
Di sebuah sudut lorong gelap, Tanuki berjalan cepat dengan raut wajah masamnya, bagaimanapun rencana untuk menjatuhkan Tsuki sudah hancur gara-gara Aora
Beberapa prajurit Sora mengikuti kemana Petinggi Sora itu pergi, meksi raut wajah ketakutan menghiasi wajah mereka. Namun, tugas tetaplah tugas, mereka harus mengawal Tanuki menghadap ketua Zen
Merasa kesal karena terus diikuti, Tanuki pun menghentikan langkahnya, tanpa membalikan tubuhnya ia memberi perintah kepada prajurit yang mengikutinya, tidak.... Lebih tepatnya sebuah ancaman
"Jika kalian tidak ingin mati, sebaikanya menjauh dariku! Aku bukanlah pengecut yang tidak berani berhadapan langsung dengan Zen" ucap Tanuki dengan pandangan tajam kedepan
6 orang prajurit yang mengikutinya tidak mau mengambil resiko, bagaimanapun pria tua di depan mereka bukanlah orang sembaranga, dia adala Pemimpin Cops Merah, salah satu prajurit militer elite di Sora. Mereka putuskan untuk meninggalkan Tanuki sendiri
Tanuki menuju salah satu ruangan di Gedung itu, dengan diliputi kemarahan besar ia menggebark pintu ruangan di depannya
Cops merah berada di ruangan itu, pandangan tajam Tanuki tertuju kepada salah satu anak buahnya yang sedari tadi menunduk.
Dia adalah anak buah yang melaporkan misi pelenyapan bukti dan pelenyapan Satori, yang ia curigai berada dibawah pengaruh Aora
Tanuki berjalan ke arah pria itu, sedangkan anggota Cops Merah lain hanya membukakan jalan bagi tuannya, tanpa sepatah katapun
Srasssss.......
Tanuki membuka topeng pria di depannya, ada yang aneh dengan pria itu, matanya seakan kosong berwarna putih, sedangkan pemilik tubuh hanya diam mematung
"Sihir ini...... Si bocah Aora benar-benar mempermainkanku! " geram Tanuki sambil menatap pria di depannya
Ia pun berbalik dan diikuti anggota Cops merah lain, sesaat setelah Tanuki keluar, di tubuh pria yang diam mematung itu muncul sebuah segel hitam dan menjalar di sekujur tubuhnya.
Segel yang disebut Segel Kutukan Cops Merah itu pun aktif mengeluarkan cahaya dan meledak menyapu seluruh ruangan dengan kuat
Booommmmmmm......
......................
Di ruang Pemimpin Desa Sora, sebuah ruangan yang cukup luas. Ketua Zen berdiri ke arah pintu seakan menunggu kedatangan seseorang.
Tepat di disi kanan dan kirinya, berdiri beberapa orang dengan serangam Militer Sora lengkap dengan Syal berlambang Awan terlilit di lengan mereka. Sebuah pangkat Kapten/Ketua yang di bedakan dengan warna menunjukkan dari mana Devisi mereka berasal
Rou dengan syal ungu bertuliskan 'Ketua Devisi Intel Dan Sensor', sedangkan salah seorang pria bertopeng kucing dengan seragam Cops Putih lengkap dengan Syal putih bertuliskan 'Kapten Cops Putih' juga terlihat berada di ruangan itu, dia adalah Ten
Kreetttt....
Brakkkkk.....
__ADS_1
Seorang pria tua membuka pintu ruangan Ketua Zen dengan kasar. Pria berkimono hitam, dengan setengah wajah terlilit perban itu, berjalan dengan tenang menuju ke arah Ketua Zen dengan oandangan lenuh amarah sera tajam. Suasana ruangan itu tampak hening, semua mata hanya tertuju pada Tanuki
"Kau sudah datang, Tanuki" ucap Ketua Zen sambil menatap tajam sahabatnya itu
Tanuki melihat sekeliling ruangan, semua Kapten di Devisi Sora berkumpul di sana. Ia pun tersenyum sinis menerima perlakuan tidak menyenangkan dari Ketua Zen
"Zen kau tidak cukup mempermalukanku di pertemuan tadi, sekarang kau bahkan ingin lebih mempermalukan aku di depan semua bawahanku? " ucap Tanuki membalas tatapan Zen
" Mulai hari ini........ " ucap Ketua Zen
Sebelum melanjutkan perkataanya, Ketua Zen menatap lekat sahabat yang berdiri di depannya. Tanuki ia adalah satu-satunya teman seperjuanganya yang masih hidup hingga kini. Ketua Zen sangat ingin sahabatnya itu melupakan ambisinya, dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendukung perdamaian Sora
Namun semua itu hanya harapannya semata, Tanuki sudah sangat jauh menyimpang dari tujuan Sora. Meski berat, Ketua Zen harus memberi hukuman kepada sahabatnya sendiri
"Kau akan diberhentikan dari jabatanmu sebagai Ketua Tertinggi Militer Sora. Sebagai kelalaian atas insiden peledakan Sora, yang dilakukan oleh Cops Merah. Aku akan membubarkan dan mencabut ijin keikutsertaan Cops Merah sebagai bagian dari Prajurit Militer Sora
Dan untukmu Tanuki, kau dilarang keras ikut campur urusan Militer Sora, jika kau melanggar perintahku, aku sendiri yang akan menghukummu dengan bayaran nyawamu
Mulai hari ini, aku perintahkan membubarkan Cops Merah dan menyegel markas mereka" ucap Ketua Zen tegas
Perintah sudah di umumkan, dan sudah didengar langsung oleh seluruh Ketua Dewan Militer Sora. Ketua Zen pun menghampiri Tanuki, dan melepas syal Berwarna Hitam di lengannya, menadakan perintahnya adalah mutlak
Rahang tanuki mengeras, ia begitu marah dengan Zen. Ia tidak terima dipermalukan kedua kalinya oleh sahabatnya itu
Tanuki mencengram bahu Ketua Zen, dan mengutarakan kekesalanya
"Tidak ada pilihan lagi, aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk melawanmu, dan Sora yang kau lihat hari ini, akan tumbuh menjadi Lebih kuat dalam kuasaku. Ingatlah, ini bukan akhir tapi sebuah awal.......... " ucap Tanuki dengan mata memerah menahan amarahnya, ia pun melepas cengkramannya
Tanuki berjalan keluar menuju ruangan itu, tapi ucapan Ketua Zen mengehentikan langkahnya
" Sudah bukan tugasku atau tugasmu menentukan Masa Depan Sora. Tunas muda Sora, aku melihat harapan dari mereka. Sebuah jalinan kerja sama yang bahkan tidak bisa kita impikan di jaman kita, kini terwujud berkat kerja keras Tunas muda itu. Merekalah yang akan memperikan perdamaian bagi Sora" ucap Ketua Zen
Kini pandangan orang nomo 1 di Sora itu tertuju pada barisan kapten muda di sisisnya. Rou dan Ten salah satu tunas muda yang di katakan Ketua Zen. Melihat mereka, secerca keyakinan dan harapan terlihat di mata dengan keriput yang mengelilinginya
"Untu itu Tanuki, sebagai tetua yang sudah lebih dulu merasakan sakit dan pahitnya perang. Ayo kita dukung mereka, dengan tangan lemah kita mari kita bimbing mereka. Aku meminta ini bukan sebagai Pemimpin Sora, melainkan sahabat seumur hidupmu, Zen" ucap Ketua Zen dengan suara lembut, setiap kata yang dia ucapkan menunjukkan harapan kepada Tanuki
Ten yang melihat pemandangan di depannya, menatap lurus wajah ketua Zen di balik topengnya. Pria yang sudah ia anggap ayah, berusaha keras meyakinkan orang yang ia sebutnya 'Ayah' itu.
Pandangannya pun tertuju kepada pria berkimono hitam, yang berdiri membelakanginya. Harapan.... hanya harapan, Tan ingin ayahnya mendengarkan perkataan Ketua Zen
Punggung Tanuki bergetar, namun itu bukanlah sebuah penyesalan melainkan tawa keras yang ia keluarkan
__ADS_1
"Hahahah..... Kau itu memang naif Ten" ucap Tanuki tertawa keras sambil berbalik menghadap Zen
"Semua impian itu hanyalah omong kosong! Aku sudah tidak percaya dengan hal bodoh bernama perdamaian.
Aoryu, Kizuna, Yukiyo, Yoshiro semua nama itu memiliki mimpi yang sama, namun apa yang mereka dapat? Mereka hanya membuang nyawa mereka demi impian naif seperti perdamaian
Dan untukmu, aku harap kau tidak menyia-nyiakan hidupmu untuk itu. Ini adalah nasihat terakhirku sebagai sahabatmu, Zen
Aku akan membuat mimpiku menjadi nyata, dengan tanganku sendiri" ucap Tanuki sambil meninggalkan ruangan itu
Hening.....
Suasana ruangan menjadi sangat hening, bahkan beberapa Ketua devisi menjadi canggung menghadapi situasi seperti ini
Ketua Zen yang masih mematung dan terdiam, kini menyadari situasi yang di sebabkan pertengkaranya dengan Tanuki membuat suasana menjadi canggunh
Ia pun menatap anak buahnya sambil tersenyum, meski dengan senyuman palsu untuk menutupi kekecewaanya
"Haha... Maafkan aku telah menunjukan pertengkaran antara orang tua ini..... Terima kasih telah hadir.... Kalian bisa kembali ke pos kalian masing-masing....... " ucap Tanuki memeperintahkan bawahannya untu bubar
Tes.... Tesss.....
Para Kapten Devisi itu pun menghilang dari ruangan itu, namun hanya menyisakan pria bertopeng yang enggan meninggalkan ruangan, Ten
" Ada apa Ten? Ada yang ingin kau sampaikan untukku? " tanya Ketua Zen sembari duduk di meja kerjanya
Ten pun membuka topengnya, memperlihatkan wajah tampannya yang kini diliputi kekhawatiran terhadap Zen. Baginya ia tidak peduli dengan Tanuki, ayahnya. Ia lebih mengkhawatirkan perasaan orang di depannya kini
" Em.... Tidak Ketua.... Jika kau tidak keberatan, maukah kau pergi makan siang denganku?
Sebuah makanan yang lezat akan membantumu memperbaiki suasana hatimu" ucap Ten dengan suara lembut
"Benarkah? Kalau begitu kau yang teraktir....
Hari ini begitu berat untukku, rasanya aku ingin mendingikan otakku dengam segelas sake" ucap Ketua Zen dengan senyum lemah
"Tentu.... Apapun yang kau inginkan, aku bersedia menemanimu..... Ketua" ucap Ten
"Melihatmu.... Aku merasakan memiliki seorang putra yang sangat berbakti..... Kalau begitu... Terimakasih Ten" ucap Ketua Zen
...----------------...
__ADS_1
Untuk reader yang baca kisah Mirai hingga Chapter ini..... Mohon tingalin jejak ya..... Setidaknya beritahu Author bahwa ada yang mengunjungi karya Author ini.......
Makasi~~by Yuki Mirai