Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Kisah Rubah Kecil


__ADS_3

...~ 40 tahun yang lalu~...


Sreshhhhh....


Seekor rubah putih kecil berlari memecah semak belukar berduri. Raut wajah rubah itu begitu ketakutan. Sambil melirik ke arah belakangnya, rubah kecil itu hendak memastikan apakah lima orang pemburu masih mengejarnya. Suasana hutan tanpak sunyi, tampaknya manusia-manusia yang mengejeranya sudah jauh tertinggal dibelakang.


Rubah kecil itu tanpak memperlambat langkahnya, sebuah sinar putih menyelimuti tubuhnya dan merubah sosok rubah menjadi seorang gadis cantik berusia 7 tahun. Sesekali Karura kecil itu melirik luka di lengannya, tidak hanya luka sayatan yang ia dapat dari para pemburu Yokai. Gadis kecil itu juga meringis kesakitan ketika mengetahui kaki tanpa alasnya dipenuhi lecet akibat semak berduri yang ia injak tadi.


"Cepat cari Kitsune kecil itu! Kita harus memotong habis ekornya dan mengambil kristal rubah darinya! " teriak para pemburu. Dari suara mereka, bisa dipastikan para pemburu sudah berada dekat dengan Karura


Tubuh Karura itu gemetar ketakutan. Jika sampai ia ditangkap oleh manusia-manusia itu, hidupnya sudah pasti berakhir. Ia hanyalah Yokai lemah yang baru terlahir, tidak ada kekuatan khusus yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya. Terlebih, satu dari tiga ekor yang ia miliki sudah dipotong paksa oleh para pemburu. Jika mereka mengambil semua ekornya dan mengektrak kristal rubah miliknya, ia pasti akan mati.


"Di sana! Cepat tangkap Rubah Itu! "


Para pemburu menemukan keberadaan gadis itu, dengan ketakutan ia mencoba lari sebisanya. Namun, seseorang menggapai tangannya. Menariknya bersembunyi diantara rimbunya semak belukar. Mata aquamarine gadis itu membulat sempurna


" S-siapa kau?! " ucapnya pelan. Namun anak laki-laki itu hanya memberi isyarat agar ia diam.


" Ssttt.... " ucap anak itu sambil menaruh jari telujuk di bibirnya. Anak itu lantas melirik situasi sekitar. Karura hanya bisa tetegun, ia tidak percaya seorang anak manusia menyelamatkannya dari kejaran para pemburu.


Cahaya matahari yang menembus rimbunnya hutan, membuat rambut kemerahan anak laki-laki itu berkilau. Dari wajahnya yang dipenuhi luka lebam, Karura bisa menebak bahwa nasib anak laki-laki itu tidak jauh berbeda dengannya.


Tiba-tiba anak laki-laki itu menoleh ke arahnya, dengan mata secoklat hazel, ia melirik dua ekor rubah yang melambai keluar dari balik tubuh Karura. Anak laki-laki itu terlihat terkejut, namum sedetik kemudian ekpresinya kembali normal


"Aku rasa, orang-orang itu sudah pergi! Sebaiknya kita juga harus segera pergi dari sini! " Anak laki-laki itu menggenggam tangan Karura. Namun, dengan cepat Karura menghempasnya. Baginya, ia tidak bisa mempercayai manusia semudah itu. Tapi disisi lain ia juga tidak mau anak itu terluka karenanya


" Tapi, apa kau tidak takut denganku? Aku adalah seekor Yokai. Jika kau terus bersamaku, kau juga bisa ikut celaka! Mereka memburuku untuk mengambil ekor-ekorku demi uang. Apapun bisa mereka lakukan, termasuk ikut membunuhmu! "


" Aku tidak takut denganmu. Dan juga, tidak ada alasan untukku membiarkanmu diburu oleh orang-orang jahat itu! Tidak ada waktu lagi, cepat! " ucap anak itu.


Mereka pun memutuskan untuk meloloskan diri bersamaan. Namun sayang, salah satu pemburu melihat mereka dan mengarahkan busur beserta anak panah beracun tepat ke arah mereka.


" Kena kau! Rubah kecil! "


Anak panah sudah dilepas, melesat dan menargetakan Karura. Anak laki-laki itu sadar Karura dalam bahaya, dengan cepat ia mendorong tubuh mereka dan berakhir terjatuh ke dalam sebuah jurang.


Gelap. Hanya itu yang bisa Karura lihat. Ia merasakan tubuhnya terjatuh kedalam lubang tanpa dasar. Ia sempat berpikir, apakah ini akhir dari hidupnya? Karura berusaha membuka matanya. Sesuatu yang hangat tampak memeluk tubuhnya yang masih gemetar.


Samar ia melihat sosok anak laki-laki masih terpejam. Rambut merahnya basah akibat darah yang keluar dari luka dikepalanya. Karura sadar, anak itu tidak hanya menyelamatkannya. Namun, ia juga mengorbankan hidupnya untuk Karura


"Hey! Bangunlah! " ucap Karura dengan tatapan kosong. Ia menggoncang tubuh anak yang masih ditindihnya. Anak itu tidak merespon, mungkinkah ia sudah mati? Karura segera mengecek nadi anak itu, tampaknya ia sudah sangat sekarat. Hanya nafas putus-putus yang bisa Karura rasakan keluar dari hidung anak itu.


Tubuh mereka terjatuh tepat diatas batu besar, Karura tidak merasakan luka yang berarti di tubuhnya, sebab anak itu melindunginya dengan membiarkan Karura jatuh di atas tubuhnya.


"Hei! Anak manusia, kau tidak boleh mati begitu saja! " Karura mengguncang tubuh anak itu sekeras mungkin sambil terisak. Untuk pertama kalinya, ia menagisi seorang manusia. Manusia yang selama ini begitu ia benci, manusia yang hampir memusnahkan seluruh bangsanya hanya untuk merampas kekuatan yang dimiliki seekor Kitsune. Namun kali ini berbeda, Ia tidak bisa membiarkan anak itu mati karenanya. Sebagai Rubah, sudah menjadi kehormatan untukknya membalas budi pada siapapun yang telah berjasa untuk hidupnya. Karura tidak memiliki pilihan alin selain menggunakan cara itu.


Karura menggapai wajah pucat anak laki-laki didepannya. Tetes demi tetes air matanya mulai membasahi wajah anak laki-laki yang masih setia memejamkan matanya.


Perlahan, ia membuka mulut anak itu dan mulai mendekatkan wajahnya. Sebuah kelereng berwarna putih keluar dari mulutnya, dengan pelan Karura mengarahkan kelereng yang dipenuhi sinar menyilaukan ke mulut anak itu melalui mulutnya. Satu dari dua ekor yang ia miliki mulai lenyap. Kini, Karura hanya memiliki satu ekor yang masih tersisa.


"Kau sudah mengorbankan hidupmu. Sudah sepantasnya aku membalas budi sebagai seekor Kitsune. Mulai hari ini, lupakan semua yang terjadi. Kau juga harus melupakan pertemuan diantara kita. " ucap Karura, ia mulai beranjak pergi dari sana.


Meski belum sepenuhnya sadar, anak laki-laki itu bisa merasakan bahwa sosok yang sedari tadi menangis disisinya pergi meninggalkannya

__ADS_1


" Jangan pergi. " gumamnya ririh.


Hari berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Selama hampir 8 tahun, waktu sudah berlalu. Karura tidak bisa melupakan pertemuannya dengan bocah laki-laki itu. Dengan nekat, ia merubah wujud menjadi manusia dan mendatangi sendiri desa yang mungkin menjadi rumah anak itu. Takdir seakan berjalan disisinya, setelah sekian lama ia akhirnya menemukam keberadaan anak laki-laki itu.


Sama sepertinya, waktu telah mengubah anak itu menjadi sosok remaja yang tampan. Anak itu mungkin sudah melupakan kenangan bersamanya. Meski harus memperhatikan dari kejauhan, Karura tidak keberatan. Sambil menyembunyikan diri di sebuah pohon, diam-diam Karura mencuri pandang ke arah anak laki-laki yang masih sibuk membaca bukunya.


Karura tengah asyik memperhatikan anak didepannya, tanpa ia sadari seseorang menepuk bahunya dari belakang.


"Sedang apa kau disini? Kenapa kau memperhatikan Hirui-kun seperti itu? " ucap suara itu. Karura segera berbalik. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok yang begitu mirip dengannya. Tidak hanya ia yang merasa demikian, tampaknya gadis didepannya juga merasakan hal yang sama.


" Kau! Kenapa bisa memiliki wajah yang sama persis denganku? " ucap gadis itu tidak percaya. Karura hanya diam terpaku, sambil melangkah mundur kebelakang, ia memilih lari dari sana.


" Tunggu dulu! Nona! " ucap gadis itu mnecoba menghentikan Karura


" Ada apa Haruko? Siapa yang kau ajak bicara? " Hirui itu mulai menghampiri Haruko. Namun, Haruko segera menggeleng dan memilih menyunggingkan senyum lembut ke arah Hirui


" Tidak ada siap-siapa Hirui-kun. Mungkin hanya hayalanku saja. Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu mirip denganku? Lagian aku tidak memiliki saudara kembar atau apapun "


Hirui hanya menautkan alisnya." Mungkinkah kau melihat sosol Doppelganger mu? "


" Eh? Apa itu? "


Hirui menujuk buku yang sedang ia baca " Menurut buku ini, ada sosok yang begitu mirip dengan kita hidup didimensi lain. Tapi diantara kalian, siapa yang melihat lebih dulu? "


" Kenapa? Aku rasa, aku yang melihat gadis itu lebih dulu. " ucap Haruko sambil menggosok dagunya


" Apa?! " ucap Hirui dengan ekpresi terkejut


" Tidak. Hanya saja menurut buku ini, siapapun yang kebih dulu melihat satu sama lain. Ia akan mati muda! Dan si Doppelganger akan mengambil alih tempatnya! " ucap Hirui histeris. Namun, Haruko hanya terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut Hirui.


" Hahaha... Itu hanya mitos. Kau tidak boleh mempercayai sepenuhnya cerita yang tertuang dibuku! "


" Aku harap begitu. Ayo Haruko! Kita kembali ke kastil! " Hirui mengajak Haruko untuk pergi dari sana.


Tanpa mereka sadari, Karura memperhatikan dari balik semak belukar. Senyum pilu terukir di wajah cantiknya.


" Syukurlah! Setidaknya kau sudah hidup bahagia di duniamu. Hah! Mungkin ini terakhir kalinya aku melihatmu. Yokai sepertiku seharunya pergi ke duniaku sendiri. Sampai jumpa lagi, penyelamatku! " ucap Karura dengan senyum di wajahnya.


...~End Flasback! ~...


" Hey! Rubah sadarlah! " Zou mengguncang tubub Karura yang masih terpejam. Ia melirik penyebaran racun di bahu Karura, tampaknya racuh sudah mulai menyebar ke bagian tubuh yang lain


" Sial! Jika terus begini, racunnya akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. " gumam Zou. Ia segera mengangkat tubuh Karura, menyandarkannya ke sebuah batang pohon tak jauh dari sana.


" Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bermaksud membuka kimono seorang wanita! Jadi jangan salahkan aku! Ini semua aku lakukan untuk menyelamatkan nyawamu. " ucap Zou sambil menarik pita Kimono Karura. Meski ia berusaha memalingkan wajahnya, Zou dengan perlahan mulai sedikit menyingkap kain yang menutupi tubuh Karura.


Zou berusaha mengabaikan dua buah benda menggembung yang terhalang lilitan perban (sejenis b*a) didepannya. Zou menghela nafas panjang, sambil menghilangkan rasa gugupnya. Dengan cepat ia mengambil sebuah pisau kecil dari kantong peralatannya.


"Ini akan sedikit sakit. Bertahanlah! " gumam Zou. Ia mengaliri pisau itu dengan sihirnya dan mengarahkannya ke luka di bahu bagian depan Karura. Perlahan ia mulai merobek luka gigitan itu, darah hitam mulai keluar dari luka.


" Darah ini bercampur dengan racun Yokai. Jika tidak segera dikeluarkan, darah beracun ini akan mengalir ke seluruh tubuh. Itu bisa sangat berbahaya! Aku tidak punya pilihan, selain menyedot semua darah beracun itu! " gumam Zou.


Ia mulai memegang kedua bahu Karura. Dan perlahan mengarahkan mulutnya untuk mulai menghisap darah yang masih terjebak di dalam luka. Zou terus mengisap darah beracun, lalu membuangnya. Hal itu terus ia lakukan berulang hingga darah beracun di tubuh Karura habis

__ADS_1


Tanpa Zou sadari, Karura mulai menapakan kesadarannya. Samar ia melihat sosok laki-laki berambut merah berada begitu dekat dengannya


"Kau? " ucap Karura dengan suara lemah. Ia sedikit berkenyit, rasa sakit yang luar biasa ia rasakan menjalar di bahunya.


Namun, sedetik kemudian wajah Karura berubah memerah. Ia baru menyadari sesuatu yang kenyal serta hangat menari di atas bahunya yang mendingin. Bukan hanya itu, Karura merasakan sesuatu benda tak bertulang yang lembut terasa menapaki kulit bahunya. Sedikit rasa geli bercampur dengan rasa sakitnya, sepertinya sesuatu diluar sana telah terhisap.


Karura mengarahkan pandangannya ke arah pria berambut merah yang masih sibuk dengan kegiatannya. Matanya kembali membulat ketika mengetahui kepala pria itu terbenam di dadanya.


"Hya! Apa kau kau lakukan Tomat mesum! "


Buaghhhh....


Entah tenaga yang muncul dari mana, Karura berhasil menjitak kepala Zou. Sebuah benjolan ungu tercipta dikepala tomatnya


" Hya! Apa yang kau lakukan! Aku berusaha menyelamatkan nyawamu! Kenapa kau justru memukulku Rubah licik! "


" Apa kau bilang?! Arkh! " Karura kembali merasakan sakit di bahunya. Zou hanya bisa menghela nafas pelan


" Diamlah! Aku masih berusaha mengeluarkan racun ditubuhmu! Meski sedikit tidak nyaman, aku harap kau memakluminya. Tidak ada cara lain! " ucap Zou. Ia kembali memegang bahu Karura dan bersiap menghisap darah beracun di bahunya


Karura tidak punya pilihan lain. Meski semburat merah memenuhi wajahnya, ia berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.


Fokusnya kini tertuju pada pungggung bidang Zou, samar ia melihat sesuatu bersinar didalam tubuhnya. Mata Karura membulat sempurna


Sinar itu? Sinar itu berasal dari kristal rubahku. Benar! Tidak salah lagi! Hanya rubah pemilik kristal yang mampu melihat kristal miliknya ketika tertanam ditubuh orang lain!


Karura mengarahkan pandangannya, kini ia menatap Zou dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasa sakit ditubuhnya seolah lenyap, digantikan rasa bahagia yang entah datang dari mana. Perlahan Karura arahkan tangannya untuk mengusap punggung Zou. Sudah lama, ia tidak merasakan kekuatan dari kristal rubah miliknya.


Jika ia masih menyimpan kristal itu untuk dirinya sendiri. Karura mungkin tidak pernah merasakan sakit dari sebuah luka fisik. Tapi ia tidak pernah menyesal memberikan sesuatu yang berharga miliknya kepada sang penyelamat hidupnya. Bagaimanapun, dengan kristal miliknya, pria didepannya bisa hidup lama dan bertemu lagi dengannya


"Sudah lama sekali! Aku senang kau baik-baik saja. " gumam Karura pelan. Tanpa ia sadari, tangannya sudah memeluk tubuh Zou erat


"Apa yang kau lakukan? " gumam Zou pelan, ia masih tidak mengerti apa yang dilakukan Kitsune itu padanya.


" Sedikit saja. Biarkan aku mengisi energiku dengan batu kristal yang tertanam di tubuhmu. Hanya sekejap, biarkan aku memelukmu seperti ini! " ucap Karura pelan.


Zou tidak menolak sama sekali. Entah kenapa, ia merasakan bahwa ia harus membiarkan Karura melakukan apa maunya


......................


Nee dan Mirai akhirnya sampai di tempat berkumpul mereka dengan obat-obatan yang mereka peroleh. Namun, langkah Nee terhenti ketika melihat adegan melanklonis didepannya. Nee segera memalingkan wajahnya - malu


"A-apa yang sedang terjadi? Beberapa saat lalu mereka bahkan mampu membunuh satu sama lain. Tapi apa ini, mereka berpelukan? Ditengah hutan seperti ini? " gerutu Mirai tidak habis pikir


" Yuki. Aku rasa kita tidak boleh mengganggu waktu diantara mereka. " ucap Nee pelan


" Cih! Jangan bilang, Zou sengaja menyuruh kita pergi dengan dalih mencari obat penawaran! Jika ingin berduaan tinggal bilang saja kan? Tidak perlu memakai cara rumit seperti ini! Tidak boleh dibiarkan! "Mirai hendak menghardik keduanya. Namun, Nee segera meraih tubuh Mirai dan menyeretnya menjauh


" Sebaiknya kita kembali beberapa saat lagui! " gumam Nee sambil membekap mulut Mirai yang berisik.


...----------------...


Hallo Minna, oh ya.... Aku mau kasih tahu bahwa akan ada satu chapter spesial setelah chapter ini.....

__ADS_1


__ADS_2