Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Sebuah Pilihan


__ADS_3

Yuri dan Oro-ryu masih sibuk mengawasi pertarungan hebat antara Aora dan Yora, tanpa mereka sadari Mirai mulai menggerak-gerakkan jarinya. Suara bising ledakan, serta getaran kuat akibat pertarungan dasyat membangunkan Mirai dari tidur panjangnya. Samar, Mirai melihat siluet gadis berambut merah serta seekor ular putih di depannya


"Nona Yuri? " ucap Mirai pelan, matanya mulai mengerjap namun belum sepenuhnya terbuka. Gadis bermata lavender itu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Akan tetapi, rasa sakit yang menghujam luka diperutnya membuat Mirai sedikit meringis


" Mirai kau sudah sadar? " Mirai tidak menjawab pertanyaan Yuki. Fokusnya kini hanya tertuju pada medan pertempuran didepannya. Mirai dapat melihat, dua orang saudara tengah menghunuskan pedang ke arah masing-masing.


" Tidak! " Mirai segera bangkit berdiri. Ia pun segera melompat ke tanah dan mulai berlari ke arah Yora dan Aora. Mirai tidak peduli dengan rasa sakit serta kondisi tubuhnya yang lemah. Bagaimanapun ia harus menghentikan pertarungan itu.


Mirai yakin, dibalik permusuhan Yora dan Aora ada sebuah kesalah pahaman. Entah apa itu, tapi yang pasti Mirai mengenal baik kedua saudara itu. Ia tahu pasti, tidak ada dari kedua orang itu mampu berbuat jahat pada orang lain. Tak terkecuali Xio yang ia kenal sebagai Yora


Beberapa kali Mirai terjatuh, namun ia tidak patah semangat. Mirai kembali bangkit dan terus berlari ke arah medan pertarungan. Yuri yang melihat itu hendak menyusul Mirai. Namun Oro-ryu menghentikan langkahnya


"Jangan Yuri! Kau tidak bisa pergi kesana! "


" Kenapa? Jika kita tidak menghentikan pertarungan gila itu! Yora akan tewas! " ucap Yuri dengan raut wajah khawatir


" Lalu bagaimana denganmu? Kau pikir jika kau pergi kesana kau bisa menghentikannya?! Kau lupa mereka bertiga itu siapa?! " mendengar ucapan Oro-ryu, Yuri terdiam


" Ini diluar kendali kita! Kekuatan Mereka bukanlah kekuatan sembarangan! Kau lupa apa pesan Tuan Xio? Dia melarangmu untuk ikut campur! Karena itu akan membahayakan nyawamu!


Pertarungan itu mungkin dapat melukai orang-orang seperti mereka (Keturunan Tiga Pilar penjaga). Tapi bagi kita, ikut pergi kemedan perang seperti itu, mungkin akan kehilangan nyawa kita! "


Booooommmmmm!!!


Ledakan hebat kembali terjadi, dari kejauhan Yuri bisa melihat tempat pertarungan Yora hancur dengan tatapan nanar. Yuri sadar apa yang dikatakan Oro-ryu tidaklah salah. Ia tahu jika ingin berada disisi Yora, setidaknya ia harus memiliki kekuatan yang hebat. Tapi apa boleh buat, tanpa batu pilar dipunggungnya ia hanyalah gadis biasa. Meski keinginanya untuk membantu Yora sangatlah kuat, namun bukan berarti ia mampu melindungi laki-laki itu


"Lalu menurutmu? Apa aku harus diam berdiri tanpa bisa berbuat apapun? Karena aku takut terluka? "


......................


Mirai berusaha melindungi diri dari efek ledakan. Dengan sihirnya, ia melapisi tubuhnya sendiri dengan jubah es. Medan pertempuran antara Aora dan Yora dipenuhi kabut debu tebal. Dataran disekitarnya sudah luluh lanta, bahkan dalam radius 1 km jauhnya, hutan Iblis sudah tidak berbentuk lagi


Samar, Mirai dapat melihat dua sosok laki-laki tengah menebas dada masing-masing. Mirai kembali mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Aora ataupun Yora


"Yora! Aora! " Mata Mirai membulat ketika melihat dua orang dengan pedang tertancap didada mereka terbaring sekarat di tanah


" Akhirnya kau datang" ucap mereka kompak.


Meski darah memenuhi tubuh serta mulut Aora dan Yora, mereka masih bisa tersenyum kearah Mirai. Setelah mengucapkan kalimat singkat itu, baik Yora dan Aora akhirnya kehilangan kesadaran mereka


Mirai segera menghampir keduanya, bersimpuh diantara dua tubuh kokoh itu. Mirai bingung, siapa yang harus lebih dulu ia selamatkan. Kondisi Aora sudah sangat parah, semenatara Yora kulit tubuhya mulai melepuh karena efek sihir kegelapan yang ia kendalikan


"Aku mohon kalian bertahanlah! "


Mirai tidak punya pilihan selain menyelamatkan keduanya. Ia pun memegang masing-masing tangan Yora dan Aora. Sinar merah jambu mulai keluar dari telapak tangan Mirai. Ia mulai berkosentrasi sambil menutup mata untuk mengalirkan sihir pengobatannya


Bruffffff....


Darah segar keluar dari mulut Mirai, tubuhnya yang lelah dan terluka tidak bisa menyalurkan energi sihir dengan baik. Mirai tidak mau menyerah, ia pun kembali memfokuskan sihirnya meski tubuhnya merasakan sakit luar biasa hebat

__ADS_1


"Akan aku pastikan! Kalian berdua selamat! " gumam Mirai


" Mirai! " suara Yurki membuyarkan konsentrasi Mirai. Kini iris ungu pucat menatap lembut iris semerah ruby didepannya. Yuri mulai menghampiri Mirai, kali ini ia turut mentransfer sihir pengobatannya ke tubuh Yora dan Aora


" Sihir pengobatanku mungkin tidak sehebat milikmu. Tapi kita tidak bisa membiarkan dua pria bodoh ini begitu saja bukan? Ijinkan aku menolongmu! Mirai! " ucap Yuri mantap


Seulas senyum terukir di wajah sayu Mirai, ia pun mengangguk pelan “Bantuanmu sudah lebih dari cukup!"


Kini dua wanita tangguh itu bekerja sama untuk menyelamatkan pria yang mereka kasihi.


Sinar keemasan sang surya mulai merambat pelan, menyapu segala hal yang dilaluinya. Tak terkecuali, medan pertempuran yang hancur akibat ulah dua bersaudara itu. Keringat tipis mengalir di wajah cantik Mirai, sementara tangannya masih sibuk berkutat dengan dua pria dihadapannya.


"Pendarahan mereka sudah aku atasi, sekarang kita akan mencabut pedang yang tertancap di tubuh mereka" ucap Mirai. Yuri mengangguk tanda mengerti


Yuri menghampiri tubuh Yora, sementara Mirai menghampiri tubuh Aora. Mereka memperhatikan sejenak pedang yang menancap di tubuh Yora dan Aora. Posisinya tidak menguntungkan. Tepat di jantung keduanya, disanalah tusukan pedang bersarang.


"Bagaimana ini, posisi pedang yang menancap menembus jantung keduanya. Jika kita tidak hati-hati. Mereka akan meninggal karena kehabisan darah! " ucap Yuri pelan


Keugugupan tampak jelas di wajah pucat dua gadis itu. Baik Yuri dan Mirai hanya bisa bertukar pandang, dengan sinyal dari Mirai mereka pun mulai menyentuh pedang yang menancap dengan hati-hati


"Kita harus berhati-hati. Pedang ini menusuk jantung masing-masing " ucap Mirai. Ia tidak sengaja melihat tanda di dada Aora " Ini-"


Mirai terkejut, sebuah tatto matahari mulai terlihat didada Aora. Sebuah tanda yang mirip dengan milik Yora. Apa mungkin, Yora sudah menyegel sihir kegelapan Aora? Jika begitu, kondisi Yora jauh lebih kritis dari Mirai kira. Karena untuk menyegel sebuah kekuatan kegelapan, memerlukan sihir yang mumpuni


Sementara Aora, kondisinya tidak jauh berbeda. Pedang yang menusuknya adalah Buraku no ken. Sebuah pedang kegelapan yang mampu mengisap inti sari kehidupan seseorang.


Mirai dalam dilema kuat. Ia tidak dapat menyelamatkan keduanya sekaligus. Satu-satunya cara, adalah menyerahkan ke Yuri


"Begitupun dengan Aora! Pedang hitam Yora, menghisap habis energinya" sambungnya


" Lalu apa yang harus aku lakukan? Kemampuan medisku tidak sehebat milikmu!"


"Saat ini, aku tidak bisa menyelamatkan keduanya sekaligus! Untuk itu aku memerlukanmu Yuri! "


" Mirai! Tapi aku-" Yuri mulai meragukan dirinya sendiri. Bisakah? Bisakah ia menyelamatkan Yora?


"Kau pasti bisa! Kau bukanlah gadis sembarangan, kau pemilik batu pilar penyembuh! Yuri aku percaya kau bisa menyelamatkan Yora! "


Yuri hanya menunduk. Bulir bening mulai menetes dari mata cantiknya. Melihat wajah pucat Yora, membuat hati Yuri semakin sakit.


" Yuri! Dengarkan aku! " Mirai yang melihat Yuri terpuruk, berusaha menyemangatinya


" Karena kau Yuri. Aku yakin, Yora pasti mempercayaimu! " ucap Mirai.


Mendengar ucapan Mirai, Yuri mulai membangun sedikit keyakinan pada dirinya sendiri. Saat ini hanya dialah yang mampu menyelamatkan nyawa Yora. Tidak ada waktu baginya untuk berpikir lebih jauh lagi. Yora, hanya keselamatan pria itu yang menjadi prioritasnya


" Baiklah! Aku akan mencobanya! " ucap Yuri dengan percaya diri. Mirai tersenyum pelan, ia pun kembali fokus pada luka Aora


" Sekarang, Ayo kita Mulai! "

__ADS_1


Yuri menghela nafas panjang, dan berfokus pada pedang di dada Yora. Sinar hijau touska keluar dari telapak tangannya. Teknik Kenkou spesial yang didapat dari kekuatan sihi batu pilar ditubuhnya. Perlahan, ia mencoba mencabut pedang putih itu dari dada Yora. Sedikit demi sediki, pedang itu mulai bergeser.


Yuri menatap wajah Yora yang tidak bergeming. Keringat tipis menetes dari pelipisnya. Sambil mengigit bibir bawahnya Yuri pun kembali mengangkat pedang itu dengan hati-hati


Brusss....


Pedang kaahirnya tercabut sempurna. Namun, darah segar tiba-tiba muncrat dari dalam luka. Yuri mencoba menghentikan pendarahan dengan kedua telapak tangannya.


"B-bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? " Yuri panik, ia melihat kearah Mirai. Hal serupa terjadi pada Aora, tapi yang membedakan adalah Mirai yang menangani luka Aora dengan cekatan dan tenang. Tidak seperti dirinya.


Tangan Yuri bergetar hebat. Ia kembali menekan luka di dada Yora, namun darah tetap saja keluar deras. Kedua tangannya sudah dipenuhi darah Yora, Yuri begitu cemas. Jika terus dibiarkan seperti ini, Yora bisa saja meninggal karena kehabisa darah


"Yuri! Tenanglah! Hanya kau! Hanya kau yang bisa mentelamatkan Yora! Ingat itu! Sekarang joba fokus! Dalam keadaan seperti ini, apa yang seharusnya aku lakukan? " Yuri menghela nafas panjang, mencoba menenangkan pikirannya


Di tengah perjuangannya, Yuri kembali teringat ucapan Yora. Masih segar diingatanya, Yora pernah mengatakan ia bukanlah sebuah 'benda' baginya, melainkan seorang keluarga! Tugas keluarga, adalah melindungi orang-orang disekitarnya!


" Kau dan aku memiliki nasib yang serupa! Kau selalu sendirian, melalui semua kegidupanmu dalam kegelapan. Untuk itu, aku tidak ingin kau pergi tanpa mengenal kehangatan seseorang! Karena akulah yang akan menghantarkan cahaya untukmu! Yora bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu! "


Sinar hijau pucat di tangan Yuri terus bersinar terang. Yuri pun mengarahkan tangannya ke luka Yora. Dengan bantuan sihir di tangannya, ia sedikit merobek dada Yora. Memasukkan tangannya untuk menjangkau bagian jantung yang bocor. Tangan Yuri menembus ke dalam dada Yora, mencari titik dimana pendarahan berasal


Yuri memejamkan matanya, mencoba berkonstrasi penuh "Dimana? Aku harus menemukan sumber lukanya!" gumamnya pelan. Yuri merasakan jarinya menemukan sumber perndarahan di tubuh Yora


"Ketemu! Aku harus segera menutup luka ini! " ia kembali memfokuskan sihirnya. Kekuatan sihir kembali memenuhi tangannya. Perlahan pendarahan Yora bisa ia hentikan


Dengan sihir Yuri, luka di jantung Yora berhasil tertutup sempurna. Yuri pun akhirnya bisa bernafas lega


" Hah... Hah... Akhirnya... "


" Kau berhasil Yuri! " ucap Mirai yang masih sibuk mengurus luka Aora


" Yang harus kau lakukan, hanya percaya pada dirimu dan kemampuan yang kau miliki! " sambung Mirai.


Yuri pun tersentum " Terima Kasih Mirai! "


" Yuri! Nona Mirai! Kita harus segera pergi dari sini! Aku merasakan pasukan Sora sudah mulai mendekat" ucap Oro-ryu yang tiba-tiba muncul


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita bawa Aora dan Yora ke pulau Hemi!


Disana aku akan menyembuhkn luka bekas pertarungan mereka! Dan memastikan, dua pria ceroboh ini berbicara satu sama lain tanpa bertarung! Berani sekali mereka merepotka orang lain karena pertarungan saudara ini! "


" Kondisimu sangat parah Mirai. Apa kau yakin bisa memindahkan empat orang dengan sihir teleportasimu? " ucap Yuri


Mirai terdiam, dengan kondisinya saat ini akankah ia mampu melakukan hal itu?


" Untuk itu aku disini" Oro-ryu mengubah ukuran tubuhnya menjadi ular putih raksasa "Masuklah ke mulutku. Aku akan mengantarkan kalian dengan selamat" ucapnya


Yuri tersenyum senang, ia tahu Oro-ryu adalah ular yang dapat diandalkan. Namun tidak dengan Mirai. Ia hanya memandang Oro-ryu dengan alis terangkat


"Kau yakin tidak akan memakan kami? Empat orang dewasa adalah makanan yang cukup bagi ular raksasa sepertimu! Aku tidak ingin hidupku berkhir di usus ular! "

__ADS_1


Oro-ryu hanya menghela nafas pelan " Gadis tidak sopan" gumamnya pelan. Ia pun membuka mulutnya lebar


"Masuk atau aku benar-benar memakan kalian! " ancamnya


__ADS_2