Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Bayaran Atas Perdamaian


__ADS_3

Warning : di cahpter kali ini, beberapa masalah politik akan di angkat. Mungkin akan sedikit membingungkan atau membagongkan..........


"Kalau begitu, aku pergi dulu" ucap seorang gadis berambut hitam sebahu, sambil melepaskan tangannya dari pria di depannya


"Hm.... Hati-hati di jalan, maafkan aku tidak bisa mengantarmu, aku harus mengurus beberapa hal di rumah sakit. Jika semua tidak beres, bisa-bisa senior Mirai membunuhku" ucap pria berkulit pucat itu dengan senyuman kecut


Dia adalah Shin, junior Mirai sekaligus target Aora dan Hotaru


Pacar Shin pun mengecup singkat pipi Shin, dan berjalan meninggalkan pria itu. Shin hanya melambaikan tangannya dengan senyum di wajahnya


Namun, tanpa Shin sadari, tatapan dan aura hitam dari 2 pria di belakangnya sedang mengawasinya.


Sesosok siluet pria berambut perak serta biru muda itu sedari tadi menatapnya di balik gelapnya gang, sedangkan satu sosok siluet berambut merah, hanya berdiri ikut-ikutan.


Shin pun berjalan menuju gang sempit di antara gedung-gedung di pusat desa Sora. Sesekali ia menyadari aura aneh megikutinya


"Sstt.... Kenapa suasana menjadi mencengkram sekali? " ucapnya sambil mengusap tengkuknya, ia merasakan sesuatu yang hebat mengikutinya


Wussss.....


Angin kencang berhembus, meskipun Shin berada di gang sempit dengan gedung belantai 4 di setiap sisinya, nyatanya ada angin berhembus sangatlah aneh


" Stt.... Aneh? " ucapnya sambil mempercepat langkahnya. Seharunya Shin mengambil jalan utama, karena harus segera tiba di rumah sakit ia memilih mencari jalan pintas


Namun angin kencang kembali menghantamnya, membuat tubuhnya terpental ke arah tembok. Sosok Aora dan Hotaru pun menghampirinya


"Apa aku terlalu keras? Untuk ukuran playboy sepertimu, tubuhmu begitu lemah" ucap Hotaru


Meski tidak ingin mencelakai Shin, nyatanya Aora dan Hotaru membuat pria tidak berdosa itu merasakan ketakutan yang mencengkram. Bagaimana tidak, dua orang pria misterius menghadangnya tanpa merasa ia pernah berbuat salah


"S.... Siapa kalian? " ucap Shin, ia melihat salah satu orang yang familiar, pria bermasker dengan rambut abu-abu


" B... Bukankah anda k.... Kapten Aora? "ucap Shin terbata-bata, keringat dingin mengalir deras si wajahnya.


Untuk apa seorang kapten militer elite menghadangnya, bukankah dia tidak melakukan hal jahat apa pun?


" Aora, Hotaru berhentilah membuat pria itu ketakutan" ucap Pria berambut merah, yang sedari tadi berdiri di belakang mereka.


Hisui ingin tidak terlibat dengan permainan kekanak-kanakan Aora dan Hotaru. Tapi kedua orang itu menyeretnya untuk ikut


Drrrrrrttt... Drrrrrtttttt


Aora menjentikkan jarinya, arus listrik kecil tercipta di jarinya. Ia sengaja membuat Shin lebih ketakutan


"Watu itu, kenapa kau bertemu Mirai dan Nn. Tsuyu dalam kencan buta, jika kau sendiri sudah memiliki kekashi, hah? " ucap Aora dengan nada mengancam. Sedangkan Hotaru mengangguk tanda ia setuju


Hisui hanya bisa menggelengkan kepalanya, dua pria, tidak..... Dua bocah di depannya sungguh kekanak-kanakan.


" K... Kencan buta? Aku... Tidak pernah melakukannya" ucap Shin jujur, bagaimanapun waktu itu ia hanya diminta Mirai untuk menyapa temannya Tsuyu, dan menyuruh Yuhee untuk bergabung. Seningatnya itulah yang terjadi


"Ck... Kau benar-benar..... " ucap Hotaru, namun sebelum ia sempat melanjutkan katanya, teriakan mengglegar terdengar

__ADS_1


" APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?!!!!!!! "


Seorang gadis berambut hitam panjang, dengan dress ungu cantik berdiri di belakang para lelaki itu. Mirai memang terlihat cantik dengan dress, namun kecantikannya seakan sirna digantikan aura gelap sambil melihat tiga orang mencoba membuli juniornya


" Senior Mirai..... " ucap Shin sambil berlari dan bersembunyi di belakang Mirai. Tsuyu dan Kazumi hanya berdiri cengo melihat kelakuan tiga orang itu


" Tidak ku sangka, Hisui ikut dalam kenakalan bocah seperti ini" ucap Kazumi sambil menyipitkan matanya, ia tidak menyangka suaminya yang kalem dalam waktu singkat sudah dicemari sikap Aora dan Hotaru


"Dia tidak terlihat seoerti Tuan Hotaru, dimana wibawanya.... Mirai.... Apa kau mengoprasi jantungnya? Bukan otaknya kan? " ucap Tsuyu tidak kalah heran


" Sekarang.... Tuan-tuan terhormat, bisa kalian jelaskan apa yang kalian lakukan pada juniorku yang malang? " ucap Mirai sambil berkacak pinggang, memperlihatkan tatapan membunuhnya


" Aku hanya ikut-ikutan" ucap Hisui dengan nada tenangnya, dan berjalan menuju ke arah istrinya


Mirai pun menatap kedua laki-laki yang tersisa, Aora dan Hotaru yang seakan membeku.


"K.... Kami hanya...." Hotaru kehabisan alasan, ia pun menyikut Aora yang berdiri di sampingnya, memberi tanda 'apa yang harus kita lakukan' ke Aora


"Emmmm.... Ano.... Emmm... Kami hanya ingin menyapa... Ia... Bukankah dia juga tim medis kebanggaan Sora... Hahahaha" ucap Aora sambil tertawa garing


"Tidak benar senior" bisik Shin di belakang Mirai, sontak mendapat tatapan tajam dari Hotaru dan Aora


"Hah.....Aora dan Hotaru, ikut denganku.....


Sedangkan kau Shin... Kembalilah ke rumah sakit, aku meminta maaf atas kekacauan yang di buat dua orang itu....... Kau bisa pergi" ucap Mirai, Shin pun mengangguk dan pergi dari sana


"K... Kami juga harus membahas suatu yang penting, Hotaru.... Ayo! " ucap Aora berusaha menghindari Mirai dan pergi dengan Hotaru, Hisui. Sedangakan Mirai, Tsuyu serta Kazumi hanya bisa menggelangkan kepala mereka, heran


......................


"Kenapa kau memanggil kami? Aku tidak yakin kita hanya berkumpul untuk makan malam saja Aora" ucap Hotaru


Ketiga pemimpin itu kini duduk berhadapan di sudut ruangan, sementara Mirai, Tsuyu dan Kazumi menunggu di meja makan. Mereka sengaja menjauh, karena tahu Aora dan yang lain akan membahas sesuatu yang penting yang berhubungan dengan Negara


"Ada apa? " ucap Hisui tidak kalah penasaran


Aora pun meletakkan 2 amplop coklat masing-masing di depan Hisui dan Hotaru. Sebuah amplop yang cukup tebal


" Sebelum aku membahas ini di pertemuan besok, lebih baik kalian membaca dan mempertimbangkan tawaraku sebagai wakil Sora" ucap Aora dengan pandangan serius


Hotaru pun membuka isi amplop itu,


"Bukankah ini sebuah proposal? Pembangunan pusat Rehabilitasi Hotsuso (Hoshi, Tsuki, Sora) ? Apa ini Aora? " ucap Hotaru


" Pusat Rehabilitasi, kau ingin kita membangun ini sebagai tanda kerja sama antara Ketiga negara? " ucap Hisui, sambil membalik dokumen di tangannya


" Jika ke-tiga negara besar bekerja dalam sebuah sistem ekonomi, tentu harus ada jaminan yang mengikat kerja sama itu.


Jika itu dulu, setelah peperangan yang menghabiskan seluruh kekayaan negara dan membuat salah satu negara kalah atau berada dalam keadaan krisia, untuk mengakhirinya akan ada sebuah gencatan senjata yang ditandai oleh sebuah perjanjian perdamaian.


Sehingga kedua belah pihak yang bertikai di 'ikat' oleh aturan di dalam sebuah perjanjian. Entah itu dari pihak pemenang atau pihak kalah

__ADS_1


Namun, kini di antara negara kita hanya ada masalah ekonomi dan situasi pun damai dengan tidak adanya perang bersenjata


Tapi perdamaian ini bisa di rusak oleh orang-orang tidak bertanggung jawab di luar sana .Dengan alasan apapun, mereka hendak mengadu domba Ketiga Negara, sehingga api peperangan bisa tercipta kapanpun.


Oleh karena itu, aku ingin mengajukan sebuah rencana membangun pusat rehabilitasi di perbatasan ke tiga Negara" ucap Aora yakin


Rencana Aora, adalah membuat sebuah Rumah Sakit rehabilitasi di perbatasan yang menyatukan ketiga Negara Besar. Letak perbatasan Sora, Tsuki dan Hoshi berbentuk layaknya sebuah hurup Y, sehingga ada titik di mana ketiga wilayah bertemu


Yang nantinya, jika terjadi sebuah kerja sama Ekonomi antara Tsuki, Hoshi dan Sora, tidak akan ada yang bisa mengkhianati satu sama lain, sebab orang-orang yang akan masuk atau di rawat rumah sakit itu adalah orang-orang yang berasal dari ketiga negara itu.


Tidak mungkin sebuah Negara akan mengabaikan rakyatnya yang sakit, bukan? Rumah Sakit akan di bangun di tempat netral yang menyentuh ke tiga Negara


Dengan kata lain Rumah sakit itu adalah jaminan yang diberikan ketiga Negara, dan dapat dipercaya sebagai tempat warganya berobat


"Sora akan menyediakan lahan yang dengan pepohonan dan suasana damai, sebagai tempat yang cocok rumah rehabilitasi di bangun. Sedangkan Tsuki yang terkenal dengan produksi obatnya akan menjadi pensuplay obat-obatan.


Hoshi...... Seperti yang diberitahukan, negara cantik dengan lautan itu, terkenal dengan para peneliti, serta dokter-dokter hebat untuk mendukung berdirinya Rumah Sakit" ucap Aora sambil menatap ke dua orang di depannya


Bagi Aora rencananya tidak hanya untuk mempererat kerja sama, namun untuk membantu lebih banyak orang, baik dari pihak Militer atau rakyat sipil


"Kalian tentu masih ingat, 18 tahun yang lalu. Kita bahkan belum genap berusia 10 tahun waktu itu. Aku yakin kita semua menyaksikan pahitnya perangan, walau status kita masih anak-anak.


Di usia itu, Kita bahkan sudah membunuh banyak orang, merenggut nyawa seorang ayah atau ibu dari seorang anak. Ataupun tahu arti sakitnya kehilangan orang tua" ucap Aora sambil mengingat masa lalunya


Hotaru dan Hisui hanya termenung, mereka juga turut andil dalam peperangan 18 tahun silam. Hotaru yang masa kecilnya dipenuhi hasrat agar diakui oleh sang ayah, bahkan pernah membantai satu buah desa berisi rakyat sipil, turut andil dalam menghabisi tahanan perang dan bahkan menjadi pasukan khusus di garda depan


"1 Juta jiwa.... Aku dengar selama 10 tahun terakhir perang berkecamuk, sebanyak itu korbat tewas baik di pihak Tsuki, Sora ataupun Hoshi" ucap Hotaru, ia bahkan tidak ingat wajah-wajah orang yang ia bunuh saking banyaknya


"Hm.... Dan salah satu orang yang turut andil dalam membunuh orang-orang itu, adalah prajurit militer seperti kita. Membunuh adalah misi kita waktu itu" ucap Hisui, ia pun menyentuh bekas luka di tangan kirinya. Bekas yang ia dapat dari sebuah pertarungan hebat


"Bukankah kita juga kehilangan orang yang kita sayang, entah itu teman, saudara atau bahkan orang tua kita" ucap Aora


Ia masih ingat dengan jelas, ibunya gugur di medan perang demi melindunginya dan Yora.


"Untuk itu, trauma hebatnya peperangan bahkan masih dirasakan hingga detik ini. Tidak hanya itu, terkadang ada pertikaian yang bahkan memusnahkan sebuah desa, dan orang-orang yang berhasil selamat dari situasi sulit itu, baik itu jiwa atau tubuhnya pasti terluka" ucap Aora


Ia teringat Mirai yang pernah menangis dalam tidurnya, nasib malang yang terjadi dengan Yuhee dan orang-orang Desa Fuu, atau desa Besi. Bahkan Aora sendiri sering bermimpi, teringat akan kejadian yang menimpa ibunya, itu adalah bagian dari trauma masa lalu


"Aku ingin, setidaknya kita bertanggung jawab atas penderitaan koban. Kita mungkin tidak bisa menghapus jejak darah di tangan kita.


Namun, sebagai pemimpin sebuah Negara, yang lernah menangis akibat perang, aku ingin mengobati sedikit luka mereka (Korban Perang) " ucap Aora, ketulusan terpancar lewat tatapan mata merah kecoklatannya


Hisui dan Hotaru tersenyum, mengiakan usulan brilian Aora itu


" Hm.... Tentu.... Kita harus bertanggung jawab sebagai Pemimpin mereka. Perdamaian adalah sesuatu yang berharga, untuk itu aku akan berusaha mewujudkannya" ucap Hotaru mengingat janjinya ke kakaknya Hikari


"Hm.... Aku akan membawa usulan ini ke Negaraku, aku harap para pak tua (Tetua Tsuki) bisa mengerti" ucap Hisui


"Aku mengumpulkan kalian di sini, bukan sebagai pemimpin Sebuah Negara. Melainkan Teman-teman seperjuangan, aku sangat ingin mendengar pendapat kalian


Dan juga....

__ADS_1


Meminta bantuan kalian untuk mewujudkanya. Teman-teman" ucap Aora


Ia teringat perkataan Ketua Zen, bahwa untuk mewujudkan sesuatu, kau tidak perlu menanggung semua sendiri. Ingatlah masih ada orang-orang di sekelilingmu, teman-teman mu akan dengan senang hati membantumu


__ADS_2