
Hikari atau biasa dipanggil Nee di organisasi Tengu. Sosok pemuda pendiam yang turut terseret sihir Tora. Sama seperti Zou, jiwanya juga terjebak didalam sebuah ingatan masa lalunya. Kini penampilan Nee sudah jauh berbeda dari sebelumnya, ia bukan lagi manusia menyeramkan layaknya monster.
Wajah sangar penuh pola jahitan, kini berganti menjadi wajah tirus tegas nan menawan. Rambut biru pucat serta mata biru gelap sedalam lautan. Nee hanya diam terpaku, di hadapannya ia kembali menyaksikan malam ketika ia dan Hozuki bertarung. Malam yang benar-benar kelam, saat sang ayah hendak membunuh anaknya sendiri.
Tranggggg.....
Dua tombak besi saling bergesekan. Bahkan ditengah hujan yang deras, percikan api tercipta sebagai efek dari geretan besi yang saling berbalas. Baik Hozuki ataupun Hikari, keduanya tidak ada yang mau mengalah
Hujan disertai petir menemani pertarungan atara ayah dan anak itu. Di atas sebuah kastil megah, tubuh mereka bergelumur dan saling mendaratkan serangan satu sama lain.
"Kenapa! Kenapa kau mencoba membunuh Hotaru?! Kau bisa melakukan apapun kepadaku, tapi tidak kepada adikku yang bahkan tidak pernah kau perhatikan!
Hotaru bahkan rela berubah menjadi moster demi mendapat pengakuan darimu! "
Hikari menggerang marah. Ia mencengkram tombak di tangannya dan menghunuskan ke tubuh sang ayah. Hozuki dengan segala pertahannanya mencoba menghentikan tombak Hikari untuk menembus dadanya
" Karena dia akan menjadi kelemahan terbesarmu! Apapun kelemahanmu di masa depan, ayah pastikan untuk menyingkirkannya! Bahkan jika itu termasuk membunuh Hotaru! " ucap Hozuki tanpa penyesalan sedikitpun. Baginya tindakan untuk membunuh Hotaru sudah sangat tepat
Tranggggg.......
Hozuki berhasil membalikkan keadaan, kali ini ia menendang Hotaru yang masih diliputi emosi hingga terhempas ke belakang. Tubuh Hikari membentur dingding keras. Saking kuatnya serangan Hozuki, Hikari bahkan memuntahkan darah dari mulutnya
Hujan semaki deras menguyur. Kilapan petir serta suara gemuruh seakan berpesta di langit yang kelam. Dengan senyum kemenangan, Hozuki kembali menghunuskan tombak besi runcing di tangannya. Ia berjalan pelan menuju ke arah Hikari.
"Ayah! Aku mohon hentikan! Semua kekacauan yang terjadi akibat ambisi besarmu itu membuat semua orang-orang disekelilingmu terluka! " puluhan bahkan ratusan kali Hikari mencoba mengingatkan sang ayah. Ambisi besar Hozuki, adalah menyatukan ketiga Negara besar di bawah kekuasaanya.
Untuk itu, ia memecah perang dimana-mana. Puluhan ribu prajurit Hoshi ia korbankan untuk memenuhi impiannya. Mendengar permohonan putranya, hanya senyum sinis terukir diwajahnya
"Impian besarku adalah membawa Hoshi menjadi Negara paling kuat. Negara yang tidak pernah tertindas dari Negara manapun di dunia ini. Jika kau berani melawan ayahmu dan mempertanyakan keputusanku. Aku tidak akan tinggal diam!
Siapapun itu! Saudaraku, istriku atau anak-anakku sendiri! Jika mereka berani menghalangi impian besarku. Akan aku pastikan akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Jadi, kau harus mengingat itu, Hikari! " ucap Hozuki dengan tatapan membunuhnya.
Ia acungkan tombak besi di tangannya ke leher Hikari. Tanpa Hozuki sadari, diam-diam Hikari mengaktifkan segel sihir di Gyokunya.
Nee yang masih memperhatikan kejadian itu hanya bisa mengeratkan tangannya kuat. Gumpalan sihir putih muncul di samping Nee, siluet harimau berwarna putih kini berdiri di sampingnya
"Apakah kau menyesali kejadian malam ini? " Tora menatap pemuda disampingnya
" Malam ini adalah malam dimana kau berhasil mengalahkan ayahmu. Karena serangan terakhirmu, Ayahmu sekarat dan akhirnya meninggal. Sebagai seorang putra, kau pasti memiliki beban tersendiri yang harus kau tanggung didalam hatimu. "
Nee terdiam sejenak, kali ini pandangannya tertuju pada tubuh kecil Hotaru yang terbaring lemas didepannya. Sebuah luka di dadanya terlihat begitu parah terus saja mengeluarkan darah. Luka pemberian sang ayah yang akan membuatnya terkurung dalam rasa sakit hingga ia dewasa kelak
"Tidak. Aku tidak akan pernah menyesalinya. Jika aku kembali ke momen ini ratusan kalipun, aku akan memilih jalan yang sama. Seseorang harus menghentikan ayahku, ambisinya yang besar telah membutakan mata dan nuraninya.
__ADS_1
Sebagai putranya, sudah tugasku untuk mengingatkan kekeliruan yang ia percayai sebagai sebuah mimpi besar. Jika kau bertanya apa aku menyesal telah membunuhnya malam ini......
Aku sama sekali tidak menyesalinya..... "
Tora tersenyum pelan. Ia sadar pemuda didepannya sudah mengorbankan banyak hal untuk orang-orang disekelilingnya.
Hikari mengorbankan masa muda serta kebebasannya untuk memenuhi harapan ayahnya. Ia mengorbankan dirinya untuk memberikan kasih sayang lebih untuk adiknya. Serta.....
"Di antara pengorbanan yang kau buat. Bukankah masih ada satu penyesalan didalam dirimu hingga saat ini? " ucap Tora pelan
" Ada satu pengorbananmu yang hingga kini masih kau sesali. Kau mengorbankan perasaanmu untuk menyelamatkan gadis yang kau cintai.
Hidupmu sesuai arti dari namamu. Hikari memiliki makna sebuah cahaya. Kau selalu membukakan jalan untuk orang-orang dengan cahayamu, Hikari"
Cahaya putih mulai memyelimuti tubuh Nee. Ia mulai menghilang dari tempat itu. Namun sebelum Nee benar-benar menghilang, Tora mengucapkan sesuatu untuknya
"Kau akan kembali melihat kenangan bersama gadis itu. Aku harap kau menemukan jawaban atas penyesalan yang selalu mengganjal dalam dirimu"
Nee yang masih belum mengerti maksud Tora hanya bisa menautkan alis heran "Tunggu dulu, apa maksudmu? " belum sempat ia mendapat jawaban atas pertanyaan. Tubuhnya sudah lenyap ditelan sihir Tora.
......................
Nee mengerjapkan matanya pelan. Sinar sang surya menusuk dalam indra pengelihatannya. Samar, ia melihat rimbunya hutan dengan berbagai bunga bermekaran didepannya. Suara kicauan burung yang merdu, serta semilir angin yang sejuk menghempas dedauan pepohonan pelan
"Di mana aku? " gumamnya pelan. Namun sesaat setelah itu, seorang anak berjalan ke arahnya dan menembus tubuhnya begitu saja. Mata Nee membulat sempurna tatkala melihat sosok kecil yang tak lain adalah dirinya dimasa lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Nee sekarang berada di momen saat dirinya berusia 14 tahun. Tepat dihadapannya, ia melihat dirinya versi kecil tengah menikmati waktu seorang diri.
Di sebuah hutan tersembunyi, Hikari melakukan hal yang ia suka disela-sela kesibukannya. Berjalan-jalan ditengah hutan yang tenang, menikmati kicauan burung sambil menenangkan pikiran.
Benar, kurun waktu itu peperangan masih pecah antar tiga Negara besar. Tentu saja, prajurit andalan Hoshi sepertinya diturunkan ke medan perang untuk memimpin sebuah unit komando Militer di usianya itu.
Di sela-sela peperangan yang melelahkan itu, Hikari mencuri kesempatan untuk sekedar menikmati waktu sendirian. Membersihkan pikiran serta menata kembali perasaannya dengan mencari udara segar jaud dari barak militer miliknya.
Fokus Hikari kini tertuju pada seekor anak burung yang terjatuh dari atas pohon. Ia pun segera menghampiri burung itu. Hikari melihat kondisi burung itu sudah sangat sekarat. Sayap yang patah serta fisik burung yang masih sangat kecil, Hikari ragu apakah burung itu masih sempat ia selamatkan.
"Kau ingin menolongnya atau tidak sih?! "
Seorang gadis kecil berambut soft pink cantik menghampiri Hikari yang masih diam membeku. Wajahnya yang memerah mengembung marah. Mata hijau Emerladnya menatap Hikari tajam. Meski usianya lebih muda darinya, gadis itu bahkan berani membentak Hikari tanpa rasa takut seskitipun
"A-aku ingin menolongnya. Tapi-" kedatangan gadis itu membuat Hikari sedikit terkejut.
Ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana, Hikari begitu kikuk jika berhadapan dengan orang baru. Untuk itu ia hanya bisa menggaruk pipinya sambil mencari cara menjelaskan situasinya
__ADS_1
"Tapi apa? " ucap gadis itu sambil berkacak pinggang. Lewat postur tubuhnya yang masih pendek, Hikari yakin gadis itu seusia adiknya, Hotaru
Gadis secantik musim semi dengan rambut secantik bunga sakura yang bermekaran menatapnya sambil meminta penjelasan. Sadar Hikari tidak kunjung menjawabnya, ia bisa hanya menghela nafas pelan. Gadis kecil itu pun membawa burung yang terluka bersamanya dan segera beranjak pergi dari sana. Hikari yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mengekori kemana gadis itu pergi dengan matanya
Gadis itu menghentikan langkahnya, kini ia berbalik dan menatap Hikari " Tunggu apa lagi? Kau ingin menyelamatkannya tapi tidak tahu caranya kan? Kalau begitu, cepat ikut denganku!"
"Ya? Maksudmu aku? " Hikari yang kikuk hanya bisa menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu mengangguk cepat, senyum lembut terukir di wajah cantiknya
Di sebuah tepi sungai kecil, Hikari dan gadis yang baru saja ia temui duduk berhadapan sambil memperhatikan bayi burung yang mereka selamatkan. Hikari hanya diam memperhatikan, sementara gadis didepannya sibuk memeriksa keadaan burung itu
Dalam benak Hikari, ia penasaran dari mana asal gadis itu. Lingkungan tempatnya saat ini merupakan Zona militer tempat dimana pasukan Militer biasa mempertahankan wilayahnya. Perang sering terjadi di wilayah ini. Apa mungkin gadis itu penduduk yang belum mengungsi? Apa dia dari Tsuki atau Hoshi? Mengingat wilayah ini adalah bagian dari perbatasan kedua negara besar itu, Hikari yakin gadis iti berasal dari wilayah sekitar sini
"Sayapnya burung kecil ini patah. Baiklah! aku tidak memiliki cara lain selain cara itu" Ia mulai mengakyifkan Gyoku ditangannya. Sinar biru penyembuh ia arahkan ke tubuh sang burung
"Itu? Kenkou? "
Hikari terkejut, ketika gadis itu menggunakan Kenkou untuk mengobati luka bayi burung. Gadis itu bisa menggunakan sihir, itu berarti ia adalah orang militer. Hikari masih memperhatikan gadis didepannya dengan penuh tanda tanya.
"Selesai! " ucap gadis itu puas. Ia pun meletakkan burung itu ke dalam keranjang kecil miliknya. Sadar Hikari memperhatikannya sejak tadi, gadis itu pun mulai beranjak pergi menuju ke tepi sungai
" Kau benar. Aku orang Militer pengguna sihir! " ucap gadis itu seolah mengetahui apa yang dipikirkan Hikari. Sambil membasuh tangannya di aliran sungai yang jernih ia melanjutkan ucapannya " Bulankah kau juga sama?"
"Ya? " Hikari terdiam sejenak. Dalam kondisi berada di wilayah yang dapat disusupi musuh, ia tidak dapat menyebarkan informasi pribadinya dengan orang sembarangan. Termasuk gadis didepannya.
Meski ia dan gadis itu berpakaian layaknya warga sipil biasa. Tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja gadis itu rekan atau mungkin musuhnya dari Negeri Tsuki. Hikari memilih diam tanpa menjawab pertanyaan gadis itu
"Tentu saja. Kita tidak bisa berbagi informasi pada orang sembarangan. Karena kita tidak tahu, mereka adalah musuh atau teman. Bukan begitu? "
Hikari tersentak, gadis didepannya bukan hanya seorang pengguna sihir biasa. Dilihat dari caranya berbicara, Hikari yakin ia merupakan seorang prajurit aktif. Karena apa yang diucapkannya baru saja merupakan peraturan yang harus dipatuhi seorang tentara aktif yang ikut berperang.
Gadis itu kini berjalan menghampirinya, memposisikan dirinya duduk disebelah Hikari. Sambil menghela nafas panjag, gadis berambut senada gulali itu mendongakkan kepala dan menatap langit biru di atas mereka
"Hah! Kapan peperangan ini berakhir?! Aku juga ingin memiliki teman dan bercerita mengenai diriku sesuka hati! " teriaknya lantang ke hadapan langit biru. Hikari hanya bisa membeku. Ternyata ada anak lain yang mengalami hal yang sama persisi sepertinya
" Bukankah begitu? " ucap gadis itu sambil menatap Hikari lekat. Iris hijau Emerlad kini bertemu dengan iris biru Hikari. Mereka bedua terpaku sejenak, menatap satu sama lain dalam diam
" I-itu... " Hikari segera memalingkan wajahnya. Ia bisa merasakan panas menjalar dipipinya.
" Kau terlalu kikuk, kakak pendiam. Baiklah! Kita tidak bisa mengatakan dari mana kita berasal karena itu dilarang. Tapi kita bisa memberitahu nama masing-masing bukan? " gadis itu mengulurkan tangannya dengan senyum hangat menghiasi wajahnya
" Perkenalkan. Namaku Harui...... Siapa namamu? "
Hikari menatap uluran tangan Harui, dengan ragu ia pun menjabat tangan gadis itu. Jujur oa tidak bisa menolak uliran tangan gadis didepannya
__ADS_1
" Hikari. Namaku Hikari...... " ucapnya malu-malu.