Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Reuni dan Kekonyolan Hotaru


__ADS_3

Suasana desa Sora tampak berbeda hari ini. Puluhan prajurit militer berjaga di setiap sudut desa, sedangkan beberapa jalan utama sengaja dikosongkan untuk kepentingan Pertemuan Ketiga Negara Besar


Sejarah kelam tidak bisa dilupakan. Ketiga Negara yang pernah menjadi musuh yang selalu berakhir menumpahkan darah rakyatnya. Kini dengan sadar duduk bersama menuntaskan masalah masing-masing negara melalui sebuah pertemuan Tingkat Tinggi untuk pertama kalinya


Sebuah Kereta kuda mewah dengan lambang bintang berwarna biru, memasuki gerbang megah Desa Sora.


Pintu kereta pun di buka, beberapa pengawal bersiap mengamankan jalan penguasa mereka. Tidak lama berselang, seorang pria tinggi dengan rambut biru pucat keluar dari kereta. Menapakkan kakinya di sebuah karpet beludru merah di tanah


Dengan jubah kebesaran pemimpin Hoshi, tersemat lambang bintang yang menjadi motif kimononya menambah kesan tampan dan berwibawa pria yang keluar dari kreta tersebut,


Hotaru berjalan di antara pengawalnya, ia pun sambut dengan hormat oleh pemimpin Sora. Menandakan dia adalah tamu terhormat Sora


"Selamat datang di Desa Sora, Tuan Hotaru. " ucap Aora sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit


Aora, pria bermasker itu tidak kalah gagah. Dengan di balut seragam Kapten Sora, dengan ornamen bernuansa Hitam. Lengkap dengan pola awan Biru (Pola Awan tertinggi selain putih dan merah, yang biasa di gunakan oleh Ketua Desa Sora) tersemat di kengan kanannya, menyambut kedatangan Hotaru sebagai tuan rumah, sekaligus sebagai pemimpin yang mewakili Negerinya


Sementara Ketua Zen yang sekarang berdiri selaku tetua, juga menunjukkan penghormatan kepada penguasa Negeri Tetangga itu.


Hotaru dengan sopan juga menyapa Aora dan Ketua Zen dengan menunduk hormat


"Sungguh suatu kehormatan bagiku, bisa berkunjung ke desa yang cantik ini. Terima lah salam dariku. Tuan Zen dan tuan Aora. "


Dengan sopan, Aora mempersilahkan tamu kehormatannya untuk segera beristirahat di mansion khusus utusan. Mengingat jarak Hoshi dan Sora begitu jauh, bahkan di pisah oleh lautan


"Kalau begitu, anak buahku akan mengantar Utusan Hoshi ke penginapan yang kami sediakan, kami juga sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk anda


Saya harap kalian dapat menikmati jamuan yang Sora berikan" ucap Aora dengan ramah


Meski berbicara dengan nada sangat Formal, nyatanya baik Aora da Hotaru masih belum terbiasa dengan hal itu. Bahkan ketika mereka pertama kali bertemu, tidak ada jarak formalitas seperti sekarang. Hal itu membuat Hotaru sedikit tidak nyaman. Hotaru pun mendekati Aora, dan membisikkan sesuatu ke pria bermasker itu


"Pst...... Kalau boleh aku minta, bisakah Kau tidak berbicara sekaku itu padaku, Aora?


Lagi pula tugasku sebagai pemimpin Hoshi dimulai besok, aku ingin kau memperlaku sebagai Hotaru saja


Lihatlah suasana canggung ini, kita bukan aktor yang handal dalam urusan akting kan? " Bisik Hotaru, sambil memasang muka kurang nyaman dengan perlakuan Aora.


Ia menganggap percakapan formalnya dengan Aora layaknya pertunjukan di atas panggung, penuh kepura-puraan


"Begitukah? Jujur, aku juga merasakan keanehan berbicara seperti itu, bicara kaku bukanlah gayaku


Aku lebih suka menyambutmu dengan 'Oi..... Apa kabar, bro......... ' " balas Aora sambil menggosok belakang kepalanya


Seketika itu, Ketua Zen menatap kedua pemimpin muda di depannya sambil berdehem. Meski mereka sudah dewasa, nyatanya kelakuannya masih layaknya bocah akademi


"Ehem.... Bagaimana pun ini pertemuan resmi, kalian harus berbicara sopan satu sama lain....


Setindaknya tunjukan wibawa seorang pemimpin, terutama kau Aora! " bisik Ketua Zen pelan, tatapan mengancam ia tujukan pada muridnya


Bagaimana pun, penyambutan itu saksikan banya prajurit militer, baik dari pihak Sora atau Hoshi.


Ancamam Ketua Zen membuat Hotaru dan Aora berhenti bertingkah santai, lebih tepatnya karena takut melihat muka horor ketua Zen


" Ehem.... Kalau begitu, bisakah Aku mengunjungi rumah sakit Sora, Tuan Aora? " ucap Hotaru kembali dengan wibawa dan sopan santunnya


"Rumah sakit? Apa anda sakit, Tuan Hotaru? " ucap Aora sambil menatap heran orang di depannya itu.


Aora menyadari, Hotaru datang ke sini juga membawa maksud tertentu, salah satunya adalah bertemu Mirai. Ck pria Hoshi yang licik


" Jangan bilang kau mau menemui Mirai? " ucap Aora pelan, namun masih bisa di dengar Hotaru. Tentu dengan tatapan tajam


" Em.... Sepertinya? " ucap Hotaru enteng, sambil mengalihkan pandangan dari tatapan membunuh Aora


"Tentu! " ucap Ketua Zen cepat


Meski dengan alasan lemah, justru ketua Zen lah yang mengijinkan Hotaru ke rumah sakit tanpa menunggu jawaban Aora

__ADS_1


"Hotaru.... Dia benar-benar licik" batin Aora


......................


Di rumah sakit Sora, Mirai tengah sibuk berdiskusi dengan salah satu juniornya. Meski rumah sakit tampak sepi, tidak menutup kemungkinan keadaan darurat tidak pernah terjadi, terlebih dalam situasi ketat seperti sekarang


Brakkkkk.....


Hanna dengan keras menggebrak pintu, membuat seisi Ruang Tim medis menatapnya aneh


"Hah! ..... Hah! .... Hah! .... D- dimana Mirai? " ucap Hanna sambil tersengal akibat berlari, ia bahkan tidak melihat Mirai yang tengah duduk di sudut ruangan saking tergesa-gesanya. Mirai segera berdiri, ia pikir ada sebuah keadaan darurat


"Ada apa Hanna? Apa ada Code Blue (situasi darurat)? " ucap Mirai tegas


"Tidak.... Di.... Di luar...... Hota.... tidak....Tuan Hotaru, pemimpin Negeri Hoshi mencarimu! " ucap Hanna sambil terus membenarkan pernafasannya


"Hotaru? Kenapa dia? " ucap Mirai enteng, sambil duduk kembali di kursinya


Semua orang di ruangan itu langsung melirik Mirai. Bagaimana seorang gadis biasa, berani memanggil penguasa Negeri dengan namanya saja tanpa embel-embel Tuan?


" D- Dia hanya ingin menemuimu! " ucap Hanna


"Ck.... Bilang aku sibuk, aku tidak ada urusan untuk main-main dengannya. Lihatlah tumpukan berkas di mejaku! " ucap Mirai sampil menunjuk tumpukan map di mejanya.


Kembali lagi, tatapan orang-orang yang heran dengan sikap Mirai di arahkan ke gadis berambut hitam itu. Meski begitu, Mirai tidak memperdulikannya


"Bagaimana kau bisa mengabaikan pasienmu, Mirai? " ucap Suara berat yang berasal dari belakang Hanna. Hanna pun berbalik, ia terkejut melihat Hotaru berdiri di belakangnya


" T- Tuan H... Hotaru? " ucap Hanna sambil membukakan jalan. Hotaru pun berjalan memasuki ruangan itu


Seluruh tim medis di ruang itu menunjukkan sikap hormatnya kepada Hotaru. Beberapa staf medis yang mayoritas perempuan itu, bahkan tanpak terpana dengan pria bermata sebiru lautan itu.


Pria bersetelan Kimono mewah dengan nuansa biru dan putih yang elegan, sebuah lambang bintang terukir di kimono serta di Kipas yang ia bawa. Dilihat dari cara berpakaian Hotaru pun, dia bukan orang sembarangan. Namun tetap saja Mirai cuek-cuek saja


Melihat Mirai tidak menghiraukannya, Hotaru pun mulai mencari alasan


Semua mata kembali tertuju ke Mirai, merasa terganggu dengan sikap Mirai, terlebih ketika pria tampan dan berkuasa memohon.


Pandangan mereka seakan mengatakan 'jangan buat peperangan, karena sikap cuekmu! '. Mirai pun menyerah akibat kekacauan yang di sebabkan Hotaru, di kantornya yang damai


"Ck.... Ikut denganku! " ucap Mirai, sambil berjalan keluar melewati Hotaru begitu saja


......................


Di sebuah ruang VVIP, rumah Sakit Sora. Mirai dengan hati-hati memeriksa bekas operasi Hotaru. Pria berambut biru pucat yang sedari tadi duduk di ranjang pasien hanya memperhatikan wanita di depannya itu


"Apa kau yakin? operasimu tidak ada efek samping. Beberapa bulan terakhir, aku merasakan jantungku berdetak kencang, semakin tidak karuan, Mirai" ucap Hotaru


Mirai melihat bekas luka yang hampir samar di dada bidang Hotaru


"Kalau tidak berdetak, justru lebih bermasalah kan? Kau sehat Hotaru, kau bahkan bisa berlari mengelilingi desa ini....


Team medis Hoshi, benar-benar merawatmu dengan baik, lukamu bahkan sudah hilang. Tidak ada efek samping apapun, Hotaru! " ucap Mirai kesal. Hotaru sudah terbiasa dengan sikap dingin Mirai, ia pun memdekatkan wajahnya untuk menatap langsung paras cantik didepannya. Senyum menawan kembali terukir di wajahnya, kali ini sebuah ide terlintas dipikirannya


"Kau mau menemaniku bermain? Bagaimana dengan permainan sentil menyentil. Terakhir kali aku kalah, tapi tidak kali ini. Hm? Mirai?"


Bujuk Hotaru, wibawanya seakan hilang diganti tingkah bagai bocahnya di hadapan Mirai. Namun tidak di gubris Mirai, gadis itu hanya menunjukkan muka datarnya


"Ckckck.... Lihatlah wajah masammu itu....


Kau bahkan tidak senang melihat teman dari jauh berkunjung. Seharusnya kau menyambutku Mirai.... Apa-apaan ini? " Hotaru memalingkan mukanya, ngambek


Kesal...... Mirai mencubit perut Hotaru keras, membuat sang empunya perut bak roti sobek itu, meringis kesakitan


" Aw.... Sakit! ....Hanya kau gadis di bumi ini yang memperlakukanku seperti ini! "

__ADS_1


"Hadeh.... Aku tidak ada waktu untuk ini Hotaru"


Seorang mengetuk pintu. Hotaru yang menatap Mirai, langsung memberikan kode untuk membukakan pintu, layaknya pelayannya.


Dengan muka dongkol, Mirai pun membukakan pintu. Ia terkejut, seutas senyum tipis terukir di wajah cantik Mirai


"Ternyata, kau juga datang ke sini, Kak Tsuyu? Ucap Mirai senang, bagaimanapun Tsuyu adalah wanita yang paling Mirai kagumi


"Hm.... Apa kabar Mirai? " ucap Tsuyu sambil memeluk Mirai


"Reuni teman wanita yang membosankan, dia bahkan cemberut ketika melihatku! " ucap Hotaru merasa dikacangin


Tsuyu dan Mirai pun duduk di Sofa. Mereka sama sekali tidak memperdulikan pria yang duduk di ranjang pasien, meski setengah kimono atasnya masih tersingkap, akibat Mirai tadi memeriksa luka Hotaru


"Seperti permintaanmu Mirai, aku menemukannya! " ucap Tsuyu sambil tersenyum


"Benarkah? Terima Kasih Nona Tsuyu! " ucap Mirai tidak kalah gembira


"Aku juga mengajaknya ke sini, kau juga bisa mengajak anak itu datang menemuinya. " ucap Tsuyu


"Hm.... Bagaimana kalau di restauran di dekat Rumah sakit ini? Malam ini juga bisa. " ucap Mirai antusias


Hotaru yang sedari tadi menguping pembicaraan Mirai dan Tsuyu, hanya bisa mengerutkan kening penasaran. Pergi ke restoran? Untuk apa?


Sadar ada yang tertarik dengan obrolan mereka, Mirai memancing Hotaru dengan sifat jahilnya


"Oh ya Kak Tsuyu! Aku akan mengenalkan Juniorku padamu. Kau juga bisa menemuinya nanti. Kau ingat janjiku waktu itu bukan? Ketika kau mengunjungiku? " ucap Mirai dengan intonasi sedikit keras, sambil melirik Hotaru yang masih menguping pembicaraan


"Juniormu? Kau ingin aku bertemu pria yang lebih muda, Mirai? " Tsuyu tersipu, bagaimana Mirai masih mengingat janjinya


"Eish... Kak Tsuyu! Jangan remehkan juniorku, dia satu tahu lebih tua denganku, tapi karena suatu alasan, dia kembali belajar dari bawah. Ada rumor dia berasal dari keluarga terhormat, dia juga tampan! "


" Benarkah, apa dia mau mengobrol dengan wanita sepertiku? " ucap Tsuyu merendah


" Aku pernah tanya, bahwa Tipe idealnya adalah wanita anggun yang bisa di panggil kakak. Pass sekali denganmu!


Jangan buang kesempatan ini, dari pada kau menunggu orang yang tidak peka! " Mirai mulai menunjukkan seringai jahatnya


"Benarkah? Kalau begitu aku ikut!


Wah.....


Aku harus memilih gaun tercantikku! Mirai... Tipe wanita seperti apa yang di sukainya?


Anggun?


Cerdas?


Atau.......... Sexy? " ucap gadis berambut pirang itu antusias dengan senyuman super manisnya


" Aku yakin..... Di suka dengan wanita ehem.... Sexy..... Kak Tsuyu! " ucap Mirai yakin sekaligus tamparan bagi Hotaru


Tangan Hotaru sedikit mengepal, ekpresi wajah pria Hoshi itu bahkan sulit diartikan saat ini


"T- Tunggu Tsuyu, bukankah kau masih memiliki Tugas? Ingatlah..... Kau datang ke sini sebagai utusan! " ucap Hotaru tiba-tiba nimbrung


"Aku sudah menyiapkannya sesempurna mungkin, Tuan. Jadi kau tidak perlu khawatir!" ucap Tsuyu. Ia pun kembali menatap Mirai


"Mirai~~~~


Apa aku harus berdandan? Omo........ Apa aku harus siap menjadi penduduk Sora? Bagaimana kalau dia langsung mengajakku menikah..... Kyaaaa! " ucap Tsuyu heboh menunjukkan sikap malu-malu kucing, sambil mengabaikan Hotaru


"T- Tapi... " Hotaru kehabisan Alasan, tidak mungkin juga Orang sekelas Tsuyu lalai dari tugasnya


" Tentu saja. Sampai nanti ya... Kakak Tsuyu. Aku ingin menyuntik, Tuan kita. Tampaknya dia benar-benar sakit, lihatlah wajah pucatnya! " ucap Mirai dengan tatapan Horor

__ADS_1


"T- Tidak Mirai, A-Aku sehat..... " ucap Hotaru sambil berkeringat dingin


__ADS_2