
Note Author : Alur Garis Darah Terkutuk sudah memasuki alur Flashforward di pembukaan Chapter 1.
...----------------...
Kabut Hitam mulai mengulum masuk dari segala penjuru Kuil. Tepat di atas, kabut itu menyusup masuk ke tengah segel Nue yang mulai retak, kabut hitam itu berputar cepat dan menviptakan sebuah bayangan hitam besar. Siluet moster berukuran 50 meter terlihat. Gerangan bahkan terdengar menyeramkan.
Ukurannya tubuhnya lebih besar dari Kuil, meggerang garang bagai singa dengan dua mata merah menyala. Moster itu berdiri tegap di tengah kabut hitam.
"Grrrrrrrhhhhhhh! "
Moster itu mulai mengibasakan ekor ularnya, membuat seluruh Kuil Nue yang mengah tersapu badai topan sihir. Bagunan itu akhirnya runtuh, hingga rata dengan tanah. Nue sepenuhnya telah bangkit kembali.
Wajah Nue mulai terlihat jelas, sosok menyeramkan menyerupai monyet dengan gigi-gigi tajam, tubuhnya dipenuhi bulu tebal. Kuku-kuku besarnya mencengkram tanah. Sementara ekor yang ujungnya berisi kepala ular, mendesisi keras.
Nue menatap area sekelilingnya. Moster itu mulai mengendus pelan, aura gelap manusia yang berperang di ujung sana membangkitkan rasa laparnya. Terutama kegelapan serta kebencian yang timbul di dalam jiwa orang-orang, itu adalah asupan energi yang pas untuk makhluk kegelapan sepertinya.
Nue tidak bisa mengendalikan kekuatannya secara penuh. Saat ini, ia masih makhluk buas tanpa pikiran dan Tuan. Yang bertugas mengendalikan pikiran makhluk iblis sepertinya adalah Kurasu.
......................
Yora kembali ke tengah medan pertempuran. Sambil menyeka darah di sudut bibirnya, matanya hanya tertuju pada moster kegelapan yang sudah bangkit. Ia pun mulai mengaktifkan gyoku bulannya.
Tanpa membuang waktu, Yora mencoba menghentikan Nue sebisanya. Ia menggerakan tanah di sekitar Nue, dan menjerat empat kaki Nue dengan pengendalian tanahnya.
Brassss
Tanah mulai bergerak menjerat Nue. Tidak berhenti sampai disana, Yora juga menyalurkan api birunya untuk membakar Nue. Makhluk berbadan singa itu menggerang keras. Tanpa melewatkan kesempatan, Yora melancarkan serangan keduanya.
Pedang Bakuro terhunus dengan kekuatan sihir pilar bula melapisi bilah hitamny. Yora melompat ke atas tubuh Nue.
"Moster ini, pasti memiliki suatu kelemahan di tubuhnya. Tapi dimana? "
Yora mencoba mencari titik kelemahan Nue, setidaknya dengan begitu ia bisa mengekang makhluk itu untuk kembali menyegelnya.
" Itu dia! "
Ada. Yora menemukan satu hal yang mungkin menjadi kelemahan Nue. Matanya yang merah menyala, adalah sumber kekuatan dan pertahanan moster itu.
Yora mencoba berpindah ke arah kepala Nue, dengan langkah cepat Yora berlari di sepanjang garis punggung Nue.
Moster itu tidak membiarkannya begitu saja. Tubuh besarnya mulai bergerak acak, membuat langkah Yora sedikit terguncang. Bukan hanya itu, ekor Nue yang menyerupai seekor ular juga tengah mengincarnya. Yora mencoba bertahan sebisanya, ia memanfaatkan bulu tebal Nue sebagai pegangan untuk mempercepat pergerakannya. Tubuhnya berayun, dari satu cengkraman ke cengkraman lain.
Kurasu menyaksikan hal itu, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Sudah Waktunya untuku bergabung kembali dengan Nue."
Kurasu mengktifkan gyokunya. Sebuah sihir kegelapan tercipta, sihir itu membantu perpindahan jiwanya. Perlahan, sihir itu mulai mengangkat jiwa Kurasu dari tubuh Aora dan mengirimnya masuk ke tubuh Nue. Jiwa Kurasu yang berbentuk Kabut Hitam mulai keluar dari tubuh Aora dan melesat ke arah dimana Nue berada.
Sementara itu, Aora yang masih di bawah pengaruh Kurasu masih belum bisa terbebas sepenuhnya, tanpa ia sadari tangannya masih berusaha menebas tubuh Mirai lebih dalam lagi. Sorot kedua matanya kosong. Aora bahkan tidak tahu, siapa orang yang hendak ia bunuh itu.
"Aora.... "
Meski sulit, Mirai mencoba mengulurkan salah satu tangannya untuk mengusap lembut wajah Aora. Meski tangan Mirai dipenuhi darah, Mirai masih mencoba membelai lembut wajah pria yang paling ia cintai itu.
"Aora... Ingatlah, ini semua bukan salahmu. Maafkan aku, tidak bisa terus berada disisimu. "
Mirai mulai mengaktifkan Gyoku saljunya. Sebuah cahaya berwarna biru terpusat di jari telunjuknya. Ia lantas mengulurkan jari terlunjuk yang dipenuhi cahaya sihir kehidupan itu. Mirai tempelkan jarinya tepat di kening Aora. Sihir Mirai menekan sihir hitam, kegelapan yang memenuhi tubuh Aora secara berangsur mulai memudar.
Mirai berniat menyerap sihir kegelapan di tubuh Aora menggunakan sihir penghisap jiwa miliknya. Itu adalah satu-satunya cara untuk membebaskan Aora dari jeratan sihir kegelapan yang menguasai tubuhnya.
"Lepas! "
Mirai akhirnya berhasil menghilangkan pengaruh Kurasu. Dorongan pedang di perutnya mulai melemah, perlahan Aora mulai kehilangan kesadaran dan jatuh ke tanah.
" Argh! " Mirai berkenyit, rasa sakit di perutnya benar-benar luar biasa. Tangan yang gemetar mencoba menekan luka diperutnya agar pendarahan berheni. Namun percuma, darah istimewanya masih saja merembas keluar. Mirai tahu, jika kondisinya sepeti ini ia bisa saja mati sebelum berhasil menyegel Nue kembali
" Aku tidak memiliki waktu lagi. Mau tidak mau, aku harus menyegel Nue ke dalam diriku. Arkh! "
__ADS_1
Luka-luka di tubuhnya tidak mau beregenerasi, ini sebabnya kenapa pedang Shiroi benar-benar berbahaya untuknya.
" Sedikit lagi Mirai, kau harus Bertahan! " Mirai menyemangati dirinya sendiri.
......................
Yora masih berjuang keras untuk melawan monster Nue. Yora melompat, memanfaatkan bulu-bulu tebal Nue sebagai peganggan untuk mencapai titik dimana kepala Nue berada. Hingga akhirnya ia mendarat tepat di antara dua mata Nue.
Saking besarnya Nue, Yora hanya seukuran kerikil kecil dihadapanya. Yora berpijak di hidung Nue yang seukuran sebuah rumah. Nafas monster itu menderang keras.
"Grrrrrrrr! "
Yora menatap tajam dua bola mata seukuran batu raksasa yang menatap garang ke arahnya.
"Kau! Tidak ada apa-apanya dihadapanku! Kau sudah tamat, Yora! " suara mengerikan Nue menggema.
Kesadaran Kurasu sudah masuk ke dalam diri moster itu. Kilapan cahaya merah terlihat di dua bola matanya. Yora tidak gentar. Dengan pedang terhunus, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menebas mata Nue.
Tap!
Tranggg!
Brasss!
Nue menggunakan sihir pengendali pikiran untuk menghempas Yora dari wajahnya. Yora menggunakan kekuatan yang sama untuk melompat ke angkasa untuk menghindari serangan Nue.
"Gagak sihir! Keluarlah! "
" Gak! Gak! Gak! "
Yora menciptakan sebuah gagak raksasa sebagai tumpuan pijakannya. Gagak itu terbang menukik, menghindari setiap serangan yang dilancarkan ekor ular Nue.
Namun tetap saja, Nue bukan tandingannya, kemampuan mata iblis Nue dapat mengendalikan sihir jenis apapun. Untuk menghentikan Yora, Nue mulai menujukan kekuatan sejatinya
Lima buah bola eleman muncul di langit. Masih masing bola sihir raksasa itu memiliki kekuatan, api, tanah, air, angin serta petir. Bola kekuatan itu berputar cepat, dan menargetkan Yora.
Brasssss!
Yora mengayunkan pedangnya, dengan kekuatan sihir clan bulan yang memenuhi bilahnya. Sebuah simbol bulan tercipta. Satu-persatu bola sihir itu mulai melesat ke arahnya.
Yora pun menangkis bola raksasa yang hendak memburunya dengan kekuatan pedang bakuro.
Brasss!
Serangan pertahanan itu sukses. Satu bola api terhempas jauh, menciptakan sebuah ledakan di ujung sana, yang bahkan mampu menghancurkan sebuah bukit.
Booooom!
Lagi dan lagi bola-bola sihir itu menyasar ke arah Yora. Semua bisa Yora singkirkan dengan kekuatan pedang hitam. Tabrakan kekuatan tercipta di langit kelam. Bola sihir yang meleset itu menyebabkan ledakan besar di beberapa titik di sekitar medan perang.
"Kau benar-benar bocah keras kepala! "
Tap!
Yora mendarat di tanah. Burung raksasa yang ia tunggangi lenyap bersamaan dengan sihir gyokunya yang melemah. Yora memcoba mengatur nafasnya. Menggunakan sihir sebanyak itu menguras cepat energinya. Ia mencoba bertahan, sekali lagi ia berniat menyasar mata Nue.
"Sedikit lagi! "
Yora mulai melesat naik menuju ke arah kepala Nue. Namun, tanpa ia sadari, dari arah belakangnya, ekor yang berisikan kepala ular dengan bisa mematikan diam-diam tengah bersiap memburunya.
"Mati! "
Ular itu melesat ke arah Yora, dengan mulut bertaring penuh dengan bisa yang mulai terbuka lebar. Serangan yang cepat membuat tubuh Yora terkena gigitan ular berbisa itu. Meski begitu, ia sempat memotong ekor Nue dengan pedangnya.
Trassss!
" Arghhhhhh! " Nue menggerang hebat.
__ADS_1
Ekor Nue berhasil dipotong Yora. Bersamaan dengan kepala ular yang jatuh, Tubuh Yora terpental turun dan akhirnya menabrak tanah yang keras.
" Argh! " Yora menggeliat menahan sakit. Racun ular mulai menyebar ke setiap pembuluh daranya.
" Argh! Sial! Bahkan sampai matipun, kau tetap menyusahkanku. Sekarang rasakan, racun di kepala ular itu adalah racun paling mematikan didunia. Kau akan merasakan mati dengan siksaan kuat racun Itu! "
Rasa sakit memenuhi tubuh Yora. Ia sempat menatap ke arah Nue, meski perlahan sorot mata kelamnya mulai meredup. Yora akhirnya memejamkan matanya. Detik itu juga, embusan nafasnya sudah tidak terlihat lagi.
Melihat lawannya sudah tidak berkutik. Nue mulai mengambil sebuah ancang-ancang. Sebuah kabut sihir berwarna hitam muncul dari mulutnya
"Kini giliran para manusia itu. Jiwa-jiwa mereka akan aku hisap ke dalam diriku. Sementara tubuh menjijikan mereka akan beruba menjadi batu. Inilah hukuman yang seharusnya aku beri pada mereka! "
Nue kembali melepas kekuatan kegelapan miliknya. Kabut hitam pekat mulai keluar dari dalam mulutnya. Kali ini, ia menyasar seluruh manusia di muka bumi ini. Kabut hitam mulai menjalar memenuhi seluruh daratan. Siapapun manusia yang tersentuh kabut itu akan tertarik jiwanya dan berubah menjadi patung batu.
Hal itu terlihat di medan perang yang masih berkecamuk. Salah seorang prajurit melihat badai kabut berwarna hitam menuju ke arah mereka.
"K- kabut mengerikan apa itu? " tujuknya takut.
Semua orang seolah terhipnotis. Mata mereka tiba-tiba menujukan tatapan kosong. Tanpa terkecuali, semua manusia di dunia mulai terkena efek kabut hitam itu. Jiwa mereka tertarik keluar, melesat cepat masuk ke dalam tubuh Nue. Sementara tubuh mereka, berubah menjadi batu.
......................
Mirai menyadari apa yang terjadi dengan Yora dan seluruh umat manusia lewat sensor sihirnya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat jiwa orang-orang yang berubah bak roh yang dipenuhi sinar biru muda masuk ke dalam tubuh Nue. Di antara jiwa-jiwa itu, Mirai juga melihat sosok teman-temannya.
"Tidak.... "
Mirai sadar, kini ia sendiri di dunia ini. Semua orang sudah pergi.
"Sial! Kau Kurasu! " geram Mirai
Mirai dipenuhi amarah. Air matanya menetes, sementara tangannya mencengkram kesal pedang yang masih menembus perutnya.
Mirai mengumpulkan kekuatannya, dan mulai mencabut pedang Shiroi dari tubuhnya.
"KURASU! " teriak Mirai, Nue kini menggerang pelan dan menatap Mirai tajam.
" Kau sudah merasakan temanmu tewas di tanganku. Semua umat manusia, seluruh jiwa mereka sudah aku hisap. Sekarang, seperti kutukanmu. Kau berakhir berjuang seorang diri! "
" Tidak akan aku biarkan kau menyakiti orang-orangku! "
Mirai mulai mengambil sedikit darah spesialnya, ia lantas mengoleskannya ke simbol Gyoku di tangannya. Hal itu di sadari Kurasu, tapi moster itu hanya menggerang senang.
"Kau pikir tubuh lemahmu dapat menyegel kekuatan besarku? Dengan kondisimu itu, aku bisa saja berbalik menguasai tubuhmu, dewi Salju! ".
" Kita lihat, siapa yang akan bertahan sampai akhir! "
Mirai menbuat sebuah segel Salju besar dengan kekuatannya. Simbol salju mengitari tubuh Nue, dengan menggunakan kekuatan kehidupan, Mirai mulai menjerat tubuh moster itu. Mirai berniat menyegel Nue ke dalam dirinya
" SEGEL! "
Mirai mencakupkan kedua tangannya. Sihir di simbol salju menarik tubuh Nue. Perlahan Nue mulai masuk ke dalam dirinya.
" Kau akan menyesalinya! Bahkan jika kau mati hari ini, kutukan akan terus mengalir di darahmu. Kau ditakdirkan hidup, untuk nelihat orang-orang disekelilingmu mati! Camkan itu, Dewi Salju! "
" Takdirku bukan urausanmu, makhluk jelek! "
Mirai mengumpulkan seluruh kekuatannya. Sihir kegelapan yang masuk ke dalam tubuhnya, sedikit demi sedikit mulai menggerogoti jiwanya. Mirai memuntahkan darah. Meski begitu, ia tetap berjuang dengan segenap tenaga untuk menyegel Nue ke dalam tubuhnya
Di tengah perlawananya. Ia melirik ke arah Aora yang masih memejamkan matanya. Kenangan dengan teman-temannya memenuhi kepala Mirai. Tanpa terasa, air matanya kembali menetes.
Mirai sadar, meskipun hidupnya dipenuhi kegelapan. Ia sempat merasakan apa namanya cinta dan kehangatan di hatinya yang membeku, sosok orang yang bagai matahari (Aora) , mengajarkan Mirai apa artinya hidup.
Teman-teman yang selalu memberikan dukungan. Meski semua berakhir seperti ini, Mirai tidak pernah menyesal.
"Terima kasih, dan juga Maafkan aku. Aku mencintaimu, Aora. " gumamnya ririh
Mirai memejamkan matanya, bersamaan dengan Nue yang sepenuhnya masuk ke dalam tubuhnya.
__ADS_1
Teg!
Mirai mulai membuka matanya kembali. Tidak ada lagi, iris ungu pucat secantik bunga lavender. Sorot mata Mirai berubah tajam, dengan iris berwarna merah menyeramkan. Akankah Nue berhasil menguasai tubuh Mirai?