Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Neraka Es


__ADS_3

"Nikmati rasa sakit yang aku berikan, pecundang! Hahaha! " tawa Jigoku memenuhi tempat itu. Ia seakan puas melihat musuh-musuhnya kewalahan.


Ladakan gelombang bunyi memenuhi hampir di segela penjuru kota mati. Sementara, orang yang melepas kekuatan mematikan itu, tampak begitu puas melihat salah satu musuhnya berlutut dan menahan siksaan akibat efek sihirnya. Jigoku, tertawa lantang melihat kondisi Aora yang bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Hahaha! Sihir milikku akan membuat otakmu rusak. Cih! Sialnya, aku tidak bisa membunuhmu dengan kreasi sihir hebatku! “ decih Jigoku kesal. Namun, seketika itu seringai kembali menghiasi wajahnya.


"Tapi itu tidak masalah. Tuan Kurasu dan Tuan Tanuki akan sangat memuji dan menghargai hadiah yang akan aku persembahkan! " sambung Jigoku


Jika saja tidak ada perintah untuk membuat Aora tetap hidup, mungkin saja ia sudah membunuh laki-laki bermasker itu.


" Oi! Jigoku! Kau seharusnya tidak terlalu sombong! Kau lupa, aku membantumu untuk melumpuhkan mereka. Tanpa sihir es milikku, kau tidak bisa mengakhiri pertarungan secepat ini! "


Maya tidak terima dengan sikap arogan Jigoku, laki-laki kurus itu seolah menganggap dialah yang paling berjasa melumpuhkan Aora


" Hey! Maya. Jika kau ingin dipuji seperti diriku. Lebih baik kau tangkap mangsa yang satunya. Pria pengecut itu, masih saja berusaha menghindari kita. Jangan sampai aku turun tangan karena kau tidak becus.


Dengan kemampuan hebatku, mungkin saja aku yang akan membunuh Yora sebelum kau! Tentu saja, semua pujian akan berakhir untukku juga. " ejek Jigoku. Hal itu sontak membuat Maya menggertakkan gigi - marah.


" Kita lihat saja. Siapa yang lebih dulu membunuh keturunan terakhir Clan bulan yang legendaris itu! Aku tidak akan biarkan, Jigoku mendapat pujian atas kerja kerasku! " gumam Maya. Kilapan kemarahan tanpak jelas di matanya.


Maya kembali mengaktifkan gyoku saljunya. Kali ini, ia tidak hanya mengeluarkan Kabut es, meliankan sihir kegelapan dalam bentuk kabut hitam pekat yang mampu membuat apapun yang dihinggapinya membeku dan pecah menjadi kepingan debu. Jika kabut putih miliknya bersuhu minus ratusan derajat, maka kabut hitam yang keluar dari gyoku saljunya 10 kali lebih kuat.


Maya menutup matanya, mulai berfokus menemukan keberadaan Yora di tengah kabut es miliknya. Senyum penuh arti terukir di wajah cantiknya. Sepertinya ia menemukan keberadaan Yora


"Kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan? Kalian sengaja mengulur waktu, agar kabut es milikku dinetralisir oleh hawa panas gurun. Cih! Startegi kalian terlalu naif! Asal kalian tahu, panas matahari pun tidak akan berpengaruh padaku! "


Kondisi Kota Tua berubah gelap. Sihir Hitam Maya menyelimuti seluruh permukaan udara, bahkan sinar matahari yang terik tidak dapat menembus celah kabut hitam miliknya. Badai salju kuat tiba-tiba tercipta, sisusul dengan angin dingin yang mampu membekukan apapun yang diterjangnya. Suhu di tempat itu, benar-benar berubah menjadi neraka es.


"Di sana! " teriak Maya, ia mengarahkan tombak esnya. Membidik dan menargetkan sebuah siluet pria yang bersembunyi di antara puing yang membeku.


Srash!


Bayangan itu lenyap seketika " Sial! Hanya banyangan! " dengus Maya


" Kau mungkin membutuhkan bantuanku, Maya? "


Seolah tertangtang dan tidak mau kalah, Jigoku kembali mengaktifkan Gyoku miliknya. Kelereng sihirnya kembali menghantarkan bunyi yang memekik telinga.


" Bodoh! " bisik suara tepat di belakang Jigoku.


" Suara itu? Jangan-jangan! " Mata pria itu sontak membulat, Jigoku mendengar suara yang cukup familiar untuknya. Belum sempat Jigoku berbalik, sebuah pukulan telak mengenai wajahnya.


Bugghhhhh!


Jigoku merasakan tubuhnya terpental, berapa kali ia harus merasakan bagaimana sakitnya terbentur ratusan beton beku hingga membuat darah keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"B-bagaimana mungkin? " ucap Jigoku terbata-bata. Sambil menyeka darah dimulutnya, ia kembali mencoba bangkit.


Samar, sosok bertubuh tinggi muncul di hadapannya. Dari kedua matanya, terlihat iris semerah darah menatapnya tajam. Tubuh yang dilapisi petir membuatnya tetap hangat. Pertir juga menjadi sarana untuk menangkal gelombang bunyi milik Jigoku.


Rambut abu-abunya terhempas badai, dengan sekali hentakkan Aora menghunuskan pedang Shiroi tepat di leher Jigoku.


"Kau! Apa sudah cukup bermain-mainnya? Sekarang kita lihat, siapa pecundang sebenarnya. " ucap Aora datar. Kilapan mengerikan muncul di kedua sorot mata semerah darahnya.


......................


Maya melihat Jigoku sudah dipojokkan, entah bagaimana caranya Aora bisa bertahan dari serangan miliknya dan Jigoku.


" Bagaimana mungkin? Bukankah Aora sudah dikumpuhkan Jigoku? "


Pandangannya kini tertuju pada sosok yang mereka yakini sebagai Aora. Sialnya, Maya dan Jigoku sudah tertipu dengan trik murahan Aora.


" Mereka menipu kami dengan Clon! Cih! " Maya mendengus kesal.


Clon Aora yang ia maksud mulai menapakan wujudnya. Aora dengan sihir air miliknya, menciptakan Clon air yang menyerupai dirinya. (sama yang dilakukan Mirai saat pertarungan mereka). Pria bermasker itu dengan liciknya menggunakan Clon sebagai pengganti dirinya.


Dengan beberapa trik sederhana yang terinspirasi dari sang kekasih, Aora membiarkan Clon miliknya seolah menggantikan posisinya, dan membuat lawan berpikir bahwa ia sudah jatuh ke dalam perangkap mereka.


"Sila! Arkh!"


Maya mulai merasakan efek akibat sihir dasyat yang ia keluarkan. Maya segera menatap telapak tangan kananya. Perlahan, Gyoku di tangannya mulai memudar.


Sebuah jarum suntik, lengkap dengan obat hitam di dalam ia keluarkan. Maya hendak menyuntikan cairan aneh itu ke tubuhnya, namun sebuah tangan kokoh menghentikan aksinya.


" Sudah aku duga, obat aneh ini adalah kunci sihir mustahil yang kalian gunakan! "


Mata sekelam malam Yora menatap tajam ke arah Maya. Semetara tangannya, mencengkram erat tangan murid wanita satu-satunya Tanuki itu. Dengan mudahnya, Yora merebut jarum suntik itu dari tangan Maya


" I-ini mustahil. Aku sudah menciptakan sebuah badai sihir terkuat yang sulit dilewati siapun. T-tapi bagaimana kalian bisa-"


"Kalian terlalu sombong dan arogan, bahkan untuk kekuatan yang tidak menjadi milik kalian sepenuhnya (kekuatan hasil obat \= Cheat). Kalian terlalu mempercayai apa yang kalian ingin percayai! "


Yora mulai menunjukan kekuatan miliknya, kekuatan yang mampu membawanya bertahan dalam serangan mematikan milik Jogoku dan Maya. Di sekujur tubuh Yora, muncul semburan api biru tipis bersuhu tinggi yang mampu melindunginya dari ektremnya badai es ciptaan Maya.


Tidak hanya itu, dengan elemen tanah miliknya. Yora menciptakan sebuah 'baju pelindung' dan melapisi sekujur tubuhnya. Untuk meredam gelombang bunyi yang diciptakan Jogoku, Yora membuat tanah sihir dengan memanfaatkan tanah yang begitu halus dan rapat untuk menutupi telinga dan tubuhnya. Saking rapat dan kedap udara, 'baju khusus' itu bahkan meredam gelombang bunyi dengan baik. Karena itu, Yora tidak terpengaruh sama sekali dengan efek kelereng sihir Jigoku.


"Aku sempat khawatir, pelindung tanah yang aku ciptakan mungkin saja hancur ketika kalian mengeluarkan seluruh kekuatan kalian. Terutama untuk sihir Jigoku. Tapi untungnya, sikap kalian yang terlalu ambisius sedikit membantuku.


Maya, berkat elemen es milikmu, kau justru membantuku untuk sedikit meredam bunyi milik Jigoku"


"Apa maksudmu? Sihirku membantumu lolos dari serangan Jigoku? "

__ADS_1


" Cih. Aku biasanya tidak bersikap kekanak-kanakan seperti Aora. Tapi, mau bagaimana lagi. Pecundang, kata itu tidak cocok untukku.


Ah iya, aku kasih tahu sebelumnya. Bahwa suhu dingin, membuat gelombang bunyi sedikit terhambat. Kalian mungkin kuat, tapi sebelum bertarung, aku harap kalian harus belajar lebih baik lagi! " ucapan Yora terdengar mengejek.


Untuk pertama kalinya senyum penuh arti terukir di wajahnya. Yora membalas tunai ejekan yang telah ia dengar sebelum pertarungan. Pecundang? Yora buktikan siapa pecundang sebenarnya!


Yora segera menghunuskan pedang Bakuro miliknya, mengarahkan tepat di perut Maya. Hanya dengan sekali tebas, tubuh Maya langsung tertembus oleh katakana benuansa hitam itu.


" Ha-hahahahah! " Maya tiba-tiba tertawa lantang. Meski hidupnya sudah berada di genggaman Yora, wanita itu masih bisa tertawa puas.


" Kalau begitu, coba saja bunuh aku. Dengan pedangmu, apa kau yakin bisa membunuhku?! "


" I-ini? " Yora tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kekuatan kegelapan pedang Bakuro, tiba-tiba dihisap tubuh Maya. Yora segera menarik pedang miliknya.


Ia tampak terkejut ketika luka tusukan di perut Maya mengeluarkan asap putih dan tertutup seketika. Yora sadar satu hal, semua kekuatan Clan Salju dimiliki Maya. Tidak terkecuali, kemampuan regenerasi luka yang tidak masuk akal.


Mungkinkah dia sulit untuk dibunuh?


Trassss!


Maya memanfaatkan situasi itu untuk merebut jarum suntik di tangan Yora. Dengan cepat, wanita itu menyuntikkan cairan aneh ke lengannya. Efek obat terlihat. Urat nadi Maya mulai berubah menghitam. Bersamaan dengan itu, kemampuan fisik serta sihirnya meningkat drastis


Yora menyadari efek obat aneh itu, setelah melihat apa yang terjadi dengan Maya. Mau tidak mau ia harus mengalahkan Maya apapun yang terjadi. Yora kembali menghunuskan pedang Bakuro dan bersiap menyambut serangan Maya.


Trassss!


Maya berusaha menyerang Yora. Namun, dengan cepat Yora menagkis serangan Maya.


Pertarungan tidak bisa dielakkan. Maya menciptakan tobak es untuk menandingi pedang bakuro Yora. Dengan lihai, pria itu menghidar sekaligus berusaha menyerang Maya. Dentingan senjata mulai menyeruak. Yora sadar, ada yang aneh dengan kekuatan Maya. Seperti bermutasi menjadi sosok berkekuatan monster, Maya hampir saja mampu menandinginya. Yora sudah mulai terpojok.


Di tenah pertarungan sengit antara Maya dan Yora, Yuri datang ke tempat pertarungan berlangsung.


"Yora! " teriak Yuri lantang.


" Yuri? " gumam Yora pelan. Sekilas Yora menlihat Yuri mengangguk ke arahnya.


Seperti permintaan Yuri, Yora segera menjauhi Maya. Ia pun segera mengaktifkan Gyoku miliknya dan menjerat kaki maya dengan elemen Tanah miliknya. Tanpa membuang waktu, Yuri segera melempar jarum kecil ke arah Maya.


" Rasakan ini! "


Apakah yang akan terjadi? Musuh tampaknya jauh lebih kuat dari dugaan Yora. Terlebih kekuatan Akuma masih misteri. Siapakah yang akan menjadi pemenangnya?


...----------------...


Hi teman-teman. Authir mau kasih tahu, jika berkenan mampir juga ke Novel Author yang kain ya.... Semoga sesuai selera kalian... Dan juga Terima kasih dukungannya.....

__ADS_1



__ADS_2