Garis Darah Terkutuk

Garis Darah Terkutuk
Pelindung Sora


__ADS_3

Seorang Pria paruh baya dengan setelan Kimono mewah berwarna Hitam, serta kipas lipat di tangannya. Ia berjalan tergesa-gesa melewati sebuah koridor yang cukup gelap


Wajahnya menyiratkan kemarahan, dengan keras ia membuka pintu geser di depannya


Kragkkkkk......


Suara keras pintu menyeruak keheningan, membuat seluruh penghuni ruangan khas jepang itu menoleh kearah asal suara. Dia adalah Mentri Tertinggi Sora, Kuu


Semua orang di ruangan itu pun berdiri memberi hormat kepadanya. Kecuali seorang pria dengan perban melilit matanya, dia adalah Tanuki


Dengan santai, Tanuki menyesap Ocha di gelasnya. Tanpa menghiraukan ekspresi marah salah satu petinggi Negeri Sora itu


"Anda sudah datang, Tuan Kuu. " ucap 3 orang selain Tanuki. Mereka menyambut kedatangan Kuu dengan segala penghormatan.


Dengan sedikit berdehem. Kuu duduk di posisi center di sebuah pertemuan yang dipenuhi orang-orang penting itu. Sambil membuka kipasnya, ia menatap tajam ke arah Tanuki yang duduk di sampingnya


"Biarkan aku merekrut prajurit terkuatmu! " ucap Kuu kasar. Tanuki menunjukkan ekspresi tenangnya, ia lalu menatap Kuu yang tengah tersulut emosi itu


" Pasukanku digunakan bukan untuk kepentingan pribadi. Kalau boleh, saya menolak permintaan tuan. " ucap Tanuki sopan


Brakkkkkk.....


"Sudah cukup seorang bocah dan pria aneh mempermalukanku! Kau lupa apa yang aku beri untuk mendukung Cops Merah dan semua penelitianmu itu! " ucap Kuu penuh amarah sambil menggebrak meja


Semua orang memasang muka tegang. Di Negeri Sora, selain Sang Raja tidak ada yang berani menentang perintah Mentri Kuu


Sora berbeda dengan Negeri lain, dimana pemimpin Militer mereka merangkap sebagai Penguasa Negeri (Bisa di bilang Raja) seperti Hoshi dan Tsuki. Sedangkan di Sora, Negeri nya di pimpin oleh seorang penguasa Non Militer (sebagai Raja). Sedangkan untuk sistem perlindungan Negara, di serahkan kepada seorang Ketua Pemimpin Desa yang berkedudukan di sebuah desa Militer yang di sebut Desa Militer Sora


Tanuki pun meletakkan gelasnya, semua pandangan mulai tertuju ke arahnya. Tentu untuk urusan kekuasaan politik negeri, dia tidak ada apanya di hadapan orang-orang penting itu


"Aku tidak meminta, ini adalah perintahku! Aku ingin kau menyerahkan semua orang terhebatmu untukku! " ucap Kuu


"Tapi. Selama ini, bukankah Cops merah membantu melenyapkan semua masalah tentang kecurangan anda dalam bermain dalam jumlah emas di negeri ini?


Jika bukan karean kalian korupsi dan menimbun emas sesuka hati kalian, Negeri ini tidak perlu memohon untuk melakukan pertemuan dengan Hoshi dan Tsuki! " ucap Tanuki tegas sambil menatap Kuu Tajam


Brakkkkkkk


"Kau hanya ketua Militer Sora, berani sekali kau menatapku seperti itu! " ucap Kuu sambil berdiri. Ia tidak terima Tanuki memandang remeh dirinya


"Orang Militer memang memiliki kekuatan sihir. Tapi tanpa bangsawan seperti kami, yang terpelajar dalam ilmu politik untuk menyusun sebuah Negara. Kalian para orang militer bodoh yang hanya tau bertarung tidak mungkih Hidup nyaman kan? " ucap Salah satu bangsawan. Ia seolah membenarkan ucapan Kuu


Brakkkkkkk


Tanuki menggebrak meja. Membuat meja besar itu terbelah menjadi dua, semua hidangan di atas meja hancur berkeping-keping


" Tidak Seperti kalian!


Yang menimbun kekayaan dengan dalih menjadi seorang pejabat negeri. Kalian adalah orang-orang manja yang berasal dari keluarga terpandang dan hanya menonton lewat kursi sutra kalian, tidak mengerti apa arti penderitaan perang.


Kami! Para Orang-orang militer. Mempertaruhkan nyawa kami di medan perang, hanya demi melindungi Negeri Ini!


Jangan sekali-kali kalian meremehkan orang Militer seperti kami. " ucap Tanuki sambil menatap orang-orang di ruangan itu


Hening.....


Semua orang tampak ketakutan, melihat ekspresi menyeramkan Tanuki serat aura kuat yang dikeluarkan pria itu

__ADS_1


"B- Berani sekali kau!" Teriak Kuu murka


Tanpa menghiraukan teriakan Kuu, Tanuki pun keluar dari ruangan itu. Di luar tampak tiga orang bertudung Hitam menantinya. Mereka secara kompak memberi Hormat ke Petinggi Cops Merah Itu


Salah seorang bertudung itu mengangkat wajahnya, ia adalah pria yang menyerang Xio di perbatasan Negeri Mizu.


"Tampaknya pertemuan itu, membuat anda Kesal Tuan Tanuki. " ucap Pria Itu sambil Menyeringai


"Aku sudah muak dengan orang-orang itu, tutup mulut mereka dan buat serapi mungkin. Aku tidak ingin merepotkan anakku untuk membersihkan Sampah seperti mereka! " ucap Tanuki


"Baik Tuan! " ucap Mereka kompak


Tanuki pun meninggalkan tempat itu, orang-orang bertudung hitam itu pun berubah menjadi asap dan menghilang


......................


Aora berdiri mematung sambil menatap sebuah pintu gerbang Rumah Khas jepang di depannya. Kenangan masa lalu berputar cepat di otaknya, kenangan bersama keluarga yang begitu ia cintai. Pria berambut abu-abu yang melawan gravitasi itu lantas melangkah memasuki pintu gerbang di depannya


Ia memasuki pekarangan rumah yang cukup besar, halaman rumah tampak kotor dengan rumput liar tumbuh di setiap sudut halaman


Aora pun menggeser pintu masuk menuju ke dalam rumah yang sudah cukup Tua itu. Melihat sekeliling ruang, yang kini dipenuhi debu dan sarang laba-laba.


"Hah.... Tampaknya akan sangat melelahkan, lihatlah semua debu ini! " ucapnya ketika memasuki rumah itu


Sambil mengibas-ngibaskan tangannya, ia pun membuka rompi yang menjadi serangam Militer desa Soranya. Melemparnya asal, dan mulai memikirkan dari mana harus memulai pekerjaanya



Sambil melihat ke sekiling dengan tatapan malasnya, Aora pun mulai membuka kain putih yang menjadi pembungkus prabotan di rumah. Satu per satu berupa meja, kursi dan sebuah rak buku


Aora terbatuk, akibat debu tebal yang mulai bertebangan ketika ia mulai menyingkap kain putih itu.


" Debu ini! Meski aku memakai masker pun, tetap saja tercium oleh pernapasanku.


Aish..... Benar-benar merepotkan! "


Sembari merapikan beberapa barang di ruang tengan rumah itu, mata merah kecoklatan Aora tertuju pada foto yang di pajang di salah satu sudut ruangan itu. Ia pun mengambil frame yang menarik perhatiannya, menatap sosok yang tergambar di dalam foto lama yang ia temukan


Di dalam Foto itu, terlihat seorang pria berambut putih, dengan seorang wanita yang merangkul lengan pria itu erat. Seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjangnya. Mereka masing-masing menggendong bayi lembar dengan warna rambut yang menyerupai kedua orang tuanya


"Apa kabar? Ayah Ibu? " ucap Aora ririh sambil menatap lekat foto itu, kerinduan tampak jelas dari kedua sorot matanya. Aora menggosok pelan potret kedua orang tuanya, seolah sentuhannya dapat mengirimkan kerinduan yang ia pendam selama ini


Kemudia pandangannya kini tertuju ke sebuah Foto lain. Foti itu adalah Foto dirinya dengan seorang anak yang seumuran dengannya



Di sudut gambar, terdapat sebuah tulisan tangan cantik ibunya, 'Kedua putra tercinta kami' terukir di sudut foto itu. Tampaknya, foto itu di ambil ketika Aora berusia 8 tahun. Kedua anak yang terlihat tampan dengan seragam miliyer pertama mereka. Aora mengusap lembut tulisan di foto itu, matanya tampak bergetar


"Apa jadinya, jika kau mengetahui keadaan kami, Ibu? " ucap Aora ririh


Seseorang mengetok pintu rumah itu, membuat Aora tersadar dalam lamunanya. Ia pun segera menuju asal suara itu. Ia berjalan pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu


"Siapa yang mengetuk pintu, kerumah kosong seperti ini? " Aora putuskan untuk mengecek siapa orang yang berkunjung.


Srekkkkkk.....


Aora menggeser pintu, ia pun melihat sosok yang amat familiar untuknya. Senyuman terlihat dari balik masker Aora ketika melihat sosok didepannya

__ADS_1


"Bagaimana kau tahu aku ada di sini? "


Ketua Zen tersenyum Ke arah Aora, pria nomor satu di desa Sora itu pun menengteng bungkusan besar di tangannya


" Apakah aku datang di waktu yang tepat? " ucap ketua Zen sambil menggoyangkan kantung di tangannya, tentu dengan senyuman lebar.


Aora hanya bisa tersenyum licik di balik maskernya, tampaknya ada bala bantuan yang bisa di bilang, mungkin sedikit akan mengurangi beban kerjanya


" Kau datang di saat yang paaaaaling tepat, Guru! " ucap Aora dengan nada ceria. Ia pun mengambil bingkisan yang di bawa gurunya, dan mepersilahkan gurunya masuk. Sikap aneh Aora membuat Zen bergidik. Ia merasakan sesuatu yang melelahkan akan menimpanya sebentar lagi


"Tampaknya aku tidak datang di waktu yang tepat. " ucap Zen dengan senyum canggung di wajahnya. Meski enggan, ia pun mengikuti Aora


......................


"Hah! Akhirnya selesai juga. Dasar kau Aora! Bagaimana kau bisa menyuruh gurumu membantu membersihkan rumah sebesar itu? Jika orang-orang tahu kau memperudak guru dan pemimpin desa ini, kau akan di cap sebagai bocah kasar! " ucap Zen


Pria Paruh baya itu mulai meregangkan pinggangnya yang pengal, hampir 2 jam ia membantu Aora membereskan rumah besar itu


Zen pun memilih duduk di ruang tengah, dengan sebuah meja di kecil depannya. Pandangannya kini tertuju kepada sebuah simbol yang terukir di dingding rumah itu. Sebuah simbol yang dulu pernah melambangkan betapa besarnya pengaruh sebuah Clan.


Sebuah Simbol bulan dan matahari



"Dibanding semua tugas yang kau berikan, ini tidak ada apa-apanya guru. Sekali-kali kau bisa meregangkan ototmu dan berolahraga kan? " ucap Aora sambil membawakan minuman dingin ke gurunya itu. Aora pun duduk di depan Sang Guru.


"Jadi.... Apa tujuanmu datang jauh-jauh kemari? Aku tahu kau yang sibuk itu, tidak datang kesini hanya untuk bersenang-senang kan? " ucap Aora. Ia seakan hapal dengan sifat gurunya.


Brakk......


Ketua Zen menyerahkan sesuatu kepada Aora, ia pun menyuruh Aora membukanya. Aora sesikit mengerutkan alisnya, benda apa yang dibungkus dengan kotak sepanjang itu?


" Apa ini? " ucap Aora sambil bertanya-tanya.


Ia membuka bingkisan itu, tampak sebuah pedang dengan gagang dan ornamen serba putih menghiasi seluruh badan pedang cantik didepannya


" Pedang apa ini?" tanya Aora. Tatapannya menunjukkan pedang di depannya tampak tidak asing untuknya


"Bukankah peringatan kematian Yoshiro sebentar lagi?


Hah! ...... Waktu berjalan begitu cepat.


Rasanya baru kemarin, aku berkumpul dengan kawan-kawan seperjuanganku! " ucap Zen sambil melihat foto-foto yang dipajang di ruangan itu. Aora hanya menatap wajah sang guru, menunggu pria itu memberi jawaban atas pertanyaanya


"Itu adalah Shiroi no Ken, pedang peninggalan Ayahmu sekaligus warisan Clan Matahari. Aku masih belum menemukan pedang milik Clan ibumu. " ucap Zen


Aora pun mengalihkan pandangan ke pedang di tangannya, tangannya mengelus pelam pedang yang pernah menjadi milik ayahnya itu. Bisa dibilang, inilah warisan berharga yang ayahnya tinggalkan


"Kenapa kau memberikannya padaku? " ucap Aora sambil menatap Ketua Zen penuh tanya


Ketua Zen pun memandang taman di sampingnya. Mengalihkan tatapannya dari Aora yang seakan menuntut jawaban dari begitu banya pertanyaan dari sorot matanya


" Karena sudah waktunya kau berdiri menjadi pelindung Negeri Sora. Itulah tanggung jawabmu sebagai penyandang nama Ao dari clan Matahari, Aora! " ucap Zen pelan


Aora hanya diam membeku, menunggu penjelasan lebih dari gurunya itu. Apa maksud gurunya ia ingin Aora mengambil alih kepemimpinan Sora?


"T.... Tapi? "

__ADS_1


__ADS_2