tubuhnya berada dibawah pengaruh seekor monster kegelapan. Pesan terakhir sang ibu, terus terngiang didalam pikirannya. Janji tetaplah janji. Jika ia gagal melindungi adiknya, ia akan mengecewakan sang ibu yang sudah percaya padanya


Sudah sepantasnya sebagai saudara tertua ia melindungi Aora. Yora mengeratkan tangannya, ia pun mengaktifkan segel gyoku ditangannya dan mencoba menyegel kekuatan Nue yang merasuki tubuh Aora. Meski ia tahu kekuatan dalam dirinya belumlah cukup untuk menyegel kekuatan sebesar itu


"Yora! "


Di tengah pergulatan batinya, samar Yora mendegar suara sang ayah. Bukan suara langsung dari mulutnya, melainkan komunikasi antar pikiran. Sebuah kekuatan khusu dari mata spesial yang diwarisi Clan matahari. Mata yang mampu mendegar atau melihat jauh kedalam diri seseorang


"Yora? Kau mendegarkan ayah? Kau tidak perlu cemas, mosnter itu tidak akan pernah mendengar pembicaraan kita. Kau pasti kaget kenapa ayah menggunakan cara ini, bukan?


Ayah menggunakan kekuatan khas Clan matahari untuk memintamu melakukan sesuatu!


Dengarkan ayah-“


Aoryu menggunakan kekuatan sihir spesial Clannya untuk berkomunikasi secara terbatas dengan Yora. Aoryu pun memberitahu cara menghentikan kekuatan kegelapan Nue, sekaligus menyelamatkan Aora dari jeratan monster itu. Setelah mendegarkan sang ayah lewat telepati terbatas itu, mata Yora membulat sempurna. Ia menatap sang ayah dari kejauhan dengan tatapan nanar


"Apakah tidak ada jalan yang lain? Ayah?! Bagaimana? Bagaimana mungkin aku melakukannya padamu ? " gumam Yora pelan

__ADS_1


" Hn, tidak ada jalan lagi! Untuk terakhir kalinya, Yora. Ayah mengandalkanmu! " ucap Aoryu sambil tersenyum.


Ia menatap tubuh Aora yang semakin menggeliat, mencoba terlepas dari jeratan sihirnya. Cara terakhir menghentikan Jiwa Nue yang merasuki tubuh seseorang adalah dengan menusuknya menggunakan pedang khusu milik Dewa Matahari. Kekuatan Shiroi No Ken, akan menghentikan amukan kekuatan kegelapan dan menyegel selamanya ditubuh yang dikorbankan


" Aku tidak mungkin membunuh putraku dengan tanganku sendiri. Jadi-"


Aoryu mengumpulkan semua kekuatan sihir yang tersisa di dalam telapak tangannya. Simbol matahari berwarna merah pun muncul. Simbol yang mulai menghisap jiwa kegelapan yang menguasai tubuh Aora kedalam tubuhnya sendiri


"Aku akan menyegel kekuatan terkutuk itu, kedalam tubuhku! "


Sedikit demi sedikit, sihir hitam mulai mernyerap ketubuh Aoryu. Saking besarnya kekuatan itu, tubuhnya yang lemah harus menahan rasa sakit yang luar biasa hebat hingga harus memuntahkan darah dari tubuhnya


Burfffff...


Aoryu memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Tubuhnya sudah adalam batas untuk menerima kekuatan kegelapan. Jika terus seperti ini mungkin saja setengah kekuatan Jiwa Nue masih tertinggal di tubuh Aora. Jika ia paksakan kekuatan itu masuk ke dalam tubuh lemahnya, Nue bisa saja lepas kembali. Aoryu tidak memiliki pilihan, selain menyegel setengah kekuatan itu di tubuh Aora menggunakan segel kramat dengan bayaran nyawanya sendiri


"Kekuatan ini, jauh lebih besar dari apa yang bisa aku tangani sendiri. Maafkan ayah Aora! Ayah harus menyegel sebagian kekuatan terkutuk ini ditubuhmu! Aku yakin, suatu saat nanti kau pasti bisa mengendalikannya. Aku percaya padamu! "


Aoryu mengambil sedikit darahnya, lalu mengoleskannya ke gyoku ditangannya. Aoryu mulai melangkah maju dengan tertatih. Diusapnya lembut kening Aora, sebuah segel tercipta


"Segel! "


Arrrrhhhhhh


Derangan monster kembali terdengar, jiwa monster itu terbagi menjadi dua kekuatan. Sebagian besar masuk ke dalam tubuh Aoryu, sementara sebagian kecil kekuatannya masih bersemayam ditubuh Aora dengan sebuah segel yang mengikat


Ditengah kesadarannya yang semakin menipis, Aoryu menatap Yora. Sambil mengangguk pelan, ia meminta Yora melakukan tugas yang ia minta sebelumnya.


"Sekarang! Yora! "


Tubuh Yora mengigil hebat, dengan tangan yang bergetar ia mengambil pedang Shiroi yang tergeletak didepannya. Kini ia arahkan pedang runcing itu ke tubuh sang ayah. Yora tidak memiliki pilihan, selain berjalan cepat ke arah sang ayah. Sambil memejamkan matanya, ia merasakan sendiri pedang di tangannya menusuk tubuh ayahnya sendiri.


Brassssss.....


Yora tidak tega menebas tubuh sang ayah kebih dalam lagi. Padang Shiroi hanya tertanam sebagian di tubuh Aoryu. Jauh didalam hatinya, Aoryu tidak mau menanamkan rasa bersalah didalam diri Yora.


"Kerja bagus, Yora! Kau memang putraku! Ingatlah, semua ini bukanlah salahmu! " ucap Aoryu bangga, dengan tengan yang berlumuran darah, ia memegang tangan Yora.


" Tidak ayah! Jangan lakukan! " ucap Yora terisak sambil menggelengkan kepalanya. Aoryu hanya tersenyum lemah, dengan sisa tenaganya ia menekan bilah pedang yang menembus perutnya agar menancap lebih dalam lagi


"Burffff...... Uhuk... Uhuk......" Nafas Aoryu tersengal. Untuk terakhir kalinya, ia menatap langit merah dari balik jendela besar disampingnya. Ia tersenyum lembut. Meski bulan menunjukkan sisi kelamnya. Namun benda cantik iti mengingatkannya akan sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang segera akan ia temui


" Kini, aku bisa menemui Yoshiro dengan kepala terangkat.... Sepertinya, aku juga menemukan jalanku sendiri untuk melindungi putra-putraku..... " gumam Aoryu


Aoryu mulai kehilangan kesadarnnya, matanya yang penuh sorot kelembutan kini berubah. Menampakkan iris mata merah dengan tatapan yang kosong. Setengah kekuatan Nue kini tersegel didalam tubuhnya. Aoryu ahirnya roboh ketanah tepat dihadapan Yora


Sementara itu, Aora yang masih mendapat kesadarannya setelah Nue pergi dalam tubuhnya. Melihat sekilas kejadian didepannya. Di dalam ingatannya, Yora lah yang membunuh sang Ayah. Hingga akirnya ia kehilangan kesadarannya


Yora hanya bisa tertunduk lemah, sekali lagi ia melihat kematian orang tuanya tepat dihadapan matanya sendiri. Pandangannya kini tertuju pada Aora yang tidak sadarkan diri. Yora mulai berjalan pelan, dan berlutut di hadapan Aora. Satu-satunya keluarga yang tersisa hanya lah Aora. Untuk itu, sedikit pengorbanan diperlukan untuk menata semua kembali ketempatnya


Sinar biru tercipta di jari telunjuknya. Untuk menutupi insiden malam ini, Yora bermaksud menghapus ingatan Aora dengan sihir miliknya. Apapun yang terjadi, Aora tidak boleh mengingat apapun. Untuk itu, Yora menanam ingatan paslu yang memberi gambaran bahwa kejadian malam ini adalah perbuatannya.


Membunuh anggota Clan serta sang ayah, Yora berencana menanggung semua untuk Aora.


"Jika kau mengingat kejadian malam ini selama sisa hidupmu. Kebencian dalam dirimu akan terus tumbuh. Jika itu terjadi, sebagian jiwa Nue akan bangkit kembali didalam tubuhmu


Demi Ayah dan Ibu serta tugasku sebagai kakak. Sudah sewajarnya akau melindungimu. Lupakan semua kejadian malam ini. Hiduplah dan tumbuh menjadi pelindung Sora, Aora. Sperti namamu, kau harus hidup dengan bermandikan cahaya. Aku menyayangimu, adikku! "

__ADS_1


__ADS_2